Film 'The Girl from Dak Lak' (sumber foto: Rotten Tomatoes)

Film ‘The Girl from Dak Lak’: Sunyi yang Mengungkap Politik Kerja Perempuan Migran

Film 'The Girl from Dak Lak' menunjukkan betapa situasi kerja perempuan migran menghadapi kekerasan yang tak selalu gamblang. Ia bisa berupa ruang sempit, ketidakadaan pengakuan, pengulangan yang tak ada habisnya, hingga sistem yang membuat kekelahan menjadi seolah normal.

Pedro Román dan Chi Mai, sutradara film ini, mengajak kita duduk lama nyaris tanpa keluhan di sudut-sudut sempit sebuah warung makan di Saigon. Di sana, Suong, seorang perempuan muda dari pedesaan Dak Lak, menata piring, mengepel lantai, menatap ruang kosong di antara jam kerja yang repetitif. Adegan ini membawa kita memasuki semesta film ‘The Girl from Dak Lak‘.

Di balik ritme yang datar, film ini menghadirkan pertanyaan besar: siapa yang diuntungkan dari kerja sunyi perempuan di kota, dan apa yang dikorbankan agar mesin urban terus berjalan?

Melalui mise-en-scène yang hemat dialog, kamera kerap memosisikan Suong dan dua pekerja migran lain sebagai bagian dari ruang, bukan pusatnya. Pilihan ini terasa politis. Tubuh perempuan pekerja terlihat terus-menerus bekerja, tetapi kepribadian mereka dipipihkan oleh tempo kerja yang memenjarakan. 

Di dapur dan ruang makan sempit, gerak diulang, waktu membeku. Estetika “slow” ini bukan sekadar gaya. Ia menerjemahkan politik kerja reproduktif ke dalam bahasa sinema. Kerja yang menopang kehidupan sehari-hari. Seperti menyajikan, membersihkan, merawat, tetapi tak diakui sebagai kerja bernilai, apalagi kerja yang layak upah dan perlindungan. 

Baca Juga: Pekerja Migran Perempuan Jadi Tumpuan, Tapi Minim Perlindungan 

Narasi migrasi desa–kota Suong, ditandai oleh keputusan ekonomi keluarga, menggambarkan bagaimana ketidaksetaraan kelas dan gender saling berkait dalam pasar kerja informal perkotaan.

Film berjudul “The Girl from Dak Lak” yang telah tayang pada tahun 2022 ini kembali hadir dalam Southeast Asia Stories on Screen pada acara ASEAN for the People Conference yang diadakan pada 4-5 Oktober 2025 di Hotel Sultan, Jakarta. 

Migrasi, Utopia Kota, dan Realitas Prekaritas

Film ini menolak romantisasi kota. Saigon tampil bukan sebagai ruang mobilitas sosial, melainkan ruang prekaritas. Kontrak samar, jam kerja mengambang, ruang tinggal yang menyatu dengan tempat kerja. 

Bagi perempuan muda, situasinya berlapis. Selain rentan eksploitasi upah, mereka berhadapan dengan standar moral, kontrol keluarga dari kejauhan. Hingga label sosial yang mudah melekat pada pekerja perempuan di ruang publik. 

Suong hidup di antara panggilan keluarga dan kebutuhan bertahan di kota. Tekanan untuk mengirim uang, memenuhi ekspektasi sebagai anak. Sekaligus menavigasi relasi kuasa di tempat kerja, menghadirkan dilema yang tak perlu diucapkan keras-keras. Penggambaran angle kamera dalam film ini, sudah cukup fasih menyampaikannya.

Keunggulan film ini adalah bagaimana ia membalik pandangan. Román dan Chi Mai menempatkan kita sebagai saksi yang tak nyaman. Banyak adegan panjang tanpa potongan cepat. Kita dipaksa menanggung bosan, hening, dan “kekosongan” waktu yang sesungguhnya adalah waktu kerja. 

Strategi itu menantang cara sinema arus utama memberi nilai pada aksi, konflik, dan klimaks. 

Baca Juga: Stop Sebut Buruh Migran ‘Pahlawan Devisa’, Ini Konstruksi Patriarki di Era Surplus Pekerja

Kehidupan perempuan pekerja migran jarang memiliki spektakel (pertunjukan), yang ada adalah ketahanan, repetisi, dan strategi kecil untuk bertahan. Dengan demikian, film ini cocok dibaca lewat lensa feminis materialis. Yang politis bukan hanya ketika ada kekerasan gamblang, tetapi juga ketika sistem membuat kelelahan menjadi normal, membuat aspirasi terasa melantur.

Di tengah dinginnya kota, persahabatan antarsesama pekerja perempuan menjadi infrastruktur afektif yang menahan mereka dari runtuh. Mereka berbagi pengalaman, hingga tawa kecil dan tatapan saling mengerti. 

Jaringan mikro yang sering diabaikan ini adalah modal sosial yang memungkinkan perempuan bertahan di ruang kerja tanpa perlindungan. Film tidak menyepelekan solidaritas ini. Ia menempatkannya sebagai praktik perawatan (care) yang saling menambal luka. Suatu bentuk politik keseharian yang kerap luput dari sorotan formal kebijakan.

Kekerasan yang Tersamar

The Girl from Dak Lak” tidak menampilkan kekerasan fisik eksplisit. Namun, kekerasan struktural terasa di setiap sudut, seperti rendahnya upah, tidak jelasnya jam kerja, ketiadaan ruang privat, dan absennya kanal pengaduan. Inilah kekerasan yang, dalam studi feminis, sering tak tercatat karena mengendap dalam rutinitas dan disamarkan sebagai bagian dari pekerjaan. 

Ketika Suong menghadapi dilema keluarga, kita melihat bagaimana beban reproduksi sosial, yang di rumah dipikul perempuan, tidak hilang meski mereka bermigrasi. Bahkan justru ikut terbawa ke kota, bertumpuk dengan beban kerja upahan. Film ini, dengan demikian, memetakan rantai nilai perawatan dari desa ke kota. Apa yang tidak dibayar di desa, menopang apa yang dibayar murah di kota.

Secara formal, film ini konsisten. Komposisi statis, durasi shot yang panjang, dialog ekonomis, dan palette ruang yang serba dekat membuat kita seolah terkurung bersama mereka. 

Baca Juga: The Voice: Miskin dan Putus Asa, Para Perempuan Putuskan Jadi Pekerja Migran

Kejujuran formal ini efektif menyampaikan dunia di mana waktu adalah mata uang paling mahal, tetapi selalu bocor di sela-sela piring kotor dan lantai basah. Di tangan yang kurang peka, gaya ini bisa jatuh jadi estetisasi kemiskinan. Namun di sini, pilihan estetik terasa empatik. Bukannya memuja-muja kesunyian, film ini mengakui kesunyian sebagai realitas yang perlu diubah di luar bingkai layar.

Membaca dari Perspektif Interseksional

Walau film tidak memberi penekanan eksplisit pada etnisitas atau status hukum, bacaan interseksional tetap relevan. Perempuan muda dengan latar desa menghadapi penumpukan kerentanan: kelas, usia, gender, dan status migran. 

Kebijakan kota kerap gagal menampung pekerja di sektor informal yang tak terdata, sementara program perlindungan pekerja rumah tangga dan pekerja layanan masih tambal sulam. 

Film ini, tanpa menggurui, mendorong pertanyaan: di mana negara saat perempuan muda mengisi celah layanan perkotaan, seperti membersihkan, melayani, merawat, tetapi tak memperoleh jaminan sosial, kesehatan kerja, dan perlindungan kekerasan berbasis gender?

The Girl from Dak Lak” adalah film kecil dengan gema besar. Ia mengingatkan bahwa ketidakadilan gender tak selalu hadir dalam adegan dramatis. Ketidakadilan sering justru bersemayam di sela-sela piring yang tak pernah habis dicuci. 

Baca Juga: Nyanyi Sunyi Adelina Sau: Pekerja Migran Dianiaya Majikan Sampai Meninggal

Bagi gerakan feminis, pelajaran film ini jelas, yaitu pengakuan dan perlindungan terhadap kerja reproduktif dan layanan, termasuk bagi pekerja migran perempuan, harus menjadi bagian dari agenda kota yang adil. 

Setelah kredit akhir bergulir, sunyi itu semestinya berubah menjadi tuntutan: upah layak, jam kerja manusiawi, jaminan sosial, serta perlindungan dari kekerasan berbasis gender di tempat kerja dan di luar kerja.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

(sumber foto: Rotten Tomatoes)

Aldi Pahala Rizky

Analis gender di Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45). Mengambil studi antropologi sosial di Universitas Indonesia (UI) dan mengeksplorasi komunitas lokal, dengan fokus terhadap produksi peran dan identitas gender di dalamnya.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!