Cemburu Bukan Ekpresi Cinta Tapi Kebencian: Kasus Femisida

Cemburu seharusnya dimaknai sebagai sebuah ekspresi cinta, namun banyak laki-laki yang cemburu terhadap pasangannya dengan kebencian yang berbahaya. Jika kita lihat datanya, cemburu adalah salah satu penyebab terjadinya femisida atau pembunuhan terhadap perempuan

Pertanyaan tentang mengapa pasangan yang konon mencintai kita, justru berpotensi menjadi pembunuh? Ini adalah pertanyaan karena banyaknya kasus femisida atau pembunuhan terhadap perempuan karena identitasnya sebagai perempuan

Dan cemburu pada pasagan adalah salah satu penyebab femisida. Mengapa cemburu menjadi alasan pembenar pasangan atau laki-laki melakukan agresi maupun sadisme termasuk dengan cara membakar hidup-hidup pasangannya?

Karena cemburu bukan lagi dimaknai sebagai ekspresi cinta, namun cemburu dimaknai sebagai ekspresi kebencian

Di awal Februari 2021 kita dikejutkan dengan kasus femisida atau pembunuhan terhadap perempuan. Dilansir dari Detik.com, ada berita tentang seorang laki-laki yang membakar istrinya di Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara. Peristiwa ini dipicu karena cemburu

Di tahun sebelumnya di Dumai, seorang suami juga membakar istrinya hingga tewas karena kesal permintaan uang yang tidak dipenuhi sang istri. Pembakaran juga terjadi di Demak, dimana ada seorang lelaki membakar perempuan di rukonya karena cintanya yang ditolak.

Saat bersamaan saya tengah menyusun laporan tentang femisida atau pembunuhan perempuan seperti kasus-kasus pembakaran ini.

Sepanjang tahun 2020 terpantau ada 97 kasus pembunuhan terhadap perempuan dengan pemicu terbesar adalah laki-laki pasangan yang cemburu, tersinggung oleh karena alasan maskulinitas, menolak berhubungan seksual dan didesak bertanggung jawab atas kehamilan. Selain itu pemicu femisida juga berasal dari konflik rumah tangga, seperti poligami, tidak mau bercerai, meminta cerai atau pisah, karena kebutuhan materi, peran tradisional perempuan serta kehormatan keluarga.

Isu femisida ini telah menjadi perhatian dunia, karena sifatnya sebagai manifestasi diskrimininasi terhadap perempuan. Pelapor Khusus PBB (2016) mendefinisikan femisida sebagai:

“The killing of women because of their sex and/or gender. It constitutes the most extreme form of violence against women and the most violent manifestation of discrimination against women and their inequality”.

Salah satu bentuk femisida adalah pembunuhan oleh pasangan baik suami atau pasangan intim. Hal ini dibuktikan dengan penelitian Global Study on Homicide yang dilakukan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) yang menemukan bahwa 87.000 perempuan dibunuh pada tahun 2017. Lebih dari setengahnya (58%) atau sekitar 50.000 dibunuh oleh pasangan intim atau anggota keluarga, dan lebih dari sepertiga atau 30.000 perempuan dibunuh oleh pasangan intim atau mantannya.

Pertanyaannya adalah: mengapa pasangan yang konon mencintai kita justru berpotensi menjadi pembunuh? Mengapa cemburu menjadi alasan pembenar seseorang untuk melakukan agresi maupun sadisme termasuk dengan cara membakar hidup-hidup?

Cemburu Yang Membunuh

Kita selalu mengasumsikan bahwa cemburu adalah ekpresi cinta. Namun cemburu karena pasangan sering tersenyum sendiri menjelang tidur atau menerima telepon atau mendapatkan kiriman foto atau menolak berhubungan seksual lantas menuduh pasangan berselingkuh dan lantas membunuhnya, menurut saya ini tentu bukan pertanda cinta, tapi ini kebencian

Demikian halnya ketika pasangan meminta putus atau bercerai, atau mantan telah memiliki pasangan lain, lantas cemburu dan membunuhnya dengan pembenaran:

“Aku tidak memilikinya, maka yang lain juga tidak boleh memilikinya”.

Ada yang salah dalam memaknai cinta. Saya menyadari bahwa kecemburuan sebagai emosi negatif bukanlah faktor tunggal terjadinya femisida, namun akar masalahnya tetap merujuk kepada kebencian terhadap perempuan atau subordinasi perempuan dalam sistem sosial patriarki.

Laki-laki yang dikontruksikan dengan nilai-nilai maskulinitas, diposisikan superior dan dominan, karenanya menjadi pengatur dan pengontrol perempuan atau keluarganya. Tentu nilai ini mempengaruhi cara pandang tentang cinta dan perkawinan. Cinta dan perkawinan kemudian dipahami sebagai bentuk ikatan kepemilikan tubuh dan seksual pasangannya.

Laki-laki melalui doktrin maskulinitasnya sebagai yang jantan dan penakluk akan merasa terhina jika mendapati ‘hak milik’ (perempuan)-nya dikuasai oleh orang lain. Laki-laki akan cemburu jika pasangannya terlihat bersama orang lain padahal relasinya hanya sekedar berteman. Konsep laki-laki yang selalu ingin menguasai inilah yang menyebabkan perempuan selalu menjadi subordinat.

Cinta dengan kepemilikian ini seringkali berujung menjadi cinta sebagai penindasan. Dengan alasan “kamu adalah milikku”, menjadikan yang dicintai akan terbelenggu, dan tidak memberikan ruang untuk pertumbuhan potensi pasangannya.

Padahal seharusnya cinta itu membebaskan, dalam artian memposisikan diri sebagai subyek, bukan obyek cinta, yaitu ketika kita tidak terfokus pada bagaimana agar dicintai, tapi belajar bagaimana mencintai orang lain. Belajar mencintai akan menumbuhkan cinta yang sehat, yang terus bertumbuh dengan sifat-sifat memberi dan mendukung potensi pasangannya.

Aspek yang paling penting dari memberi adalah kita memberikan diri kita, hidup kita, suka duka minat dan pengetahuan, pemahaman dan perhatian kita sebagai subyek cinta.

Apakah lantas kita tidak boleh cemburu? Dengan memahami bahwa cemburu adalah tanda tidak ingin ada sesuatu yang hilang dari yang sedang atau ingin miliki, maka cemburu sejatinya bukanlah tanda cinta, tetapi itu egoisme.

Dengan mengubah cara pandang tentang cinta, mungkin ke depan kita tidak lagi menemukan istri atau pasangan dibunuh oleh suaminya atas nama cinta itu sendiri.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Siti Aminah Tardi

Feminis dan Advokat Publik

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email