Stop Mengolok-olok Janda; 23 Juni Hari Janda Internasional

Tahukah kamu bahwa setiap tanggal 23 Juni seluruh dunia memperingati hari Janda internasional? Itu kenapa kita tak boleh mengolok-olok janda, karena dunia sudah mengakhirinya.

Stereotipe negatif selama ini banyak disematkan pada janda di Indonesia. Mutiara Proehoeman, pendiri Organisasi “Save Janda” mencatat, janda di Indonesia sering mendapatkan predikat sebagai: perempuan genit, murahan, tak berdaya, tak bisa hidup tanpa suami, penggoda laki-laki, atau sebagai perempuan yang bisa dibawa kemana-mana.

“Janda seolah-olah adalah obyek atau benda, bukan dihargai sebagai manusia. Ini adalah masalah dimana-mana, di seluruh Indonesia, bahkan ada janda yang dibuang, tidak dianggap lagi sebagai keluarga, dianggap pembawa sial dan aib,” kata Mutiara

Di Hari Save Janda internasional yang diperingati seluruh dunia setiap 23 Juni, para perempuan yang tergabung dalam Save Janda menyerukan kampanye stop stigma pada janda.

Di Indonesia, Organisasi Save Janda adalah organisasi yang dibentuk untuk menghargai dan mendukung para janda. Dalam acara Work Self Series, yang mengambil tema “Menulis Yang Menyembuhkan” pada 20 Juni 2021 melalui daring, Save Janda ingin berkampanye mengakhiri stigma yang terjadi pada janda.

Save Janda menyadari membuka status janda kepada publik atau lingkaran perkawanan bukanlah perkara mudah. Para perempuan janda harus berhadapan dengan stigma sosial yang melekat: sebagai penggoda suami orang, perempuan murahan yang pandai dalam aktivitas seks, dan lainnya. Bahkan stigma di masyarakat ini kadang lebih berat daripada harus menanggung perceraian itu sendiri. 

Buruknya stigma sosial merupakan proses tambahan bagi para janda, selain harus menata ulang hidupnya setelah bercerai. Kesulitan yang dialami para janda merupakan bentuk diskriminasi struktural pada perempuan, kondisi ini tak terjadi pada laki-laki. Laki-laki seringkali bebas dari kesalahan akibat kehancuran rumah tangga. Lyn Parker dan Helen Creese, dalam makalah berjudul “The Stigmatisation of Widows and Divorcees (Janda) in Indonesian Society” menjelaskan dalam makalahnya, perempuan di Indonesia sering diharuskan terikat dengan laki-laki. Masalah ini menjadi salah satu penyebab dari stigma yang melekat pada janda. 

Asep Suaji adalah laki-laki, seorang mantan stand up comedian yang hadir dalam acara Work Self Series yang diadakan Save Janda. Ia merasa berempati ketika tahu kehidupan janda temannya yang banyak mendapatkan stigma. Kala itu ada salah seorang temannya yang menjadi janda. Sejak itulah ia banyak bergaul dan mengetahui kehidupan janda

“Soal perjuangan, berjuang sekali, ini yang membuat saya tergerak untuk membantu janda teman saya.”

Sejak itulah ia banyak membantu organisasi Save Janda. Disini ia belajar menghalau teman-temannya yang memandang buruk tentang janda. Di Save Janda ia juga belajar banyak tentang perjuangan para janda, dan ia merasakan nyaman dan bisa membantu disini.

Dalam acara work self series, Save Janda juga menghadirkan komposer musik yang sekarang menjadi penulis, Tya Subiakto yang selama ini banyak berjuang ketika menjadi janda

Tya Subiakto pernah 2 kali menjadi janda, dan pengalaman inilah yang mengajarkannya untuk mandiri. Saat ada bagian buruk dalam hidupnya, ia lalu menulis. Ternyata dalam menulis itulah ia mengetahui bahwa ada banyak titik penting dalam hidupnya yang harus ia catat. Tak hanya titik sedih, tapi juga saat ia menerima kebahagiaan

“Saya menulis untuk membuang sampah emosi salah satunya, gak mungkin kalau lagi emosi buang-buang barang….kalau gak punya pengeluaran emosi, kita pasti ada kesedihan, ada kemarahan dan mengolah rasa. Cara paling mudah yang saya lakukan adalah menulis, saya merasa musik adalah pemenuhan ekonomi dan menulis untuk mengeluarkan emosi.”

Hal lain bagi Tya Subiakto, menulis adalah berpikir dan merasa. Menulis menjadi salah satu cara untuk melatih agar sebagai “obat” yang menyembuhkan

“Karena dengan menulis, ini membuka diri, yaitu kita bisa membaca dan membuka wawasan kita, mendapatkan informasi yang tersimpan. Menulis adalah mengingat episode-episode yang pernah kita alami, jangan sampai episode ini hilang. Cerita hidup itu tak harus bahagia atau sedih semua, ini soal mengolah rasa ini, yang menjadi harta karun kita.”

“Pertamakali dirayakan ulangtahun adalah harta karun pertama, tapi episode sedih juga ada ketika ada perpisahan, pernikahan yang baru, anak dari pernikahan yang terdahulu. Juga ekspresi ketika anak marah, kesabaran dan kemarahan ini menjadi harta karun.”

Tya Subiakto kemudian juga membantu suaminya, sutradara film Agyl Syahriar untuk memproduksi film, dan Tya sebagai penulis script filmnya. Jadilah novel Tia yang pertama “Panggil Aku Mama” yang diluncurkan pada Mei 2020 yang ia kemudian dikontrak oleh salah satu publisher di Amerika yang akan menerbitkan bukunya dalam bahasa Inggris

“Tulisan di novel ini merupakan healing, mencari ketenangan.”

PBB sendiri mulai memperingati Hari Janda sejak tahun 2011. CNN menuliskan penyelenggaran hari janda internasional ini diinisiasi oleh The Loomba Foundation, sebuah organisasi dari India untuk meningkatkan keawasan tentang berbagai isu janda. Tanggal 23 Juni dipilih berdasarkan tanggal Shrimati Pushpa Wati Loomba, ibu dari pendiri organisasi tersebut, Lord Loomba, menjadi janda pada 23 Juni 1954. Perayaan hari Janda Internasional Pertama berlangsung pada 2005.

Pada 2010, mereka mengajukan hari peringatan ini ke PBB. Mereka mengungkapkan dalam bukunya Invisible, Forgotten Sufferers: The Plight of Widows Around the World (2010) ada setidaknya 245 juta janda di seluruh dunia, sekitar 115 juta di antaranya berada di garis kemiskinan dan mengalami stigma sosial dan kekurangan uang karena kehilangan suaminya.

Pada 21 Desember 2020, PBB secara resmi mengadopsi 23 Juni sebagai Hari Janda Internasional. Dalam lamannya seperti tertulis di CNN, PBB mengungkapkan bahwa tujuan diadakannya hari janda adalah untuk memberikan perhatian pada suara dan pengalaman para janda demi menggalang dukungan unik yang mereka butuhkan.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay dan Indonesiadaily.co.id)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email