Ramai-ramai Citayam Fashion Week, Stasiun Sudirman Juga Punya Cafe Komunitas Disabilitas, Loh!

Ramai-ramai orang bicara soal Citayam Fashion Week, kalau kamu lewat di Stasiun Sudirman Jakarta, ada sebuah kopi ‘Difabis Coffee and Tea ’, cafe yang berdiri untuk memberdayakan orang-orang dengan disabilitas.

Tak cuma sebatas kawasan transportasi, Stasiun Sudirman belakangan telah menjelma menjadi trendsetter populer untuk anak muda di Jabodetabek.

Warganet banyak menyebutnya, Citayam Fashion Week, karena di area stasiun inilah banyak remaja di sekitaran Jakarta seperti Citayam sampai Bojong Gede biasa kongkow atau ngonten sosial media. 

Mereka hadir komplit dengan gaya nyentrik dan kekinian. Anak-anak muda ini bebas berekspresi dan menampilkan fashion-nya. Satu sama lain bisa leluasa berbaur untuk memanfaatkan ruang-ruang publik Jakarta, yang semestinya memang bisa dinikmati dengan aman dan nyaman untuk siapapun tak pandang kelas sosial, gender atau identitas apapun.

Mengeksplorasi stasiun Sudirman lebih dekat, aktivis Perempuan, Andy Yentriyani menuliskan pengalaman serunya soal adanya kedai ciamik tak jauh dari Citayam Fashion Week itu berada. Sedikit tergambar dari nama kedai kopinya yang bernama ‘Difabis Coffee and Tea ’, cafe satu ini hadir dengan memberdayakan orang-orang dengan disabilitas. Merekalah yang mengelola kedai kopi ini mulai dari jadi barista hingga kasir.

Andy Yentriyani menjumpai pekerja dengan disabilitas tuli yang membantunya memesan makanan. Andy begitu terkesan, karena pekerja itu ramah sekali. Sebab, meskipun Andy tak bisa bahasa isyarat tapi pekerja itu dengan sabar berupaya memahami permintaannya.  

“Jika lewat stasiun Sudirman, jangan lupa singgah di sini kawan, teh tarik enak, kopinya juga,” tulis Andy, melalui postingannya, Juni 2022 lalu. 

Kedai yang dioperasikan komunitas disabilitas itu terletak tepatnya di terowongan Jalan Kendal. Sekitar 20 meter dari stasiun Sudirman. Tak cuma menawarkan kopi dan teh, kedai ini juga menyediakan banyak pilihan camilan mulai dari roti, kacang sampai kerupuk. 

Upaya Berdayakan Orang dengan Disabilitas

Cafe yang dikelola oleh orang-orang dengan disabilitas ini, mengingatkan pada sebuah film dokumenter ‘Rumah Siput’ yang digarap oleh Chairun Nissa (Sedap Film), Wini Angraeni, Pamflet dan Organisasi Gerkatin didukung VOICE.

Film pendek itu bercerita kisah perempuan dengan disabilitas, Putri Santoso, yang mendirikan kedai kopi KOTUL (Kopi Tuli) bersama kedua sahabatnya sesama orang dengan disabilitas yaitu Andhika dan Erwin. 

Bermula dari banyaknya diskriminasi berlapis yang dialami Putri dan sahabatnya sebagai orang dengan disabilitas termasuk di dunia kerja yang sudah ditolak bekerja di perusahaan sebanyak ratusan kali. 

Film Rumah Siput diawali dengan menceritakan bagaimana Putri diketahui memiliki keterbatasan mendengar pada umur satu tahun. Sejak saat itu Putri dan orang tuanya dipertemukan dengan kendala-kendala menjalani pertumbuhannya. Dari mulai sulitnya mencari Sekolah Dasar yang bersedia menerima Putri sebagai murid, pergaulan sekolah dan kuliah, hingga sulitnya Putri mencari pekerjaan.

Pada tahun 2015, Putri melamar lebih dari 500 lowongan pekerjaan melalui surat elektronik. Hingga suatu waktu sebuah perusahaan memanggil Putri untuk melalui tahap interview. Inipun tidak berjalan mulus, setelah mengetahui Putri merupakan seorang tunarungu, perusahaan tak lagi memberikan kabar.

Stephanie Edelweiss dalam resensinya menuliskan, ternyata tidak hanya Putri, dua sahabat lainnya mengalami hal yang sama, “Memang kenyataannya masih begitu, Anak Muda Tuli tidak memiliki peluang yang banyak untuk masuk dunia kerja. Sampai di tahun 2017, saya bersama dua sahabat saya terpikir untuk membuat sebuah usaha. Yang akhirnya mengacu pada hobi salah satu sahabat saya terhadap dunia perkopian. Lahirlah Kopi Tuli.” cerita Putri dalam diskusi film seperti ditulis Stpehanie Edelweis

Kopi Tuli merupakan tempat menyesap kopi yang menyajikan berbagai macam kopi dan cemilan ringan seperti kedai kopi pada umumnya. Hanya saja Kopi Tuli memiliki nilai berharga lainnya, tempat ini bukan hanya menjadi tempat menyicip kopi, melainkan juga menjadi wadah interaksi teman tuli dengan teman bicara. Seluruh pekerja Kopi Tuli  merupakan anak muda tuli dan nyatanya mereka mampu mengerjakan tugasnya sama seperti teman-teman pada umumnya.

“Setelah lulus kuliah, Aku coba cari kerja selama 2 tahun. HRD perusahaan kaget karena aku tuli. HRD perusahaan SMS aku karena belum bisa terima aku kerja,” cerita Putri. 

Putri bersama kedua sahabatnya itu kemudian membangun kedai yang mengajak para pekerja dengan disabilitas. Mulai dari pelayan, kasir dan lainnya yang semuanya mayoritas orang dengan disabilitas tuli.

“Penyeleksian itu paling utama komitmen, tanggung jawab, disiplin, jujur dan niat yang baik. Mau kerja keras. Perempuan atau laki-laki tidak apa. Kalau benar-benar belum mengerti atau masih awam, kita bisa melatih mereka sampai bisa. Mereka harus belajar tentang perkenalan kopi, mesin, kasir sama kebersihan. Karena kebersihan itu penting,” katanya. 

Andhika, Co-founder KOTUL yang juga disabilitas tuli tak memungkiri, saat ini masih banyak terjadi diskriminasi orang dengan disabilitas di dunia kerja. Meskipun sudah ada UU yang mengatur soal kuota pekerja disabilitas yang semestinya dipenuhi yakni 2% untuk di perusahaan BUMN dan 1% di perusahaan swasta. 

“Kalau teman-teman tuli belum mendapatkan pekerjaan kantoran, contoh kalau saya melamar ada tulisan disabilitas, pasti perusahaan langsung menolak. Sama seperti teman-teman ketika melamar pekerjaan sering ditolak,” imbuh Andhika. 

Komitmen Putri, Andhika dan Erwin yang membangun KOTUL kini akhirnya membuahkan hasil. Bukan hanya bisa memberdayakan ekonomi mereka bersama pekerja disabilitas tuli, KOTUL juga telah bekerja sama untuk memberdayakan masyarakat umum untuk belajar bahasa isyarat. 

Para pekerja disabilitas tuli pun, mendapatkan banyak manfaat dengan adanya KOTUL ini. Seperti Kania, pekerja perempuan disabilitas yang mengaku merasa memiliki support system dan merasa senang berkomunikasi satu sama lain karena merasa senasib. 

Pun pekerja disabilitas lainnya, Rama, kesempatan bekerja di KOTUL menjadikannya mengembangkan karakter yang lebih baik. Seperti disiplin dan kepercayaan diri. Begitu pun dengan Rama, KOTUL sangat memberi arti bagi hidupnya. 

“Saya bekerja di sini (KOTUL) merasa seperti rumah sendiri,” pungkasnya. 

Stpehanie Edelweiss menuliskan, melalui Kopi Tuli, Putri telah menembus keterbatasan. Bukan hanya keterbatasan dirinya, melainkan keterbatasan teman tuli lainnya. Kopi Tuli menjadi bukan hanya sekedar kopi, tapi menjadi sebuah pembuktian bahwa anak muda tuli bisa mewujudkan mimpinya bahkan mungkin lebih dari teman lainnya.

(Foto: https://pusat.jakarta.go.id/ dan Sedap Film)

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!