Film ‘Sand Storm’: Perlawanan Yang Harus Dirayakan, Perempuan Badawi Arab di Israel Melawan Patriarki

Sand Storm adalah film asal Israel tentang perlawanan perempuan Badawi Arab pada poligami, tentang ketidakadilan yang dilakukan ayah pada istri dan anak perempuannya. Film yang sudah bisa ditonton di Netflix di tahun ini, memberikan pelajaran penting bahwa setiap perlawanan terhadap patriarki, dengan cara-cara yang agresif maupun tidak, harus dirayakan. Sand Form menyabet berbagai penghargaan internasional seperti Grand Jury Prize untuk kategori World Cinema Dramatic dari Sundance Film Festival 2016 dan Best Film Award dari the Ophir Awards.

Seorang perempuan berbicara dengan bahasa Arab sambil menyetir mobil dengan laki-laki berpakaian rapi duduk di sebelahnya. Perempuan itu adalah Layla (Lamis Ammar), anak dari Suliman (Hitam Omari) yang sedang duduk di sampingnya.

Menyusuri padang pasir minim tumbuhan, keduanya kemudian membicarakan nilai-nilai yang selama ini dianut ayah dan anak perempuannya.

Dari pembukaan film itu, penonton dibuat mengira, jika ayah Layla akan menjadi pendukung nomor satu anak perempuannya. Ia membiarkan anaknya menyetir (hal-hal yang dulu dianggap tabu bagi perempuan), Layla boleh berkuliah, dan bahkan cukup khawatir dengan nilainya yang menurun. Kita semua dibuat mengira bahwa ayahnya merupakan ayah yang moderat. Tapi ternyata tidak begitu adanya.

Pembukaan yang tampak kontras dengan sisa jalan cerita mungkin menjadi salah satu alasan Mengapa Film Sand Storm, yang disutradarai oleh Elite Zexer, menyabet berbagai penghargaan seperti Grand Jury Prize untuk kategori World Cinema Dramatic dari Sundance Film Festival 2016 dan Best Film Award dari the Ophir Awards.

Sand Storm adalah film asal Israel yang pertama kali dirilis di Festival Film Sundace pada 25 Januari 2016 dan saat ini sudah bisa disaksikan di Netflix.

Sebelumnya, film ini juga terpilih untuk diputar dalam Berlin Festival Film Internasional ke-66 dalam kategori Panorama. Film ini juga mewakili Israel untuk the Best Foreign Language Film pada Academy Awards ke-89.

Sesampainya di rumah, Layla membantu ibunya, Jalila (Ruba Blal) menyusun kasur di sebuah rumah yang tampak indah.

Diketahui kemudian, bahwa di hari itu ayah Layla melangsungkan pernikahan keduanya. Rumah indah sengaja dibangun Suliman untuk istri keduanya-tepat di sebelah rumah yang ditinggali oleh Jalila, istri pertamanya, serta Layla dan anak perempuannya yang lain.

Budaya Patriarki di Dunia Modern

Pernikahan kedua Suliman segera mematahkan asumsi bahwa ia akan menjadi aliansi yang baik untuk anak perempuannya. Meski Layla diizinkan bersekolah, berkendara, dan memiliki ponsel sendiri, Suliman-lah laki-laki yang tetap menjadi penentu tunggal jalan kehidupan Layla, ibunya, dan ketiga adik perempuannya.

Pendidikan, kendaraan, dan ponsel Layla menjadi tidak ada artinya ketika ia jatuh cinta pada orang yang berbeda suku dengannya-orang yang bukan pilihan Suliman.

Berasal dan tinggal di antara komunitas Arab Badawi di Israel Selatan, kebebasan Layla memiliki batas. Ia tidak boleh memilih calon suaminya sendiri, apalagi yang berbeda suku dengannya. ‘Badai’ pun bermula ketika Layla mencoba memperkenalkan laki-laki pilihannya kepada ayahnya.

Sebagaimana kebanyakan keluarga konservatif-patriarkis umumnya, ayah Layla tampaknya menjadi satu-satunya pemilik pendapatan di rumah. Sementara Jalila bertugas mengurus anak-anak mereka. Alhasil, Suliman merasa memiliki kuasa untuk menjadi satu-satunya pengambil keputusan di dalam keluarga, termasuk soal dengan siapa Layla harus menikah.

Ayah Layla adalah laki-laki yang dapat kita temukan dengan mudah di mana-mana di keseharian kita. Laki-laki yang tampak mendukung perempuan bersekolah, berkendara, dan bekerja, tapi diam-diam membuat “batasan” tentang apa yang boleh perempuan pelajari, kendarai, dan kerjakan. Mereka masih mempercayai bahwa sedikit kebebasan yang mereka–sebagai pemilik modal dan kuasa utama di rumah–berikan kepada perempuan untuk belajar, berkendara, dan bekerja hanya untuk melengkapi kemampuannya menjadi istri dan ibu yang baik nantinya.

Lebih jauh lagi, mereka bisa membatasi apa yang perempuan boleh katakan, pakai, dan kapan perempuan seharusnya pulang.

Kritik terhadap Poligami

Israel sebetulnya telah memiliki aturan yang melarang laki-laki berpoligami. Apabila berpoligami, seorang laki-laki di Israel bisa dijatuhi hukuman hingga lima tahun penjara. Tapi beberapa kasus justru tak tersentuh karena dianggap sebagai persoalan budaya. Pemerintah juga kemungkinan menghindarinya karena khawatir memicu konflik antar suku.

https://www.google.com/amp/s/www.nbcnews.com/news/amp/ncna922296

Dalam film ini, Elite Zexer mencoba menyampaikan bahwa laki-laki tidak bisa adil dalam berpoligami. Beberapa scene menunjukkan ketidakadilan ini dari penampilan rumah Jalila dan Alakel (Shaden Kanboura)– istri kedua Saliman. Sementara rumah Jalila yang berlantai semen tampak setengah jadi dengan lampu minyak sebagai penerangan, rumah Alakel sudah berlantai keramik, dicat putih bersih, dan diterangi banyak lampu.

Beberapa kali, pendingin makanan satu pintu di rumah Jalila yang terlihat reyot juga disorot, dan Jalila kesusahan mencari bahan makanan layak di dalamnya. Sementara milik Alakel masih baru, dua pintu, dan banyak bahan makanan di dalamnya. Suliman begitu sibuk mempersiapkan pernikahan keduanya sampai tak memperhatikan kesejahteraan istri pertamanya dan anak-anaknya.

Di samping itu, Elite Zexer juga secara tepat menunjukkan bagaimana dampak poligami terhadap anak-anak. Mereka kehilangan sosok ayah yang pergi bulan madu dengan istri barunya. Apalagi jika terjadi konflik di antara ketiga orang tua mereka, sebagaimana terjadi dalam film ini, penelantaran pun dapat terjadi semakin parah.

Di Israel sendiri, aktivis Arab Badawi yang ingin menghentikan poligami cenderung dicurigai memiliki tujuan terselubung hendak mengurangi populasi Arab Badawi di Israel. Abu Shareb, misalnya, pada akhirnya ia harus bekerja sama dengan Kementerian Kehakiman Israel, yang dipimpin oleh menteri sayap kanan Ayelet Shaked. Meskipun demikian, ia juga khawatir pemerintah mendukung langkahnya hanya untuk menghentikan laki-laki Arab Badawi membawa perempuan Palestina ke Israel.

https://www.google.com/amp/s/www.nbcnews.com/news/amp/ncna922296

Melawan dalam “Badai” Keterbatasan

Apa yang Jalila lakukan dalam film ini untuk Layla, adalah tindakan yang mungkin dilakukan oleh seorang ibu di bawah budaya patriarki: melakukan banyak pengorbanan. Mulanya Jalila bersikap keras pada Layla. Tindakan yang salah dipahami oleh Layla, dikiranya ibunya tidak menyepakatinya, padahal perempuan itu hanya berusaha melindungi Layla.

Dalam film ini, Jalila ditampilkan sebagai perempuan yang berhati ‘pemberontak’. Terdapat satu scene dimana ia merebut rokok yang sedang dihisap Suliman dan mempertanyakan keputusan laki-laki itu bagi Layla. Jalila juga mempertanyakan tindakan ibunya yang sempat menyalahkannya saat ia menjadi korban keegoisan Suliman.

Sebagaimana Jalila, Layla juga melakukan perlawanan dengan caranya sendiri yang mungkin tampak tidak agresif. Bagaimanapun, perempuan dalam budaya patriarki terkadang tidak memiliki cukup sumber daya untuk melakukan perlawanan secara terang-terangan.

Di Indonesia sendiri, perempuan di kelas menengah ke bawah yang tidak rela dipoligami cenderung enggan menceraikan suaminya. Pasalnya biaya yang ia bayar kemungkinan akan jauh lebih mahal dan merugikan.

Pada akhirnya, apa yang harus disadari adalah bahwa setiap perempuan berada di kondisi yang berbeda. Karena itu, setiap perlawanan terhadap patriarki yang mereka lakukan, dengan cara-cara yang agresif maupun tidak, harus dirayakan. Sebagaimana perayaan yang dilakukan oleh Elite Zexer dalam Sand Storm. 

(Foto: Netflix)

Sanya Dinda

Sehari-hari bekerja sebagai pekerja media di salah satu media di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email