Perempuan-Perempuan Penyelamat ‘Alice in Borderland’, Mereka Mendekonstruksi Stereotip Bahwa Perempuan Adalah Beban

Keberadaan karakter-karakter perempuan dalam Alice in Borderland benar-benar mendominasi dalam banyak momen.

Kehadiran para perempuan di film ini bukan sekedar pelengkap untuk memperkuat narasi laki-laki. Bahkan sering kali lebih unggul dari tokoh laki-laki.

Alice in Borderland adalah serial live-action thriller fiksi ilmiah Jepang yang dirilis oleh Netflix, didasarkan pada serial manga dengan nama yang sama karya Haro Aso. Serial ini menceritakan kisah sekelompok orang yang tiba-tiba berada di Tokyo yang sunyi. 

Awalnya, situasi itu tampak menyenangkan, mereka bisa makan dan mengambil apapun sesuka hati tanpa ada aturan. Ternyata tak lama kemudian mereka dipaksa bermain permainan mematikan untuk bertahan hidup. Tak ada permainan yang mudah. Setiap permainan memberi mereka visa yang memperpanjang masa tinggal mereka di dunia yang disebut “Borderland.”

Serial ini memiliki kemiripan dengan Alice in Wonderland, tercermin dari nama karakter utama Arisu sebagai pelafalan bahasa Jepang untuk Alice. Dan Usagi yang berarti “kelinci,” mengacu pada Kelinci Putih dalam cerita asli. Seperti Alice yang bosan dengan kehidupan nyata dan ingin pergi ke dunia lain, Arisu (Kento Yamazaki), seorang gamerpengangguran yang selalu dimarahi ayah dan adiknya, juga mencari pelarian dari realitas yang membuatnya putus asa.

Meskipun tokoh laki-laki seperti Arisu, Aguni, dan Chishiya mendominasi dengan cara mereka masing-masing, kesuksesan mereka tak akan bertahan lama tanpa dukungan rekan-rekan perempuan mereka. Para perempuan dalam Alice in Borderland bukanlah sekadar perangkat plot yang ditambahkan untuk menguntungkan tokoh laki-laki. 

Alur cerita independen mereka masing-masing membawa emosional penonton terseret mengagumi karakternya, bahkan bisa dibilang mengungguli lawan main laki-laki. Karakter perempuan tidak hanya menjadi pendamping laki-laki, tetapi juga pemimpin dalam strategi dan eksekusi pertempuran.

Usagi Bukan Sekedar Pemanjat

Usagi (Tao Tsuchiya) merupakan salah satu karakter perempuan paling vital dalam serial ini. Ia adalah pendaki gunung berpengalaman, sosok yang terlatih secara fisik dan mental. Kehidupannya yang penuh penolakan dan kehilangan ayah menjadikannya individu yang tangguh. Yang seringkali tidak disadari penonton, Usagi menyelamatkan Arisu berkali-kali, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. 

Saat Arisu sudah tidak mau hidup lagi karena teman-temannya meninggal, Usagi yang menyelamatkannya. Arisu sering mengambil inisiatif dalam menyusun strategi, Usagi yang lebih berhati-hati kerap mengarahkan Arisu yang terlalu percaya diri. Ia adalah sosok yang serba bisa dan telah memainkan peran krusial dalam memenangkan banyak permainan, bahkan pada dasarnya Usagi sendirian menyingkirkan Ratu Sekop. 

Apalagi dalam permainan kartu hati terakhir yang diwakili oleh Mira (Riisa Naka). Mira memahami mentalitas Arisu dan tahu bahwa alih-alih mencari jawaban untuk apa itu Borderland, Arisu sebenarnya sedang mencari tujuan hidupnya. 

Mengetahui hal itu, cukup mudah bagi Mira yang seorang psikiater untuk menjebak Arisu kembali ke dalam kegelapan. Suara Usagilah yang menghidupkan kembali Arisu. Dalam kondisi sekarat karena kehilangan banyak darah, Usagi menyadarkan Arisu. Apa pun alasan hidup Arisu, tujuan hidupnya, atau jawabannya, tak penting. Yang terpenting adalah apa yang ingin ia lakukan saat ini. Dan yang Arisu inginkan adalah hidup bersama Usagi.

Baca Juga: Jadi Perempuan Lajang di Usia 39 Tahun? Ini Pengalamanku Hidup Melawan Standar Sosial

Tidak adil rasanya jika sebagian penggemar, mengkritik Usagi dan menyebutnya hanya bisa memanjat dan berteriak “Arisu!”. Karena Usagi lebih dalam dari itu. Usagi yang mengalami kekerasan seksual dari Niragi (Dori Sakurada) sebanyak dua kali bahkan tidak sempat memproses traumanya. Ia terpaksa berada dalam tim yang sama dengan Niragi demi memenangkan permainan, dan tidak ingin membebani anggota kelompoknya dengan traumanya. Memang ada aspek problematik dalam penanganan trauma kekerasan seksual di Alice in Borderland yang patut dikritisi. Kekerasan seksual diberi ruang yang minor demi kepentingan utama memenangkan permainan.

Selanjutnya ada Ann (Ayaka Miyoshi), yang awalnya tampak sebagai karakter sampingan, ternyata adalah detektif dan ahli forensik yang menjalankan misi sendiri. Bertekad untuk mengungkap kebenaran Borderland, detektif dan ahli forensik ini memprioritaskan pencarian fakta dan bahkan melakukan petualangan solo di luar Tokyo untuk menemukan jawaban.

Ann ibarat sosok kakak perempuan yang selalu bisa diandalkan, terutama saat ia mengambil alih kemudi mobil untuk kabur dari Raja Sekop. Pintar dan tenang, namun tak ragu menyerang lawan, Ann menyelamatkan banyak orang. Hingga di season 3, Ann juga menyelamatkan Arisu, membangunkannya sehingga Arisu selamat dari pusaran air.

Mewakili representasi ragam gender, ada Kuina (Aya Asahina) yang seharusnya terlahir sebagai pewaris dojo karate, namun pergi ketika tak mampu menjadi anak laki-laki seperti yang diinginkan ayahnya. Bersahabat dengan Chishiya (Nijiro Murakami), Kuina merupakan karakter paling baik dan peduli dengan teman-temannya. Bakat bela dirinya yang luar biasa begitu tepat sasaran sehingga mampu mengalahkan Bos Terakhir yang tangguh tanpa perlu persenjatan tambahan. Tinju dan kakinya saja sudah cukup mematikan, terlepas dari rasa sakit luar biasa yang mungkin ia rasakan saat itu.

Baca Juga: Seks, Budaya dan Perempuan

Yang menarik, pakaiannya yang mengenakan bikini sama sekali tidak berkorelasi dengan kapasitas mentalnya dan fisiknya. Ia dengan berani menghadapi setiap permainan dengan semakin cerdik. Terlebih lagi, latar belakang transpuan Kuina tidak mengaburkan seluruh keberadaannya dan tidak dilebih-lebihkan tentang itu. Tidak ada cerita LGBTQ+ yang sensasional seperti transformasi yang didramatisir.

Heiya (Yuri Tsunematsu) muncul relatif terlambat, tetapi langsung meninggalkan kesan kuat. Ia adalah satu-satunya penyintas dari permainan paling brutal yaitu Kematian Mendidih. Diduga bertahan hidup sendirian, ia bertemu Aguni, tokoh yang dingin dan mandiri, dan jatuh cinta padanya. Tapi Heiya tidak bergantung pada Aguni, walau seperti jatuh cinta, sebenarnya Heiya adalah anak sekolah yang masih mudah naksir, termasuk naksir Arisu. Meski Aguni tidak membutuhkan siapa pun, ia tetap menghargai Heiya karena telah menyelamatkan nyawanya. Hubungan mereka saling menguntungkan. Namun, setiap keputusan mandiri yang diambil Heiya di Borderland justru memperkuat nilainya dan menjadi salah satu karakter paling tangguh dalam serial ini.

Di season 2, pertarungan terakhir dengan Raja Sekop menjadi sorotan utama. Pertumpahan darah dengan penggunaan taktik melibatkan semua tokoh terkuat mayoritas perempuan, Arisu, Usagi, Aguni, Ann, Kuina dan Heiya. Netflix berhasil membuat rangkaian aksi keroyokan ini sangat memukau, dan bahkan bisa dibilang adegan ini adalah koreografi aksi terbaik dalam Alice in Borderland

Tokoh-tokoh Perempuan yang Mengelabui dan Menolak Stereotip

Kekayaan representasi perempuan dalam Alice in Borderland tidak berhenti pada karakter utama. Tokoh-tokoh pendukung juga menampilkan spektrum kepribadian yang beragam dan menentang stereotip. Tokoh perempuan lain yang menonjol adalah Shibuki (Ayame Mishaki), yang muncul dalam permainan pertama Arisu dan teman-temannya. Ia memiliki ambisi kuat untuk kembali ke dunia nyata karena jabatan tinggi menantinya di sana. Shibuki tidak ragu mengorbankan orang lain demi meningkatkan peluang bertahan hidupnya, dan ia sama sekali tidak berusaha membuat rekan laki-lakinya terlihat heroik. Meskipun Shibuki tidak bisa mengklaim dirinya bermoral tinggi, Arisu dan teman-teman enggan membantu Shibuki yang sedang dalam kesulitan, terutama Karube yang memberikan perlakuan kasar.

Lalu ada Kotoko (Hona Ikoka) yang tampak sebagai perempuan lemah, mudah tertipu, dan bergantung kepada Yaba. Ternyata Kotoko di akhir menentang Yaba dan mencoba membunuhnya dengan informasi yang salah. Sayangnya, semua itu menjadi bumerang pada akhirnya dan Kotoko kalah. Perilaku Kotoko membuktikan perempuan yang tampak penurut tidak bisa diprediksi dan dia menyangkal stereotip itu dengan pura-pura memberi rasa percaya pada Yaba.

Kemudian ada Urumi Akamaki (Aina Yamada) tampil mencolok dalam permainan Jack of Hearts. Walau dengan penampilan nyentrik dan karakter kawaii (imut), ia mampu memanipulasi kelompoknya agar percaya pada strateginya yang licik namun efektif. Kemampuan taktisnya setara dengan tokoh seperti Rei di season ketiga. Karakter ini juga menyangkal stereotip perempuan imut yang dianggap hanya peduli dengan penampilan dan tidak bisa apa-apa.

Dekonstruksi Stereotip “Beban”

Banyak penggemar memuji bahwa “tokoh perempuan di sini nggak ada yang beban”. Sebuah pujian yang menyedihkan dan menunjukkan betapa mengakarnya stereotip perempuan sebagai hambatan dan beban dalam genre film action. Pujian ini mengimplikasikan bahwa selama ini, penggemar terbiasa melihat karakter perempuan dalam film action sebagai sosok yang perlu dilindungi, diselamatkan, atau bahkan menghambat misi protagonis laki-laki. Perempuan dalam situasi survival sering digambarkan sebagai sosok yang panik, tidak rasional, dan membutuhkan perlindungan terus menerus, sehingga mengurangi efektiensi tim survival dan menciptakan drama yang menyebalkan.

Namun Alice in Borderland mendobrak sterotip ini. Para perempuan di Alice in Borderland tidak harus menjadi maskulin untuk berguna. Mereka tetap menjadi diri sendiri. Ini menentang pemikiran biner yang mengasumsikan bahwa untuk menjadi “tidak beban,” perempuan harus meninggalkan feminitasnya. Kuina misalnya, bertarung hanya dengan bikini, tapi kamera tidak membingkai tubuhnya sebagai fokus.

Season 3 Alice in Borderland

Season ketiga Alice in Borderland hadir sebanyak 6 episode, dengan alur cerita berfokus pada kehidupan baru Arisu dan Usagi yang telah menikah. Sekilas, kehidupan keduanya tampak akan berjalan normal. Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena Usagi yang masih menyimpan kesedihan mendalam atas kematian ayahnya. Hal tersebut secara tidak langsung membuatnya terperangkap dalam jebakan Ryuji. Usagi pun kembali ke Borderland dengan harapan bisa bertemu ayahnya. Sebuah kontradiksi mengingat kegigihan Usagi di season sebelumnya untuk kembali ke dunia nyata, tapi malah kembali ke Borderland. Arisu pun menyusul ke Borderland.

Season 3 yang mengungkap siapa sebenarnya Joker, juga menampilkan Banda dan Yaba yang walaupun menyelesaikan permainan, memilih menjadi warga negara Borderland. Di manga, Banda adalah seorang pembunuh berantai dan pemerkosa yang dijatuhi hukuman mati sebelum datang ke Borderland. Tidak mengherankan jika ia menganggap Borderland luar biasa dan memilihnya daripada dunia nyata yang tinggal menunggu kematian.

Baca Juga: ‘Ngobrolin Seks Dicap Mesum’, Padahal Menabukan Seks itu Kuno, Say!

Semua karakter dalam Alice in Borderland telah mengalami kehilangan dan rasa sakit di kehidupan sebelumnya. Untuk bertahan hidup, mereka harus membuat keputusan keras dan kejam. Kadang tanpa sadar mengorbankan orang lain, atau berkorban untuk orang lain, seperti kita di dunia nyata kan? dan itu adalah pemandangan sehari-hari di Borderland. Para karakter menderita, kehilangan teman, dan harapan berulang kali, tetapi mereka tetap bertekad untuk mempertahankan cita-cita mereka, untuk terus maju dan hidup. Kegigihan ini sungguh mengagumkan dan pada akhirnya membuahkan hasil.

Pesan inti Alice in Borderland adalah harapan, tentang penyembuhan dan belajar bagaimana menemukan kebahagiaan di dunia sekitar kita. Koneksi itulah yang membuat menyaksikan karakter-karakter ini berjuang, mengatasi masalah, dan bertumbuh demi kembali mendapat kesempatan untuk hidup. Seolah-olah karakter-karakter ini sedang menatap kita dan mengajari kita pelajaran untuk hidup, kita perlu memperkuat diri sekuat tenaga, berubah, mendukung, dan didukung oleh orang lain.

Kita melihat karakter-karakter ini tumbuh melampaui rasa takut, rasa tidak aman, cocok untuk ditonton saat hidup sedang tidak berada di kondisi terbaik. Hidup tak perlu memiliki makna yang tinggi, asalkan kita menjalaninya sebaik-baiknya. Seperti kata Chishiya ketika ditanya Arisu “Apa yang membuat hidupmu berharga untuk dijalani?” jawabnya: “Jika aku tidak tahu jawabannya, tidak buruk kan?” Dan mungkin, di situlah letak keindahan hidup yang sesungguhnya.

(Editor: Luviana)

(Sumber Gambar: NewsBytes)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!