Tutur Feminis Mengenalkan Feminisme dan Seksualitas Melalui Buku Mewarnai


*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Trend buku mewarnai untuk orang dewasa beberapa tahun belakangan ini sedang naik daun. Penerbit Qbukatabu kemudian berinisiatif meluncurkan sebuah buku mewarnai untuk menyampaikan misinya untuk membicarakan feminisme dan seksualitas yang selama ini dianggap tabu.

Qbukatabu merupakan jawaban dari keresahan Vica Larasati, Direktur Qbukatabu. Diawali dengan sebuah perbincangan santai di Solo antara Vica dan seorang sahabatnya, mereka lalu membicarakan mengapa diskusi tentang seksualitas sulit sekali dilakukan di sini.

Vica ingin mencoba menghadirkan satu platform tempat dimana orang-orang dapat membicarakan seksualitas secara asyik dan menarik. Qbukatabu merupakan jawaban dari keinginan Vica.

Awalnya Qbukatabu dibuat secara online mengingat saat ini hampir semua orang punya akses internet. Nama Qbukatabu sebenarnya sesuai dengan misi didirikannya organisasi ini. Q yang artinya aku. Qbukatabu maksudnya aku yang membuka tabu. Persis dengan tujuan Vica mendirikan Qbukatabu, ingin membuka tabu dalam membicarakan tentang seksualitas.

Selain memberikan informasi tentang seksualitas, Qbukatabu juga mempunyai layanan konseling secara online melalui whats app dan email yang dinamai “Buka Layanan”. Vica sendiri tidak mengangka banyak orang yang kemudian tertarik memanfaatkan layanan ini untuk bercerita.

“Ini menandakan bahwa banyak orang memiliki masalah dalam seksualitas atau yang berhubungan dengan itu yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat. Namun tidak semua orang punya tempat untuk bercerita karena persoalan ini dianggap tidak layak untuk diperbincangkan. “Buka Layanan” menjadi tempat aman di mana semua orang dapat bercerita apapun tanpa penghakiman,” ujar Vica Larasati.

Tutur Feminis: Meluruhkan yang Biner


Setelah terbukti bahwa banyak orang memanfaatkan layanan ini, kemudian dibuatlah ide untuk membuat buku yang berjudul “Tutur Feminis: Meluruhkan yang Biner.” Buku ini terlahir dari perjalanan sang penulisnya, Yulia Dwi Andriyani yang merupakan sahabat Vica Larasati.

Saat Yulia Dwi Andriyani berada di Chiang Mai, Bangkok untuk menghadiri sebuah pertemuan aktivis, ternyata negara-negara di Asia punya masalah yang sama dalam membicarakan seksualitas yang rata-rata masih sulit dan dianggap tabu.

Dari situ Yulia mencoba bertemu dengan orang-orang yang sudah bertahun-tahun bergelut dalam gerakan seksualitas khususnya gerakan perempuan. Yulia mencoba berbincang dengan santai untuk membuka pengalaman-pengalaman dari orang-orang yang ia ajak berbicara.

Dalam buku “Tutur Feminis: Meluruhkan yang Biner” ini ada 5 tokoh perempuan yang kemudian menuturkan pengalamannya. Mereka adalah mantan ketua Komnas Perempuan, Kamala Chandrakirana, aktivis buruh perempuan Lely Zailani, penulis Intan Darmawati dan Okky Madasari juga ulama perempuan Hindun Anisah. Pengalaman ini kemudian ditulis Yulia dari hasil perbincangan dengan mereka.

“Tulisan ini sekaligus menjadi pengantar pada gambar yang merepresentasikan cerita-cerita tiap tokohnya,” kata Yulia Dwi Andriyani.

Secara spesifik buku Tutur Feminis ini memotret perbincangan tentang perjuangan keadilan bagi kelompok Lesbian, Biseksual, dan Transgender (LBT) di Indonesia. Semua yang tertuang dalam buku ini adalah refleksi dari nilai-nilai feminisme yang dibawa oleh 5 tokoh tersebut.

Tantangan besar dialami Rainbow. Sebagai illustrator buku, ia ingin memvisualisasikan sebuah cerita menjadi gambar. Namun ia juga harus memberikan ruang lebih banyak bagi semua orang untuk mewarnai dalam buku. Intinya semua yang membaca buku ini boleh menambahkan apapun sesuka hatinya. Entah berupa gambar juga ataupun quotes.

“Intinya buku ini dibuat agar menjadi media bagi semua orang untuk bisa berekspresi,” ujar Rainbow.

Dalam sebuah diskusi yang digelar 100% Manusia Film Festival pada 28 September 2019 lalu di Jakarta, dimana buku Tutur Feminis ini kemudian diluncurkan, seseorang bertanya tentang apa yang dimaksud biner? Mengapa harus meluruhkan yang biner?

Penulis Intan Darmawati menjawab, bahwa selama ini kita hidup di dalam masyarakat yang hanya mengenal laki-laki dan perempuan. Laki-laki menyukai perempuan begitu juga sebaliknya. Bentuk seksualitas lain seperti lesbian, gay, dan biseksual selama ini tidak dikenalkan karena dianggap menyimpang.

“Padahal di dunia ini tidak ada yang hitam putih termasuk soal seksualitas,” ujar Intan Darmawati.

Meluruhkan yang biner artinya melepaskan pandangan sempit soal seksualitas. Semua orang harus mengenal dirinya sendiri lebih dari kontruksi sosial yang dibangun. Menjadi berbeda bukan sebuah kesalahan. Semua orang memiliki pengalaman yang berbeda. Mengenali dan memahami ketertarikan seksual dapat ditemukan melalui perjalanan yang panjang.


*Aprelia Amanda,
biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co