Membangun Literasi di Pesantren Kreatif: Diskusi, Sastra dan Ruang untuk Perempuan

Pesantren kreatif Aminul Ummah Gurut dan pesantren Kebon Jambu Cirebon adalah contoh bahwa perubahan dan pembaharuan melalui literasi mesti dicoba dan diperjuangkan, untuk masa depan yang lebih setara

Perjuangan untuk merajut kembali toleransi yang terkoyak terjadi di pelosok Nusantara. Konde.co bersama The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) dan didukung UN Women mengangkat kisah perjuangan itu dalam edisi khusus #Memperjuangkantoleransi dalam Peace Innovation Academy. Tulisan ini akan tayang selama sepekan pada 28 April- 4 Mei 2022

Malam itu, aula pesantren kreatif Aminul Ummah cukup ramai. Sudah sejak pagi para santri menyiapkan panggung sederhana. Karpet merah tanpa motif, bangku, kursi dan kardus bekas dengan berselimut kain, disusun bertumpuk menyerupai tebing.

Pada bagian dinding panggung, karya-karya santri terpampang rapi, dari puisi, kaligrafi, sampai lukisan. Sementara ketika hari mulai larut, panggung yang sudah jadi, dipasang lampu hias dan lampu sorot untuk memperindah. Sepintas panggung terlihat seperti sebuah tebing pada satu malam penuh bintang.

Hari itu santri sibuk sekali, larut dalam aktivitasnya masing-masing. Ada yang menyiapkan konsumsi, menyapu aula, menyiram tanaman, mengobrol, ada juga yang berlatih membaca puisi, musik, dialog, dan orasi.

Nabila Aulia Agustin duduk di teras Masjid yang letaknya 50 Meter dari aula. Santri yang kerap dipanggil Aulia itu sedang memegang selembar kertas dan membuat coretan pada kertas yang lainnya. Ia sedang mempelajari materi orasi. Membuka lembar demi lembar buku Quraish Sihab, Islam yang Saya Pahami.

“Saya sudah menyiapkan ini sejak lama, dan inilah saat yang tepat,” ujar Aulia, Santri tingkat satu SMA.

Aulia terdaftar menjadi santri pesantren Aminul Ummah sejak tahun 2018. Ia masuk empat tahun sebelum pesantren berubah nama dan konsep menjadi pesantren kreatif. Dahulu program unggulan pesantren adalah bahasa dan tahfidz, kini program unggulan pesantren adalah literasi serta creative club.  

Aulia adalah pengurus klub sastra, ia mengelolanya bersama tiga teman lainnya. Bertanggungjawab atas perpustakaan secara keseluruhan, membuat dan menjalankan diskusi Mingguan, serta membuat project bulanan.

“Yang udah berjalan teh, review buku sama audiobook.”  

Pesantren kreatif Aminul Ummah berlokasi di kampung Cikendal, desa Wanamekar, kecamatan Wanaraja, Garut, Jawa Barat. Semula, tempat itu adalah tanah lapang berukukuran setengah hektar yang dikelilingi kebun. Pada 27 Oktober 2013 dibangunlah satu gedung sebagai cikal bakal pesantren. Disusul tahun 2016 kembali didirikan sebuah gedung, yang kini ditempati sebagai asrama dan dan aula santri putri.

Awalnya, pesantren yang dikelilingi bukit itu disebut sebagai pesantren hijau, karena tempatnya masih dipenuhi tumbuhan-tumbuhan hijau. Para santri  selain belajar santri juga menanam dan mengembangkan hidroponik, serta ternak kambing, bebek, dan kelinci. Hingga pada 2021 diganti dengan creative boarding school.

Kesetaraan Gender Dipelajari Melalui Sastra

Malam itu adalah malam puncak Public Speaking Competition, sebuah acara yang diselenggarakan Aminul Ummah Student Chouncil (AUSC) atau setara OSIS.

Siang tadi, lomba debat telah digelar, mengambil tema pendidikan dari novel Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, novel karya Tetsuko Kuroyanagi. Santri tingkat SMP terlihat bersahut-sahutan adu argumen tentang pendidikan dan cara belajar terbaik buat anak. Sedang pada malamnya menyisakan lomba story telling, musikalisasi puisi, pidato, dan orasi.

Dengan gamis hitam dan kerudung coklat cerah, Aulia maju ke atas panggung. Kertas yang sejak siang ia pegang, ia bawa naik pula. Ia membukanya dengan penuh semangat, dengan lantang ia mengajak perempuan-perempuan untuk menjadi dirinya sendiri, memunculkan setiap bakat-bakatnya. Gerakan tangan dan gestur tubuhnya seolah-olah mendesak audiens, bahwa semua itu harus segera dimulai. Seisi ruangan terdiam, terkagum-kagum. 

 “Yang perlu kita ingat semua teman-teman, bahwa pesona perempuan bukan soal kesempurnaan, melainkan pengaruh yang mereka berikan!.”

Suara itu terdengar lantang dan lugas, menggema dalam sebuah aula pertemuan santri. Ruangan itu menjadi ramai ketika salah seorang santri putri dalam sebuah kerumunan berdiri memberi tepuk tangan dengan begitu kerasnya, seketika aula yang juga merupakan asrama santriwati yang diberi sekat dinding tripleks, dipenuhi dengan riuh tepuk tangan.

“Malam paling membahagiakan adalah malah itu, ketika turun panggung, Aul dipeluk teman-teman,” kenangnya.

Solidaritas Perempuan di Pesantren: Ternyata Kita Punya Nasib Sama

Aulia telah selesai merapihkan buku. Ia sedang melahap novel Laut Bercerita, karya Leila S Chudori. Di saung literasi itulah biasanya ia membaca dan berdiskusi. Saung berbentuk leter L mengelilingi bagian Barat dan Utara artesis itu adalah perpustakan pesantren. Lantai dan tiangnya terbuat dari kayu mahoni. Dengan atap asbes, pada siang hari ketika santri melakukan kegiaatan klub, terik matahari terasa sampai ubun-ubun.

Saung itu dibuat sebagai tempat publik. Kawasan santri perempuan dan santri laki-laki bisa beraktivitas bareng. Selain perpustakaan, saung juga difungsikan sebagai panggung demokrasi, tempat untuk mengekspresikan bakat dan minat: musik, teater, membaca puisi, dan sebagainya.    

Empat tahun hidup di sana, Aulia merasa lebih lega ketika konsep pesantren kreatif diterapkan. Menurutnya, perempuan lebih diberi ruang dalam pesantren kreatif ini. Ia merasa creative club membantu menemukan apa yang sedang ia cari dan butuhkan. Ia mulai mendalami dunia sastra dan literasi, dan menemukan asiknya belajar di sana.

Kesehariannya mengelola perpustakaan dan mengkaji sastra ternyata membawanya pada pemahaman yang lebih luas tentang segala hal, khususnya tentang perempuan.

Dahulu ia mengira perempuan memang haruslah anggun, dituntut ini dan itu—mulai dari jalan, ketawa, cara makan, sampai cara ngomong harus diawasi dan dipagari.

“Ternyata setelah banyak baca, perempuan itu beda-beda karakternya, dan saya harus menjadi diriku sendiri,” ungkapnya.

“Kan ada ya, perempuan yang karakternya memang tomboi, kalo tetep disuruh anggun kan nggak bisa. Jadinya bikin nggak percaya diri, ngapa-ngapain minder. Kayak kita hidup itu hanya untuk orang lain,” imbuhnya.

Dari kejauhan terdengar sayup-sayup klub musik sedang melantunkan lagunya berjudul, Manusia.

Aku manusia yang tugasnya bekerja, bekerja, dan bekerja/Aku tak peranah berhenti bekerja/Untuk memberi keluargaku makan dan minuman/ aku manusia yang selalu menyibukkan diri/ badanku seperti robot demi selembar kertas merah muda yang dinilai berharga.

Lagu itu adalah pembacaan tentang siapa “Manusia” oleh Salma Damayanti, salah satu anggota klub sastra. Tiap dua bulan sekali, antar klub diharuskan menghasilkan karya kolaborasi.

Santri berduyun-duyun menuju klubnya masing-masing dan Aulia masih menunggu teman-temannya berkumpul. Ia mengenang masa-masa menyedihkan baginya dan teman-temannya. Ketika novel dan buku yang tidak ada hubungannya dengan Islam masih dilarang.

“Kalo dipikir-pikir, dulu saya culas baget sih,” ucapnya sambil tertawa dengan menutup mukanya dengan buku. Egois maksudnya,” ia merevisi perkataanya.

Dahulu dalam menjalani hidup, ia mengaku sering bodo amat dengan yang lain. Di asrama ia hanya mau bergaul dengan yang se-genk dan menjauhi yang tak sefrekuensi, dan mau hanya mau pintar sendiri.

“Sekarang maunya pinter bareng-bareng, biar ada temen diskusi, dan saling mengingatkan,” tandasnya.

Setidaknya, menurut Aulia, sekarang solidaritas santri perempuan lebih kuat. Ada semacam kesamaan nasib yang menyatukan, dan baru sadar dan paham, setelah membaca kisah-kisah perempuan dalam tiap-tiap novel dengan berbagai karakter.

Hal itu juga berdampak dari cara pandang terhadap sesuatu, tidak hanya baik dan buruk saja. Tetapi ada sesuatu yang lain juga yang harus diperjuangkan.

“Semakin kesini, antar santri putri kayak semakin ada keterikatan sih. Dan kayaknya saya makin merasa bijak aja,” ucapnya sambil tertawa.

Dengan adanya program literasi, sumber pengetahuan santri bukan sekedar apa yang diketahui dan diucapkan guru, melainkan banyak pilihan bacaan, dan sumber pengetahuan.

Hal itu yang membawa Aulia menjadi lebih memahami perbedaan. Dahulu, ia sempat menganggap dan melarang ngobrol dengan orang Kristen, dengan alasan dosa dan tidak dibenarkan dalam Islam. Juga anggapan perempuan yang tidak berhijab atau hijabnya tidak sama dengannya sering dianggap menyimpang dan rendahan.

“Gila banget sih dulu, asli.”

Hal senada juga dirasakan oleh Fikan. Ia adalah santri tingkat dua SMA yang juga anggota klub seni peran. Semenjak program literasi sastra berjalan, ia mulai menemukan keasikan belajar segala hal melalui sastra. Ia sangat gandrung sekali dengan sejarah. Mengagumi Nyai Ontosoroh alias Sanikem, dan menempatkannya sebagai perempuan idola.

“Dari  banyak tokoh dalam novel-novel, saya memahami tentang perempuan dan perjuangannya untuk kesetaraan, ternyata berat dan cowok juga harus paham,” tuturnya.

Literasi sastra ternyata sangat membantu dalam wilayah pengkaryaan, proses dalam klubnya, Fikan mengungkapkan banyak sekali terinspirasi, mulai dari penulisan naskah, isi naskah, dan penokohan. Hari itu, Ia nampak bungah sekali, sebentar lagi ia akan mengikuti pentas teater di Yogyakarta. 

Menggagas Pendidikan untuk Masa Depan 

Harik sedang khusuk menonton pentas klub seni peran di gawainya. Lima hari lalu, tanggal 16 April 2022, beberapa anak didiknya mengikuti pentas Teater Eska di Yogyakarta. Pentas tadarus puisi bertajuk Qaf, adaptasi dari “Hikayat Mistik Akal Merah” karya Suhrawardi Al-Maqtul, sang cahaya Allah yang dipancung.

Qaf mengisahkan seseorang yang telah mencapai idrak atau kesadaran diri, sebuah perjalanan individu dalam mengarungi realitas kehidupan. Dia yang telah mampu menemui hakikat diri, maka ia akan mengenal penciptanya.

Harik tampak bungah, karena anak didiknya, empat santi laki-laki dan empat santri perempuan, telah berani mengekspesikan diri melalui apa yang disukai. Mereka memerankan pasukan avatar yang ditafsirkan penulis naskah sebagai belenggu serta emosi manusia dalam proses pencarian menuju cahaya.

“Bangga saya, sedini ini anak-anak udah berani eksplore diri. Semoga segera tau, siapa dirinya,” ucapnya sambil meletakkan gawai ke lantai.

“Semoga nggak kayak generasi kita yang serba terlambat,” imbuhnya.

Harik Giyadian adalah pembina creative club. Ia adalah seniman musik etnik yang cukup besar di Jogja, lewat komunitas Gorong-gorong Institute, ia menapaki jejak kesenian. Menggelar pementasan, konser, dan banyak hal lainnya.

Tujuh tahun lalu paska ayahnya, Kiyai Tohar Hafidz wafat dan ia selesai kuliah, memutuskan menetap di pesantren.

Sedikit demi sedikit, ia memberi pembaharuan dalam pesantren, menambahkan ekstrakulikuler kesenian hingga bahan-bahan bacaan yang mendukung imajinasi santri. Ia bertanggungjawab secara keseluruhan lima klub: klub musik, seni peran, sastra, bahasa, dan artistik. Setiap klub mempunyai guru pendamping masing-masing, namun segala keputusan klub diserahkan pada pengurus klub masing-masing.

Secara garis besar pesantren kreatif berorientasi mewadahi kemungkinan-kemungkinan santri belajar banyak hal, diluar ilmu agama Islam. Selain kajian kitab dan tafsir, pesantren kreatif berfokus mengembangkan bakat-bakat santri.

“Pengen mewadahi yang macem-macem itu sih, dan yang terpikirkan konsep kreatif,” kata Harik. “kayaknya kreatif itu lebih luas dan feksibel,” sambungnya.

Harik menjelaskan, bangunan dasar konsep pesantren kreatif adalah program literasi sastra dan creative club. Kedua hal tersebut menurutnya sangat penting untuk perkembangan bakat dan minat santri. Literasi sastra memperluas ilmu pengetahuan dan mempertajam berfikir, sementra program klub sebagai ruang praktik dan eksplorasi.

“Untuk sementara, kelima klub itu sudah cukup untuk saling berkolaborasi,” jelasnya.

“Kepengennya sih kayak di anime Assassination Classroom, yang muridnya berlomba-lomba mengalahkan gurunya,” imbuhnya.

Assassination Classroom, berbicara tentang pola ajar yang tidak menyamaratakan murid. setiap murid punya potensi masing-masing yang perlu dikembangkan. Dan tugas guru adalah mendampinginya, sampai murid melampaui guru.

“Guru yang ideal menurutku ya seperti Koro sensei,” tuturnya.

Namun, kata Harik, perjalanan menuju pendidikan yang kita inginkan tidaklah gampang. Misalnya, dalam pola pengajaran. Karena santri sudah terbiasa mengikuti intruksi, ada anggapan jika mengutarakan pendapat itu tindakan membangkang, sedangkan pesantren kreatif bertujuan memancing untuk bertanya dan berpendapat.

“Masih perlu pendampingan yang ketat, biar orang dewasa memahami anak-anak.”

Selain itu, masih banyak anggapan miring dari masyarakat terkait pesantren. Bahkan ada beberapa orang tua santri yang memindahkan anaknya ke pesantren lain.

“Model kayak gini sepertinya masih jauh banget di Indonesia, tapi kalo kita nggak mulai, pendidikan yang kita anggap bagus tidak akan pernah ada. Toh, semua hal ada resikonya juga,” ungkapnya.

Dilain tempat, Di Cirebon, Jawa Barat terdapat sebuah pesantren yang dipimpin oleh Ulama perempuan, Nyai Masriyah Amva. Di sanalah pertama kali Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) diselenggarakan.

Pesantren Kebon Jambu Islamy ini adalah contoh lain pesantren yang mengalami pembaharuan dan perubahan. Karenanya banyak tradisi baru yang muncul. Diantaranya, perempuan bisa mengisi pengajian laki-laki yang sebelumnya tidak dibolehkan, terbukanya kesempatan dan akses yang sama antara santri laki-laki dan perempuan, dan semakin terbuknya pesantren terhadap agama lain, sehingga tak jarang pesantren menjadi ruang perjumpaan lintas agama.  

Dalam sesi wawancara di kanal Youtube She Builds Peace Indonesia, Nyai Masriyah Amva bercerita tentang awal-awal perjalanan pesantren. Banyak sekali penolakan dan pandangan sebelah mata tokoh agama terhadap kepemimpinannya. Ada banyak orang tua santri yang memindahkan anaknya. Namun ia tetap menjalankan amanah yang diberikan Allah padanya.

“Kita tak butuh pengakuan, kita hanya ingin memberi manfaat bagi orang lain, dan berguna bagi nusa dan bangsa,” ujar Nyai Masriyah Amva.

Dari cerita yang menggebu-gebu santri-santri Aminul Ummah dan kisah gemilang Nyai Masriyah Amva inilah, ia mulai meraba bayang-bayang Indonesia mendatang.  

Apa yang dilakukan pesantren-pesantren ini bisa jadi contoh bagaimana perjuangan literasi, perubahan yang sedikit demi sedikit ternyata bisa jadi bukti di kemudian hari

(Pandangan yang disampaikan dalam karya artikel yang ditampilkan di Peace Innovation Academy adalah milik peserta dan tidak mewakili pandangan dari UN Women, Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau organisasi yang terafiliasi dengannya).

Ajid Fuad Muzaki

Penulis, sastrawan, mantan Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Arena UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Let's share!