Seksualitas adalah aspek paling intim pada diri tiap individu sekaligus kerap mengundang banyak pertanyaan. Ia mencakup aspek kompleks yang melibatkan perasaan, pikiran, ketertarikan, dan perilaku seksual seseorang terhadap orang lain.
Perhatian dan pertanyaan terkait seksualitas ini sering muncul pada diri remaja. Hal ini wajar karena masa remaja adalah periode perkembangan ketika individu mengalami perubahan fisik, hormonal, dan psikologis yang signifikan. Termasuk juga periode munculnya ketertarikan terhadap orang lain dan eksplorasi identitas seksual.
Salah satu medium yang menjadi sumber untuk menjawab keingintahuan para remaja terkait seksualitas adalah film. Lebih spesifiknya film dengan muatan seksual eksplisit atau biasa disebut bokep.
Realitas ini juga ditangkap para sineas sebagai bagian dari dinamika kehidupan remaja baik laki-laki maupun perempuan terutama di kota besar. Ada beberapa film Indonesia yang memiliki latar belakang anak SMA yang menyelipkan kegiatan menonton film bokep ke dalam karya dua dimensi ini.
Film tersebut adalah Catatan Akhir Sekolah (2005) yang disutradarai Hanung Bramantyo dan Like & Share (2021) karya Gina S. Noer. Bagaimana kedua film ini menampilkan adegan tokoh utamanya saat menonton film bermuatan seksual eksplisit?
Catatan Akhir Sekolah: Potret Remaja Laki-Laki yang Culun dan Seru
Catatan Akhir Sekolah bercerita tentang persahabatan 3 remaja laki-laki yang sedang menghabiskan masa-masa indahnya di bangku SMA. Mereka adalah Arian, Alde, dan Agni. Selama masa sekolah tersebut mereka merasa menjadi murid yang kurang keren dan cenderung dipandang rendah di antara yang lain.
Film ini memotret lika-liku tiga sahabat tersebut dalam merekam memori dan kenangan semasa SMA. Mulai dari kegiatan positif hingga kebandelan remaja semua direkam lewat handycam yang mereka miliki secara terang-terangan dan kadang sembunyi-sembunyi. Dalam salah satu adegan, film ini menyelipkan sebuah kegiatan yang menguji adrenalin sekaligus mempererat pertemanan antara ketiganya, yaitu menonton film bokep secara bersama-sama di rumah.
Like & Share: Kegelisahan Remaja Perempuan Mencari Jati Diri
Like & Share berkisah tentang persahabatan 2 remaja perempuan kelas 3 SMA bernama Lisa dan Sarah yang suka membuat video tentang review makanan sambil ber- ASMR. Mereka bercita-cita menjadi content creator terkenal. Karena itu, mereka sangat serius dalam membuat konten.
Kesukaan dan keinginan mereka membesarkan channel Youtube tersebut dianggap lelucon bagi orang dewasa dalam keluarga Sarah maupun Lisa. Meski begitu, tekad kedua remaja ini tidak padam. Mereka terus-menerus membuat video.
Namun, dalam perjalanan membesarkan channel Youtube ini, Lisa tak sengaja menemukan video bokep “HP Jatuh” yang membuatnya merasa kecanduan bokep. Lisa merasa suka dan kagum dengan perempuan yang ada di dalam video itu. Ia tidak bisa lepas dari menonton film dewasa tersebut. Sampai-sampai saat jam sekolah pun dia harus menghadapi rasa tidak nyamannya tersebut.
Memandang Bokep dari Kacamata Tokoh Remaja Laki-Laki dan Perempuan
Catatan Akhir Sekolah menampilkan film bermuatan seksual eksplisit dengan cara yang “fun” dan cenderung melihatnya secara jenaka. Dalam satu adegan, Arian, Agni, dan Alde berada di atas kasur dengan wajah yang fokus menatap ke layar. Penonton bisa melihat ekspresi ketiga tokoh utama film ini tanpa perlu ada dialog. Suara yang muncul hanya berasal dari TV yang memutarkan film tersebut. Ekspresi ketiganya memperlihatkan kalau mereka menikmati momen tersebut.
Adegan terasa jenaka saat ibu Alde masuk ke kamar Alde dan ketiga remaja laki-laki itu berusaha menyembunyikan keseruan tadi. Sepertinya ada hukum tidak tertulis bagi remaja laki-laki untuk saling melindungi diri dari pandangan negatif orang tua mereka.
Dua rangkaian adegan ini menunjukkan kalau kegiatan nonton film bermuatan seksual eksplisit adalah hal yang biasa bagi remaja laki-laki. Apalagi hal itu dilakukan secara bersama dengan teman-teman sebaya. Siapa yang tidak tertawa menyaksikan tingkah konyol ketiga sahabat ini? Bahkan di dunia nyata, bagi remaja laki-laki kegiatan ini bisa mempererat hubungan pertemanan dan mengangkat citra diri mereka yang mempunyai koleksi video tersebut.
Dalam Like & Share film bermuatan seksual eksplisit dihadirkan dengan cara yang cukup intim dan terkesan privasi. Ada 3 sekuens yang menampilkan adegan menonton video bokep dalam film garapan Gina S. Noer ini.
Sekuens pertama ada di awal film yang memperlihatkan interaksi antara kedua tokoh utama perempuan dalam film ini. Lisa terlihat sangat menikmati momen menonton film bermuatan seksual eksplisit tersebut. Bahkan kamera sengaja diarahkan dengan close up angel untuk memperlihatkan wajah yang fokus ke bagian mata lalu perlahan bibir Lisa.
Berbeda dengan Lisa, tokoh Sarah terlihat kurang nyaman dan cenderung risih dengan video yang ia lihat bersama Lisa. Beberapa kali Ia bahkan berusaha mengalihkan rasa canggung tersebut dengan candaan tentang perempuan yang ada di dalam video tersebut.
Baca juga: Pentingnya Film ‘Like & Share’: Bagaimana Remaja Perempuan Melawan KBGO
Adegan menonton film bermuatan seksual eksplisit ini dihadirkan bukan hanya sebagai hiburan atau pemanis, tetapi menjadi salah satu sub cerita yang penting bagi jalannya cerita dalam film. Gina sengaja menghadirkan cerita ini sebagai refleksi atas pandangan umum tentang film bermuatan seksual eksplisit dan sikap perempuan.
Perempuan umumnya memandang seksualitas persis seperti 2 karakter utama film ini. Ada yang merasa nyaman dan tidak masalah untuk membicarakannya secara terbuka. Tetapi ada yang cenderung memandang seksualitas sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan di ruang publik, cukup dibahas di ruang privat. Secara umum kebanyakan masyarakat ada pada kecenderungan terakhir.
Kesan intim itu makin diperkuat saat momen privat ini kembali dihadirkan untuk kedua kalinya. Kali ini Lisa menonton film bermuatan seksual eksplisit di dalam kamar tidurnya yang berusaha ia sembunyikan dengan menutup kaki hingga wajahnya dengan selimut. Namun, sialnya aktivitas itu ketahuan karena Ia lupa mengunci pintu kamarnya sehingga ibunya memergokinya sedang menikmati kesenangan temporer itu.
Walau sama-sama memotret momen remaja yang ketahuan menonton film bermuatan seksual eksplisit, Hanung dan Gina menampilkannya secara berbeda. Pada film Catatan Akhir sekolah tidak tampak adegan orang tua secara terang-terangan memarahi si anak.
Sementara dalam Like & Share diperlihatkan adanya bentrokan antara ibu dan anak perempuannya karena masalah menonton film bermuatan seksual eksplisit. Akhir dari momen itu pun membawa pada suasana yang berjarak antara ibu dan anak.
Seksualitas kerap menjadi masalah besar bagi perempuan, terutama pada usia remaja. Disadari atau tidak kebingungan sering muncul di benak remaja perempuan terkait soal seksualitas. Bahkan seksualitas tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Karenanya menganggap topik ini sebagai hal yang tabu justru memunculkan pertanyaan, bagaimana perempuan bisa mengenal dirinya sendiri?
Baca juga: ‘Dear David’ Buktikan Jika Remaja Perempuan Bisa Mendobrak Tabu Seksualitas
Dalam film ini pun tokoh Lisa perlahan digambarkan sebagai remaja yang kebingungan karena merasa kecanduan melihat film bermuatan seksual eksplisit. Hal ini juga berkaitan dengan sekuens ketiga yang menampilkan momen Lisa menonton video bokep di dalam toilet sekolah di sela ia mengerjakan ujian sekolah. Ia pun merasa aneh dengan hal yang dia rasakan dari waktu ke waktu.
Padahal, bila dilihat lebih jauh, hal yang dirasakan dan dialami Lisa bagi beberapa remaja perempuan atau perempuan dewasa adalah sesuatu yang wajar. Mungkin ada baiknya pengetahuan seperti ini yang semestinya lebih diperlihatkan secara mendalam atau sekadar disisipi. Yakni mencari tahu lebih jelas apa yang dialami Lisa dilihat dari perspektif saintis.
Menurut saya adegan melihat video bokep sangat penting dalam film Like & Share. Bila adegan itu dihilangkan akan mengganggu jalannya cerita. Berbeda dengan kegiatan melihat bokep yang ada di Catatan Akhir sekolah. Jika adegan ini dihilangkan tidak akan memberi perbedaan signifikan terhadap jalannya cerita.
Meski begitu, kedua film ini bagi saya sudah cukup baik memotret realitas remaja yang ada di Indonesia. Keduanya tidak hanya memperlihatkan keseruan masa SMA tetapi juga kebandelan dan canggungnya momen-momen pencarian jati diri. Hanung memotretnya dengan jenaka sementara Gina menampilkannya secara serius.
Foto: imdb.com
(Editor: Anita Dhewy)






