Kritik Aktivisme Sosial: Aktivis Perempuan Diantara Narsisisme Komunal

 

Kritik terhadap kegiatan aktivisme yang dilakukan para aktivis kerap dilayangkan. Salah satunya adalah aktivis harus mampu merefleksikan diri agar tidak terjebak ke dalam narsisisme komunal. Akan tetapi, bagi aktivis perempuan, tantangan dalam berkegiatan aktivisme tidak hanya soal mampu berefleksi atas narsisisme komunal, tetapi juga bagaimana dapat melepaskan diri dari penilaian atas tubuh yang terlanjur mengatur standar bagi para perempuan untuk berperilaku.

Natasya Fila Rais- Konde.co

Kegiatan aktivisme bertujuan untuk mencapai suatu target kolektif, di mana setiap individu maupun kelompok memegang nilai-nilai yang sama dalam memperjuangkan suatu isu atau hak kelompok tertentu. 

Cara-cara yang untuk meraih target tersebut beragam, di antaranya menciptakan dan memberi ruang bagi kelompok minoritas untuk dapat menyuarakan hak-hak mereka, serta kegiatan-kegiatan seperti advokasi langsung dan edukasi yang membantu mereka memahami kondisi soal ketidakadilan.

Akan tetapi, kegiatan aktivisme tidak imun dari kritik. Berbagai kritik untuk kegiatan aktivisme ternyata juga muncul saat sorotan dari publik tertuju kepada individu aktivis. 

Salah satu kritik yang muncul adalah kegiatan aktivisme yang dipakai sejumlah aktivis sebagai medium untuk membangun citra pribadi mereka, 

Kondisi itu yang tidak diinginkan oleh siapapun, termasuk aktivis sendiri, karena dapat mengambil alih ruang yang seharusnya dapat diisi oleh suara-suara kelompok marjinal. 

Jika aktivisme dilihat sebagai upaya membangun citra pribadi atau citra personal, maka alih-alih menyuarakan suara kelompok minoritas, tanpa disadari kegiatan itu justru meredamnya.

Berefleksi dari kritik tersebut, beberapa minggu lalu, saya menemukan istilah communal narcissism atau narsisisme komunal. Istilah itu digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan psikologis, bahkan dikaitkan sebagai salah satu jenis narsisisme selain yang biasanya kita kenal, seperti agentic narcissism. 

Kata ‘narsisme’ dikaitkan dengan sifat-sifat seorang yang memiliki empati yang rendah dan lebih membanggakan diri sendiri hingga persepsi terhadap diri sendiri pun kabur. Narsisme juga erat dengan persepsi individu yang dibesar-besarkan sehingga merasa berhak terhadap perhatian tertentu karena menilai diri sendiri lebih baik dari orang lain.

Namun, saat membicaraan narsisisme komunal, pandangan umum mengenai narsisisme seakan tidak berlaku. 

Craig Malkin dalam Rethinking Narcissism mendeskripsikan seseorang dengan narsisisme komunal sebagai orang-orang yang menganggap diri mereka pengertian, dapat mendidik dan empatis, serta orang-orang tersebut dengan bangga mengumumkan jumlah sumbangan mereka untuk amal. 

Mereka pun juga percaya bahwa dirinya lebih baik daripada manusia-manusia lainnya dan secara bangga memposisikan dirinya sebagai pemberi dan bukan yang mengambil. 

Dari sifat-sifat itu, berkembang pemikiran diri bahwa dirinya merupakan orang yang paling peduli, dipercaya, dan aktif membantu di komunitasnya.

Definisi narsisme komunal itu seperti tidak membahayakan. Tetapi, dalam skala tertentu mereka yang memiliki sifat tersebut, dapat merasa lebih baik daripada orang-orang lainnya karena mereka memiliki sebuah misi ataupun terikat dalam suatu perjuangan isu sosial tertentu. 

Orang-orang dengan narsisisme komunal jauh lebih peduli dengan bagaimana isu-isu yang diperjuangkan dalam menguntungkan imaji diri dan reputasi mereka ketimbang target aktivisme dan nilai-nilai yang sedang diperjuangkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Jochen E. Gebauer, et al. dalam artikel jurnal Communal Narcissism, mengungkap bahwa meskipun seseorang memiliki narsisisme komunal aktif dalam kegiatan aktivisme, sebagaimana jenis-jenis narsisisme lainnya, orang tersebut tetap memiliki kekurangan dari segi empati dan pada akhirnya kegiatan aktivismenya pun hanya sebatas validasi untuk dirinya sendiri.

Selain itu, tidak sedikit dari mereka yang bahkan masih bersikap abusif terhadap orang-orang terdekatnya ketika tidak harus menampakkan diri di depan umum. 

Hal itu pun juga dapat memunculkan kebingungan, di mana setelah kekerasan dilakukan oleh seorang narsisis komunal, korban pun juga kesusahan dalam menceritakan kekerasan yang dialami terhadap orang lain, terutama terhadap orang-orang yang memandang narsisis komunal ini secara positif. 

Bahkan, kemungkinan untuk tidak mengindahkan cerita korban pun dapat terjadi karena terdapat pemikiran bahwa mana mungkin seseorang yang secara aktif memperjuangkan hak-hak kelompok kelompok yang tertindas memiliki sifat yang tidak sejalan dengan aktivismenya.

Dengan dikenalnya narsisisme komunal yang memiliki kemungkinan untuk berkembang di tengah kegiatan aktivisme sosial, kita dapat merefleksikan diri saat terlibat maupun melihat aktivisme dan aktivis, terutama jika aktivis tersebut adalah perempuan. 

Kita dapat merefleksikannya dari dua sisi untuk melihat aktivisme oleh aktivis perempuan. Di satu sisi, aktivis perempuan dapat melihat kembali di mana pusat perhatian kegiatan aktivisme, pada individu atau pada hak-hak yang diperjuangkan? dan apakah sebagai aktivis, kita sudah memberikan ruang bersuara bagi kelompok-kelompok minoritas ?

Walaupun di sisi lain, aktivis perempuan memiliki tantangan tersendiri dalam berkegiatan aktivisme. 

Tantangan itu hadir karena tubuh perempuan merupakan sasaran pendisiplinan agar memenuhi kriteria feminin atau norma-norma di masyarakat untuk dapat dianggap sebagai “perempuan baik”. 

Di dalam buku berjudul “Femininity and Domination, Studies in the Phenomenology of Opression” (1990), Sandra Lee Bartky mengungkap tubuh perempuan dibuat tunduk untuk melanggengkan sikap bungkam dan ketidakberdayaan dengan praktik pendisiplinan. 

Subjek perempuan yang ideal memiliki standar tertentu. Salah satu standar tersebut mengatur tingkah laku tubuh perempuan yang dianggap “baik” seperti tidak bersuara keras, menghindari tatapan, hingga harus berpakaian yang dianggap “sopan”.

Berangkat dari pemikiran Bartky tersebut, aktivis perempuan gampang menjadi sasaran kritik atas kegiatan aktivismenya, termasuk bagaimana dia bertingkah laku hingga berpakaian. 

Aktivis perempuan dituntut untuk memenuhi standar norma yang berlaku sebagai “perempuan”. 

Jika tidak memenuhi standar, dia bisa menjadi sasaran kritik keras termasuk memiliki narsisisme komunal apabila sorotan publik mengarah padanya sebagai individu. 

Saat sorotan publik mengarah kepada individu, aktivis perempuan bisa saja disodori pertanyaan:  “apakah sudah mengimplementasikan nilai-nilai yang diangkat dalam aktivisme dalam kehidupan nyata?” yang dalam bahasa lainnya: “apakah sudah memenuhi nilai-nilai standar masyarakat untuk dianggap sebagai perempuan?”

Refleksi ke dalam termasuk menghindari narsisisme komunal tidak akan cukup bagi aktivis perempuan. Hal itu karena aktivis perempuan tetap akan menjadi sasaran berbagai kritik dari publik, entah dari caranya bicara yang dianggap keras atau galak, berpakaian terbuka, hingga terlalu mengekspresikan diri dan bersuara. 

Oleh karena itu, tantangan selanjutnya bagi aktivis perempuan adalah berefleksi diri untuk bersama-sama kelompok yang dia dampingi membebaskan diri dari ketidakadilan.

Kritik terhadap aktivisme dan aktivis sah kita lakukan. Hal itu agar kita yang berkegiatan aktivisme tidak mengambil ruang yang seharusnya ditujukan bagi kelompok-kelompok yang diperjuangkan. Kita juga bisa melihat kembali dari mana sumber pengetahuan yang kita dapatkan mengenai kelompok-kelompok tersebut, apakah berasal dari kelompok-kelompok tersebut sendiri atau diceritakan oleh pihak-pihak yang posisinya lebih beruntung.

Lewat kritik itu, kita pun dapat memfokuskan diri dengan nilai-nilai atau isu-isu yang diperjuangkan saat melakukan kegiatan aktivisme sosial tertentu daripada fokus pada hasil eksternal yang dapat dilihat oleh masyarakat umum juga dapat mengontrol kita dari melakukan kegiatan sebatas mendapatkan validasi sosial. 

Akan tetapi, kritik juga bisa dilakukan dengan melihat lebih dalam lagi apa yang terjadi, terutama pada kegiatan aktivisme dan aktivis perempuan. Hal itu agar, kritik yang kita layangkan tidak meredupkan kegiatan aktivisme karena adanya label “aktivisme jadi ajang narsis.”

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Natasya Fila Rais, seniman multidispliner yang mengangkat isu-isu hak perempuan dan LGBTQ+ dalam karya-karyanya. Natasya dapat ditemukan melalui akun Instagram @natasyafilarais

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email