Perempuan dan AI generatif

AI Generatif Menyasar Tubuh Perempuan, Teknologi Bukan untuk Penuhi Nafsu Laki-Laki

Katanya ini era revolusi teknologi. Kemunculan teknologi seperti AI generatif contohnya. Tapi ada satu hal yang tak pernah berubah sejak dulu: libido laki-laki heteroseksual masih jadi mesin penggeraknya.

Di media sosial hari-hari ini, semakin sulit membedakan antara gambar dan video yang nyata dengan yang buatan. Terutama sejak kemunculan teknologi AI generatif (generative AI).

Teknologi AI generatif telah mencapai titik ketika gambar dan video yang diproduksinya tampak sangat realistis. Alhasil, publik kerap terkecoh. Salah satu yang terkini, Google baru saja merilis model video terbarunya, Veo. Ia mampu menghasilkan video rekayasa dengan resolusi tinggi hanya dari perintah teks. Meskipun model seperti ini belum dirancang untuk membuat deepfake wajah manusia sungguhan, kecanggihannya menjadi indikator betapa pesatnya perkembangan AI dalam merekayasa realitas visual. Namun, teknologi canggih seperti ini juga adalah pisau bermata dua.

Beberapa waktu lalu, sebuah foto perempuan berjilbab hasil rekayasa AI viral di media sosial. Tampilan fotonya begitu alami hingga banyak orang tak menyadari bahwa itu bukan foto sungguhan. Foto itu viral di berbagai media sosial, memicu diskusi tentang kecanggihan AI sekaligus kekhawatiran tentang penyalahgunaan foto pribadi oleh AI. Kasus ini menunjukkan bahwa bukan lagi mustahil membayangkan tubuh perempuan bisa diciptakan, diatur, dan disebarkan oleh mesin, tanpa perlu kehadiran orangnya sama sekali.

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, banyak orang yang tidak dapat dan tidak mau membedakan antara AI yang dikembangkan secara etis dan aman, dengan model open source yang berjalan tanpa pengawasan. Google Veo, misalnya. Kendati mampu menciptakan video yang sangat realistis dari teks, ia tidak dirancang untuk mengambil wajah manusia sungguhan. Apa lagi menggunakannya dalam video deepfake. AI generatif populer lainnya seperti ChatGPT atau Gemini juga dilengkapi dengan sistem keamanan yang ketat dan kebijakan penggunaan yang melarang produksi konten seksual, kekerasan, maupun manipulasi visual.

Baca Juga: AI, Jadi Peluang atau Ancaman? Melihat Pandangan Feminisme

Yang berbahaya adalah model-model open source seperti Stable Diffusion, yang dapat diunduh dan dijalankan secara bebas. Di sinilah banyak pengguna yang secara aktif merekayasa model tersebut di komputer mereka sendiri. Caranya dengan menghapus filter keamanan NSFW (Not Safe For Work), yakni sistem pembatas bawaan yang dirancang untuk mencegah pembuatan konten seksual, kekerasan, atau pornografi. Begitu filter ini dihilangkan, model tersebut menjadi bebas menghasilkan gambar telanjang, hingga memasukkan wajah manusia sungguhan tanpa batasan apa pun.

AI generatif ini tidak hanya mampu menciptakan wajah-wajah fiktif yang tampak nyata. Ia juga bisa mengambil wajah manusia sungguhan dan menggunakannya sebagai bahan rekayasa. Dengan satu foto yang diambil dari media sosial, pelaku dapat menempelkan wajah seseorang ke tubuh telanjang buatan yang diciptakan oleh AI. Hasil akhirnya sering kali begitu halus dan realistis, hingga sulit dipercaya bahwa itu adalah rekayasa. Dalam banyak kasus, wajah perempuan yang digunakan adalah milik orang biasa seperti teman sekolah, mantan pacar, bahkan perempuan yang tak dikenal secara pribadi.

Model AI seperti Stable Diffusion, yang awalnya dirancang untuk menggambar pemandangan atau lukisan artistik dari teks, kini justru menjadi alat paling populer untuk membuat pornografi buatan. Stable Diffusion adalah model AI generatif berbasis gambar yang dikembangkan oleh Stability AI dan dirilis secara open source. Tujuannya sebenarnya bagus: mendemokratisasi teknologi AI yang sebelumnya dimonopoli oleh OpenAI atau Google. Kini dengan hanya berbekal komputer, siapa pun bisa mengunduh, menjalankan, dan memodifikasi model ini secara lokal. Sayangnya, filter keamanan mereka juga dapat dihapus sehingga manipulasi konten yang berbahaya bagi orang lain, khususnya perempuan, justru marak terjadi.

Baca Juga: Jadi Korban Manipulasi Foto Sensual dengan AI, Bagaimana Menjerat Hukum Pelaku?

Konten-konten ini lalu dibagikan secara anonim melalui komunitas daring seperti Reddit, Discord, dan forum-forum tersembunyi, yang menjadi ruang berbagi model, plugin, tutorial, dan hasil karya AI yang semakin ekstrem. Laporan Wired menunjukkan bahwa para pengguna bahkan saling memamerkan hasil manipulasi wajah perempuan sungguhan, termasuk selebriti dan teman perempuan yang fotonya diambil dari media sosial. Semua ini dijalankan secara bebas tanpa pengawasan dan regulasi.

Para pelaku ini begitu bersemangat membahas penyalahgunaan teknologi ini tanpa rasa bersalah. Padahal yang mereka lakukan adalah kekerasan berbasis gender online (KBGO). Tubuh perempuan dijadikan ladang eksperimen tanpa izin, dan dipajang dalam forum online seolah milik publik. Mereka mungkin menganggap ini hanya gambar. Tapi bagi perempuan yang wajahnya direkayasa tanpa persetujuan, ini adalah penghinaan terhadap martabat, serangan terhadap rasa aman, dan perampasan kendali atas tubuh sendiri.

Mirisnya, banyak komentar dari netizen yang justru menyalahkan korban dengan menasehati perempuan agar tidak mengunggah foto diri di internet sebagai cara untuk terhindar dari penyalahgunaan teknologi AI. Pendapat semacam ini justru memperkuat budaya victim blaming dan membatasi kebebasan perempuan. Padahal, hak untuk tampil di ruang digital tanpa rasa takut dieksploitasi adalah hak dasar setiap individu. Fokus seharusnya adalah pada penguatan regulasi, edukasi publik, serta penindakan tegas terhadap pelaku penyalahgunaan teknologi yang merugikan orang lain. 

Sejarah Inovasi Teknologi yang Digerakkan oleh Nafsu Laki-laki

Sangat disayangkan, dalam sejarah teknologi modern, libido laki-laki heteroseksual tampaknya kerap menjadi bahan bakar utama inovasi.

Google Image, misalnya, tercipta pada tahun 2000 setelah pencarian gambar Jennifer Lopez dalam gaun hijau di Grammy Awards membludak. Jutaan orang (mayoritas laki-laki) mencari “belahan dada J.Lo” hingga Google terinspirasi menciptakan fitur pencarian gambar. Di era internet tahun 1990-an dulu, pengguna harus menghabiskan uang untuk membayar internet lewat tagihan telepon rumah. Dan apa yang menggerakkan pengguna melakukannya? Ya, konten pornografi. Kini, kita menyaksikan bab berikutnya yaitu pelecehan seksual berbasis gambar yang dihasilkan AI. Teknologi yang seharusnya memperluas akses kreativitas justru kembali digerakkan oleh hasrat seksual laki-laki.

Tubuh perempuan, sejak lama, selalu menjadi sasaran fantasi, dibentuk, dan ingin dikendalikan. Seabad lalu, Fritz Lang sudah menunjukkan bahwa tubuh perempuan bisa direkayasa dan dikendalikan lewat teknologi. Dalam film Metropolis (1927), tokoh bernama Maria adalah aktivis buruh yang berpengaruh. Ia diculik, dan tubuhnya disalin menjadi robot. Robot Maria menari erotis di klub malam menggoda penonton laki-laki, dan merusak reputasi Maria yang asli.

Baca Juga: ‘Pacar AI’ dan Sexbot: Revolusi Hubungan Digital yang Mengkhawatirkan

Dan kini, film itu bukan lagi fiksi. Dengan kecanggihan AI generatif, kita menyaksikan hal serupa terjadi. Berapa banyak karakter dan hidup perempuan yang dibunuh karena tubuhnya dimanipulasi teknologi?

Banyak aktivis, politisi perempuan, dan pemimpin perempuan menjadi sasaran serangan semacam ini. Di Amerika Serikat, American Sunlight Project, sebuah kelompok penelitian disinformasi, mengidentifikasi lebih dari 35.000 contoh konten deepfake yang menggambarkan 26 anggota Kongres. 25 di antaranya perempuan, di seluruh situs pornografi. Di Italia, Perdana Menteri Giorgia Meloni menuntut ganti rugi sebesar 100.000 Euro dari dua laki-laki yang membuat video yang mengandung konten intim yang dihasilkan dari teknologi deepfake yang menampilkan dirinya dan mengunggahnya ke situs web porno. Terbaru, anggota parlemen Selandia Baru, Laura McClure tampil berani di hadapan parlemen sambil memegang sebuah foto AI menggambarkan dirinya telanjang. Ia mendesak agar segera dibentuk undang-undang untuk melarang penyebaran foto deepfake. Kasus ini menunjukkan betapa cepat dan masifnya teknologi ini bisa digunakan untuk menyerang citra dan reputasi perempuan.

AI dan Teknologi Bukan Hanya Milik Laki-laki

Feminisme sejak lama sudah memperingatkan bahwa teknologi tidak pernah benar-benar netral. Dalam esai A Cyborg Manifesto, Donna Haraway mengatakan bahwa manusia dan mesin sekarang sudah saling bercampur, dan kita semua hidup sebagai “cyborg”, makhluk campuran antara manusia dan teknologi. Ia menjelaskan bahwa teknologi bisa memperkuat kekuasaan patriarki, tapi juga bisa digunakan untuk melawan dominasi itu. Menurut Haraway, identitas kita tidak selalu tetap dan alami, ia dibentuk oleh sejarah, budaya, dan juga teknologi.

Haraway mengajak feminis menekankan keberdayaan alternatif yang bisa muncul jika perempuan dan kelompok marginal lainnya terlibat aktif mengarahkan teknologi itu. “Dari sudut pandang kesenangan dan fusi yang dianggap tabu ini bisa jadi memang ada yang disebut ilmu pengetahuan feminis.” tulis Haraway, menunjukkan bahwa di tengah kompleksitas identitas dan alat teknologi, terdapat potensi membalikkan logika dominasi dan merancang ulang relasi kekuasaan. AI bukanlah alat laki-laki, perempuan bisa menggunakannya untuk menciptakan narasi baru, membangun jaringan solidaritas lintas identitas, dan menyuarakan pengalaman secara lebih luas. 

Teknologi adalah fenomena budaya, dan karenanya dibentuk oleh nilai-nilai budaya kita. Kita menciptakan pengobatan karena menginginkan kesehatan. Kita mengembangkan transportasi karena dorongan untuk ingin bergerak lebih jauh. Maka, jika yang diciptakan adalah tubuh perempuan telanjang hasil rekayasa, pertanyaannya adalah budaya apa yang mendorongmu? Kita menciptakan teknologi karena ingin mengatasi keterbatasan. Tapi ada satu keterbatasan yang tampaknya tak pernah berhasil diatasi laki-laki pelaku KBGO, hasratnya untuk menguasai tubuh perempuan.

Baca Juga: Film ‘Subservience’ Stigma Pada Robot AI Penggoda Suami

Bagi siapa pun yang terlibat dalam praktik ini, entah sebagai pencipta, penyebar, atau penikmat, segeralah sadar dan berhenti melakukannya. Di balik gambar itu, ada wajah, ada nama, ada kehidupan yang kamu rusak. Gambar itu mungkin hanya sekejap bagimu, tapi dampaknya bisa bertahan seumur hidup bagi korban. Kamu mungkin merasa aman karena bersembunyi di balik layar, menggunakan nama anonim, dan menyimpan file di folder pribadi. Tapi itu hanya bentuk lain dari pengecut. Jika hal yang kamu lakukan harus disembunyikan dari publik atau dari perempuan yang kamu manipulasi, maka sesungguhnya kamu tahu itu salah. Tapi kamu tetap saja dengan sadar melakukannya. 

Selama tubuh perempuan masih dianggap milik publik, selama itu pula teknologi akan digunakan untuk menindas.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!