Nikita Willy dikenal sebagai ibu soft spoken yang sabar dan lembut dalam mendidik anak-anaknya.
Videonya bersama anak-anaknya menunjukkan interaksi penuh kehangatan, tanpa teriakan atau gertakan, membuat banyak orang terkagum-kagum. Komentar seperti “Semoga aku bisa seperti ini nanti” atau “Ini bisa dicapai kalau ibunya punya banyak privilege dan support system” bermunculan di kolom komentar.
Nikita sendiri mengakui bahwa ia menerapkan pola asuh gentle parenting, yang menekankan komunikasi dua arah, empati, dan penghormatan terhadap emosi anak. Ia tak pernah membentak anak, selalu menjelaskan dengan sabar ketika anak melakukan kesalahan, dan memberikan pilihan kepada anaknya. Pola asuh ini tentu ideal dan patut diapresiasi. Tapi pertanyaannya, berapa banyak ibu di Indonesia yang memiliki kondisi ini dan menerapkannya?
Media sosial kemudian bergemuruh menciptakan standar baru tentang “ibu yang baik”. Ibu yang baik adalah yang selalu sabar, tidak pernah kehilangan kendali, mampu menyiapkan makanan bergizi setiap hari, rumahnya selalu rapi, anak-anaknya tidak pernah tantrum, dan tentu saja, penampilannya tetap fresh dan cantik. Nikita Willy, mau tidak mau, menjadi bagian dari konstruksi ini.
Bukan salahnya Nikita, ia hanya membagikan pengalaman kesehariannya. Tapi ketika konten seperti ini menjadi viral dan dijadikan standar bagi ibu-ibu di Indonesia, perempuan lain yang tidak memiliki kondisi serupa merasa gagal. Ibu yang pulang kerja jam 7 malam, kelelahan, lalu kehilangan kesabaran ketika anaknya merengek minta sesuatu, tidak punya cukup uang untuk mempekerjakan Pekerja Rumah Tangga (PRT) merasa bersalah karena tidak bisa seperti Nikita Willy.
Baca juga: ‘Cool Mom’ dan Standar ‘Ibu Ideal’, Ini Keren atau Bias Kelas?
Padahal, realitanya jauh lebih kompleks. Penelitian Annette Lareau dalam buku Unequal Childhoods: Class, Race, and Family Life menunjukkan bahwa pola asuh sangat dipengaruhi oleh kelas sosial.
Keluarga kelas menengah ke atas cenderung menerapkan pengembangan terpadu, yaitu pola asuh yang melibatkan banyak aktivitas terstruktur, dialog intensif dengan anak, dan negosiasi. Sementara keluarga kelas pekerja lebih menerapkan perkembangan alami, di mana anak dibiarkan berkembang lebih alami dengan aturan yang lebih tegas karena orang tua tidak punya waktu atau energi untuk terus-menerus menunggui dan bernegosiasi.
Anak-anak kelas menengah diajari berjabat tangan sambil menatap mata, diajari cara mengomunikasikan keinginan. Sementara orangtua kelas pekerja dilihat anak-anaknya sebagai orangtua yang menahan diri, dan gelisah di depan orang lain. Hasilnya, anak-anak kelas menengah belajar menuntut apa yang mereka inginkan, sementara anak-anak kelas pekerja dan miskin belajar menerima apa adanya.
Tiger Mother
Berlawanan dengan citra pengasuhan lembut Nikita Willy dengan gentle parenting, ada parenting yang disebut “Tiger Mother.”
Istilah ini dipopulerkan oleh Amy Chua, profesor hukum Yale kelahiran Filipina keturunan Tionghoa, melalui bukunya yang kontroversial Battle Hymn of the Tiger Mother. Dalam buku itu, Chua dengan blak-blakan menceritakan bagaimana ia membesarkan kedua putrinya dengan standar yang sangat tinggi, disiplin ketat, dan nol toleransi terhadap kegagalan.
Sophia dan Lulu, putri-putri Chua, tidak pernah diizinkan menginap di rumah teman, atau mendapat nilai kurang dari A. Mereka harus latihan piano dan biola selama berjam-jam setiap hari, termasuk saat liburan.
Bagi pembaca Barat, buku ini mengejutkan. Media Amerika ramai membahasnya, dan mengkritik keras. Tapi bagi banyak orang Asia, cerita Chua terdengar familiar. Pola asuh seperti ini bukan tanpa alasan. Chua menjelaskan bahwa orang tua Tionghoa percaya anak-anak pada dasarnya kuat, bukan rapuh. Mereka tidak perlu terus-menerus dipuji untuk hal-hal kecil. Mereka perlu dituntut, karena hanya dengan tuntutan tinggi mereka akan mencapai potensi terbaik mereka.
Pola pikir ini berakar pada sejarah panjang. Banyak imigran Asia, termasuk orang tua Chua, datang ke negara baru tanpa apa-apa. Mereka bekerja keras, menghemat uang, dan menginvestasikan segalanya untuk pendidikan anak-anak mereka. Prestasi akademis adalah strategi bertahan hidup. Di tengah diskriminasi dan keterbatasan akses, satu-satunya jalan adalah berprestasi sedemikian tinggi sehingga tidak ada yang bisa menyangkal kompetensimu.
Tapi sebelum kita terlalu cepat menghakimi orang tua yang menerapkan pola asuh keras, kita perlu memahami satu hal penting, banyak dari mereka sendiri adalah korban.
Dalam psikologi, ada konsep yang disebut transgenerational trauma (trauma lintas generasi). Artinya, pola-pola dalam keluarga cenderung terulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang tua yang tumbuh dalam kekerasan cenderung (meskipun tidak selalu) menjadi pelaku kekerasan terhadap anak-anak mereka. Orang tua yang tidak pernah didengarkan cenderung tidak tahu cara mendengarkan anak mereka.
Baca juga: Pengasuhan Anak Itu Tugas Laki-laki dan Perempuan, Tapi Perempuan yang Sering Dijulidin
Amy Chua sendiri mengakui ini. Dalam bukunya, ia bercerita bagaimana ayahnya memanggilnya “sampah” ketika ia tidak hormat kepada ibunya. Dan itu berhasil, Chua merasa malu dan berjanji akan lebih baik. Maka ketika giliran ia menjadi ibu, ia meniru pola yang sama.
“Ini cara Tionghoa,” katanya pada dirinya sendiri.
Tapi yang menarik adalah, di akhir buku, Chua sendiri mulai mempertanyakan metodenya. Putri bungsunya, Lulu, semakin memberontak. Lulu bahkan berteriak “Aku benci kamu! Aku benci biola! Aku benci hidupku! Aku benci keluarga ini! Aku akan menghancurkan gelas ini!” Dan ia benar-benar melakukannya. Untuk pertama kalinya, Chua merasa kehilangan kendali atas anaknya. Ia akhirnya memilih untuk mendengarkan.
Kisah Chua mengingatkan kita bahwa perubahan pola asuh itu merupakan sesuatu yang sulit. Terutama ketika pola lama itu sudah tertanam dalam selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Tapi bukan berarti mustahil.
Dalam All About Love: New Visions, bell hooks menulis dengan tajam tentang bagaimana kekerasan dalam pengasuhan sering kali dibungkus dengan retorika cinta.
“Ini demi kebaikanmu sendiri.”
“Aku melakukan ini karena aku menyayangimu.”
Kalimat-kalimat ini diulang-ulang, ditanamkan ke dalam pikiran anak sejak kecil, sampai mereka mempercayainya sebagai kebenaran. Tapi hooks bertanya, bisakah cinta sejati hidup berdampingan dengan dominasi? Bisakah kasih sayang tulus eksis dalam relasi yang hierarkis, di mana satu pihak selalu berada di posisi superior dan pihak lain harus tunduk? Jawabannya: tidak.
Baca juga: Hari Buruh: Jika Daycare Jumlahnya Minim, di Mana Buruh Bisa Titipkan Anaknya Ketika Kerja?
hooks berpendapat bahwa pola asuh yang didasarkan pada hukuman fisik dan dominasi sebenarnya berakar pada pemikiran patriarki. Ayah berkuasa atas ibu, orang tua berkuasa atas anak, yang tua berkuasa atas yang muda. Dan mereka yang berkuasa merasa berhak menggunakan segala cara termasuk kekerasan untuk menjaga dominasi itu. Orang tua sering menempatkan diri di posisi superior, sementara anak diharapkan patuh tanpa membantah.
Orang tua merasa memiliki hak mutlak atas anak. Anak adalah “milik” orangtua karena mereka yang melahirkan, membesarkan, memberi makan. Maka, orang tua merasa berhak memutuskan segalanya untuk anak, apa yang harus dipelajari, kemana harus sekolah, instrumen musik apa yang harus dimainkan, bahkan sampai profesi apa yang harus dipilih.
hooks menawarkan alternatif pengasuhan feminis. Ia menulis bahwa cinta sejati harus mencakup unsur keadilan. Dan keadilan dalam konteks hubungan orang tua-anak berarti mengakui hak-hak sipil dan otonomi anak. Anak adalah individu dengan keinginan, perasaan, dan hak untuk didengar.
Ini bukan berarti orang tua harus membebaskan anak melakukan apapun sesuka hati. Anak-anak tetap membutuhkan bimbingan, batasan, dan struktur. Tapi batasan itu harus datang dari tempat kasih sayang, bukan dominasi. Dari keinginan untuk melindungi dan membimbing, bukan keinginan untuk mengontrol dan membentuk anak sesuai kehendak orang tua.
Kenormalan Baru yang Membingungkan
Tidak bisa dipungkiri, banyak orang tua hari ini merasa terjepit antara nilai lama dan baru. Dulu, mencubit anak adalah hal normal. Hari ini, tindakan yang sama bisa dianggap kekerasan. Dulu, orang tua tidak perlu meminta pendapat anak. Hari ini, partisipasi anak dihargai.
Di Indonesia, kita sedang mengalami transisi besar dalam cara pandang tentang pengasuhan anak. Apa yang dianggap normal 30 tahun lalu, mencubit, menjewer, memukul pantat dengan sapu, kini dianggap sebagai kekerasan. Orang tua generasi sekarang bingung. “Dulu ortuku begitu kok aku baik-baik aja” adalah argumen yang sering kita dengar.
Tapi realitasnya, banyak orang yang tidak baik-baik saja. Mereka membawa trauma dari masa kecil yang tidak pernah terselesaikan. Mereka jadi orang dewasa yang takut bersuara, takut melawan, atau sebaliknya, menjadi pelaku kekerasan karena itulah satu-satunya cara yang mereka tahu agar anak patuh.
Perubahan norma sosial ini menciptakan kebingungan, terutama bagi orang tua yang tidak punya akses ke informasi atau tidak pernah terpapar dengan konsep seperti gentle parenting. Mereka dikritik oleh generasi muda tapi tidak ada yang memberikan mereka alternatif konkret atau dukungan untuk berubah. Di beberapa negara, bahkan menunjuk anak sambil marah atau mengucapkan kata “bodoh” sudah termasuk bentuk kekerasan emosional.
Pertanyaannya: lalu bagaimana cara yang “benar” mengasuh anak?
Baca juga: 5 Alasan Kenapa RUU KIA Dianggap Problematik
Mungkin tidak ada jawaban yang benar. Setiap keluarga memiliki konteks dan tantangannya sendiri. Yang penting adalah kesadaran. Kesadaran bahwa pola asuh kita berdampak pada anak. Kesadaran bahwa kekerasan, sekecil apapun meninggalkan bekas. Dan kesadaran bahwa anak bukan objek yang bisa dibentuk sesuka hati, tapi subjek yang memiliki kehendak dan perasaan.
Dan juga kesadaran bahwa tidak semua orang tua memiliki privilese yang sama.
Maka jangan menghakimi ibu yang pola asuhnya tidak selembut Nikita Willy. Lebih baik pikirkan, dukungan apa yang dibutuhkan orang tua agar bisa mengasuh anak dengan lebih baik?
Apakah itu kebijakan cuti hamil yang lebih panjang? Akses terhadap daycare yang terjangkau? Edukasi tentang kesehatan mental dan perkembangan anak?Kelembutan seperti Nikita tentu memerlukan ekosistem pendukung seperti pasangan yang terlibat, bantuan rumah tangga, ruang untuk diri sendiri, dan kestabilan finansial. Tanpa itu, menuntut semua ibu untuk selalu gentle sama saja dengan bentuk kekerasan baru, kekerasan simbolik yang membebani perempuan untuk selalu sempurna secara moral.
(Editor: Luviana Ariyanti)
Foto: Youtube Nikita Willy Official






