5 Poin Penting Gusdurian Perjuangkan Indonesia Humanis Dan Toleran

Alissa Wahid mengatakan, GUSDURian 2022 ini punya tujuan untuk menjadi ruang temu untuk menumbuhkan persepsi bersama dalam menghadapi dinamika perkembangan zaman

Pertemuan nasional GUSDURian tiga tahunan kembali digelar di tahun 2022. Jaringan penerus semangat perjuangan Abdurrahman Wahid “Gus Dur” ini, mengajak para anak muda serta berbagai jaringannya untuk terus menggali dan menerapkan nilai-nilai toleransi, keberagaman dan kemanusiaan. 

Surabaya jadi tuan rumah penyelenggaraan temu nasional (TUNAS) GUSDURian tahun 2022 ini. Gubernur Provinsi Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan ini adalah momen yang tepat untuk bisa kembali belajar tentang nilai-nilai Gus Dur, yang sejatinya begitu lekat dengan sejarah dan spirit perjuangan Surabaya. 

“Kalau kita ingin kembali menggali roh pluralisme, roh kemanusiaan dan roh demokrasi yang Gus Dur ajarkan, maka Surabaya adalah tempat yang sangat tepat untuk membangun revitalisasi gerakan GUSDURian. Dari Surabaya inilah semangat Bhinneka Tunggal Ika dan spirit Nusantara lahir,” ujar Khofifah yang hadir dalam acara TUNAS GUSDURian 2022 yang dihadiri Konde.co, di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, pada Jumat, 14 Oktober 2022

Khofifah mengungkap kesannya kepada Gus Dur yang berperan begitu penting: utamanya dalam teladan penerapan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan dalam sejarah pemimpin Indonesia. 

 “Jika Elon Musk dan Steve Jobs disebut jenius di bidangnya, maka dalam bidang membangun demokrasi dan kemanusiaan, Gus Dur saya sebut jenius,” katanya.

Khofifah kemudian meminta kepada seluruh jaringan GUSDURian termasuk kalangan anak muda untuk bisa menjadi penerus perjuangan Gus Dur. 

“Tugas jaringan GUSDURian harus menjadi game changer pemegang penerus Perjuangan KH. Abdurrahman Wahid,” kata Khofifah di hadapan ribuan orang yang berasal dari penggerak dan kader komunitas GUSDURian.

Jaringan GUSDURian ini memang jaringan kultural yang bersifat terbuka, non politik praktis, yang terdiri dari para individu dan/komunitas yang mendukung pemikiran, meneladani karakter, nilai, dan prinsip serta meneruskan perjuangan Gus Dur. Banyak para penggeraknya yang adalah anak muda.

Alissa Wahid selaku Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian menceritakan kenangannya bersama Almarhum Gus Dur yang menjadi sosok inspiratif dan banyak diteladani. Pada Gus Dur lah, banyak isu demokrasi, kemanusiaan dan keberagaman bisa Ia diskusikan.

“Dulu kalau ada apa-apa kami selalu mengadu ke Beliau (Gus Dur). Saat ini kalau kalau ada yang mengancam kami, melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak adil kami mengadu ke siapa?” kata Alissa Wahid. 

Di matanya, pengalaman Gus Dur itu begitu berwarna, kekalahan demi kekalahan, maju selangkah, mundur dua langkah, itulah yang membentuk dan menciptakan sosok Gus Dur. 

“Saya akui saat itu kami tidak punya sumber daya finansial sama sekali, karena Gus Dur memang bukan pengusaha, tetapi semangat dan percaya diri untuk mendirikan jaringan GUSDURian karena memiliki sosok yang punya keteladanan yang telah kami timba dari seorang Gus Dur untuk mewujudkan kehidupan Indonesia yang lebih baik,” terangnya.

Selepas Gus Dur meninggal dunia, Alissa bilang banyak orang mendatanginya. Putri Gus Dur tersebut sadar bahwa yang kehilangan Gus Dur bukan hanya keluarga saja, namun banyak orang. Alissa kemudian melakukan perjalanan untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki gagasan yang sama dengan Gus Dur. 

“Gus Dur ibarat kayu jati yang umurnya ratusan tahun, sementara Alissa ibarat lidi yang mudah dipatahkan, tapi Alissa bisa mencari lidi-lidi yang lain yang memiliki gagasan yang sama,” ungkapnya yang disambut dengan riuh tepuk tangan hadirin. 

Kalimat itu ditujukkan pada penggerak GUSDURian yang hadir Temu Nasional GUSDURian 2022. Alissa mengenang bahwa pertemuan pertama Temu Nasional GUSDURian, baru ada 37 komunitas GUSDURian, dan hanya dihadiri oleh 100 orang. Namun hari ini telah mencapai 155 jaringan GUSDURian di Indonesia dan 5 di luar negeri, total dihadiri oleh kurang lebih 1300 orang. 

“Para peserta rela datang dari jauh bahkan dari Papua ke sini, itu tidak ada saya ongkosi,” katanya.

Ruang Temu Respons Tantangan Zaman

Alissa Wahid mengatakan, GUSDURian 2022 ini punya tujuan untuk menjadi ruang temu untuk menumbuhkan persepsi bersama dalam menghadapi dinamika perkembangan zaman. 

“Kita tahu Indonesia masih punya banyak persoalan, apalagi akan memasuki tahun-tahun yang penuh dinamika. Oleh karenanya, Tunas GUSDURian ini akan menjadi ajang untuk seluruh penggerak di seluruh tanah air menyamakan persepsi, menyusun langkah-langkah terbaik,” katanya.

Ia berpesan, jaringan GUSDURian mesti bisa melanjutkan apa yang Gus Dur perjuangkan yaitu merawat Indonesia. Dan ini harus dilakukan dengan solid di jaringan. Salah satunya melalui TUNAS ini, untuk mengkonsolidasikan komunitas dan jejaring GUSDURian. 

“Kita ingin warna bangsa sadar dan bisa merespons hal-hal negatif untuk ditangkal bersama,” ucapnya. 

Acara tersebut dihadiri oleh keluarga, sahabat, murid, pengikut, serta pengagu, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari berbagai kalangan. Beberapa tokoh yang hadir di antaranya istri Gus Dur Sinta Nuriyah, Alissa Wahid, Inaya Wahid, budayawan Zawawi Imron, Menteri Agama RI 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Ketua panitia Mukhibullah menyebut jumlah peserta pada TUNAS tahun ini mencapai 1300 orang.

Kegiatan TUNAS terdiri dari pembukaan, forum isu strategis, forum tata kelola jaringan, panggung budaya, pameran, dan bazar untuk UMKM. Hasil rangkaian kegiatan Tunas kemudian disusun dalam sebuah dokumen berjudul: Mempersoalkan Oligarki untuk Inklusi Sosial, Politik, dan Ekonomi.

Lima Rekomendasi Jaringan GUSDURian untuk Indonesia

Terdapat lima poin besar dalam rumusan resolusi dan rekomendasi tersebut, serta ada lima belas poin turunannya yang membahas tentang cara dan strategi yang akan dilakukan oleh Jaringan GUSDURian untuk mencapai resolusi dan rekomendasi yang dihasilkan.

Pertama, desakan Jaringan GUSDURian pada pemerintah dan parlemen untuk memperluas ruang demokrasi.

Alissa menerangkan desakan ini, salah satunya bisa dilakukan dengan melakukan revisi berbagai regulasi yang kontraproduktif terhadap keadilan ekonomi dan jaminan ruang hidup yang setara, seperti UU Minerba, UU Cipta Kerja; serta kebebasan berpendapat dan berekspresi, seperti UU ITE.

“Kedua, kami mendesak pemerintah menegakkan hukum yang mencerminkan keadilan dan pemenuhan hak-hak konstitusional dengan menuntaskan kasus HAM berat dan memulihkan hak-hak korban,“ kata Alissa.

Kedua, desakan untuk memberantas korupsi dan menguatkan institusi KPK, Kejaksaan, Kepolisian dan Kehakiman hingga mempercepat reformasi TNI, Polri, Kejaksaan, dan Kehakiman.

Poin ketiga, Jaringan GUSDURian mendesak kepada pemerintah untuk melakukan demokratisasi ekonomi yang inklusif, responsif gender dan penyandang disabilitas. Poin ini bisa dilakukan dengan tiga cara, dari memberikan perhatian yang lebih kuat kepada UMKM, melalui penguatan program inklusi keuangan dan akses pasar hingga mewujudkan transisi energi yang berkeadilan.

“Keempat, kami berkomitmen mengawal pemilu 2024 untuk terwujudnya rekonfigurasi kekuasaan,” lanjut putri sulung Gus Dur tersebut.

Terkait komitmen mengawal pemilu 2024 ini, Jaringan GUSDURian berencana melakukannya dengan beberapa cara, di antaranya dengan melakukan pendidikan politik untuk mencegah maraknya praktik politik uang dan polarisasi sosial hingga mendesak parpol melakukan reformasi kepartaian menuju accountable programmatic-based party.

Terakhir, Alissa mengungkapkan bahwa Jaringan GUSDURian berkomitmen memperkuat konsolidasi masyarakat sipil untuk perimbangan oligarki kelompok elit.

“Hal ini dilakukan dengan cara mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk melakukan pendidikan politik, pemberdayaan ekonomi, dan advokasi kasus-kasus rakyat, serta membangun ruang-ruang dialog antar-elemen untuk memperkuat kohesi dan solidaritas sosial,” pungkas Alissa.

Poin resolusi dan rekomendasi ini merupakan hasil dari pembacaan para penggerak GUSDURian terkait isu strategis yang kemudian menjadi agenda gerakan prioritas ke depan. Selanjutnya, poin-poin resolusi dan rekomendasi tersebut menjadi pedoman gerakan bagi seluruh penggerak Jaringan GUSDURian.

(Liputan acara Temu Nasional GUSDURian 2022 di Surabaya ini didukung oleh Jaringan GUSDURian)

(Foto/ ilustrasi: Freepik)

Ika Ariyani

Aktivis Arek Feminis, Surabaya

Let's share!