‘Papermoon Puppet Theater’, Sembuhkan Kesehatan Mental dan Trauma Lewat Seni

Lewat seni rupa dan pertunjukan, Papermoon Puppet Theater kenalkan Indonesia kepada dunia. Pertunjukan ini sekaligus sarana menyembuhkan trauma lewat karya.

‘Papermoon Puppet Theater’ lahir sebagai pengejawantahan rasa peduli untuk ikut menanamkan budaya membaca serta memperkenalkan seni, utamanya seni pertunjukan dan seni rupa, kepada anak-anak kampung di Yogyakarta. 

Dengan keseriusan dan dedikasi purna waktu para pendiri dan pengelolanya, kelompok yang awalnya berkiprah secara lokal ini telah meraih pengakuan internasional dengan undangan pentas di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, di mana mereka tampil sukses di Chicago International Puppet Theater Festival.

Berawal dari kepedulian untuk ikut memenuhi kebutuhan akan akses pada berbagai macam buku dan materi pendidikan yang dapat menumbuhkan kecintaan membaca, meningkatkan keterampilan literasi, merangsang imajinasi, dan mendukung keberhasilan akademik anak-anak, sepasang suami-istri mendirikan perpustakaan dan ruang seni bagi anak-anak di sekitar tempat tinggal mereka di Yogyakarta pada tahun 2006. 

Ruang baca dan seni itu kemudian menjadi sebuah kelompok seni boneka bernama Papermoon Puppet Theater yang kini telah melanglang buana dengan pentas di berbagai arena pertunjukan bergengsi.

Pasangan suami-istri itu adalah Maria (Ria) Tri Sulistyani, seorang artis seni pertunjukan, dan Iwan Effendi, seorang seniman visual atau seni rupa. Keduanya lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan keduanya pula berperan sebagai direktur artistik sesuai bidang kesenian masing-masing.

Undangan Pentas di Chicago International Puppet Theater Festival

Iwan menjelaskan bahwa undangan pentas di berbagai arena itu termasuk dari Chicago International Puppet Theater Festival yang tidak datang begitu saja, tetapi dirintis sejak Ria dan dirinya mendapat kesempatan residensi selama enam bulan di kota New York. Residensi itu disponsori oleh Asian Cultural Council (ACC) untuk mempelajari teater boneka baik secara artistik maupun secara manajemen.

“Urutannya cukup panjang, dari sejak kami di New York itu. Jadi selama 6 bulan kami di New York itu ketemu sekitar 70-an seniman teater boneka, ngobrol, main ke studionya, bantuin mereka kerja, bikin makan malam, masakan Indonesia di apartemen kami. Jadi, sering ngobrol, terus bikin jaringan-jaringan pertemanan baru, yang ternyata setelah sekian tahun kemudian beberapa teman seniman itu ada yang pindah ke Chicago dan jadi seniman yang cukup penting di Amerika. Terus pada saat bersamaan juga tahun 2018 atau 2019, Ria diundang ke Charleville, Perancis. Itu ada festival di Charleville, Perancis, tapi terus ada acara forum pemilik festival, dan ketemu sama si Blair, pemilik festival di Chicago. Mereka memutuskan untuk mengundang kami, mementaskan karya kami di sini.”

Blair Thomas adalah seorang seniman teater boneka kondang dan pendiri merangkap direktur artistik Chicago International Puppet Theater Festival yang pada tahun 2024 ini adalah yang keenam. Festival ini merupakan perhelatan seni terbesar di Amerika Utara. Festival ini berlangsung selama 11 hari di puluhan arena di Chicago, dan menampilkan lebih dari 100 pertunjukan dan aktivitas terkait serta dihadiri oleh lebih dari 14.000 orang.

Baca juga: Ceritaku Berkunjung ke Biennale Jogja 2023, Musik Bisa Jadi Seni Terapi Bagi Lansia

Berbicara dengan VOA, seniman yang juga menjabat sebagai direktur Chicago Puppet Studio ini menyampaikan alasan undangannya kepada Papermoon.

“Saya sangat bersemangat untuk mengundang Papermoon ke Chicago karena karya mereka sangat khas dan berasal dari budaya yang memiliki praktik pedalangan tradisional yang sangat kuat. Mereka adalah seniman yang membuat wayang jenis kontemporer, dan itu berasal dari budaya yang sangat berbeda dengan budaya Barat. Itulah yang membuat visi mereka tentang teater boneka dan teater visual sangat dinamis sehingga saya ingin menghadirkan mereka dalam festival kami.”

Atas undangan tersebut, timpal Ria, Papermoon tampil memukau di “kota angin” itu dalam lima pertunjukan, dari empat yang semula dijadwalkan. “Jumlah pentas perlu ditambah karena tiketnya sudah sold out (terjual habis) dalam waktu yang cukup cepat. Jadi, kami ada satu ekstra show lagi.”

Mengenai partisipasi dalam festival bergengsi ini, Ria menyatakan kepuasannya.

“Lega! Animonya baik sekali karena kebetulan Chicago International Puppet Theater Festival ini termasuk satu festival yang cukup bergengsi di Amerika Utara … cukup diperhitungkan di panggung teater boneka internasional. Jadi sebuah kehormatan juga buat kami bisa jalan jauh ke sini untuk perform (pentas). Sangat baik, sangat bagus, sangat menarik, penontonnya juga excited (bergairah) sekali dan timbul banyak dialog dari pertunjukan ini. Itu yang sangat menyenangkan sebenarnya.”

Baca juga: Konser ‘UNiTE’, Kampanyekan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan Lewat Seni

Sementara itu Blair mengaku kagum dengan pertunjukan Papermoon yang membawakan cerita berjudul A Bucket of Beetles.

“Pertunjukan A Bucket of Beetles itu sangat unik dalam arti bahwa dari pertunjukan ini terungkap bagaimana ansambel ini menciptakan karya, dengan pemain profesional dan pemain anak di atas panggung, dan bahwa karya tersebut tidak menggunakan kata-kata yang diucapkan tetapi bisa menceritakan kisah yang sangat menarik, yang membawa kita keluar dari perspektif kita sebagai manusia dan membuat kita melihat dunia dari sudut pandang serangga. Selain itu, boneka-bonekanya sendiri sangat indah. Sangat menarik melihat boneka-boneka bergerak dan teknik yang digunakan juga sangat dinamis.”

Mata Sinematik untuk Melihat Dunia

Blair juga mengagumi musik yang digunakan oleh Papermoon. “Musiknya sangat indah, memiliki skor, bagaikan paduan suara alam sekitar dan musik yang benar-benar mencakup segalanya dalam pertunjukan,” ungkapnya. Menurutnya, Papermoon menggunakan proyeksi bayangan yang sangat cocok dengan banyak lampu bayangan di belakang panggung.

“Indonesia jelas sangat terkenal dengan wayang kulit, tetapi atraksi Papermoon ini menampilkan pandangan yang sangat berbeda. Kita seakan menggunakan mata sinematik untuk melihat dunia. Secara visual kami disuguhi dengan gambar-gambar yang kompleks. Mereka berhasil menciptakan itu semua dengan bahan-bahan yang paling sederhana berupa boneka dan wayang dari karton, ditambah dengan boneka-boneka serangga mekanis yang mencerminkan dunia serangga.”

Menurut Ria, Papermoon memiliki kebiasaan mengundang penonton untuk naik ke panggung setiap kali selesai pentas. Dengan demikian mereka berkesempatan bisa melihat dari dekat bonekanya, dan bisa berdialog langsung dengan para senimannya.

“Jadi, di situlah kami bisa mendengar langsung respons dari penonton, pertanyaan-pertanyaan penonton apa saja, komentar mereka apa saja, bisa langsung berdialog.”

Baca juga: Perempuan dan Napas Kesenian Feminis dalam Biennale Jogja Khatulistiwa

Dari dialog dengan penonton, Ria menyimpulkan bahwa kebanyakan audiens berlatar belakang pengetahuan bahwa Indonesia terkenal sekali dengan tradisi wayangnya. “Jadi, ketika orang bicara tentang Indonesian puppet theater itu capnya pasti langsung ke traditional shadow puppet (wayang kulit tradisional) itu, ujar Ria.

“Dan ketika hadir kami sebagai kelompok seni kontemporer yang kemudian membawakan teater boneka yang lain itu sebenarnya memunculkan banyak dialog baru, tentang kemungkinan-kemungkinan, tentang penggunaan medium ini sendiri. Jadi kemudian kami bicara banyak tentang medium, tentang material, tentang cara bagaimana medium ini menyampaikan pesan.”

Pesan Tentang Pentingnya Hubungan yang Serasi dengan Alam Lingkungan

Tentang pesan, Iwan menandaskan bahwa Papermoon ingin mengajak penonton merenungkan tentang pentingnya hubungan yang serasi dengan alam lingkungan. Untuk itu, dalam festival ini mereka menampilkan karya dari tahun 2020 tentang serangga, berjudul A Bucket of Beatles (Seember Kumbang Badak). 

“Kalau ceritanya tentang hubungan anak kecil dengan kegemaran dia dengan serangga, dengan si kumbang badak. Terus isunya lingkungan. Jadi, pesannya tentang lingkungan, tentang mengelola lingkungan, hubungan manusia dengan lingkungan,” ungkapnya.

Anak kecil itu, imbuh Iwan, bernama Wehea yang tinggal di hutan tropis besar di mana makhluk terkecil pun adalah temannya. Papermoon, ujar Iwan, hadir dengan sebuah kisah tentang persahabatan yang indah, tentang makhluk-makhluk yang memesona, dan tentang hubungan yang erat antara manusia dan alam.”

Blair Thomas setuju. “Kita melihat cerita ini terkait dengan pengalaman serangga, dan hal ini akhirnya mengungkapkan banyak hal tentang lingkungan kita dan bagaimana dunia kita dipengaruhi oleh manusia. Dalam banyak hal, selama ini kita tidak melakukan hal-hal yang baik bagi lingkungan,” sambungnya.

Sementara itu, Ria menambahkan bahwa misi lain Papermoon adalah untuk menunjukkan potret Indonesia terkini pada dunia. 

“Indonesia yang sesungguhnya hari ini, nggak cuma yang ada di berita-berita media mainstream, nggak hanya masalah, (tapi) ada banyak yang tumbuh, berkembang subur,” tegasnya.

Perpustakaan dan Ruang Seni Berubah Menjadi Wadah Penyembuhan Trauma

Baik Iwan maupun Ria sepakat secara purna waktu untuk membina, mengembangkan, dan memperluas jangkauan Papermoon. Kepada VOA, Iwan mengatakan bahwa Papermoon lahir dari gagasan mendirikan perpustakaan dan ruang seni, dengan kegiatan yang dirancang khusus untuk anak-anak, seperti sesi membaca, bercerita, berprakarya yang dapat meningkatkan pengalaman belajar dan perkembangan sosial mereka.

Pasca gempa di Yogyakarta 2006, Papermoon sempat menjadi wadah program penyembuhan trauma.

“Terus habis gempa itu, kami akhirnya bekerja sama dengan beberapa pihak untuk bikin semacam program trauma healing. Jadi terus kami keliling di beberapa desa, beberapa kecamatan di Bantul dan Wonosari. Terus kita menggunakan media teater boneka. Jadi kita nginep di sana berapa lama. Anak-anak kecil itu kan biasanya nyebar-nyebar, nggak jelas, makanya kami bikinin satu tenda khusus buat perpustakaan sama anak-anak itu untuk bereksperimen dengan media seni. Kami menyatukan antara teater dan seni rupa. Ya bikin teater boneka yang pakai sarung tangan itu awalnya.”

Baca juga: Makna ‘Hari Pelukan’: Ingatkan Kasih Sayang dan Sehatkan Mental

Iwan mengaku bahwa kelompoknya kemudian mulai mengadakan pentas-pentas kecil tentang cerita-cerita di kampung. “Anak-anak kecil itu yang membuat cerita dan beberapa bikin bonekanya, terus kami pentasin,” ujarnya seraya menambahkan:

“Nah, dari situ kami tahu, ternyata yang suka teater boneka nggak cuma anak-anak, tapi orang dewasa juga. Nah, dari situ kami mulai mendalami aja nih, medium seni ini. Terus 2007 kami menikah, jadi satu rumah. Ya udah, jadi intens ngobrol. Jadi, sudah, kita fokus saja di sini. Terus, jadilah Papermoon Puppet Theater.”

Iwan mengatakan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, komunitas ini semakin “solid dan terus fokus pada medium boneka untuk eksperimentasi seni.” Dengan medium itu, “Papermoon ingin menyampaikan banyak cerita, cerita-cerita kecil dari Indonesia, dari kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

“Berkarya ya, setiap hari bikin karya. Jadi kayak mencoba hal baru, mencoba material baru, membikin cerita baru, latihan… Karena kami sudah meyakini, menganggap, mengamini bahwa ini sebagai pekerjaan, jadi kami full time artists. Jadi kami akan memperjuangkan medium ini untuk bisa hidup dan akhirnya menghidupi kami.”

Upaya terus berkarya itu kini telah menghasilkan 30 pertunjukan boneka serta instalasi dan pameran seni rupa, yang juga diboyong ke lebih dari 10 negara di empat benua (Asia, Eropa, Australia dan Amerika). Pada tahun 2008, kelompok ini juga meluncurkan Pesta Boneka, sebuah festival boneka internasional dua tahunan dengan mengundang puppeteer dari seluruh dunia ke Yogyakarta, di mana mereka dapat berbagi karya dalam lingkungan komunitas.

Mengakhiri bincang-bincang dengan VOA, Ria menyampaikan salam hangat kepada pendengar siaran Radio VOA serta pengunjung situs web www.voaindonesia.com, seraya menyampaikan harapannya.

“Semoga buat para teman-teman pendengar dan penonton VOA kalau bisa berjodoh, bertemu dengan Papermoon kami akan senang sekali, dan semoga kita bisa berjodoh, ketemu, menonton di panggung Papermoon pada lain hari.”

(Sumber Gambar: Instagram Papermoon Puppet Theater)

Artikel ini terbit pertama kali di VOAIndonesia. Baca artikel sumber.

Leonard Triyono

Jurnalis Voice of America (VOA)
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!