Jangan Cuma Seremonial, Ini 5 Hal Penting Yang Dilakukan Kartini

21 April semestinya tak hanya dirayakan dengan acara-acara seremonial rutin perayaan Kartini seperti pakai kebaya. Tapi harus lebih progresif, dengan mempelajari gagasan dan pemikiran termasuk soal kesetaraan dan keberagaman Kartini. Lantas, kita terapkan sesuai konteks zaman saat ini. Ambil peranmu!

Setidaknya sampai SMA, ingatanku soal Hari Kartini rasanya tak jauh dari acara-acara seremonial. Sehari dua hari jelang 21 April, guru akan mengumumkan bahwa murid-murid mesti memakai pakaian jadul (jaman dulu). Aku sampai punya beberapa stok baju-baju kebaya lama milik nenekku. 

Aneka lomba antar kelas pun digelar untuk meramaikan perayaan satu hari itu: masak-masak, bermake-up ria, fashion show pakaian tradisional, menyanyi dan main alat musik lagu kartini, sampai berpuisi dan menulis esai soal Kartini. Aku pernah mengikuti nyaris semua aktivitas ‘rutin tahunan itu’. 

Bagi anak remaja kampung sepertiku kala itu, sejujurnya aku tak begitu mengenal Kartini. Aku tak punya latar belakang keluarga dengan akses bacaan mumpuni. Sekolah pun tak menyediakan akses literatur memadai soal Kartini.

Media yang ada populer saat itu juga cuma ada radio dan TV: mereka cuma sepintas-sepintas saja menyampaikan bahwa Kartini adalah inspirasi emansipasi. 

Tapi, bagaimana emansipasi itu dijalankan? Situasi apa yang mendorong seorang perempuan asal Jepara itu menyuarakan perjuangannya? Bagaimana sosok Kartini jadi pelopor penting untuk hak pendidikan bagi perempuan? Aku tidak benar-benar tahu. 

Bertahun-tahun setelahnya, aku baru benar-benar mencari tahu siapa Kartini. Aku memulainya dengan membaca lewat buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Sampai kemudian berbagai sumber-sumber bacaan lain baik itu artikel, jurnal, sampai konten-konten di media sosial untuk melengkapi pemahaman bacaanku. 

Terlepas dari berbagai penafsiran tentang sosok Kartini. Aku sepakat, Kartini (1879-1904) adalah perempuan yang melakukan perlawanan. Dia mencintai tradisi, namun saat tradisi itu tidak berpihak pada perempuan dan wong cilik, Ia melawannya. Dia menyuarakannya lewat tulisan-tulisan bernas-nya yang kini menjadi surat-surat yang dibukukan itu. 

Pada masa awal abad 19, pemikiran Kartini yang berawal dari pengalaman dan kegelisahannya melihat sekitar, menurutku sudah sangat maju. Bahkan, masih terus relevan sampai saat ini. Tentu saja langkahnya tidak mudah, dia harus berhadapan dengan lingkungan patriarki dan feodal. 

Itulah kupikir mengapa, Soekarno pada 2 Mei 1964 melalui Keputusan Presiden RI No 108 Tahun 1994, menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Keppres itu sekaligus menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Tak lain, karena peran dan kontribusi Kartini terhadap kemerdekaan Indonesia. Perjuangan Kartini untuk kepentingan masyarakat Indonesia utamanya kaum perempuan, melalui ide dan gagasan-gagasannya yang telah dibukukan. 

Baca juga: Ingat Pesan Kartini: Buka Akses Pendidikan Perempuan

Satu bagian isi surat yang paling aku ingat, kartini yang meratapi nasib perempuan di masanya. Banyak dari mereka yang buta huruf dan tak punya kesempatan bersekolah dan berpendidikan, layaknya laki-laki. 

“Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah saat-saat kami dipaksa menikah hari ini atau esok dengan laki-laki yang dianggap patut oleh orangtua kami,” tulis Kartini dengan getir kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri, 8/9 Agustus 1901.

Di surat-surat sebelumnya, Kartini juga menyiratkan keprihatinan yang sama. Bahwa perempuan dan laki-laki mestinya bisa setara termasuk dalam mengenyam pendidikan. Hal itulah pulalah yang Kartini ingin lakukan kepada anak-anaknya. 

“Saya akan memberikan pendidikan yang sama kepada mereka… Lagi pula saya bermaksud akan menghapuskan batas yang menggelikan antara laki-laki dan perempuan yang dibuat orang sedemikian cermatnya,” Kutipan Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 23 Agustus 1900. 

Setidaknya ada 5 hal yang harus kita ingat dari sosok Kartini, melalui surat-surat dan pemikirannya. Konde.co pernah menuliskannya di antaranya:

1. Kartini tak hanya menuliskan surat, tapi juga esai dan artikel

Tulisan esai Kartini yang cukup diakui adalah esai bertajuk ‘Handschrift Japara (Tulisan Tangan Jepara). Tulisan tersebut dibuat Kartini sebagai pengantar dalam sebuah Pameran Nasional di Den Haag, Belanda (1898), tulisan itu menulis tentang proses pembuatan batik.

Masyarakat Belanda begitu mengapresiasi tulisan Kartini itu dan kemudian dimuat sebagai pedoman tentang batik dalam buku De Batikunst in Nederlandsch en hare Geschiedenis (1899). 

Ada beberapa karya tulis lainnya yang juga diperbincangkan, namun sayang sekali sampai hari ini belum pernah bisa dibuktikan keotentikannya.

2. Sepanjang 1899-1902, Kartini menyurati 10 orang Belanda

Kartini begitu produktif dalam menuliskan gagasan, ide dan berbagai pemikirannya. Korespondensi yang dilakukan Kartini juga tak bisa dibilang sedikit. Dia telah menyurati beberapa sahabat penanya yang berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari kelompok sosialis, feminis, maupun tokoh politik dari Belanda. 

Ada nama-nama yang tercatat dalam tulisan Kartini seperti Mevrouw Ovink-Soer – seorang sosialis dan feminis dan istri dari Asisten Residen NEI yang menulis untuk majalah wanita Belanda, De Hollandsche Lelie, lalu ada seorang feminis radikal Belanda, Estelle H. Zeehandelaar (Stella), kemudian J. H. Abendanon, Direktur Pendidikan, Industri, dan Agama di Jawa, serta Rosita Abendanon-Mandri (istri Abendanon).

3.Kartini menulis dengan cara “radikal” di usia awal 20-an

Kartini adalah  kategori perempuan Jawa yang dibesarkan dalam tradisi feodal yang sangat ketat. Gagasannya tentang persamaan hak perempuan, tentang pendidikan, tentang budaya Jawa, dan juga agama, menjadi inti dari berbagai tulisan Kartini.

Sehingga tidak aneh ketika kemudian 106 surat yang dikumpulkan oleh J.H. Abendanon untuk dijadikan buku bertajuk Door Duisternis Tot Licht (1911), mendapatkan sambutan dari berbagai pihak di Belanda hingga berbagai kota Eropa lainnya.

4.Kartini punya kemampuan bahasa yang luar biasa

Dengan kemampuan bahasa termasuk bahasa Belanda, Kartini mampu menggambarkan bagaimana situasi yang terjadi di tanah Jawa, baik dari sisi sosial dan politik dengan sangat baik. Pembicaraan atas surat Kartini yang dibukukan dalam bahasa Belanda ini kemudian membuat penerbit London, Duckworth & Co, menerbitkannya dalam bahasa Inggris. Judul bukunya adalah Letters of Javanese Princess (by Raden Adjeng Kartini). 

Buku ini pun banyak mendapatkan berbagai ulasan, termasuk ada dua penulis artikel jurnal yang mengulasnya dengan sangat cerdas setelah 40 tahun lebih diterbitkan. Kedua penulis itu yakni; Robert Van Niel  dalam jurnal The Journal of Asian Studies, Vol. 24, No. 3 (May, 1965), pp. 530-531. Serta Wittermans, E. P. (1966) dalam jurnal American Anthropologist, 68(1), 281–283.

5.Tulisan Kartini adalah inspirasi perjuangan kebangsaan, kesetaraan hingga keberagaman

Meskipun kita juga tahu buku yang diterbitkan Abendanon tidak seluruhnya menampilkan surat-surat Kartini, namun tidak begitu saja memuat tulisan Kartini apa adanya. Sudah ada proses seleksi dan editing demi berbagai kepentingan Abendanon. Termasuk ketidakberhasilan Abendanon meminta ke 25 surat Kartini yang ada pada Stella. Stella hanya menyerahkan 11 surat Kartini  pada Abendanon. 

Demikian juga dalam karya buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane yang diterbitkan tahun 1938, hanya menyertakan 87 surat Kartini. Pada proses seleksi, editing dan alih bahasa inilah, tentu kita memahami tidak semua gagasan itu bisa tersampaikan dengan utuh.

Pada akhirnya membaca berbagai tulisan Kartini makin membuka keyakinan kita bahwa Kartini adalah penulis yang hasil tulisannya mengalir jauh hingga kini. Ini mungkin kata yang tepat untuk Kartini: seorang manusia yang dengan sangat kuat dan indahnya menuliskan segara rasa, ide, gagasan, dan perjuangannya.

Kartini, perempuan penulis yang mencatatkan sejarahnya ketika ia menuliskan segala pikiran dan gagasannya. Ini juga yang harus dilakukan terus oleh perempuan, menuliskan segala ide dan gagasan sebagai bagian dan perjuangan dan sumbangan untuk perubahan.

(Artikel ini pernah dimuat pada 21 April 2023)

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!