Pacaran Toksik: “Ada Yang Hilang Dan Kita Tidak Tahu Itu Apa”

Selain diabaikan, kewarasan saya sudah sampai titik nol ketika menyadari telah menjadi korban pacaran toksik

Saya tidak menonton Film “Posesif”, saya juga tidak menjadi bagian dari sekian anak muda yang membicarakan Film “Story of Kale”. Saya terlalu pengecut untuk nonton kedua film populer itu. 

Menonton sendiri tidak sanggup, sementara saya masih beranggapan jika orang lain hanya punya empati seujung kuku untuk melihat bekas-bekas luka di sepanjang ingatan saya. Jadi saya pikir saya juga tidak akan sanggup menontonnya sekalipun jika ditemani. Sebagai pengganti keduanya, saya banyak membaca dengan tekun.

Membaca dari Catatan Tahunan Komnas Perempuan misalnya, saya pikir ini akan sepadan karena saya bisa menemukan Yudhis dan Kale pada berbagai infografis di dalamnya, saya bisa membayangkan alur film pada narasi yang dibangun dengan membaca catatan Komnas Perempuan

Terlebih, saya bisa menampilkan bayangan diri saya di masa silam dalam penelusuran bacaan saya. Hanya dengan membaca sebuah sajian data yang sama sekali tanpa fiksi, menilik apa yang sebenarnya terjadi selama setahun ke belakang dalam dunia perempuan Indonesia, saya bisa menangis. Persis seperti setelah menonton film romansa, sesenggukan sampai mata bengkak—bonus overthingking semalam suntuk.

Inilah Cerita Saya

Dan ini adalah cerita saya: saya membeku selama setidaknya tiga setengah tahun tanpa ada yang menolong. Tunggu dulu, apakah mungkin saya membiarkan diri membeku selama setidaknya tiga setengah tahun tanpa berusaha membuat diri saya ditolong?

Yang pertama adalah kebenaran menurut persepsi saya. Sementara yang kedua, adalah sedikit koreksi atas kebenaran menurut persepsi saya.

Bulan Februari 2020, saya masih menyaksikan teman saya yang berusaha lari dari 53 panggilan tidak terjawab pacarnya yang menelepon hanya untuk mengatainya perempuan murahan, perek, pelacur, dan sejenisnya.

Ketika dua bulan setelahnya pandemi merebak dan saya harus meninggalkan Bandung menuju Bekasi untuk berdiam diri di rumah, seorang teman semasa kuliah menelepon saya sekitar pukul lima subuh, berbicara dengan suara parau, memberitahu bahwa mantan pacarnya semalaman mengiriminya surel berisi ancaman penyebaran video

‘yang-aku-gak-tahu-kalau-itu-ada-di-hp-dia’ jika ia menolak membuka blokir WhatsApp laki-laki itu. Kedua teman perempuan saya ini tidak pernah melapor, bahkan kepada otoritas terdekat mereka: orang tua. 

Saya membiarkan ketidaktahuan orang rumah (orang tua dan adik-adik saya) untuk mengetahui apa yang saya alami ini

Tahun 2018 lalu, adalah tahun kedua racun itu menjalar di sekujur tubuh dan pikiran saya, saya masih belum punya istilah yang tepat untuk mendefinisikan sebuah kekeliruan yang sedang terjadi pada saat itu. Tapi saya tahu, saya harus mencari tahu apa yang hilang yang saya tidak tahu itu apa.

Singkat cerita, di Jakarta saya menemukannya. Sebuah istilah “kekerasan oleh pasangan” yang dijabarkan dengan gamblang oleh salah satu komunitas yang mewadahi para penyintas membuat saya punya pijakan yang nyata. Untuk menggambarkan keadaan saya waktu itu.

Sebuah usaha mengeliminasi disonansi kognitif, tapi itu hanya permulaan dari jalan panjang hadirnya Yudhis dan Kale di film dalam skenario kehidupan nyata.

Saya ingat suatu sore ketika saya selesai menghadiri acara wisuda bersama seorang kawan, lelaki ini tiba-tiba datang ingin membawa saya ikut ke indekosnya: sebuah penyanderaan yang lain. Saya tidak mau disandera. Tapi dengan membabi buta, ia memaksa saya naik ke motornya, mengambil paksa handphone saya, dan sekonyong-konyong menuduh saya bermain dengan laki-laki lain. 

Seperti yang sudah bisa ditebak, karena takut terjadi keributan, ditambah bahasa dan gesturnya yang mengintimidasi, saya menuruti kemauannya.

Sepanjang jalan, ia mendadak jadi koboi; ugal-ugalan sampai ban motornya bocor dan kami harus berhenti di pinggir jalan. Bayangkan scene ini: dia turun dari motor, mengumpat dan mengadili saya untuk sesuatu yang tidak saya pahami, menghakimi saya atas penyebab bocornya ban motor, kemudian meninggalkan saya sendirian dengan membawa handphone saya. Dia pergi begitu saja.

Hujan turun deras, dan saya harus berpikir keras bagaimana caranya kembali ke tempat kawan saya. Apa yang terjadi selanjutnya, jika saya ingat-ingat lagi sekarang, hanya akan menambah umpatan tolol untuk diri saya sendiri. Saya tidak ingin melanjutkannya. Menahan rasa malu karena dipandangi pengendara yang berhenti di perempatan lampu merah yang hanya untuk mengasihani saya. Itu adalah situasi dimana hati dan emosi saya tidak bisa saya lupakan.

Kekerasan psikis. Dengan membaca beberapa literatur, saya akhirnya tahu momen itu adalah momen saya mengalami kekerasan psikis. Sebanyak 28% (1.792 kasus), kekerasan jenis ini terjadi sepanjang tahun 2020 dalam catatan Komnas Perempuan, didahului 30% (1.938 kasus) kekerasan seksual dan 31% (2.025 kasus) kekerasan fisik. Saya mengalami semuanya.

Saya mengalami apa yang disebut Jill Murray dalam bukunya, But I Love Him, sebagai bentuk kekerasan berjenjang, yakni bentuk kekerasan satu mendahului bentuk kekerasan lainnya, dimulai dari kekerasan emosional/psikis, dilanjutkan kekerasan seksual, sampai kekerasan fisik. Namun, Murray sendiri mengakui pada banyak kasus kekerasan, overlaping justu yang paling sering terjadi.

Saya mengamini ini. Saya percaya kekerasan terhadap perempuan tidak terjadi dalam bentuk tunggal. Suatu bentuk kekerasan hampir pasti diikuti oleh bentuk-bentuk dan episode-episode kekerasan lain.

Saya disebut “perempuan murahan” dan “perempuan tidak tahu diri” sebelum pada suatu sore saya jatuh dari tangga karena berusaha lari dari kamar kosnya untuk menghindari amuk dan kemungkinan tinju yang bisa saja sekali lagi mendarat di kening saya.

Kaki saya terkilir, baju outer kesukaan saya lepas jahitannya, dan apa yang dia lakukan setelah itu adalah kontradiksi paling dahsyat sekaligus klise dari seorang pelaku kekerasan. Dia menyumpahi dan mengusir saya untuk kemudian berlari sempoyongan menarik tangan saya untuk tidak pergi. Dia membanting benda- benda di kamarnya untuk kemudian mengancam saya dengan lembut jika saya pergi, maka ia tidak bisa hidup lagi.

Saya harus sembunyi di sebuah gang kecil agar tidak tertangkap olehnya, tapi kecekatannya yang dilandasi irasionalitas dan maskulinitas rapuh selalu berhasil menemukan saya.

Di atas, di kamarnya yang apek dan berantakan oleh kebrutalannya, dia akan kembali mengutuki saya atas apa pun, membuat saya terpojok dan terancam dan tidak bisa apa-apa, tidak bisa kabur lagi.

Persis seperti seekor anak rusa dalam cengkraman harimau. Tidak ada waktu lagi untuk lari. Apa yang kemudian membuat ini semakin sulit adalah keterlibatan kawan-kawan dalam melanggengkan kekerasan yang saya alami.

Dalam perkumpulan itu (kita sebut saja “perkumpulan” agar tidak menjadi lebih spesifik), 5 dari 6 orang yang mengurusi kekisruhan ini adalah laki-laki, satu orang sisanya adalah saya; perempuan satu-satunya yang mereka saksikan mengalami kekerasan oleh kamerad mereka sendiri. Bahkan sekalipun mereka mengetahui telah terjadi kekerasan seksual dalam hubungan intim saya dan lelaki itu, mereka lebih memilih berpendapat, “baiknya kalian berdua rujuk saja demi keberlangsungan proyek ini.” 

Seandainya mereka melihat data Komnas Perempuan yang menunjukkan bahwa pelaku kekerasan seksual terbanyak sepanjang tahun 2020 adalah “pacar” dan itu berarti jika saya melapor, maka lelaki itu adalah 1 dari 1074 orang yang diidentifikasi ke dalam kategori “pacar” sebagai pelaku kekerasan seksual—apakah mereka masih mau meminggirkan urgensi ini?

Sebanyak 389 pengaduan langsung ke Komnas Perempuan sepanjang tahun 2020 adalah kasus ancaman penyebaran video porno. Ini adalah jumlah kasus kekerasan seksual berbasis siber terbanyak yang dilaporkan dibanding enam kategori lainnya.

Sungguh beruntung, kelima laki-laki tersebut mengetahui persis isi surel yang saya maksud; kata-kata ancaman beserta sebuah file .MP4 yang tidak pernah saya buka sampai hari ini dan mereka tidak melakukan sesuatu yang berarti untuk menyelamatkan saya. Ini bukan berarti saya minta diselamatkan. Tidak. 

Pengabaian yang selama ini terjadi

Hari ini saya melihat pengabaian mereka, yaitu ekspresi dari ketidaksadaran patriarkis yang tertimbun dalam nilai kehidupan mereka. Hampir sepuluh bulan yang lalu, masa-masa saya tergopoh-gopoh merinci segala episode kekerasan yang tidak mereka saksikan dengan mata telanjang (ya, pelaku kekerasan mana yang mau memukul korbannya di hadapan teman- temannya?). 

Sampai hari ini ketika saya akhirnya berpisah bukan hanya dari lelaki itu, tapi juga mereka semua. Sampai pada saat saya mencoba membalut luka itu dengan perlawanan sunyi melalui buku-buku dan seminar-seminar feminisme, sampai saya berkali-kali harus mengafirmasi diri saya untuk hari esok yang lebih baik meski saya harus merelakan karir yang telah saya bangun bersama lelaki itu; mengizinkan diri saya pergi dan dia yang menjadi pemenangnya.

Ya, Sampai hari ini, sampai saya menulis artikel ini dan menyadari para lelaki itu hanyalah segelintir dari banyaknya laki-laki di muka bumi yang memilih berpijak pada apa yang para feminis sebut sebagai: hegemoni patriarki.

Jadi, apa yang tersisa? Kewarasan, saya harap. Hal yang sempat direnggut untuk kemudian saya coba rebut kembali adalah kewarasan. Butuh waktu lama, memang. Tiga setengah tahun berada dalam belenggu dominasi hierarki atas nama cinta, atas nama investasi; apa yang telah dan akan diperjuangkan berdua.

Saya pernah bercita-cita menikah dengannya dan mewujudkan mimpi kami sebagai seorang pegiat seni (baiklah, ini cukup spesifik), saya pernah bercita-cita mengubah kepribadian buruknya (dan itu seratus persen mustahil), tapi sayang sekali, saya tidak pernah bercita-cita mengutamakan kesehatan mental saya.

Seperti kaca pecah yang mustahil kembali ke bentuk semula, saya menyadari kepincangan sejarah diri saya sebagai seorang perempuan. Bahwa saya pernah berada begitu lama dalam tahun-tahun yang tak perlu; masa-masa jahiliyah di mana saya membiarkan seorang laki-laki menggerogoti keindahan masa muda saya.

Setelah bersusah payah lepas dari jerat abadi itu, saya tidak akan pernah mengatakan saya telah lahir kembali seperti baru pertama kali. Tidak. Dalam perjalanan saya selanjutnya, saya adalah seorang penyintas kekerasan dalam pacaran. Saya mengakui itu. Dan saya akan membolehkan siapa pun mencoba berjalan dengan memakai sepatu saya.

Sebab kita tahu karut-marut ini tidak bisa

kita hidangkan untuk sebuah jamuan:

dua lakon duduk berhadapan,

tidak jika memastikan

siapa terdakwa siapa umpan

(Aya Canina, dalam puisi: “Ada yang Hilang dan Kita Tidak Tahu Itu Apa”)

Referensi:

1.Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. (2021). Lembar CatatanTahunan (Catahu) 2021: Perempuan dalam himpitan pandemi. Diunduh dari https://www.komnasperempuan.go.id/

2.Murray, J. (2007). But i love him: Protecting your teen daughter from controlling,abuse dating relationship. New York: HarperCollins Publilsher Inc. Ebook.

(Artikel ini menjadi salah satu pemenang Lomba Pacaran Toksik yang Diselenggarakan Konde.co Dalam Acara Kartini’s Day 2021)


Aya Canina

Penulis dan penyair. Menerbitkan buku puisi Ia Meminjam Wajah Puisi (Basabasi, 2020) dan sedang banyak menulis karya fiksi berperspektif perempuan. Dapat ditemui di Instagram dan twitter @ayacanina.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email