Pengalaman Sulitnya Keluar Dari Perkawinan Yang Buruk

Menjalani perkawinan yang buruk, siapa yang pernah membayangkan sebelumnya? Ada yang butuh waktu bertahun-tahun, bahkan ada yang sampai akhir hidupnya

Setiap mengingat sosoknya, air mata ini selalu tumpah. Mbak Pur, begitu dia biasa dipanggil.

Pagi itu, beberapa tahun lalu, aku ingat betul, waktu masih pagi, saat aku sedang  menyapu halaman. Tiba-tiba Mbak Pur yang usianya sebaya denganku, mendatangiku sambil menangis. Dibiarkannya sepeda anginnya ambruk di halaman. Ia langsung berlari memelukku. Belum bercerita apa-apa, tapi aku bisa merasakan kegetiran yang sedang terjadi.

Lalu kugandeng tangannya, kubimbing duduk di teras. Tangisnya pecah, air matanya membasahi bajuku. Setelah cukup tenang, barulah dia bercerita.

“Mbak Ninik, (begitu dia memanggilku karena dia teman mainku sejak kecil), tolong saya,” ujarnya sembar terus tersedu, bahkan makin kencang.

“Suamiku, mbak, dia menyukai perempaun lain.”

Oh, ikut sesak dada ini. Betapa tidak, sebagai teman main, teman sekolah di TK dan tetangga dekat, Mbak Pur ini hampir sama denganku, sama-sama memiliki 2 ( dua)  anak perempuan yang umurnya hampir sebaya.

“Saya harus bagaimana ? Tadi malam saya pergoki suamiku dengan perempuan lain mbak. Saya minta mereka tidak berhubungan lagi.”

Nafasnya terus memburu, ditambah air matanya yang terus berderai.

Di sini aku bingung, mesti berbuat apa? Apa yang bisa aku bantu ? Suami Mbak Pur yang usianya terpaut 2 tahun lebih muda, bekerja sebagai satpam di salah satu supermarket di kotaku.  Sudah setahun ini suami Mbak Pur, diketahui menjalin hubungan asmara dengan warga kampung sebelah .

Lama mbak Pur bercerita, sudah 2 gelas air diminumnya. Setelah selesai menumpahkan kesedihannya Mbak Pur sedikit tenang, lalu kutawarkan segelas air lagi untuk membasahi  tenggorokannya.

“Sabar ya Mbak. Mudah-mudahan suami Mbak sadar,” pesanku.

Setahun berselang kisah Mbak Pur seakan terlewat begitu saja. Dia tetap ikut arisan, atau kegiatan di lingkungan kami. Hanya saja dia terlihat kurus, penampilannya tidak serapih sebelumnya. Pakaian yang dikenakan terlihat kedodoran, serta potongan rambut yang menurutku tidak lagi modis seperti dulu.

Sore itu  Mbak Pur datang kembali ke rumah. Kali ini kehadirannya kuhubung-hubungkan dengan kabar yang disampaikan oleh para tetangga saat kumpul di pertemuan. Tapi aku menepis dugaan buruk itu, aku tidak akan percaya sebelum ada bukti. Apalagi kabar burung itu disampaikan oleh siapapun secara simpang siur.

Tapi ternyata dugaanku benar. Kehadiran Mbak Pur keesokan harinya ke rumahku membuktikan hal itu, kendati kedatangannya bukan untuk bertemu dengan aku, melainkan suamiku.

“Pak RT ada, mbak?,” sapanya tenang.

Aku seperti punya felling buruk atas kedatangan perempuan berambut sebahu ini.

Setelah kupertemukan dengan suamiku yang memang sebagai Ketua RT, kutinggalkan mereka berdua. Karena agaknya Mbak Pur kali ini sepertinya tidak ingin jika aku mengetahui urusannya.

Dan informasi itu kemudian aku peroleh dari suamiku. Setelah Mbak Pur pulang dengan mengantongi secarik kertas dari suamiku, maka kabar buruk itu sampai ke telingaku.

Mbak Pur mau menikahkan anak perempuannya yang sudah hamil 6 bulan dan pacarnya pergi begitu saja.

“Calon suaminya siapa, pak?,” tanyaku kepada suami. Yang dijawab masih mau mencari di Kediri.

“Makanya ini ada saudaranya Mbak Pur di Kediri, yang akan dijadikan suaminya.”

Jawaban ini membuat perutku sakit. Hamil dan tak ada suaminya. Sekarang akan dicari saudara agar mau menikahi agar si bayi nanti punya status punya bapak. Aku lemas, dadaku rasanya seperti dihantam. Inilah rasanya menjadi perempuan, selalu kalah oleh situasi. Kemarin mbak Pur, dan sekarang anak perempuannya.

Pernikahan itupun terjadi. Aku datang dalam pesta pernikahan anaknya mbak Pur.

Mbak Pur adalah ibu rumah tangga, yang selama ini berjualan di teras rumah untuk menghidupi keluarga. Warung mbak Pur berjualan jajanan anak-anak, minuman dan rokok yang digelar di teras rumah peninggalan orang tuanya itu, kerap tutup. Sakit-sakitan dan kehabisan modal yang sering membuatnya seperti itu. Belum lagi lilitan hutang kanan kiri mulai dari hutang bank hingga hutang di kas arisan. Juga hubungan yang tidak pernah mengenakkan  dengan suaminya, perang dingin nyaris terjadi setiap hari. Suaminya ternyata masih menjalin hubungan dengan perempuan lain.

Kini, selain berjualan, kegiatan Mbak Pur setiap hari yaitu mengantar jemput cucunya yang bersekolah di TK yang tidak jauh dari rumah.

Kondisi kesehatan Mbak Pur makin hari makin  menurun. Penyakit gula menggerogoti tubuh Mbak Pur, yang semakin kurus, padahal dulu tubuhnya berisi. Kini nyaris tinggal tulang dan kulit saja karena ia terlalu memikirkan tingkah suaminya.

Kesehatan Mbak Pur makin memburuk, keluar masuk rumah sakit. Tapi rasa sakit hati Mbak Pur terhadap suaminya rupanya belum padam. Rasa sakit karena dikhianati serasa lebih sakit dari sakit fisik yang dialaminya.

Kini, hari-hari Mbak Pur dihabiskan tergolek di selembar kasur tipis, di ruang tamu rumahnya. Dia lebih senang dirawat oleh adik atau kakaknya yang bertempat tinggal bersebelahan, bukan oleh suaminya.

Teriakan-teriakan Mbak Pur untuk minta makanan atau keperluan lainnya, terdengar hingga ke rumah tetangga kami yang lain. Tubuhnya makin tipis seperti papan, suaranya makin lirih dan kesadarannya timbul tenggelam.

Para tetangga dan kerabat sering mengunjungi Mbak Pur, yang sakitnya makin berat. Beberapa tetangga mengingatkan agar Mbak Pur memaafkan suaminya saja. Tapi hanya gelengan kepala jawaban dari Mbak Pur. Mbak Pur orang yang punya prinsip. Suaminya tak terampuni karena menyebabkan ia dan anak mereka menderita selama ini.

Di suatu siang yang sangat terik, mbak Pur pergi untuk selamanya, membawa luka dan sakit hati yang tak terobati. Setiap mengingatnya, saya selalu menangis.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Siti Noor Ainie

Siti Noor Ainie

Sehari-hari aktif di Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) Ponorogo

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email