Semasa kecil, saya berulang kali mendengarkan kisah tentang bagaimana nenek saya harus mengungsi bersama belasan anak ke hutan ketika perang berkecamuk di Balikpapan. Dalam keterbatasan pangan, rasa takut, dan kehilangan, nenek tetap menenangkan anak-anak dengan mendongengkan cerita. Kisah itu bukan sekadar hiburan, melainkan juga penuntun moral yang menanamkan keberanian, kesabaran, dan harapan.
Bagi saya, pengalaman nenek adalah pengingat bahwa pendidikan pertama seorang anak seringkali berawal dari perempuan dalam keluarga: ibu, nenek, atau saudara perempuan. Mereka menjadi penutur nilai-nilai dan keteladanan pada anak-anaknya. Mereka memiliki peran penting dalam meneladankan nilai bahkan di tengah keadaan genting. Ini adalah sebuah pondasi untuk menopang bukan hanya keluarga, namun juga keberlangsungan masyarakat.
Jika dulu mendongeng, saat ini kita menghadapi situasi digitalisasi yang membuat peran pengasuhan anak juga punya kekhasan dan tantangannya.
Hal yang perlu kita jadikan refleksi dan dorong adalah: bagaimana peran pengasuhan ini sudah semestinya tidak hanya berpangku pada pundak perempuan? Bagaimana perempuan semestinya tidak harus menanggung beban ganda ini? Maka, berbagi peran pengasuhan yang tidak bias gender oleh orang tua adalah hal yang tak bisa diabaikan.
Dari Dongeng ke Dunia Digital
Hari ini, situasinya sangat berbeda. Anak-anak kita tumbuh dalam dunia digital yang sarat dengan gambar bergerak, suara cepat, dan informasi tanpa henti. Jika dahulu perempuan mendidik lewat dongeng di teras rumah atau nasihat singkat di dapur, kini mereka dituntut mampu mengarahkan anak di tengah derasnya arus teknologi.
Tantangannya semakin kompleks. Anak-anak bukan hanya harus belajar membaca dan menulis, tetapi juga mengenali hoaks, melindungi data pribadi, menjaga jejak digital, serta berinteraksi dengan etika di dunia maya. Dalam ruang digital, kesalahan kecil bisa membekas panjang: komentar yang menyakitkan, foto yang tersebar, atau informasi palsu yang tanpa sadar diteruskan.
Data memperlihatkan betapa serius persoalan ini. Survei APJII 2024 mencatat pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta jiwa, dengan proporsi terbesar berasal dari remaja dan dewasa muda. UNICEF melaporkan sekitar 45% anak muda Indonesia berusia 14–24 tahun pernah mengalami perundungan daring. Sementara itu, Kominfo menemukan hampir dua ribu konten hoaks sepanjang 2024. Generasi muda kita memang gesit mengoperasikan gawai, tetapi belum tentu aman dan bijak dalam menggunakannya.
Baca Juga: ‘Anak Perempuan Main Bola, Anak Laki Bantu Memasak’ Pengasuhan Mestinya Bikin Peran Gender Bisa Dipertukarkan
Di tengah masyarakat kita sampai hari ini, perempuan seringkali dikonstruksikan sebagai penutur nilai karena stereotip gender dalam pengasuhan anak. Makanya, tradisi lisan masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari suara perempuan: mendongengkan cerita rakyat, meninabobokan anak dengan lagu sederhana, atau menasihati lewat syair. Cerita-cerita itu bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pendidikan moral, penanaman empati, sekaligus perkenalan pada budaya.
Kini, cerita-cerita itu bersaing dengan tayangan video viral, serial kartun internasional, dan berbagai permainan daring. Perempuan dituntut untuk bertransformasi: dari pendongeng tradisional menjadi kurator nilai digital. Mereka memilihkan kanal YouTube yang edukatif, aplikasi yang bermanfaat, hingga media sosial yang aman bagi anak.
Dalam melakukan peran itu, orang tua tak hanya lagi perempuan, mesti memahami literasi digital, sebuah kompetensi yang tak lagi bisa dianggap tambahan, melainkan kebutuhan dasar.
Literasi Digital Bukan Tugas Perempuan Saja
Menurut Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, literasi digital mencakup empat pilar: keterampilan, keamanan, etika, dan budaya. Artinya, mendampingi anak di era digital tidak cukup dengan “tahu cara menggunakan gawai”. Lebih jauh, orang tua harus menanamkan nilai kritis, tanggung jawab, dan empati.
Praktiknya bisa tampak sangat sederhana. Saat anak menulis komentar di media sosial, ibu bisa mengingatkan bahwa setiap kata memengaruhi perasaan orang lain. Saat anak ingin mengunggah foto pribadi, orang tua bisa menjelaskan risiko yang mungkin muncul. Literasi digital hadir bukan sebagai aturan kaku, tetapi nilai yang ditanamkan melalui percakapan sehari-hari.
Namun, hal ini dapat memunculkan tantangan lain. Peran ini kerap menambah beban perempuan. Banyak ibu merasa kewalahan: mendampingi anak belajar daring, mengawasi penggunaan gawai, sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah dan tanggung jawab publik. Pandemi COVID-19 menunjukkan fenomena ini secara gamblang. Ruang rumah dan ruang belajar bercampur menjadi satu, dan beban ganda perempuan semakin nyata.
Baca Juga: Pengasuhan Anak Itu Tugas Laki-laki dan Perempuan, Tapi Perempuan yang Sering Dijulidin
Mendidik anak di era digital bukanlah tanggung jawab perempuan semata. Laki-laki, terutama para ayah, juga harus mengambil peran yang sama kuatnya. Kehadiran ayah bukan hanya soal menyediakan fasilitas teknologi, tetapi juga memberi teladan. Seorang anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, melainkan juga dari apa yang dilihat dalam keseharian.
Jika ayah mampu menunjukkan perilaku bijak, seperti membatasi screentime, tidak menyebarkan informasi sembarangan, atau berinteraksi dengan hormat di media sosial, anak akan memahami literasi digital sebagai nilai keluarga yang dianut bersama. Pembagian tanggung jawab yang adil menjadikan beban perempuan berkurang dan anak mendapat teladan utuh.
Keterlibatan ayah juga membawa perspektif berbeda. Ibu sering menekankan empati dan perlindungan, sementara ayah bisa menekankan tanggung jawab dan konsistensi. Dua pendekatan ini saling melengkapi, membentuk pola asuh yang seimbang.
Antara Budaya Lokal dan Nilai Global
Selain soal etika digital, ada dimensi lain yang tak kalah penting: identitas budaya. Anak-anak kita tumbuh lebih akrab dengan Elsa dari Frozen atau Spiderman daripada Si Kancil atau Bawang Merah Bawang Putih. Budaya global hadir begitu masif lewat layar, sementara cerita lokal makin tersisih.
Di titik inilah orang tua kembali memegang peran penting. Mereka bisa menjaga agar anak tetap terhubung dengan budaya sendiri sambil tetap terbuka pada dunia global. Caranya bukan menolak mentah-mentah budaya lain, melainkan menyaring dan menghubungkannya dengan kearifan lokal. Dongeng rakyat bisa dihidupkan kembali melalui buku digital, vlog budaya, atau animasi lokal yang tayang di media sosial. Dengan begitu, anak-anak tidak tercerabut dari akar meskipun tumbuh di dunia global.
Tak Mengekang, Beri Anak Ruang Eksplorasi
Inti dari semua ini adalah bahwa pendidikan seharusnya memerdekakan. Bukan membiarkan anak hanyut tanpa arah, melainkan memberi ruang untuk mengeksplorasi dunia dengan pendampingan penuh kasih.
Perempuan dapat menerjemahkan gagasan ini dalam kehidupan sehari-hari: tidak hanya melarang, tetapi memberi alternatif; tidak hanya mengawasi, tetapi juga mendampingi; tidak hanya menjaga, tetapi juga membekali. Pendidikan yang memerdekakan di era digital berarti menyiapkan anak untuk menjadi manusia kritis, empatik, beretika, dan berakar pada budaya.
Ketika saya mengingat kembali kisah nenek yang mendidik anak-anaknya dengan dongeng di tengah hutan, saya melihat benang merah dengan kondisi sekarang. Dulu, dalam keterbatasan, perempuan masih mampu menyalurkan nilai kepada anak-anak. Kini, dalam kelimpahan teknologi, tantangannya berbeda: bagaimana agar nilai tidak hilang di tengah banjir informasi.
Jika nenek saya menjaga anak-anak dari bahaya perang, perempuan hari ini menjaga anak-anak dari bahaya dunia maya. Peran utamanya tetap sama: pendidik dan penjaga nilai. Bedanya, arena perjuangan telah bergeser, dari tengah hutan ke dunia di balik layar gawai.
Kerjasama Pengasuhan Orang Tua
Namun, perempuan tidak bisa berjuang sendirian. Mereka membutuhkan dukungan nyata. Di rumah, dukungan hadir lewat keterlibatan ayah dan anggota keluarga lain. Di ranah publik, dukungan harus diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak, pelatihan literasi digital yang mudah diakses, serta sistem sosial yang memberdayakan perempuan.
Pengadaan program literasi digital, ruang belajar daring, dan komunitas-komunitas bisa diperkuat agar perempuan mendapatkan bekal memadai. Dengan kebijakan yang jelas, perempuan memperoleh ruang untuk belajar dan berkembang; dengan pelatihan, mereka memiliki keterampilan relevan; dengan dukungan sosial, mereka tidak lagi memikul beban seorang diri.
Teknologi boleh berubah, zaman boleh berganti. Tetapi orang tua haruslah saling bekerjasama untuk menjalankan perang pengasuhan anak. Jika dulu nilai diwariskan lewat dongeng lisan, hari ini ia bisa hadir dalam percakapan daring, konten kreatif, atau kesepakatan di rumah tentang etika digital.
Perempuan telah membuktikan diri sebagai penjaga nilai dalam kondisi paling sulit sekalipun. Kini, dengan dukungan keluarga, masyarakat, dan kebijakan publik, mereka dapat terus menjadi garda terdepan yang menuntun generasi menghadapi dunia digital, melalui sikap kritis, empatik, dan akar budaya yang kokoh.






