Kanca Wingking: Kerja Perawatan Itu Bukan Cuma Urusan Perempuan

Perempuan dalam rumah tangga itu rekan bekerja dan berusaha (kanca ing gawe). Bukannya kanca ing wingking (teman di belakang), yang ujung-ujungnya “menomorduakan” peran perempuan dan membebankan kerja perawatan.

Tak sedikit perempuan yang kini bisa mengambil peran di sektor publik. Meskipun, bukannya tanpa rintangan dan belenggu konstruksi sosial, yang masih terus membatasi peran perempuan dalam urusan domestik. 

Kaitannya dengan itu, beban ganda masih membayangi perempuan meskipun dia terjun berperan di ruang publik. Ini tentu berbeda dengan konstruksi sosial hegemoni, dimana laki-laki seolah tak perlu lagi memegang kerja-kerja domestik ketika terjun ke sektor publik. Imbasnya, urusan kerja perawatan dan pengasuhan, lagi-lagi dibebankan ke perempuan.  

Dalam masyarakat Jawa yang erat kaitannya dengan budaya patriarkal, perempuan sering kali dilekatkan dengan istilah peran kanca wingking. Secara harfiah, kanca wingking ini berarti teman di belakang. Banyak yang kemudian menghubungkan istilah ini dengan peran domestik yang berkaitan dengan kerja perawatan dan pengasuhan. 

Tak elak, muncul istilah ‘macak, masak, manak’ (berdandan, memasak, melahirkan) ataupun dapur, sumur, kasur. Hal tersebut, seringkali diinternalisasi seolah menjadi “kodrat” yang harus dijalani sebagai perempuan. 

Padahal jika kita tilik dari kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kodrat itu artinya adalah hal-hal yang melekat pada seseorang sejak lahir, bukan yang dilekatkan orang lain. Maka dari itu, pada konteks sistem reproduksi, hal yang bisa dialami perempuan itu meliputi, menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. 

Sementara itu, kerja-kerja domestik perawatan dan pengasuhan itu mestinya bisa dilakukan oleh gender apapun, termasuk laki-laki yang selama ini seperti “tak tersentuh” dan “tak dituntut” untuk melakukan itu.  

Dari Kanca Wingking ke Kanca Ing Gawe

Istilah Kanca wingking dalam masyarakat Jawa, biasanya diperuntukkan untuk perempuan Jawa yang sudah menikah. Di samping domestikasi, istilah itu kerap kali dijadikan tameng untuk menempatkan perempuan sebagai yang “nomor dua”. 

Alih-alih sebagai individu yang utuh, keberadaan perempuan seringkali masih dipandang sebagai pelengkap, pendamping, bahkan pelayan suaminya. Dia dibentuk untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk “berbakti” pada suami. Bahkan atas tubuhnya sendiri, seperti hamil dan melahirkan pun, untuk suaminya. 

Kanca wingking juga seringkali dihubungkan dengan peran perempuan sebagai “penjaga moral” dan kehormatan dalam keluarga. Dalam kultur Jawa, seorang perempuan atau ibu memainkan peran utama dalam sebuah keluarga. Christina S Handayani and Ardhian Novianto dalam Kuasa Wanita Jawa (2004) menuliskan bahwa perempuan (ibu) merupakan simbol moral, kebijaksanaan, pengorbanan diri, kesabaran, dan tanggung jawab. 

Dengan demikian, ibu sebagai kanca wingking juga disebutkan sebagai sosok pertama yang berperan dalam mendidik anaknya secara moral. Itu tentu begitu penting dan tak bisa dianggap sepele peran perempuan selama ini. 

Namun masih ada standar ganda, ketika perempuan lah yang disalahkan ketika moral dan kehormatan keluarga tercoreng. Sementara, jika keluarga itu dipandang harmonis, berpangkat, berprestasi, dll, laki-laki sebagai kepala keluargalah yang mendapat lebih banyak apresiasi. 

Perlu ditegaskan bahwa mestinya rumah tangga dan keluarga itu, adalah upaya bersama dari suami dan istri. Termasuk soal urusan perawatan dan pengasuhan yang adalah tugas bersama. Keduanya juga punya hak setara dalam menentukan pilihannya untuk bekerja di sektor publik dan memikul bersama peran domestik. 

Dengan begitu, perempuan tidak lagi sebatas menjadi kanca wingking, tapi kanca ing gawe (teman dalam bekerja/berusaha). 

Belajar dari Kartini, Perempuan Berjuang Untuk Kesetaraan

Cita-cita tentang peradaban yang setara didambakan oleh Kartini dalam sejarah kolonialisme di Indonesia. 

Dalam Letters of a Javanese Princess, Kartini menegaskan bahwa untuk mencapai peradaban sejati, pendidikan moral dan pendidikan intelektual perlu berjalan beriringan. 

Dalam perjalanannya, perjuangan Kartini dalam kesetaraan membawanya berhasil membangun sekolah untuk perempuan Jawa. Sebagai guru, Kartini menempatkan dirinya bukan sebagai guru formal, melainkan sebagai seorang perempuan dan juga ibu yang menggerakkan kesetaraan. Hal ini didasarkan pada pemahaman Kartini mengenai peran substansial seorang ibu sebagai pendidik jiwa dan tubuh anaknya.

Kartini bisa dikatakan mendobrak peran kanca wingking yang dilekatkan pada perempuan Jawa kala itu. Bahwa perempuan atau ibu dibatasi pada ranah domestik dan tak bisa punya agensi atas dirinya sendiri. Melalui pendidikan, Kartini ingin para perempuan Jawa menyadari kuasa atas dirinya dan memperjuangkan kehidupan yang lebih setara. 

Kartini juga mengkritik budaya pingitan, kawin paksa, poligami, dan pembodohan yang menimpa perempuan. Karena adat tersebut, posisi perempuan di masa Kartini terpaksa dibatasi dalam 2 peran yaitu sebagai aset yang harus ditingkatkan kualitas hidupnya, dan yang kedua sebagai pemuas kebutuhan biologis dan sarana prokreasi (memiliki keturunan).

Dari dua peran ini membentuk pribadi perempuan yang nrimo dan pasrah. Dalam kondisi tersebut perempuan tidak mampu menangkap makna hidup yang hakiki, bahkan atas hidupnya sendiri. Hal inilah yang disebut Kartini sebagai pembodohan.

Baca juga: Jangan Cuma Seremonial, Ini 5 Hal Penting Yang Dilakukan Kartini

Kartini yang hidup dalam masyarakat yang bersendikan feodalisme, pertama-tama memahami dasar demokrasi bagi perjuangan nasional dan perjuangan perempuan. Kartini berpendapat seyogyanya perempuan terdidik harus mampu berjuang untuk membela hak-hak perempuan sebagai manusia seutuhnya.

Dengan pendidikan pula, para ibu bisa meneruskan nilai-nilai luhur budi pekerti kepada anak-anak, yang kelak menjadi pemimpin dan penerus bangsa. Perempuan-ibu, seperti sumber air yang menjaga keberlangsungan hidup, adalah penjaga kebudayaan yang memastikan lestarinya nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat.

Masih relevan sampai hari ini bahwa tak semestinya, peran perempuan tidak boleh direduksi dalam kebudayaan. Tapi, harus diperhitungkan dan dihargai. 

Itu bisa dibuktikan dengan menghapus apapun jenis pelabelan perempuan yang membelenggunya hanya dalam ranah domestik. Tetapi, kita sudah harus melihat bahwa perempuan juga punya kapasitas untuk berkontribusi di berbagai sektor kehidupan termasuk publik. 

(Editor: Nurul Nur Azizah)

Hani Yopita Setiawan

Hani Yopita Setiawan adalah seorang teolog feminis dan aktivis perempuan dari Jepara yang fokus pada isu-isu keadilan gender, agama, dan budaya.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!