Lahir di Tengah Krisis: Fainmarinat Membangun Laboratorium Biomolekuler Pertama di Indonesia

Saya selalu percaya bahwa krisis tidak hanya akan melahirkan penderitaan, tetapi juga inovasi. Paling tidak gambaran inilah yang muncul ketika saya bertemu Fainmarinat S.Inabuy PhD, perempuan dan doktor biomolekuler pertama asal Nusa Tenggara Timur/ NTT yang datang dengan ide tes massal untuk Covid-19. Fainmarinat telah melahirkan hal yang sangat penting, yaitu laboratorium tes massal Covid-19 pertama di Indonesia.

Dominggus Elcid Li- Konde.co

Laboratorium ini adalah laboratorium pertama di Indonesia yang khusus melakukan riset inovasi terkait tes massal. Dan ternyata laboratorium ini lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), di kota dimana saya tinggal. 

Waktu itu tanggal 1 Mei 2020 Fainmarinat S.Inabuy PhD, lulusan Washington State University dan aktif di Forum Academia NTT pertama kali mempresentasikan idenya tentang pembuatan laboratorium biomolekuler untuk test massal di depan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Ia menjelaskan dengan gamblang tentang metode pooled test. Proses inkubasi idenya seiring dengan rekan lain di Bandung, Hafidz. Mereka kerap berkomunikasi bersama dengan Dahlan Iskan, wartawan senior.

Ide itu diam cukup lama, tidak mendapatkan sapaan balik dari pemerintah. Meskipun demikian Fainmanirat atau Fima panggilannya, tetap punya keyakinan. Ia mulai merekrut, dan melakukan pelatihan untuk para laboran di awal Bulan Juni 2020. 

Dukungan pertama datang dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Mereka menyiapkan ruangan, alat, dan reagen.

Awalnya, untuk melibatkan jaringan masyarakat secara meluas tentang idenya ini, Fima sempat mendisain acara pelatihan selama setengah hari. Pelatihan berhenti sebelum jam makan siang. Ya, ini karena dana makan siang memang tidak ada. Kas Forum Academia NTT hanya sisa 500 ribu. Hanya cukup untuk makanan ringan. Namun dukungan publik ternyata di hari itu luar biasa. 

Gelombang dukungan masyarakat NTT maupun dari luar NTT datang begitu saja mendukung. 

BLK (Balai Latihan Kerja) dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT pun turun tangan. Mereka ikut membawa makan siang. Pelatihan bisa selesai sore jam 6, dan peserta masih bisa makan malam bersama atau dibawa pulang. Maklum, kebanyakan para laboran ini adalah anak-anak kost.

Sejak pelatihan itu, tim pool test yang berisi para laboran muda pun terbentuk. Pelatihan demi pelatihan mereka jalankan. 

Maka sejak Juni 2020 mereka sudah bekerja tanpa mengharapkan upah. Hanya semangat. Modalnya gerakan sukarelawan. Prinsipnya jika saling membantu, kita tidak pernah kekurangan. Sebaliknya jika ini dianggap proyek, duit pasti akan selalu kurang.

Sejak Juli 2020, Surat Keputusan/ SK untuk pendirian laboratorium biomolekuler pun keluar. laboratorium ini ditempatkan di Universitas Nusa Cendana. 

Sejak itu selama tiga bulan, doktor biomolekuler ini tak hanya membaca jurnal. Ia adalah mandor laboratorium. Mandor bukanlah kata yang pas, sebab Fima dan keluarganya kemudian memberikan fasilitas setiap harinya. Seluruh makan siang para laboran disumbangkan oleh Ibu Letje  yang adalah Mama dari Fima, dari Sekolah Abdi Kasih Bangsa, Kupang.

Sikap sukarelawan itu menular. Setidaknya ada 8 laboran pejuang yang bertahan hingga kini dari 16 orang. Bekerja dari pagi hingga menjelang tengah malam adalah hal biasa. Buat saya, sebagai anak muda, mereka telah bertarung hingga titik tertinggi. Memberikan yang terbaik tanpa pamrih. Bekerja dalam kondisi darurat syaratnya hanya satu: one for all, all for one. Humanity.

Anak-anak muda ini tak hanya laboran, mereka adalah pasukan task force sesungguhnya. Dari memasak, cleaning service, mencatat laporan keuangan, hingga membuka jurnal membahas alur pool test mereka kerjakan dalam satu hela nafas.

Dan selanjutnya, selain Fima, kehadiran Doktor biomolekuler ke-dua asal NTT juga amat membantu. Alfredo Kono PhD., adalah doktor biomolekular yang pulang dari Iowa State University. Ia kemudian juga turut mengambil sebagian peran dari pundak Fima. 

Edo pulang lebih cepat ke Kupang untuk membantu. Jika sudah tiba membaca hasil qPCR, mereka bercakap-cakap dalam dunia mikro itu. Mereka tenggelam dalam alam laboran. Hening dan detil. Waktu seolah diam.

Dari Dinas Kesehatan Provinsi, juga ada srikandi pejuang. Ibu Erlina R. Salmun. Ia adalah pejuang pekerja di dalam birokrasi. Ia membantu yang belum jalan atau macet. Menyambungkan yang perlu. Ia adalah anomali dalam birokrasi. Pakai hati.

Ada cerita sedih. Sekian bulan lalu, tim interdisipliner dari Forum Academia NTT yang mendorong menginisiasi laboratorium ini sempat difitnah mendapatkan uang 900 ribu per jam, fitnah ini disinyalir dilakukan oleh beberapa wartawan. Namun isu tidak pernah mereka selesaikan dengan bukti. Tapi, semua itu sudah lama berlalu. Kini, duri-duri itu tak lagi terasa karena kami sudah mendapatkan hasilnya, sudah ada bunga yang mekar.

Setiap malam menunggu hasil tes dari qPCR sudah terbayarkan. Panas dalam baju Alat Pelindung Diri/ APD di ruang ekstraksi sudah lewat. Jari yang penat menggunakan micro pipet saat ini juga sudah berlalu. Tubuh yang dingin diguyur air dingin ketika tengah malam keluar dari ruang ekstraksi, sudah tak lagi terasa. 

Tanggal 16 Oktober 2020,  anak-anak muda Indonesia ini sedang mencatatkan sejarah bersama. Mereka membuktikan mampu membuat laboratorium biomolekuler yang hadir karena insiatif publik. Momentum semangat persaudaraan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh sudah mereka buktikan.

Ya, insiatif ini mungkin yang pertama terjadi di dunia. Laboratorium rakyat, yang dibangun dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Semangat itu yang sering hilang. Rakyat adalah entitas politik dari republik. Tanpa rakyat tidak ada republik. Ide ketika dikerjakan tanpa kepentingan (interest) dan uang hanya menjadi salah satu variabel dan bukan tujuan ternyata bisa menghasilkan sesuatu.

Hari ini adalah hari kemenangan mereka. Generasi yang menolak tunduk pada sistem normatif birokrasi. Sebaliknya mereka berpacu menorehkan keindahan. 

Gubernur NTT, Victor Laiskodat pun tergerak,  Gubernur berjanji akan memberikan tes swab gratis untuk seluruh warga. Untuk bersama-sama sehat, semua harus punya akses yang sama di saat pandemi.

Prioritas tim saat ini adalah mengurai antrian sample swab yang sebanyak 3000-an, dan membantu tim surveillance Dinas Kesehatan Provinsi/Kota/Kabupaten di NTT Kita sedang berjalan bersama keluar dari krisis. 

Pendekatan ekonomi saja tidak lagi menjadi solusi. Buat saya, pendekatan ekonomi-kesehatan harus menjadi panglima. Selama para teknokrat dan birokrat meminggirkan rakyat, hanya ada nestapa beruntun. Sebaliknya jika republik dikerjakan dalam politik kerakyatan, untaian bunga mawar akan jadi hadiah yang manis dalam perjalanan melalui sekian duri dan onak. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Dari sebelah Timur rombongan anak muda dari mahasiswa, tukang batu, sarjana baru lulus, para doktor bekerja sama dengan target meringankan beban kita semua saat krisis akibat pandemi Covid-19. 

Mudah-mudahan krisis segera berlalu, anak-anak bisa segera bersekolah, dan kita semua bisa bekerja, dan berinteraksi seperti sedia kala. Supaya cium hidung atau pipi di tenda duka atau suka bisa berjalan tanpa takut.

Mengerjakan republik perlu dilakukan dengan gembira. Agar pekik ‘merdeka’ dilepaskan ke angkasa tanpa beban, cuma rasa syukur masih bisa saling sapa dan bantu demi kehidupan yang lebih baik. Semoga pemulihan akibat krisis bisa lebih cepat.

(Fainmarinat S.Inabuy PhD, Foto: Dominggus Elcis Li)

Dominggus Elcid Li, Moderator Forum Academia Nusa Tenggara Timur (NTT)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email