Mama’s Boy: Mengapa Semakin Banyak Perempuan Menghindari Laki-Laki yang Terlalu Dekat dengan Ibunya?

"Jangan yang mama's boy, deh." Kalimat ini semakin sering terdengar dalam percakapan perempuan muda saat membahas kriteria pasangan. Istilah mama’s boy yang dulu menjadi bahan olokan, kini menjelma menjadi sumber kekhawatiran serius dalam pernikahan.

Mama’s boy atau anak mami dikenal sebagai istilah yang biasanya digunakan untuk mengejek anak laki-laki yang manja. Istilah ini mengingatkan saya pada lagu ‘Anak Mami’ yang dinyanyikan Sherina Munaf di tahun 1999,

“Tahukah, Kawan?

Siapa yang mengira.

Ternyata sang jagoan, anak mami.

Dia anak yang sangat manja.”

Lagu yang ceria dan ringan ini sebenarnya menyimpan makna tentang bagaimana masyarakat memandang laki-laki yang menunjukkan sifat-sifat yang dianggap feminin atau memiliki kedekatan berlebihan dengan ibu.

Konteks “manja” bagi anak laki-laki juga bagian dari internalisasi toxic masculinity. Anak laki-laki yang tidak kuat panas-panasan berlari main bola akan disebut “anak mami”. Anak laki-laki yang diantar sekolah dan terlihat dipeluk ibu bisa dirundung sebagai anak mami. Dan anak laki-laki yang menangis ketika jatuh akan ditertawakan sebagai anak mami yang cengeng.

Berbeda bila seorang anak laki-laki disebut “anak ayah”, tidak ada stigma di dalamnya, bahkan cenderung membanggakan. Sama seperti anak perempuan yang disebut “daddy’s little girl” tidak akan mengalami ejekan atau rundungan. Ini menunjukkan bahwa menyerupai ibu, yang juga perempuan, dengan segala tindakan yang dianggap feminitas seperti kasih sayang, kemanjaan, dan perawatan diri, merupakan bentuk kelemahan yang memalukan bagi laki-laki.

Laki-laki yang tampak berada di bawah kontrol perempuan, bahkan perempuan yang melahirkannya juga dianggap memalukan dalam budaya patriarki. Laki-laki yang terlalu menurut pada ibu dianggap tidak mandiri, tidak bisa memimpin, dan dianggap selalu menunggu keputusan ibu.

Kini narasi mama’s boy atau anak mami narasinya telah bergeser dari sekadar bahan olokan di sekolah, menjadi sumber kecemasan dan konflik dalam pernikahan. Linimasa media sosial dipenuhi konten dengan narasi perempuan muda berbagi cerita tentang kenapa mereka menghindari laki-laki yang terlalu dekat dengan ibunya. Bukan karena manja dalam artian toxic masculinity, tetapi karena menyayangi ibu artinya adalah selalu memihak ibu, yang kemudian bermasalah dalam relasi pernikahan.

Mama’s Boy Pertanda Red Flag?

Ada yang bercerita tentang pasangannya yang selalu bertanya pendapat ibunya sebelum membuat keputusan. Ada yang mengeluh suaminya lebih memprioritaskan keinginan sang ibu ketimbang pasangannya. Dan ada pula yang merasa terjepit di antara konflik dengan mertua yang tak kunjung selesai karena suaminya selalu memihak ibunya. Sampai kemudian ada quote beredar “Laki-laki yang sayang dengan ibunya, belum tentu sayang dengan istrinya”.

“Red flag kalau dia terlalu mama’s boy,” dan kriteria mama’s boy pun menjadi semacam peringatan bagi perempuan yang sedang mencari pasangan. Tidak ada yang salah dengan anak laki-laki yang menyayangi ibunya. Yang menjadi masalah adalah kasih sayang itu beroperasi dalam struktur kekuasaan yang menempatkan perempuan menantu di posisi paling bawah dalam hierarki keluarga. Suami berkuasa atas istri, ibu suami lebih berkuasa lagi.

Akhirnya karena hirarki itu juga, menantu perempuan diharapkan untuk menerima campur tangan mertua dalam kehidupan rumah tangga mereka, tapi ketika mereka menyampaikan keluhan, suami justru membela ibunya dengan argumen “Hormati mamaku” atau “Mama kan niatnya baik.” Suami, yang memiliki privilese sebagai laki-laki dalam struktur patriarki, menjadi hakim yang menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar.

Teori psikoanalisis teori Nancy Chodorow dalam The Reproduction of Mothering berpendapat bahwa perbedaan psikis antara laki-laki dan perempuan berakar pada pengalaman masa kanak-kanak yang berbeda, khususnya dalam relasi dengan ibu sebagai pengasuh utama. Anak laki-laki dibesarkan untuk memisahkan diri dari ibu demi membentuk identitas “maskulin”. 

Baca juga: Bukan Salah Nikita Willy: Susahnya Jadi Ibu Ideal, Harus Punya Privilese untuk Memenuhinya

Namun dalam keluarga-keluarga di mana ayah tidak hadir secara emosional, anak laki-laki justru tidak pernah benar-benar terpisah dari ibu. Mereka tetap bergantung secara emosional pada ibu, tetapi secara sosial dituntut mendominasi perempuan yang akhirnya menyebabkan kebingungan. Laki-laki dibesarkan untuk menekan emosi. Hanya ibu yang menerima mereka tanpa syarat, sehingga ibu menjadi ruang aman.

Sedangkan posisi ibu sendiri juga sama terjepitnya. Simone de Beauvoir dalam The Second Sex menjelaskan bahwa beberapa perempuan dapat memperoleh kekuasaan tidak langsung dengan menjadi agen patriarki dan melanggengkannya, terutama terhadap perempuan lain.

Dalam dunia di mana perempuan dikecualikan dari kekuasaan publik, politik, ekonomi, dan intelektual, satu-satunya cara mereka mendapatkan pengakuan, status, dan pengaruh adalah melalui peran reproduktif dan peran domestik termasuk salah satunya melalui anak laki-laki.

Ibu yang tumbuh dalam sistem patriarki kemudian mengadopsi nilai-nilai yang sama dalam mengasuh anak laki-laki mereka bahwa laki-laki itu istimewa, penerus keluarga, bahwa mereka tidak perlu belajar pekerjaan domestik karena nanti juga ada istri. Ibu yang menjadi korban patriarki kemudian secara tidak sadar melanggengkan siklus yang sama kepada menantunya.

Menantu Perempuan yang Harus “Beradaptasi”

Apalagi kultur keluarga Indonesia yang mengharuskan menantu perempuan menyesuaikan diri dengan keluarga suami lebih intens secara interaksi dibanding suami ke keluarga istri, membuat gesekan konflik dengan ibu mertua makin besar. Apalagi yang tinggal serumah dan berbagi ruang domestik bersama. Sementara itu, laki-laki jarang bersinggungan dengan ayah mertua dalam urusan rumah tangga karena keduanya sama-sama dianggap tidak perlu ikut campur urusan dapur.

Budaya Asia pada umumnya sangat menekankan kolektivisme dan ikatan keluarga yang kuat sehingga sulit menetapkan batasan kepada keluarga. Ketika tinggal bersama mertua, menantu perempuan harus beradaptasi dengan pola makan, kebiasaan sehari-hari, cara berkomunikasi hingga cara mengasuh anak. 

Masalahnya beradaptasi diartikan sebagai mengikuti atau menuruti, bukan menemukan jalan tengah dengan perbedaan cara hidup menantu perempuan sebelum pindah ke rumah mertua. Apalagi seringnya menantu perempuan dianggap pendatang. Perempuan yang meminta untuk pisah rumah dengan mertua mungkin akan dikritik karena dianggap memisahkan suami dari keluarganya.

Ketika istri menghadapi konflik dengan mertua dan suami tidak memberikan dukungan, atau lebih buruk lagi, menyalahkan istri maka istri akan merasa sendirian dan dikhianati. Belakangan juga ramai muncul narasi di media sosial tentang “Siapa yang jadi prioritas suami, istri atau ibunya?” Pertanyaan ini menempatkan suami sebagai pusat keputusan, dan membuat seolah ibu dan istri sedang bersaing mendapat prioritas laki-laki.

Pertanyaan ini seharusnya tidak perlu ada jika struktur relasi dibangun atas dasar kesetaraan dan saling menghormati. Seorang suami tidak perlu memilih antara istri dan ibu jika keduanya diperlakukan sebagai individu yang memiliki hak untuk dihormati dan didengarkan. Masalahnya ketika ada konflik kepentingan, dan struktur patriarki secara otomatis menempatkan suara ibu lebih tinggi dari istri.

Baca juga: Kamus Feminis: Stop Mendikotomi ‘Perempuan Baik Versus Perempuan Buruk’

Narasi budaya Indonesia memuja ibu sebagai sosok suci. Kritik terhadap ibu, bahkan bila masuk akal, pantang dilakukan. Itulah mungkin kenapa ketika istri mengkritik ibu mertua, suami merasa istri sedang menyerang ego dan harga diri suami, karena laki-laki selalu diajarkan melindungi ibu. Karena sulit menjelaskan kebingungan internal itu, suami akan marah atau menghindari topik tentang ibu.

Memasuki pernikahan bukan berarti mencintai ibu menjadi berkurang, tetapi berarti seorang suami secara sadar memilih untuk membangun kesatuan baru dengan istrinya. Dalam membangun keluarga ini, keputusan-keputusan harus diambil bersama untuk kepentingan suami dan istri.

Ketika perempuan muda di media sosial mengatakan mereka menghindari mama’s boy, yang sebenarnya mereka hindari bukanlah laki-laki yang menyayangi ibunya. Yang mereka hindari adalah laki-laki yang tidak mampu melihat privilese yang ia miliki, yang tidak bisa memiliki pemikiran sendiri selain meminta persetujuan ibunya, yang akan menempatkan istri di posisi paling bawah dalam hirarki keluarga. Hal yang juga dikhawatirkan adalah ketidakmampuan laki-laki untuk bertransisi dari anak menjadi partner yang setara. 

Kembali lagi, masalahnya bukan pada sayang ibu, tetapi pada sistem kekuasaan yang membuat kasih sayang itu menjadi alat opresi terhadap perempuan lain. Mungkin, dengan terus membuka percakapan kritis ini, tidak ada lagi hirarki kekuasaan dalam keluarga, dan perempuan tidak perlu memohon prioritas dari suami, karena setara dan berdaya.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!