Keguguran Aurel Hermansyah dan Hilangnya Substansi Pengalaman Perempuan

Kisah keguguran kandungan artis Aurel Hermansyah menjadi trending topic di Twitter setelah diunggah suaminya, Atta Halilintar di Youtube. Tayangan reproduksi perempuan ini seperti diumbar dan dikomodifikasi atas nama netizen dan penonton. Televisi juga melakukannya. Ini seperti memberitahu kita bahwa pengalaman perempuan masih didefinisikan sebagai kepentingan media, laki-laki dan cuan

Keguguran kandungan artis Aurel Hermansyah menunjukkan hilangnya substansi pengalaman perempuan atas nama media, laki-laki dan cuan.

Kisah keguguran Aurel Hermansyah sempat menjadi trending topic nomor 1 di media sosial Twitter pada 19 Mei 2021. Pasalnya, satu hari sebelumnya, Atta Halilintar suaminya mengunggah video berjudul “Selamat Jalan Anakku” di Youtube.

Jika Anda belum menonton (saya tidak merekomendasikan karena alasan-alasan yang akan saya sebutkan di bawah), video tersebut menunjukkan interaksi Atta dan Aurel yang mengabarkan kondisi keguguran Aurel. Hingga tulisan ini diterbitkan, video berdurasi 10 menit lebih tersebut telah mendapat 9,4 juta views.

Sekilas pengamatan, tidak ada yang problematis dalam video tersebut. Atta terlihat sedih, Aurel juga beberapa kali menangis tersedu. Namun, pada menit 1:56 dan 6:11, di sisi kanan bawah layar muncul notifikasi bertuliskan, “Tonton versi full video di Maxstream.”  Sebuah iklan.

Tidak hanya itu. Di akun Instagram pribadinya, Atta juga sempat mengaitkan peristiwa keguguran istrinya untuk mempromosikan layanan program hamil dan jam tangan berjenama.

Namun, tidak hanya Atta, satu hari setelah Atta mengunggah video tersebut, keluarga Anang-Ashanty dalam akun Youtube The Hermansyah juga ikut mengunggah video berjudul “KELUARGA IKUT BERDUKA DAN BERSEDIH ATAS KEHILANGAN, NAMUN TETAP BERI SEMANGAT!”. Video berdurasi 29 menit ini dilihat oleh 2,2 juta penonton. Video dibuka dengan rekaman suara pembicaraan Aurel dan keluarga The Hermansyah di telpon, berlanjut ke adegan Arsy yang shock dan menangis saat mendengar kabar keguguran kakaknya, Aurel, kemudian wejangan dari keluarga pada Aurel kalau ia harus kuat. 

Sayangnya, hal privasi yang sebetulnya cukup untuk keluarga mereka sendiri ini tidak juga berhenti di situ. Tiga hari setelahnya, netizen Indonesia disuguhi tayangan lain dalam Youtube keluarga Atta, Gen Halilintar. Judulnya, “PECAH TANGIS 10 ADIK, BERPULANGNYA ANAK ATTA & AUREL SUDAH BERPULANG”. Satu jam setelah video itu tayang, mereka mengunggah video lainnya berjudul, “ANAK ATTA & AUREL TITIP PESAN KE KAKEK HALILINTAR UNTUK PAPA MAMANYA DALAM MIMPI”. Kedua video ini disaksikan ratusan ribu penonton. Kedua video tersebut, ditambah video Atta dan The Hermansyah, disusupi iklan Adsense. Ah.. ujung-ujungnya, cuan.

Hilangnya Substansi Pengalaman Perempuan

Kalis Mardiasih, aktivis kesetaraan gender memberikan komentar menarik atas video-video yang diunggah ini. Ia menuliskan bahwa reproduksi yang dialami Aurel sebaiknya tidak usah banyak diumbar dan dibicarakan berlarut. 

Kalis mencuit, “Sejujurnya, simpati mendalam ke aurel hermansyah karena pengalaman reproduksinya dieksploitasi jadi konten terus menerus. ga kebayang naik turun kondisi mentalnya dengan segala pengalaman reproduksi+sosial yg mesti ia lalui.”

“Ikut senang juga melihat orang-orang di sekelilingnya support. Tapi… bisa nggak tema kontennya besok-besok ganti dulu, nggak terus menerus ngomongin pengalaman reproduksi aurel?” sambungnya.

Ujaran Kalis bukan tanpa alasan. Proses keguguran tidak pernah mudah bagi perempuan. Banyak perempuan yang mengalami trauma dalam kondisi ini. Dilansir dari hellosehat.com, survei Imperial College London menemukan bahwa 4 dari 10 perempuan berisiko mengalami stres dan trauma akibat keguguran yang dialami. Seorang teman perlu waktu cukup lama untuk menyendiri ketika ia menyadari kalau ia langsung hamil setelah menikah, tetapi dua minggu kemudian, ia keguguran.

Sekeras apapun berusaha, saya yang pernah mengalami 5 kali pendarahan saat hamil dan harus bedrest total, tetap tidak akan mampu memahami secara utuh pengalaman teman saya dan Aurel, juga pengalaman banyak perempuan yang pernah mengalami keguguran. Pengalaman itu mereka rasakan, detik demi detik, tanpa mampu dipahami oleh siapa pun. Termasuk sang suami. Tidak ada satu pun orang yang benar-benar mengerti bagaimana rasa sakitnya. 

Cerita keguguran Aurel tentu saja membuat saya sedih. Namun, saya lebih merasa prihatin karena Aurel tampaknya tidak diberi kesempatan meresapi dan mencerna dengan penuh kesadaran atas segala hal yang terjadi pada dirinya–jiwa dan tubuhnya. Cerita Aurel diumbar dan pengalaman reproduksinya seperti dieksploitasi terus-menerus.

Dalam video tersebut, alih-alih memvalidasi utuh pengalaman dan perasaan Aurel, saya melihat Atta lebih banyak melakukan patronase pada Aurel. Aurel terkesan bukan sebagai subjek yang secara rigid mengalami kondisi keguguran.

Beberapa kali, Atta sempat memotong perkataan Aurel saat ia bercerita. Pun, meski peristiwa keguguran tersebut baru terjadi, Aurel diminta untuk lekas kuat, lekas ikhlas, dan tenang, karena (meminjam perkataan Atta) “Beberapa bulan ke depan, insyaallah kita bakal punya anak lagi.” 

Pelanggengan Ideologi Kodrat

Respons Atta tidak mengejutkan. Sebelumnya, ia sempat mengeluarkan pernyataan terkait posisi suami di hadapan istri, juga pernyataan kontroversial bahwa ia ingin punya 15 anak dari Aurel.

Pernyataan Atta dikecam tidak hanya oleh Komnas Perempuan, tetapi juga dipertanyakan ibu dan bunda Aurel, Krisdayanti dan Ashanty. Belakangan, ia mengklarifikasi bahwa itu hanya candaan.

Kata-kata Atta membuat saya teringat perkataan Prof. Etin Anwar saat mengisi acara kajian Islam bertema Filsafat Perempuan dalam Islam, “Pelanggengan ideologi kodrat perempuan yang dipaksakan dan dianggap sebagai satu-satunya kebenaran itu berbahaya.”

Lebih jauh, pakar feminis Islam ini menyebut bahwa keputusan untuk menyelami pengalaman sesuai kodrat seperti hamil, melahirkan, dan motherhood, seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada individu perempuan yang bersangkutan.

“Izin suami, suara suami adalah dari Tuhan. Kalau aku enggak izin ini, kamu harus nurut,” ujar Atta menegaskan posisinya dalam podcast The Hermansyah, Rabu (7/4/2021), sebelum ia menikah dengan Aurel.

Dalam kajian yang sama, Prof. Etin menyebut bahwa dalam Islam, ketaatan itu bukan pada laki-laki, tetapi pada Allah. Manusia, baik perempuan dan laki-laki, memiliki posisi yang sama untuk mencapai ketaatan pada Allah.

Sementara, dalam sistem patriarki, laki-laki seolah diposisikan sebagai mediator antara perempuan dengan Allah. “Itu tidak benar,” tukasnya.

Pengejawantahan nilai patriarki yang terus dibiasakan dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi nilai-nilai yang mempengaruhi cara kita berpikir dan mengambil keputusan. Tidak heran kalau banyak istri perlu konfirmasi dari suaminya hanya agar merasa utuh sebagai seorang perempuan.

Kisah keguguran Aurel, yang dieksploitasi dan dikomodifikasi, memberitahu kita bahwa pengalaman perempuan dalam banyak hal masih didefinisikan sesuai kepentingan laki-laki. 

Perjuangan mencapai kesetaraan masih sangat panjang.

Eksploitasi dan Komodifikasi Tayangan untuk Mengejar Popularitas

Kasus keguguran Aurel ini juga mengingatkan saya dengan simpul hubungan antara artis dan penggemarnya. Dalam tayangan infotainment, relasi ini seperti sebilah mata pedang. Entah kenapa, selalu ada kebutuhan bagi artis untuk mempresentasikan hal-hal personal, untuk memperbanyak like, memperbanyak subscriber.

Youtuber Atta Halilintar mengumumkan soal keguguran Aurel dan kemudian disambar dengan cepat oleh jutaan komentar dan kemudian menjadi bahan berita infotainment dan talkshow di televisi. Seorang dokter diundang khusus untuk membahas keguguran yang dialami Aurel di acara Kopi Viral Trans TV, 19 Mei 2021.

Dari hal tersebut, tampak ada 2 keganjilan: persoalan reproduksi yang terlalu diumbar ke publik dan kemudian dibesarkan oleh televisi yang sangat suka menayangkan hal-hal personal. Ini yang kita sebut sebagai eksploitasi dan komodifikasi tayangan yang mendatangkan cuan.

Padahal, ada banyak sekali perempuan miskin yang mengalami keguguran dan pendarahan di Indonesia ini, tetapi tak pernah menjadi tayangan yang kritis di acara infotainment atau variety show di televisi.

Tayangan ini semakin menegaskan ideologi televisi yang percaya bahwa yang dilakukan selebritis itu selalu penting dan laku dijual, layak untuk diumbar-umbar. Perlu konstruksi besar-besaran soal tayangan seperti ini. 

(Foto: Pikiran-Rakyat.com)

Marina Nasution

Jurnalis televisi yang murtad dan kini mualaf di Konde.co Pengagum paradoks semesta, gemar membeli buku tapi lupa membaca.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email