The Sin Nio, Perempuan Yang Menyamar Jadi Laki-Laki Untuk Revolusi

The Sin Nio, adalah perempuan pejuang kemerdekaan yang jarang ditulis namanya. Ia mengubah diri menjadi laki-laki demi bergabung dengan para gerilyawan melawan Belanda dalam masa revolusi Indonesia

Kala itu, pandangan tentang perjuangan revolusi, masih secara kental diidentikkan dengan laki-laki. Sementara The Sin Nio adalah seorang perempuan, yang juga seorang Tionghoa.

Lengkap sudah, dia menjadi kelompok minoritas pada masa itu, terpinggirkan dalam penjajahan di masa revolusi Indonesia

Tekad untuk terjun di kancah revolusi membuncah dalam diri The Sin Nio ketika itu. Dia ingin membela tanah air tercinta, Indonesia dibanding harus diam atau berpihak pada kubu penjajah. Dia lantas, membulatkan tekad untuk masuk tentara sebagai prajurit. 

Namun semua prajurit kala itu adalah laki-laki, sangat minim perempuan yang bertempur di masa revolusi

Kebanyakan peran perempuan kala itu memberikan dukungan dan bantuan para pejuang untuk logistik atau palang merah, jadi seksi masak. Nuansa patriarkis ini, menempatkan perempuan sebagai ‘wingking’ atau kelompok belakang yang jadi pelengkap kaum laki-laki. Revolusi adalah untuk laki-laki, begitu nuansa yang terjadi. The Sin Nio, di masa itu ingin mengubah kondisi 

“Kenapa perempuan dianggap aneh, hanya dia mempunyai keinginan yang berbeda dari perempuan kebanyakan. Sebetulnya siapa yang aneh?,” ujar tokoh The Sin Nio.

The Sin Nio adalah perempuan di masa revolusi ketika Indonesia melawan Belanda yang jarang dituliskan namanya dan diperbincangkan. Tak banyak yang menuliskan perjuangannya.

Kiprah The Sin Nio kemudian ditampilkan oleh Laura Basuki dalam lakon ‘Sepinya Sepi’, tayang pada 22 Agustus 2021 di Kanal Youtube Budaya Saya.  

Majalah Sarinah pernah menuliskan, demi dapat bergabung dengan gerilyawan, The Sin Nio mengubah identitas administrasinya sebagai laki-laki, sehingga dia pun dapat bergabung dengan pejuang lainnya dalam Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18

The Sin Nio lantas kemudian mengubah penampilannya dan memakai nama secara administratif sebagai Moechamad Moechsin. Sehingga, dia pun bisa bergabung dengan pejuang lainnya dalam kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18 tersebut.

“Karena revolusi milik para lelaki, maka jadilah aku lelaki, karena revolusi penuh dengan kecurigaan dan kebencian. Maka, aku sekarang adalah lelaki Jawa bernama Mochamad Moechsin,” katanya. 

Jalan perjuangan perempuan asal Wonosobo itu tak begitu saja mudah. Selain harus bertempur merebut revolusi dengan jiwa dan raganya, dia pun mesti menerima stigma yang ditautkan padanya. Adu domba sengaja dipantik oleh pihak sekutu yang menyebar desas-desus: Tionghoa adalah mata-mata bagi republik. Sudah jelas bagaimana posisi The Sin Nio waktu itu: selalu menyamar menjadi laki-laki, Tionghoa pula

Keteguhan sudah dipancangkan. Segenap daya upaya The Sin Nio menjadi prajurit sudah dikerahkan. Hingga akhirnya Indonesia merdeka.

Waktu berjalan, pembangunan Indonesia kian digalakkan. Sementara, The Sin Nio, setelah selesai perjuangannya, menjadi orang biasa, bekas prajurit yang keras kepala digambarkan menjalani hari-hari menjaga masa lalunya. Meski harus menelan kesepian. 

“Semakin tua saya sadar, satu-satunya harta yang saya punya adalah masa lalu saya, baju seragam ini menghubungkan saya dengan masa lalu, itulah sebabnya saya selalu pakai,” ujar tokoh The Sin Nio dalam monolog tersebut. 

Sejak 1973, The Sin Nio lantas meninggalkan keluarganya untuk pergi ke Jakarta. Dia ingin menuntut haknya sebagai vetera untuk surat pengakuan bahwa The Sin Nio pernah berjuang untuk revolusi. Bukan untuk siapapun, tapi untuk dirinya sendiri. 

Bertahun-tahun dalam penantian, di Jakarta, dia hidup terlunta-lunta. Pernah di masa dia mesti hidup di masjid hingga kemudian memilih tinggal sebatang kara di daerah kumuh dekat rel kereta api. 

Hampir satu dekade, dia kemudian baru mendapatkan pengakuan sebagai veteran itu, yaitu pada tahun 1981, tak berapa lama setelah itu dia bisa bertemu dengan Ibu Negara di zaman orde baru, Ibu Tien. Surat Keputusan itu ditandatangani Wakil Panglima ABRI, Laksamana Sudomo. 

Akan tetapi, secarik kertas yang dia dapatkan itu, tak beriringan dengan cairnya hak tunjangan veterannya. Seharusnya ia mendapatkan uang sebagai veteran atau mantan pejuang.

The Sin Nio kemudian menghabiskan sisa hidupnya hingga meninggal pada 1985 di usia 70 tahun. Ia dimakamkan di TPU Layur Rawamangun Jakarta. Makam yang tak bisa lagi ditemukan karena sudah tertimpa dengan makam-makam lainnya. 

“Ndak ada yang pernah saya sesali. Saya sudah memilih ikut sejarah kemerdekaan, meski sebetulnya saya tahu; sejarah itu tidak ingin membawa saya. Karena itu, saya ndak takut dilupakan.” Itu merupakan kalimat The Sin Nio.

Karya monolog “Sepinya Sepi” yang ditampilkan ini, mengangkat kisah The Sin Nio ini, yang merupakan arahan Happy Salma, Yulia Evina Bhara, Helianasinaga, Ahda Imran, dan Yosep Anggi Noen. Dipersembahkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru, Direktorat Jenderal Kebudayaan bersama Titimangsa Foundation dan Kawankawan Media.

(Foto: Twitter dan pegiatliterasi.com)

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email