“I Can Fix Him”? Moral Laki-Laki Bukan Tanggung Jawab Perempuan, Stop Romantisasi Red Flag

Mengapa penonton modern yang kritis masih sering memaklumi karakter laki-laki yang toksik, manipulatif, dan abusif dalam cerita fiksi? Mari membedah kiasan “I can fix him” yang diam-diam melanggengkan eksploitasi emosional terhadap perempuan atas nama cinta.

Kita hidup di era ketika kesadaran akan kesehatan mental dan hubungan yang sehat berada pada titik tertinggi. Kamus pergaulan orang muda hari ini dipenuhi oleh istilah analitis seperti red flag, gaslighting, love bombing, hingga narsistik. Namun, ada paradoks menarik ketika kita mengalihkan pandangan dari dunia nyata ke layar kaca atau halaman novel populer. Ketika karakter laki-laki fiksi digambarkan memiliki tabiat kasar, manipulatif, dingin, atau bahkan abusif, alih-alih memicu kecaman, karakter tersebut sering kali justru memanen jutaan penggemar.

​Dari fiksi klasik, novel romansa remaja, drama Korea, hingga sinetron domestik, sebuah formula usang terus direproduksi dan laris manis: seorang laki-laki yang rusak, penuh trauma, atau jahat, bertemu dengan perempuan yang sabar, penuh kasih, dan tulus. Melalui kekuatan cinta dan pengorbanan si perempuan, sang laki-laki perlahan melunak, bertobat, dan bertransformasi menjadi sosok ideal. Fenomena psikososial dan naratif ini kita kenal dengan istilah trope atau kiasan “I can fix him (aku bisa mengubah / memperbaikinya)”.

​Bagi industri hiburan, formula ini adalah mesin pencetak uang yang tidak pernah gagal memeras emosi penonton. Namun, jika kita membedahnya dengan pisau analisis feminisme kritis, kiasan ini bukanlah sekadar hiburan romantis yang polos. “I can fix him”  adalah sebuah jebakan ideologis yang berbahaya. Narasi ini bekerja secara halus untuk meromantisasi perilaku beracun, menormalisasi ketimpangan relasi, dan mendidik perempuan secara kultural untuk menjadi martir bagi kesehatan mental laki-laki.

​Mitos bahwa perempuan bertanggungjawab atas keselamatan moral laki-laki memiliki akar sejarah yang panjang dalam sastra. Kita bisa melacaknya dari kisah dongeng klasik seperti Beauty and the Beast. Dalam dongeng itu, ketulusan hati seorang perempuan mampu mengubah monster yang kasar dan temperamental menjadi pangeran tampan. Di era sastra Victoria, kita melihat perwujudan ini dalam karakter Edward Rochester dari novel Jane Eyre karya Charlotte Brontë. Ia seorang laki-laki murung dengan rahasia kelam di loteng rumahnya, yang diselamatkan oleh kemurnian jiwa Jane.

Baca juga: 7 Tanda Red Flags dalam Relasi Yang Harus Kamu Kenali

​Di era modern, kiasan ini bermutasi menjadi lebih gelap. Karakter fiksi kontemporer seperti Christian Grey dalam seri Fifty Shades, Edward Cullen dalam Twilight, hingga berbagai karakter utama pria dalam cerita fiksi penggemar (fanfiction) urban yang viral di platform Wattpad dan TikTok, semuanya berbagi cetak biru yang sama. Mereka digambarkan sebagai sosok yang berkuasa namun memiliki masa lalu traumatis, luka batin yang dalam, atau kecenderungan mengontrol pasangannya secara obsesif.

​Dalam narasi-narasi ini, perilaku posesif dibingkai sebagai wujud rasa sayang yang teramat sangat, dan sikap cemburu buta ditafsirkan sebagai tanda takut kehilangan. Melalui kacamata fiksi ini, segala bentuk bendera merah (red flag) yang seharusnya membuat seseorang berlari menjauh, justru diubah menjadi daya tarik mistis yang mengundang rasa penasaran. Pesan tersirat yang dikirimkan kepada penonton sangat jelas: di balik cangkangnya yang beracun, ada seorang anak laki-laki kecil yang terluka dan membutuhkan kehangatan seorang perempuan untuk bisa sembuh.

​Masalah mendasar dari romantisasi kiasan “I can fix him” dalam fiksi adalah narasi tersebut mengalihkan tanggung jawab personal. Seseorang yang melakukan kekerasan emosional atau verbal dibebaskan dari kesalahan moralnya hanya karena dia memiliki masa lalu yang sedih. Beban untuk mengubah perilaku buruk tersebut justru digeser seluruhnya ke pundak pasangannya—yang hampir selalu perempuan.

​Dalam kajian gender, hal ini disebut sebagai eksploitasi beban emosional (emotional labor). Perempuan di dalam fiksi romantis tidak hanya diposisikan sebagai pasangan kekasih. Melainkan merangkap sebagai psikolog gratisan, penyembuh luka batin, sekaligus juru selamat moral bagi pasangannya. Dia dituntut memiliki cadangan kesabaran tanpa batas, siap menerima makian atau pengabaian, dan tetap bertahan karena percaya bahwa jika dia mencintai laki-laki itu dengan cukup keras, sang laki-laki pasti akan berubah.

Baca juga: Dear Bucin, Kenali Sinyal Red Flag yang Bikin Hubunganmu Nggak Sehat

​Narasi ini menciptakan standar idealisasi yang toksik tentang bagaimana seorang perempuan “yang baik” seharusnya bertindak dalam hubungan. Perempuan yang memilih pergi ketika pasangannya berperilaku kasar sering kali dicap egois atau tidak setia dalam ruang fiksi. Sebaliknya, perempuan yang bertahan di tengah badai manipulasi emosional dipuji sebagai sosok yang kuat dan berhati malaikat. Ini adalah bentuk glorifikasi terhadap penderitaan perempuan yang sangat berbahaya jika diinternalisasi ke dalam kehidupan nyata.

​Fiksi tidak pernah berdiri di ruang hampa; ia merefleksikan sekaligus membentuk bagaimana kita memperlakukan realitas. Ketika seorang perempuan muda dibesarkan oleh konsumsi budaya pop yang terus-menerus merayakan kompleksitas “I can fix him”, dia akan cenderung membawa pola pikir tersebut ke dalam hubungan asmaranya di dunia nyata.

​Di kehidupan nyata, sindrom penyelamat (savior complex) ini sering kali berakhir tragis. Berbeda dengan naskah film Hollywood atau bab terakhir sebuah novel romansa, orang-orang toksik atau pelaku kekerasan di dunia nyata jarang sekali berubah hanya karena mereka dicintai secara tulus. Karakter sosiopatik atau narsistik tidak akan mendadak menjadi hangat dan empati hanya karena pasangannya pandai memasak atau rajin mendengarkan keluh kesahnya.

​Perempuan yang terjebak dalam mentalitas “I can fix him” di dunia nyata sering kali berakhir sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik secara psikis maupun fisik. Mereka bertahan dalam hubungan yang merusak selama bertahun-tahun, mengorbankan kesehatan mental, harga diri, dan masa depan mereka sendiri demi mengejar ilusi akhir bahagia (happy ending) yang dijanjikan oleh industri hiburan. Mereka menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa esok hari pasangannya akan berubah, tanpa menyadari bahwa mereka sedang menginvestasikan energi emosional ke dalam lubang hitam yang tidak akan pernah penuh.

Baca juga: Mama’s Boy: Mengapa Semakin Banyak Perempuan Menghindari Laki-Laki yang Terlalu Dekat dengan Ibunya?

​Kita perlu berkali-kali menegaskan pentingnya mendekonstruksi narasi-narasi budaya yang merugikan perempuan. Sudah saatnya kita sebagai konsumen kebudayaan bersikap lebih kritis dan menuntut industri hiburan untuk berhenti memproduksi romantisisme murahan yang berbasis pada penderitaan emosional perempuan. Kita perlu menggugat trope “I can fix him” dan menggantinya dengan narasi yang lebih sehat, realistis, dan berdaya.

​Sastra dan film masa kini harus mulai lebih banyak menampilkan tokoh perempuan yang tahu kapan harus berjalan pergi ketika batas teritorinya dilanggar. Kita membutuhkan narasi ketika tokoh utamanya menyadari bahwa tugas menyembuhkan luka masa lalu atau memperbaiki tabiat buruk adalah tanggung jawab mutlak dari individu yang bersangkutan, bukan tugas pasangannya. Perempuan bukanlah pusat rehabilitasi bagi laki-laki yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Cinta yang sehat seharusnya tidak menuntutmu untuk menjadi perawat bagi ego laki-laki yang rapuh dan merusak.

​Cinta yang setara adalah sebuah kemitraan, bukan sebuah proyek renovasi rumah yang terbengkalai. Berhenti menertawakan atau menganggap romantis karakter laki-laki fiksi yang toksik, dan berhentilah mengagumi perempuan yang mengorbankan kewarasannya demi cinta. Di dunia nyata, keputusan terbaik yang bisa diambil oleh seorang perempuan ketika bertemu dengan laki-laki yang penuh dengan red flag bukanlah mencoba memperbaikinya (fix him), melainkan berbalik arah, menyelamatkan diri sendiri, dan membiarkan laki-laki tersebut memperbaiki dirinya sendiri.

Foto: imdb.com

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Fitri Rusandi

Lahir dan besar sebagai seorang gadis Minang yang lekat dengan nilai budaya kampung halamannya. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang dan berhasil meraih gelar Sarjana Manajemen. Membaca dan menulis menjadi hobi yang terus ia tekuni, sekaligus cara baginya untuk menyuarakan gagasan dan merekam pengalaman hidup.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!