Manfaatkan Radio Komunitas, Perempuan India Kampanye Stop Kekerasan


Sebuah radio komunitas di salah satu distrik
paling terbelakang di India Utara, memberdayakan perempuan dengan mendorong
mereka bekerja di stasiun radio itu. Komunitas tersebut juga membantu mereka
mengatasi isu-isu seperti kekerasan dalam rumah tangga dalam masyarakat
patriarki

Farren adalah seorang perempuan muda yang
bekerja sebagai penyiar di Radio Mewat. Setiap kali dia menyapa para pendengar,
ribuan perempuan menyimak.

Fareen adalah suatu pengecualian di desa-desa
patriarki yang mayoritas Muslim dimana perempuan dilarang bekerja, terlihat
bersama laki-laki atau bahkan didengarkan. Dia menghabiskan waktu
berbulan-bulan untuk meyakinkan orangtuanya supaya mengijinkannya bekerja di
radio.

“Penduduk desa mengatakan kepada orangtua
saya, kenapa tidak menikahkan puterinya? Dia tua sekali. Siapa yang akan
menikahinya kalau dia bekerja?,” ujar Fareen.

Selama dua tahun berkarir di radio, Fareen
fokus pada isu-isu seperti kekerasan dalam rumah tangga. Dia menganggap dirinya
lebih beruntung dibandingkan perempuan muda lain.

“Syukurlah saya belum menikah. Ada banyak
suami yang tidak memiliki penghasilan, meninggalkan isteri. Saya beritahu para
isteri untuk mendengarkan program kami. Kami bisa membantu,” kata Fareen.

Pesannya tidak hanya disampaikan lewat radio.
Fareen melakukan apa yang tidak dilakukan perempuan lain disini seperti naik
motor dengan seorang kolega laki-laki ke desa-desa dimana dia menyoroti kisah
para perempuan yang menghadapi pelecehan.

Di desa Ferozpur Namak, mereka mendengar kisah
tentang seorang perempuan muda bernama Zeenat yang maju ke pengadilan dan
memenangkan uang ganti rugi 200 dolar dari suaminya, yang mengabaikannya.

“Ketika saya mendatangi orang-orang,
mereka minta saya mengambil sikap. Saya mendapat keberanian setelah mendengarkan
program mengenai kekerasan terhadap perempuan,” kata Zeenat.

Pertumbuhan pesat Ponsel dalam beberapa tahun
belakangan telah memperluas jangkauan radio. Perempuan sering meminjam ponsel
dari suami mereka untuk mendengar radio. Dan mereka mulai berani mengajukan
gugatan atau meminta mediasi.

“Bagi para perempuan ini merupakan proses
yang sangat memberdayakan karena radio adalah sesuatu yang memberikan privasi,
kerahasiaan, dan memberi informasi yang bisa didengarkan ketika sedang
sendirian,” kata Archana Kapoor, pendiri dan Direktur Radio Mewat.

Perubahan telah terjadi, namun lamban.
Mempekerjakan dan mempertahankan pekerja perempuan merupakan tantangan besar.
Dari 12 karyawan, hanya tiga yang perempuan.

“Kami pernah mempekerjakan beberapa
perempuan yang sudah menikah. Tapi ketika suami mereka melihat mereka makan
siang dengan kolega laki-laki, para suami itu langsung menyuruh mereka
berhenti,” kata Manajer Stasiun Radio Mewat Komal Sharma.

Entah sampai kapan Fareen akan terus bekerja.
Tapi bekerja di dalam studio telah membuatnya semakin dekat dengan mimpi masa
kecilnya yaitu menjadi seorang aktor. Dan kini dia punya tujuan baru.

“Saya ingin membawa perubahan ke dalam
keluarga yang akan saya nikahi. Anak-anak perempuan harus bersekolah. Para
perempuan yang dilecehkan harus mendapat keadilan dan menyadari hak-hak
mereka,” kata Fareen.

Bagi radio komunitas ini, tantangannya adalah
untuk meyakinkan lebih banyak perempuan seperti Fareen bahwa mereka bisa
mendobrak tantangan dan mengubah hidup mereka. [vm/my]

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Sumber: Voice of America/ VOA Indonesia)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email