Layar Tambak Bayan, Perempuan dan Tragedi Mei

Poedjiati Tan – www.konde.co

Dua puluh tahun sudah
berlalu tragedi kerusuhan Mei 1998. 

Dan pada hari Minggu 3 Juni 2018, di Kampung
Pecinan Tambak Bayan Surabaya, Para pemerhati dan pegiat kemanusian
mengadakan acara refleksi dan doa. 

Acara yang bertajuk Layar Tambak Bayan  ini mengajak generasi muda khususnya generasi
milineal untuk merefleksikan 20 tahun pasca reformasi. 

Refleksi ini didasari
oleh semangat Menolak Lupa, artinya reformasi yang memberikan ruang keterbukaan
dan demokrasi,  meninggalkan pelbagai
kasus kemanusiaan seperti diskriminasi, penjarahan dan perkosaan terhadap
perempuan etnis Tionghoa.

Mengapa menggunakan kata
Layar?  Layar di sini memiliki dua arti
yaitu “layar” atau “cermin” atau “layar handphone”
yang membuat kita mampu berefleksi dan melihat kembali dunia kita, masa lalu
kita, baik buruknya diri kita. 

Juga Layar yang dapat diartikan sebagai layar
perahu yang bisa membantu perahu menentukan arah tujuan bersama dengan menampis
ombak, mengikuti arus, maupun melawan arus. 

Harapannya, Layar Tambak Bayan
mampu menjadi media untuk berlayar menuju satu tempat ke tempat lain agar ia
mampu menebar kebaikan di banyak tempat berdasar refleksi apa yang sudah
dilalui dan yang terjadi disebelumnya, agar tak mengalami peristiwa yang sama.

Lokasi Tambak Bayan
dipilih karena memiliki tempat nilai historis sebagai salah satu kampung
Tionghoa tertua di Surabaya. 

Tionghoa di sini tidak digambarkan sebagai
Tionghoa yang kaya raya, mempunyai harta di mana-mana,  melainkan juga Tionghoa yabg ada di bawah
garis kemiskinan, bahkan stateless

Dengan dipilihnya tempat ini diharapkan
generasi masa kini di Indonesia baik dari etnis Tionghoa maupun bukan,  hadir dan dapat melihat realita yang ada,
sehingga mampu merefleksikan bahwa ternyata tidak semua Tionghoa itu dipersonifikasikan sebagai orang kaya
seperti yang sudah di-stereotipekan orang selama ini.

Acara yang dimulai dengan
diskusi panel ini  menghadirkan 6 orang perempuan pembicara dan hampir
semuanya keturunan Tionghoa dengan moderator Aan Anshori dari Jaringan Islam
Anti Diskriminasi (JIAD). 

Dalam diskusi ini juga mengungkapkan bahwa di
Surabaya juga terdapat korban perkosaan di beberapa tempat pada kerusuhan mei
98. 

Kesaksian dari pak Bingky Irawan sebagai ketua Agama Khonghucu di Surabaya
yang bertemu langsung dengan korban perkosaan dan juga kesaksian dari Endah
Triwijati dan Khanis Suvianita yang waktu itu menjadi konselor di Gema Sukma
dan membuka hotline untuk korban kerusuhan Mei 98.

Hasil dari refleksi panel
itu mengungkapkan bahwa dalam kerusuhan itu yang banyak menjadi korban adalah
perempuan dan anak. Dalam kerusuhan Mei 98 tidak hanya kelas sosial dan etnis tetapi
politik juga ikut berperan dalam kasus tersebut. Ketakutan yang terus
dipelihara dan digunakan sebagai senjata untuk etnis Tionghoa. 

Luka dari
kejadian Mei 98 akan meninggalkan bekas dan mengingatkan kita. Bukan untuk
membuat kita menjadi takut akan perbedaan tetapi membangkitkan kesadaran untuk
berani menerima perbedaan dan merajut keberagaman sebagai kekuatan bangsa.

Kesimpulan dari diskusi
panel dan pendapat dari para audience adalah etnis Tionghoa mulai berani ambil
bagian dan menunjukkan dirinya yang juga bagian dari bangsa Indonesia, mulai
berani ikut berperan dalam politik, kegiatan massa dan tidak tinggal diam
menjadi penonton. 

Perubahan bisa dimulai dari diri sendiri dan orang terdekat
untuk menanamkan sikap bertoleransi, menghapuskan prasangka dan kebencian
terhadap perbedaan etnis. 

Payung hukum yang jelas terhadap diskriminasi dalam
hal ini UU nomer40tahun2008tentang anti diskriminasi ras dan etnis turut menjamin keaktifan kembali
etnis Tionghoa maupun etnis minoritas lainnya.

Selain diskusi, pada
acara ini juga diadakan pameran foto yang dipajang sebelum pintu masuk Omah gede.
Foto-foto yang menceritakan kejadian Mei 98 lengkap dengan narasinya. 

Pada
akhir acara dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh pak Bingky dari Majelis
Agama Khonghucu Indonesia, peresmian Komunitas Layar Tambak Bayan dan buka puasa bersama.  

Komunitas LayarTambakbayanadalahkomunitas (bukan ormas, bukan LSM, partisipan)
untuk mewujudkan visi Indonesia yang menjunjung tinggi keragaman, hak asasi
manusia,  dan keadilan. MengajaketnisTionghoa untuk
berperan aktif di segala lini, termasuk menjadi penegak hukum maupun militer,
tanpa mengurangi peran serta mereka selama ini di sektor sosial, politik,
budaya dan ekonomi.  

Melestarikan budaya Tionghoa
seperti Imlek dan Cap Go Meh dan kebudayaan-kebudayaan Tionghoa yang lain.Menggugah dan
menyadarkan selalu anak-anak muda Tionghoa untuk selalu perduli terhadap
sejarah,  dan turut serta dalam
pendampingan terhadap korban diskriminasi, bullying, dan persekusi.‎Melakukan kerja-kerja
intelektual dalam rangka mendokumentasikan Peristiwa Mei 1998 di Surabaya
sebagai bagian untuk melengkapi sejarah.

“Layar Tambak Bayan sudah terbentang, perahu
sudah berjalan sesuai arah yang ditentukan oleh nahkoda. Sekali berlayar
pantang kembali sebelum tugas terselesaikan dengan baik”

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email