Refleksi Gerakan Feminis Soal Penolakan JILF: “Dengan Siapa Kita Bekerja?” 

Intan Paramaditha sampai Trend Asia serentak menyatakan mundur dari penyelenggaraan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2024. JILF dinilai tidak mengambil sikap tegas terhadap sponsor pro-genosida di Gaza, Palestina.

Mengusung narasi hijau, Jakarta International Literary Festival (JILF) 2024 digelar 27 November- 1 Desember 2024. Di tengah perjalanan, beberapa pihak menyatakan mundur dan berhenti bekerja sama terkait penyelenggaraan acara literasi itu. 

JIFL yang tahun ini ingin mempromosikan sastra dan budaya serta keberlanjutan lingkungan itu, pihak penyelenggaranya dinilai tidak transparan. Selain juga tidak tegas terhadap sponsor di balik acara itu, yang dinilai pro terhadap genosida di Palestina. 

Sponsor pro genosida yang dimaksud, Frankfurter Buchmesse dan German Federal Foreign Officer. 

Penulis ‘Sihir Perempuan’, Intan Paramaditha yang diundang dalam acara JIFL dan sempat hadir, mengungkapkan kekecewaannya. Dia juga bercerita terkait kronologi dan refleksi peristiwa ini terhadap gerakan feminis. Bahwa ada belenggu kolonialisme, kapitalisme, dan patriarki yang berkelindan dalam perbincangan literasi seputar keadilan iklim.  

Di awal pernyataanya, Intan mempertegas posisinya bahwa dia mendukung kemerdekaan Palestina dan menentang genosida yang dilakukan oleh Israel. 

Intan memandang, Frankfurt Book Fair (FBF) sebagai institusi yang, sebagaimana institusi budaya lain di Jerman, merupakan aparatus negara dengan kebijakan pro-zionis. Sudah ada desakan penerbit terhadap FBF untuk menyatakan sikap jelas terhadap Palestina. Namun tuntutan itu tidak akan terwujud dengan sikap negara Jerman yang kini menyamakan kritik terhadap Israel dengan antisemitisme. Yakni prasangka atau kebencian terhadap Yahudi.

Baca juga: Ribuan Nama Rakyat Palestina Korban Genosida Tertulis dalam Poster Aktivis

“Saya meminta maaf kepada rekan-rekan yang kecewa atas kehadiran saya di JILF,” tulis Intan dalam pernyataan sikap di IG Sihir Perempuan yang dikutip Konde.co, Sabtu (30/11). 

Dosen Kajian Media dan Film di Macquarie University, Sydney itu, menceritakan awal mula dirinya sempat menerima ajakan sebagai pembicara di JIFL. Sampai akhirnya, dia menyatakan mundur. 

Pada tahun 2019, Intan pertama kalinya menghadiri JIFL edisi perdana. Saat itu, JIFL menghadirkan penulis Palestina, Adania Shibli. Meski sempat ada ‘ketegangan’ dengan pihak penyelenggara, namun Intan menilai masih ada itikad penyelenggara untuk minta maaf dan melakukan perbaikan. 

Menurutnya, JILF kala itu juga digerakkan oleh penulis dan pegiat budaya. Bukan korporat, dan terlepas ketidaksepakatan di sana-sini saya masih menaruh harapan dan kepercayaan pada beberapa pelaku budaya yang terlibat di dalamnya. Sebagai penulis, Ia merasa perlu merawat ruang-ruang sastra/budaya di Indonesia yang sebetulnya cukup terbatas. 

“Atas dasar pertimbangan merawat jejaring dan ruang sastra ini, ketika diminta menjadi pembicara oleh Dewan Kesenian Jakarta/panitia JILF, saya menyambut baik,” katanya. 

Intan kemudian mengetahui, festival ini diselenggarakan dengan menggandeng Jaktent sebagai mitra. Dia pun bertanya bagaimana bentuk kemitraan tersebut sebab Jaktent bermitra dengan Frankfurt Book Fair. Dan di tahun 2023 FBF membatalkan acara penyerahan penghargaan untuk Adania Shibli dan justru memberikan ruang bicara kepada penulis-penulis Israel. 

Baca juga: Aktivis Serukan Gencatan Senjata dan Akhiri Genosida di Gaza 

JILF yang menyatakan bahwa mereka independen; konsep, desain, serta pemilihan penulis dan tema sepenuhnya dilakukan oleh JILF. Mereka perlu bekerja sama dengan Jaktent karena kebutuhan atas tenaga kerja, khususnya di bidang pengelolaan, di lapangan. Panitia JILF pun bisa meyakinkan Intan bahwa dana yang dikeluarkan oleh JILF untuk pembicara yang mereka undang berasal dari Dana Indonesiana. Klaim mereka itu lepas dari intervensi FBF. 

Seminggu menjelang festival, Intan terkejut melihat nama John McGlynn dimasukkan sebagai salah satu kurator. Meski setahunya McGlynn tidak pernah membuat pernyataan mendukung Israel atau semacamnya, dia tidak sepakat dengan banyak praktik dan pernyataan publik McGlynn yang kolonial-paternalistik terhadap sastra Indonesia. Soal ini bisa dilihat dalam tulisan Tiffany Tsao di Electric Literature

Di sisi lain, Intan juga mendapati ternyata materi publikasi sangat menonjolkan peran Jaktent serta hadirnya Vice President FBF di konferensi pers. Dari sini, Ia menilai ada kooptasi (kerja sama) yang pelan-pelan terjadi menjelang acara berlangsung. 

Kerja sama JILF dengan Jaktent berawal dari minimnya sumber daya finansial dan tenaga kerja. Dia melihat bahwa kerapuhan ini memunculkan sejumlah penyesuaian. Lalu berujung pada kompromi-kompromi yang seperti kehilangan arah, terlepas sikap pro Palestina JILF. 

Hal yang ironis kaitannya itu menurutnya, jika kebutuhan atas Jaktent berbasis kurangnya tenaga kerja di lapangan, yang paling diuntungkan dari keringat pekerja seni di acara ini justru yang tidak bekerja di lapangan. Yaitu FBF yang memperoleh jenama sebagai organisasi progresif pendukung festival sastra di negara Selatan, dengan Vice President yang wajahnya muncul di konferensi pers.

Baca juga: Hari Aksara: Pentingnya Akses Literasi Untuk Hapus Kekerasan Berbasis Gender

“Di panel JILF saya menyebut bahwa kapitalisme imperial makan dari alam dan tenaga kerja murah. Dan dengan berat hati saya harus katakan bahwa itulah yang saya saksikan di sini,” tegasnya.  

Ada jurang antara kerja—siapa yang menjadi tenaga kerja, seberapa besar kerja dikeluarkan, kemandirian yang diharapkan dari kerja—dan siapa yang mengakumulasi modal budaya paling banyak. Kerja adalah persoalan besar di balik layar, namun itu tidak tercermin di surat pernyataan panitia. “Saya tidak bisa tidak melihat persoalan relasi kuasa berlangsung di sini,” lanjutnya. 

Dirinya menyayangkan panitia JILF tidak menyiapkan strategi yang cukup untuk melindungi ruang yang seharusnya menjadi milik “kita”. kita yang dimaksud ini adalah penulis, pembaca, komunitas seni dan lingkungan, orang-orang yang terlibat dalam seni budaya yang berprinsip anti penindasan. 

“Kepada JILF saya taruh kepercayaan, namun sejak minggu lalu saya merasa ruang aman dirampas dari rumah sendiri. Saya marah, termasuk pada diri saya sendiri, karena saya terlambat memprosesnya,” ucap dia. 

Refleksi Gerakan Feminis: Dengan Siapa Kita Bekerja?

Dari peristiwa JIFL, Intan merefleksikan, ternyata kerja atas nama cinta (‘labour of love’) tidak cukup. Bukan hanya butuh bergerak bersama, tapi juga butuh berstrategi. 

“Di panel JILF saya membagi pertanyaan penting gerakan feminis: Dengan siapa kita bekerja?” tanyanya. 

Menurutnya, jawaban pertanyaan ini harus terus direnungkan untuk kerja budaya yang berpihak pada keadilan sosial. Pertanyaan yang juga sebagai kritik dirinya ini. Seharusnya bisa dijadikan ruang pertemuan untuk berpikir kritis dan mulai mengidentifikasi kawan gerak bersama. 

Dia menilai, “De-linking,” proses melepaskan diri dari struktur kolonial yang mencengkeram dari segi pengetahuan, budaya, praktik sosial, adalah proses yang sangat sulit. Ketergantungan keuangan menjadikan institusi dan komunitas budaya rentan ditindas. 

“Saya menyaksikan besarnya kerja teman-teman panitia festival di lapangan dan menghargai upaya mereka menciptakan ruang aman membicarakan sastra dan lingkungan hidup. Saya kecewa melihat ruang yang saya kira aman itu ternyata rentan diintervensi dan diambil alih. Dan lebih kecewa lagi melihat cara JILF menangani krisis dan membuat pernyataan semacam ini,” katanya. 

Pekerjaan selanjutnya menurutnya, adalah bagaimana proses “de-linking” ini dilakukan secara bersama-sama dalam jejaring yang solid. Protes terhadap JILF-Jaktent adalah langkah awal, tapi selanjutnya perlu melanjutkan kerja dan lebih jeli melihat hubungan-hubungan lain. Bagaimana pertanggungjawaban Dana Indonesiana yang diberikan kepada Jaktent bila organisasi ini tidak mengakhiri kemitraan dengan FBF? Apakah kita akan terlibat sebagai pembicara, penonton, penyelenggara yang terkait institusi Jerman selain FBF?

“Kejadian ini harus jadi catatan bahwa aktivisme seni budaya tidak bisa lagi bergerak tanpa strategi. Di mana garis batas negosiasi? Apakah kemandirian bila pelan-pelan kita serahkan otoritas kita, lalu akhirnya tak ada lagi yang bisa kita pertahankan? Di mana kita berpikir reparatif dan mengupayakan dialog? Tanpa strategi, kita hanya akan membiarkan ruang-ruang kritis kita disusupi dan kemudian dirampas oleh kuasa kolonial-paternalistik,” kata penulis yang bergiat di kolektif Sekolah Pemikiran Perempuan itu.

Tidak Ada Keadilan Iklim dan Kemanusiaan di Tanah yang Dijajah

Aksi protes terhadap JIFL juga dilakukan oleh Trend Asia (TA). TA resmi menarik diri dari JILF (@jilf.indo). TA lantas meminta maaf kepada publik atas keterlibatan sebelumnya sebagai pendana, narasumber, pemandu diskusi, dan kolaborator ekshibisi.

“Per 30 November 2024, booth Trend Asia yang semula menampilkan kisah perjuangan melawan perampasan ruang hidup kini berubah fungsi menjadi ruang protes terhadap siapa pun yang mendukung genosida,” tulis TA di instagramnya.  

Awalnya booth TA menampilkan foto-foto kisah perlawanan masyarakat dari penjuru nusantara atas perampasan ruang hidup mereka oleh rezim ekstraktif. Namun setelah menyatakan mundur, booth TA ditutup dan mengubahnya menjadi ruang protes terhadap siapapun yang mendukung genosida. 

TA juga menilai pernyataan publik yang disampaikan oleh JILF tidak cukup menunjukkan bahwa mereka menolak genosida dan tidak mengambil sikap tegas kepada sponsor pro-genosida Frankfurter Buchmesse dan German Federal Foreign Officer dan terus melanjutkan kerja sama dengan alasan sebagai konsekuensi kerja sama yang telah terjalin sebelumnya. 

Baca Juga: Pendidikan Perubahan Iklim di Indonesia Belum Tepat Sasaran, Mitigasi Harus Selaras

Mereka menyesalkan sikap panitia JILF yang enabler terhadap genosida meski sudah mengetahui bahwa jutaan jiwa menjadi korban dengan melibatkan dua lembaga pendukung genosida yakni Frankfurter Buchmesse dan German Federal Foreign Officer sbg salah satu pendana kegiatan. 

TA tidak hanya menghentikan aktivitas di booth Trend Asia dalam gelaran JILF. Tetapi juga menarik diri dari keterlibatan sbg narasumber dalam diskusi Writer’s Talk: The Layers of Nature dan Relentless Battles yang diselenggarakan di JILF pada Sabtu, 30 November 2024 dan membatalkan diskusi dan launching buku Pergulatan Transisi Energi: Satu Isu Beragam Dilema.

“TA berpegang teguh bahwa aksi genosida yang dilakukan oleh Israel adalah hal yang patut dikecam dan harus dihentikan,” kata mereka.

Sebelum mundurnya Intan Paramitha, Tren Asia dan berbagai pihak lainnya atas keterlibatan dengan JIFL, pihak penyelenggara JILF dan Jaktent memang mengeluarkan pernyataan sikap. Isinya, mereka menyatakan bahwa mereka mengaku konsisten mendukung suara-suara komunitas yang terpinggirkan, terutama suara para penulis dan seniman palestina.

“Bahwa setiap manusia di dunia ini, tanpa terkecuali rakyat palestina berhak hidup sebagai bangsa yang merdeka. Terlepas dari penindasan atau penguasaan bangsa lain. Karena itu, kami mendorong tersuarakannya aspirasi para penulis palestina di panggung sastra dan literasi, sebagaimana terjadi dalam JIFL x Jaktent kali ini dan sebelumnya,” ujar mereka di Instagram JIFL dan Jaktent pada 30 November 2024.

Baca Juga: Pentingnya Memiliki Kebijakan Perubahan Iklim Indonesia yang Responsif Gender

Terkait dengan keberadaan logo Frankfurt Book Fair (FBF) dalam agenda JILF x JakTent 2024, menurut mereka itu adalah konsekuensi dari kerja sama yang telah terjalin antara Jaktent dengan FBF sejak 2020. Meskipun demikian, semua agenda yang dirancang oleh JILF x Jaktent 2024 tidak pernah diintervensi oleh pihak sponsor mana pun termasuk FBF. Mulai dari tema, sesi diskusi, dan pilihan pembicara adalah hasil kurasi independen dari kurator dan panitia.

“Kami justru dengan tegas menyatakan bahwa agenda JILF x Jaktent adalah ruang aman bagi semua pihak untuk menyuarakan soal sastra dan kaitannya dengan kehidupan kita,” klaim mereka.

Namun, pernyataan sikap tersebut dinilai oleh individu dan lembaga yang mundur belum tegas untuk menyatakan penolakan terhadap genosida di Palestina.

Foto: X Trend Asia

Nurul Nur Azizah

Redaktur Pelaksana Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!