Ada sebuah kisah dari kenalan saya, Alya (bukan nama sebenarnya). Ia bercerita bahwa dirinya baru saja dimarahi mertuanya karena tidak tahu keberadaan suaminya, Rico (juga bukan nama sebenarnya). Mertuanya menuduhnya sebagai istri tidak perhatian dan cuek kepada suami. Padahal, Alya sudah menjelaskan bahwa Rico sendiri yang tidak suka ditanya-tanya sedang ada di mana. Alya pernah menelepon Rico saat kerja sampai larut malam, dan Rico menghardiknya “Ah ini bukan urusan perempuan!”
Setelah itu, Alya tidak bertanya terlalu sering. Rico bahkan pernah 3 hari tidak pulang tanpa kabar. Setelah pulang ke rumah, dia bersikap biasa saja, tidak meminta maaf dan langsung mandi. Alya selalu berusaha mengobrol dengan serius, mulai dari masalah uang, keluhannya karena merasa diabaikan Rico, dan hubungan Alya dengan mertua yang kurang baik. Pembicaraan itu selalu diakhiri dengan pertengkaran. Tapi mereka bisa tahan bersama ketika menonton film yang seru, membahas hal lucu, dan jalan-jalan berdua tanpa membicarakan hal serius.
Kisah Alya dan Rico rupanya bukan satu-satunya.Cerita mereka erat kaitannya dengan topik yang viral di media sosial tentang pasangan yang avoidant (penghindar).
Belakangan, di TikTok, banyak pengguna membagikan keluh kesah mereka tentang pasangannya yang dianggap memiliki tipe avoidant. Keluhannya mirip-mirip: “Sebenarnya kamu tuh sayang, enggak, sama aku? Kenapa effort-nya tiba-tiba hilang?” Atau, “Kenapa setiap kamu bad mood, aku selalu dibuang jauh-jauh?”
Banyak yang bertanya-tanya, sampai kapan harus menjadi satu-satunya pihak yang sabar menghadapi tipe avoidant?
Baca juga: Hubungan dengan Pasangan Terasa Stagnan, Padahal Terlihat Sedang Baik-Baik Saja, Kamu Relate?
Sementara itu, banyak dari mereka yang mengaku sebagai avoidant justru merespon dengan membenarkan diri. “Iya kok, avoidant salah… Memang enggak pantas dicintai,” kata salah satu video yang viral. Komentar-komentar kesal langsung bermunculan dan mempertanyakan avoidant yang masih mau menjalin hubungan jika tidak mau berusaha.
Istilah “avoidant” dan “anxious” mulai populer sejak terbitnya buku Attached karya Amir Levine dan Rachel Heller pada 2010. Buku ini memperkenalkan teori gaya keterikatan (attachment style) dalam konteks hubungan romantis. Juga membantu agar orang memahami pola emosional mereka maupun pasangannya. Meski bermanfaat sebagai alat refleksi, pelabelan ini juga rawan disederhanakan atau dipakai untuk menyalahkan salah satu pihak dalam hubungan yang kompleks.
Dalam buku Attached, dijelaskan bahwa ada tiga gaya keterikatan utama dalam hubungan dewasa: secure (aman), anxious (cemas), dan avoidant (menghindar). Orang dengan gaya secure merasa nyaman dengan kedekatan, serta tidak takut kehilangan atau terlalu ‘lengket’. Sebaliknya, gaya anxious ditandai dengan kebutuhan akan kepastian terus-menerus, serta cenderung khawatir tentang kemampuan pasangan untuk mencintai mereka. Sementara itu, orang avoidant justru merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional. Mereka cenderung menjaga jarak, lebih mementingkan kemandirian dan kebebasan pribadi dibanding hubungan, dan sering menolak keintiman saat hubungan mulai terasa terlalu dekat.
Cepat Memberi Label Tanpa Memahami Lebih Dalam
Teori gaya keterikatan kini jadi bahan diskursus viral di media sosial. Banyak orang jadi menyederhanakan hubungan mereka hanya lewat satu pertanyaan: “Apa gaya keterikatanmu?” Dari sana, pasangan atau diri sendiri langsung diberi label anxious, avoidant, atau secure. Seolah-olah satu istilah itu bisa merangkum seluruh kepribadian dan sejarah emosional seseorang. Di tangan para influencer—yang seringkali bukan ahli—konsep ini berubah jadi konten cepat saji. Misalnya dengan menuduh orang yang tidak mau sleep call lagi sebagai tipe avoidant. Padahal, bisa saja sedang capek dan tidak punya bahan pembicaraan, kan?
Banyak yang mengira orang avoidant itu cuma cuek, padahal beda. Orang cuek mungkin kurang perhatian atau tidak peka, tapi mereka tidak takut dekat secara emosional. Sementara orang avoidant justru menghindari keintiman karena merasa terancam kalau hubungan jadi terlalu dekat. Dalam hubungan suami istri, misalnya, suami yang cuek bisa saja lupa ulang tahun atau jarang ikut mengurus anak, tapi tetap mau mendengarkan saat istrinya curhat. Namun suami avoidant cenderung menarik diri saat istri mulai bicara soal perasaan, hubungan, atau masa depan. Ia bisa jadi dingin, menghindar, atau kewalahan sendiri karena merasa terlalu ditekan secara emosional.
Kita sering mudah memberi label pada orang lain tanpa memahami kisah hidup mereka. Teori keterikatan memang menarik karena membantu memprediksi perilaku hubungan. Di dunia yang serba tak pasti, teori ini seperti peta sederhana untuk memahami orang lain tanpa perlu repot mengenal mereka dalam-dalam. Di sisi lain, teori ini akhirnya lebih sering jadi alat untuk menyalahkan pasangan atau membenarkan pola sendiri, ketimbang membuka ruang untuk saling memahami. Seperti yang disebut dalam buku Attached: teori ini dibuat untuk membantu menjelaskan masalah, bukan sebagai pembenaran diri.
Ketika Anxious dan Avoidant Bertemu
Mari kembali kepada cerita Alya yang disebutkan di awal. Saya cukup mengenal Alya. Ia curhat, sempat mencurigai pasangannya, Rico, berselingkuh. Namun dia tidak menemukan bukti. Ia juga merasa perilaku Rico tidak ‘normal’ karena tidak suka mengabari keberadaannya dan tidak pernah memberitahu masalah apa pun kepada Alya. Rico juga tidak suka bercerita tentang kejadian sehari-hari; hanya beberapa kejadian lucu saja yang diceritakan kepada Alya. Rico cuma pernah mengeluh bahwa ia malu belum bisa punya rumah meski sudah lama menikah. Padahal, Alya tidak pernah menyinggung soal rumah. Alya menebak, Rico bergelut dengan pemikirannya sendiri tentang cara punya rumah dengan penghasilan pas-pasan.
Kasus Alya dan Rico menggambarkan pola hubungan antara dua gaya keterikatan anxious dan avoidant. Dalam buku Attached, pola semacam ini cenderung menciptakan dinamika tarik ulur yang menyakitkan dan sulit diubah jika tidak disadari. Namun, perubahan bukanlah hal yang mustahil. Penelitian menunjukkan bahwa satu dari empat orang dapat berubah gaya keterikatannya dalam kurun waktu empat tahun jika mereka menyadari masalahnya.
Norma Gender dan Budaya dalam Teori Keterikatan
Selain psikologi, norma gender dan budaya sangat memengaruhi cara seseorang dalam keterikatan. Di banyak masyarakat patriarki, laki-laki sering dibesarkan dengan pesan bahwa menunjukkan perasaan dan kelekatan adalah tanda kelemahan.
Kasus Rico yang merasa malu karena belum bisa menyediakan rumah bagi keluarganya mencerminkan konstruksi gender tradisional yang menempatkan laki-laki sebagai penyedia utama (provider). Dalam kerangka patriarki, seperti yang dibahas oleh bell hooks dalam The Will to Change: Men, Masculinity, and Love, laki-laki sering dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta dan nilai diri mereka diukur dari sejauh mana mereka bisa memenuhi peran sebagai pelindung dan pencari nafkah. Bukan dari kemampuan mereka membangun hubungan yang terbuka secara emosional. Akibatnya, banyak laki-laki seperti Rico yang menutup diri secara emosional dan menghindari komunikasi yang intim. Sebab ia merasa tanggung jawab utamanya adalah ekonomi, bukan afeksi.
Sementara perempuan sejak kecil diajarkan untuk mengaitkan identitasnya dengan kemampuan mencintai dan merawat. Mereka dilatih menjadi caregiver yang peka terhadap kebutuhan orang lain, sehingga cenderung mengembangkan gaya keterikatan anxious. Mereka pun selalu waspada terhadap ancaman ditinggalkan. Pasalnya, selain terlanjur dibuat seakan harus menggantungkan ekonomi dan emosional kepada pasangan, nilai perempuan sering diukur dari keberhasilannya mempertahankan hubungan.
Di berbagai film dan budaya populer, laki-laki juga sering digambarkan sebagai sosok yang avoidant, ‘dingin’, mandiri, dan tidak terlalu menunjukkan perasaan. Karakter laki-laki ‘dingin’ ini dianggap menarik karena kesan kuat dan misteriusnya. Serta dianggap sebagai lambang maskulinitas ideal yang tidak terlalu bergantung pada orang lain secara emosional. Banyak film juga mengajari perempuan untuk mencintai dengan sabar. Sementara laki-laki diajari bahwa laki-laki memang ‘begitu’: tidak bisa diajak bicara, tidak suka drama. Sampai kita berhenti meromantisasi avoidant attachment (keterikatan penghindar) sebagai ‘misteri maskulin’, siklus ini akan terus berulang.
Kebebasan Tidak Pernah Setara
Hubungan antara anxious dan avoidant bisa dibaca sebagai drama eksistensial penuh ambiguitas, seperti yang dijabarkan Simone de Beauvoir dalam The Ethics of Ambiguity. Beauvoir menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang ambigu karena kita adalah subjek yang bebas, sekaligus objek yang terikat oleh kondisi faktual dan dilihat oleh orang lain. Kita menginginkan kebebasan, namun juga mendambakan pengakuan dan hubungan dengan orang lain.
Beauvoir juga menulis: “To will oneself free is also to will others free (Berkemauan untuk bebas juga berarti menghendaki kebebasan orang lain).” Kebebasan tidak bisa dibangun atas penindasan dari kebebasan orang lain.
Sama seperti yang dijelaskan di buku Attached: tipe avoidant mementingkan kebebasan pribadi dibanding hubungan dengan pasangan. Namun perbedaannya adalah dalam hubungan yang sehat, kebebasan itu tidak digunakan sebagai cara untuk menjauh atau menghindari kedekatan emosional. Jika mengacu pada The Ethics of Ambiguity, hubungan seharusnya menjadi ruang dua individu yang sama-sama bebas saling mengakui dan mendukung kebebasan satu sama lain. Bukan menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk tidak hadir, tidak bertanggung jawab, atau menutup diri.
Tipe avoidant membenci ambiguitas atau ketidakpastian dalam hubungan. Mereka tidak mau terluka oleh penolakan, perdebatan, dan perpisahan. Namun, menurut Beauvoir, cinta tidak boleh menjadi bentuk dominasi atau pelarian. Ia adalah keberanian untuk hadir, untuk tetap tinggal, meskipun ada risiko kehilangan.
Baca juga: Bye Relasi Toksik: Berpasangan Itu Bersama Berperan, Bukan Adu Kekuatan
Dalam kacamata feminisme, kebebasan ini pun tidak pernah setara. Laki-laki secara historis dan sosial lebih diberi ruang untuk mengekspresikan kebebasannya, sementara perempuan dibatasi oleh norma-norma tentang kesopanan, pengorbanan, dan kepatutan. Misalnya, ketika suami istri sedang bertengkar, sang suami mungkin merasa bebas untuk pergi meninggalkan rumah dan duduk di warung kopi hingga larut malam sebagai bentuk pelarian. Tapi jika istri yang melakukan hal yang sama, maka tindakannya bisa dianggap tidak pantas, bahkan tidak aman. Begitu juga dengan kebebasan menentukan karier dan pilihan-pilihan lainnya. Perempuan tidak memiliki kebebasan seluas laki-laki. Sebelum struktur sosial berubah, kebebasan dalam hubungan tetap akan dinikmati satu pihak secara tidak seimbang. Sampai laki-laki menyadari bahwa kebebasan mereka adalah hasil penindasan, hubungan yang setara mustahil terwujud.
Kepada siapa pun yang merasa dirinya cenderung avoidant maupun anxious, penting diingat bahwa menjadi manusia sejati berarti mengakui bahwa kita makhluk terbatas. Kita butuh orang lain, kita butuh dicintai, dipahami, dan disayangi. Tapi kebutuhan itu bukan alasan untuk menjadikan pasangan sebagai pelampiasan atau tameng dari kecemasan kita sendiri. Menempel terus-menerus karena takut ditinggal, atau menjauh karena takut kehilangan kebebasan diri, sama-sama bisa menjadi bentuk ketakutan yang menyamar sebagai cinta.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)






