Carmen Hearts2Hearts, idol K-Pop asal Indonesia

Panggung Global Tak Bebas Diskriminasi: Kisah Carmen dan Pengalaman Idol Non-Korea di K-Pop

K-pop sebagai industri hiburan Korea Selatan yang mendunia rupanya tak lepas dari diskriminasi terhadap idol non-Korea, seperti yang diduga dialami Carmen ‘Hearts2Hearts’ dan idol lainnya.

Popularitas selama beberapa dekade membuat industri hiburan Korea Selatan makin sering disebut sebagai industri global. Idol dari berbagai negara bisa tampil bersama, menyanyi dengan bahasa yang sama, dan menjangkau penggemar hingga ranah internasional. Tapi di balik tampilan itu, tidak semua orang mendapatkan perlakuan yang setara. Ada idol yang terus berada di depan, ada yang hampir selalu ditempatkan di belakang.

Label global dalam industri hiburan sering dipakai sebagai simbol keterbukaan dan kemajuan. Namun, dalam praktiknya, keterbukaan tersebut tidak selalu berarti kesetaraan. Globalisasi di industri hiburan kerap berhenti pada perekrutan, bukan pada pembagian ruang dan kuasa yang adil.

Ketidakadilan juga diduga dialami oleh idola K-Pop asal Bali, Nyoman Ayu Carmenita alias Carmen, anggota girl group Hearts2Hearts. Dalam beberapa waktu terakhir, nama Carmen ramai dibicarakan penggemar K-Pop. Bukan karena kontroversi pribadi, meski ia juga kerap menarik perhatian karena penampilan dan tingkah jenaka selayaknya remaja Indonesia kebanyakan. Di sisi lain, Carmen juga menjadi bahan perbincangan karena banyak yang merasa ada perlakuan berbeda terhadap dirinya di atas panggung. Carmen, idol perempuan asal Bali, kerap ditempatkan di barisan belakang saat grupnya menampilkan koreografi. Selain itu, bagian menyanyinya digantikan, dan ia tampil dengan busana yang terlihat lebih sederhana dibandingkan anggota lain.

Pengamatan ini bukan muncul dari satu penampilan saja. Pola tersebut terlihat berulang di beberapa kesempatan, membuat penggemar mulai memperhatikan detail-detail yang sebelumnya mungkin luput. Dari posisi berdiri hingga durasi kamera, perbedaan kecil itu perlahan terasa signifikan.

Baca Juga: ‘Lightstick’ dan Politik: Kekuatan Fandom K-pop Untuk Mobilisasi Massa dan Menyuarakan Perlawanan

Di industri K-Pop, hal-hal seperti posisi dan durasi tampil bukan hal sepele. Semuanya diatur dan direncanakan. Karena itu, ketika perbedaan ini terus terjadi pada orang yang sama, wajar jika publik mulai bertanya-tanya.

Pertanyaan ini juga muncul karena K-Pop dikenal sangat presisi. Setiap gerakan, ekspresi, dan pembagian peran biasanya memiliki alasan yang jelas. Ketika satu anggota terus berada di posisi yang kurang menguntungkan, penjelasan teknis menjadi sulit diterima begitu saja.

Pertanyaan itu banyak muncul di media sosial X. Penggemar mengunggah potongan video dan foto panggung untuk menunjukkan pola yang mereka lihat. Salah satunya datang dari akun DanPam (@danang3pamungka). Ia menulis bahwa hujatan rasis terhadap Carmen di Korea sering muncul dengan cara yang tidak langsung, seperti mengganti nama Carmen dengan sebutan yang merendahkan. Cara seperti ini, menurutnya, sering dipakai untuk mengejek orang Asia Tenggara.

Unggahan tersebut memicu diskusi panjang. Banyak pengguna lain ikut berbagi pengalaman dan pengamatan. Mereka melihat bahwa Carmen kerap diperlakukan berbeda, dan perbedaan itu tidak bisa dilepaskan dari identitasnya sebagai perempuan Asia Tenggara.

Diskusi ini menunjukkan bagaimana rasisme tidak selalu hadir dalam bentuk kasar. Ia sering bekerja secara halus, lewat bahasa, candaan, dan keputusan-keputusan kecil yang terus berulang.

Kegelisahan yang sama disampaikan akun lipppp (@gtwmlshuhu). Ia mempertanyakan alasan bagian menyanyi Carmen digantikan dan mengapa ia terlihat diperlakukan berbeda di atas panggung. Pertanyaan itu sederhana, tapi mencerminkan rasa tidak adil yang dirasakan banyak penggemar.

Baca Juga: Lightstick K-Pop sampai Meme, Cara Generasi Muda Korsel Demo Makzulkan Presiden

Kasus Carmen kemudian membuka kembali perbincangan lama tentang rasisme di industri K-Pop. Selama ini, K-Pop dikenal sebagai hiburan global. Tapi globalisasi itu sering hanya terlihat di permukaan. Wajah-wajah dari luar Korea dihadirkan untuk menarik pasar internasional, sementara posisi dan perlakuan di dalam industri tetap timpang.

Strategi ini membuat keberagaman tampak seperti alat pemasaran. Kehadiran idol non-Korea dipromosikan sebagai simbol inklusivitas, tetapi jarang diikuti dengan pembagian peran yang setara.

Idol non-Korea sering berada di posisi yang lebih rentan. Aksen, warna kulit, dan asal negara menjadi bahan penilaian. Ketika mereka berhasil, keberhasilan itu sering dianggap sebagai pengecualian. Ketika mereka mendapat perlakuan tidak adil, alasannya dibungkus dengan istilah profesionalisme.

Istilah ini sering dipakai untuk menutup ruang kritik. Profesionalisme seolah menjadi kata netral, padahal di baliknya bisa menyimpan bias dan relasi kuasa yang tidak seimbang.

Data menunjukkan bahwa pengalaman diskriminasi secara umum bukan hal baru di Korea Selatan. Survei Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea Selatan yang dikutip Tempo mencatat bahwa 68,4 persen warga asing pernah mengalami diskriminasi. Bentuknya beragam, mulai dari komentar merendahkan sampai kerugian di tempat kerja. Artinya, rasisme bukan hanya masalah di dunia hiburan, tapi bagian dari realitas sosial yang lebih luas.

Angka ini memberi konteks penting bahwa pengalaman idol non-Korea tidak berdiri sendiri. Mereka beroperasi dalam masyarakat yang masih bergulat dengan penerimaan terhadap orang asing.

Baca Juga: Bukan Cuma Nostalgia: Welcome Back 2NE1, ‘Ratu K-Pop’ yang Gebrak Standar Kecantikan Korea!

Dalam K-Pop, rasisme sering tidak muncul secara terang-terangan. Ia hadir dalam pembagian peran, durasi kamera, dan narasi yang dibangun media. Idol non-Korea bisa tampil, tapi jarang benar-benar ditempatkan sebagai pusat.

Pengalaman ini juga dialami idol lain sebelum Carmen. Lisa, idol asal Thailand, kerap mendapat komentar rasis tentang asal-usul dan warna kulitnya, meskipun ia berada di puncak popularitas. Hal seperti ini sering dianggap wajar, padahal tetap menyisakan luka.

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa rasisme di K-Pop tidak berhenti pada satu kasus. Bahkan idol yang sangat populer pun tidak sepenuhnya aman dari perlakuan diskriminatif. Masalahnya bukan pada individu, tapi pada sistem yang membiarkan hal-hal seperti ini terus terjadi.

Bagi perempuan, situasinya sering kali lebih berat. Tubuh perempuan di industri K-Pop berada di bawah pengawasan ketat. Penampilan, berat badan, dan ekspresi terus dinilai. Ketika perempuan non-Korea masuk ke dalam sistem ini, mereka menghadapi tekanan ganda, sebagai perempuan dan sebagai orang asing.

Tekanan ini sering tidak terlihat oleh publik. Ia tersembunyi di balik penampilan sempurna yang ditampilkan di layar.

Dalam kasus Carmen, posisi yang terus berada di belakang bukan sekadar soal koreografi. Ia memberi pesan tentang siapa yang dianggap penting dan siapa yang cukup menjadi pelengkap. Pesan ini dilihat jutaan orang dan perlahan membentuk cara pandang publik.

Baca Juga: Fans K-pop Indonesia Pecah Rekor ‘Paling Sat Set’ Galang Donasi Palestina

Di sisi lain, idol seperti Carmen hampir tidak punya ruang untuk berbicara. Kontrak dan tekanan industri membuat mereka harus berhati-hati. Ketika publik mempertanyakan ketimpangan ini, agensi sering memilih diam dan menunggu isu berlalu.

Diamnya agensi sering kali justru memperkuat kecurigaan. Tanpa penjelasan yang jelas, ketimpangan terlihat seperti sesuatu yang dinormalisasi.

Namun, reaksi penggemar menunjukkan ada perubahan. Banyak yang tidak lagi menerima penjelasan seadanya. Mereka mulai mengaitkan kasus individual dengan persoalan yang lebih besar, termasuk rasisme dan ketimpangan kuasa di industri hiburan.

Akun Tyty (@tty2_tyty) menuliskan bahwa Carmen adalah perempuan Indonesia yang berjuang di industri asing dan layak mendapatkan dukungan. Unggahan ini menunjukkan bagaimana isu ini dipahami bukan hanya sebagai urusan fandom, tapi juga soal keadilan dan martabat.

Kasus Carmen seharusnya dibaca sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas. Selama industri K-Pop masih menjadikan keberagaman sebagai strategi pemasaran tanpa memperbaiki perlakuan di dalamnya, kasus serupa akan terus muncul.

Panggung global tidak seharusnya hanya terlihat inklusif di permukaan. Selama masih ada perbedaan perlakuan berdasarkan asal negara dan ras, pertanyaan tentang keadilan akan terus muncul. Dan suara-suara yang selama ini berada di pinggir akan terus berusaha didengar.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Rayfahd Haykal

Reporter magang Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!