“Please Look After Mom”, Ternyata Kita Tidak Terlalu Dekat Dengan Ibu

Novel “Please Look After Mom” menyajikan cerita tentang realitas hubungan antara ibu dan anak. Ibu adalah sosok terpenting di dalam keluarga, tapi sering kali dilupakan.

Barangkali kamu bukanlah sosok yang paling dekat dengan ibu walaupun mungkin kamu dalam satu rumah atau sering menghubunginya. 

Ketika anak semakin dewasa, maka semakin pula kita menciptakan jarak dengan orang tua. Apakah kamu pernah bertanya kepada ibumu mengenai warna favorit mereka? Tempat liburan yang mereka impi-impikan? Atau kamu pernah bertanya mengenai apakah ibu senang berlama-lama di dapur untuk menyiapkan makanan sekeluarga?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu mungkin tidak semua anak bisa menjawabnya. Terlebih dari itu, apakah kamu selalu ada untuk ibu saat sakit seperti ibu selalu ada ketika kamu sakit? 

Sebuah novel berjudul “Please Look After Mom” menyajikan cerita-cerita ini. Novel ini menghadirkan realitas yang sesungguhnya dari hubungan sang ibu dengan anak. 

Ibu adalah sosok terpenting di dalam keluarga, tetapi ibu juga adalah orang yang barangkali sering dilupakan dan tak pernah ditanya mengenai hal-hal yang disukainya atau tidak disukainya.

“Please Look After Mom” menceritakan celah-celah pertanyaan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan. Menciptakan pertanyaan-pertanyaan baru terhadap ibu. Sesungguhnya setiap ibu selalu menyembunyikan sendiri hal penting rapat-rapat di relung hatinya.

Kisah Kamu dalam Novel “Please Look After Mom”

Setiap tahun, tepatnya saat ulang tahun ayah, sudah menjadi budaya di dalam keluarga mereka untuk mengunjungi rumah orang tua. Merayakan bertambahnya usia ayah dan ibu, menikmati masakan ibu yang dirindu-rindukan, meromantisasi rumah masa kecil, serta menerima hadiah kaus kaki dari ibu.

Itu adalah ritual tahunan yang selalu dilakukan setelah anak-anak sudah dewasa dan memilih pindah rumah karena tuntutan pekerjaan. Akan tetapi, semakin hari anak-anak ibu dan ayah semakin sibuk mengurusi kerjaan yang tidak ada habisnya. Terkadang, jadwal rutin tahunan keluarga harus tertunda karena bentrok dengan jadwal kantor. Semakin hari orang tua dan anak semakin menciptakan jarak.

Suatu hari tradisi merayakan ulang tahun ayah dan ibu tidak bisa diselenggarakan di rumah. Anak-anak kepalang sibuk dan jarak dari masing-masing rumah ke kampung halaman terlalu jauh. Sebab biasanya setelah acara tahunan itu mereka harus pergi ke rumah masing-masing untuk bersiap bekerja di esok hari. 

Baiklah, dengan ini, ibu dan ayah mereka mengambil inisiatif untuk pergi ke rumah putra kedua mereka. Tahun ini berbeda, tidak dirayakan di rumah ibu dan ayah, melainkan di rumah putra kedua sehingga anak-anak yang lain bisa pergi dan pulang dengan mudah.

Ibu dan ayah berangkat ke Seoul menggunakan kereta bawah tanah. Namun, belum genap ibu naik ke atas kereta, tangan ibu lepas dari jangkauan ayah sehingga ayah menaiki kereta tanpa ibu. Ibu tertinggal berpuluh-puluh kilometer di belakang sana.

Setelah itu, ibu menghilang tanpa kabar. Semua anak mencari-cari ibu mereka. Bermodalkan kertas selebaran yang disebar kepada orang-orang yang lewat dan menempelkan kertas tanda orang hilang.

Baca juga: Magdalena Sitorus, Penulis Kisah-Kisah Perempuan Penyintas 1965

Dari kejadian hilangnya ibu mereka, tiap anak mulai menyalahkan satu sama lain sebagai penyebab utama ibu hilang. Setelah itu, mereka tersadar, hilangnya ibu ada sebabnya karena anak-anak mulai abai dengan orang tua mereka. 

Jauh setelah itu, mereka menyadari bahwa mereka mulai menciptakan jarak dengan orang tua mereka. Semakin jauh setelah itu, mereka menyadari bahwa ternyata mereka  tidak mengenal ibu lebih dalam. Terutama di saat ingin memasukkan informasi tahun kelahiran ibu, baju dan sandal yang dikenakan ibu, mereka tidak mengetahuinya. Mereka pun tidak memiliki foto terbaru ibu saat ingin melengkapi foto di selebaran orang hilang.

Dari hilangnya ibu, ternyata mereka menyadari bahwa mereka tidak mengenali ibu. Banyak hal-hal yang tidak mereka ketahui dan banyak pertanyaan-pertanyaan di pikiran mereka tentang ibu. 

Setelah menyalahkan satu sama lain, para anak akhirnya berefleksi diri, ternyata mereka tidak mengetahui apa-apa tentang ibu dan mereka sangat menyesal telah meremehkan kebersamaan bersama ibu dengan sia-sia. Di tengah-tengah pencarian ibu, mereka memutar ulang memori bersama ibu saat masih kecil. Ternyata ibu begitu sangat peduli dan sangat sayang dengan anak-anaknya, tetapi untuk urusan pergi ke Seoul menemui anak-anaknya, justru mereka abai terhadap ibu.

Setiap rekaman memori itu berputar, hanya ada rasa sesal dan ingin memutar waktu, guna memberikan performa terbaik untuk ibu. Mereka tidak bisa membayangkan ibu berkeliaran seorang diri di tengah hiruk pikuk ibu kota. Itu akan semakin membuat hati ngilu. Andai saja mereka memerlakukan ibu lebih baik, maka ibu tidak akan hilang dan rasa penyesalan selalu saja datang.

Semakin banyak berefleksi diri dan semakin banyak memutar memori, maka semakin gencar pula anak-anak mencari ibu di setiap sudut kota. Berharap bertemu ibu dengan kondisi baik-baik saja.

Ibu, Sosok yang Barangkali Sering Dilupakan

Membaca novel ini sambil berefleksi bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang ibu.  Pernahkah kamu berpikir sebelumnya bahwa ibu juga adalah seorang anak bagi ibunya, seorang teman bagi teman-temannya, seorang rekan kerja, dan ibu juga memiliki kehidupannya sendiri.

Pernahkah kau berpikir hal apa yang telah ibu korbankan untuk menghidupi dirimu? Di lain sisi, sebagai pasangan pun harus menghormati dan saling menyayangi satu sama lain, alih-alih menjadikan mereka sebagai pesuruh.

Ibu juga memiliki cita-cita dan hobi. Namun, harapan itu terkadang perlu dikubur dalam-dalam demi memenuhi kepentingan keluarga. Dalam novel ini, sosok ibu mengikat dari lahirnya anak-anak mereka. Menepis segala kepentingan pribadi dan maju di garda terdepan untuk kepentingan anak-anaknya.

Novel ini menjadi teguran keras kepada pembaca untuk menghormati dan melayani ibu sebelum terlambat. Jika waktu-waktu yang memungkinkan memisahkan kita dengan ibu, hanya tersisa penyesalan dan rasa bersalah semakin menumpuk dalam diri.

Jangan sampai semasa hidup hanya ada rasa penyesalan dan terlontar kalimat “andai saja…” atau “aku sangat menyesal…”. 

Menjadi ibu sangatlah berat, tetapi lebih berat lagi jika kita tidak mempersembahkan yang terbaik untuk ibu.

Foto: Aqeela Ara/Konde.co

Aqeela Ara

Penulis dan Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN)
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!