Belakangan bermunculan video di TikTok yang menggunakan audio dengan lirik “Then I realize what it is… there’s a man”. Tren ini menyoroti betapa situasi yang sama bisa dipersepsikan secara berbeda ketika pelakunya perempuan atau laki-laki.
Dalam satu video, biasanya ada dua bagian. Pertama, tepat saat audio berbunyi, “Then I realize what it is,” tampak perlakuan atau label yang kerap ditimpakan pada perempuan. Misalnya, perempuan yang menjadi penggemar artis dianggap “menyebalkan (annoying)”, “gila (crazy)”, atau “kekanak-kanakan (childish)”. Bukan hanya perempuan biasa; selebritas perempuan yang marah atau membela diri, seperti ketika penyanyi Chappell Roan marah pada paparazzi, disebut arogan, tidak sopan, atau tidak tahu diri. Sedangkan perempuan yang menunjukkan ambisi dianggap terlalu agresif atau haus perhatian.
Lalu video beralih ke bagian kedua saat audio berbunyi “There’s a man”. Di sini tampak situasi yang sama dilakukan laki-laki. Penggemar laki-laki, misalnya suporter sepak bola, justru dipuji karena memiliki “love of the game” atau loyalitas tinggi. Selebritas laki-laki yang menghindari paparazzi seperti Justin Bieber, dibela karena sedang menjaga privasi. Laki-laki yang ambisius dianggap memiliki jiwa kepemimpinan.
Beberapa video juga menunjukkan bahasa sehari-hari yang ternyata menyimpan bias yang sama. Kata “bitch” digunakan untuk merendahkan perempuan, sementara ketika laki-laki dihina, istilah yang muncul justru “son of a bitch”. Bahkan dalam penghinaan terhadap laki-laki, perempuan tetap dijadikan objek yang dianggap hina.
Contoh-contoh semacam ini terus bermunculan. Perempuan yang percaya diri disebut haus perhatian. Laki-laki yang tampil serupa dipuji karena karismatik. Perempuan yang vokal dianggap emosional. Laki-laki yang berbicara dengan nada tinggi disebut tegas.
Semakin banyak video muncul, semakin banyak pula orang yang menyadari bahwa pola ini bukan kebetulan. Ada standar yang berbeda ketika masyarakat menilai perempuan dan laki-laki. Standar yang berbeda itu tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai kelompok yang lebih berkuasa dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga, pekerjaan, hingga ruang publik.
Sistem ini dikenal sebagai patriarki. Dalam masyarakat patriarkal, laki-laki lebih sering diposisikan sebagai ukuran utama, sementara perempuan diharapkan menyesuaikan diri dengan peran yang telah ditentukan. Akibatnya, tindakan yang sama dapat dipuji ketika dilakukan laki-laki, tetapi dipersoalkan ketika dilakukan perempuan.
Kita hidup di dunia yang masih menyimpan misogini. Sayangnya, misogini sering dipahami secara sempit sebagai kebencian terang-terangan terhadap perempuan. Gambaran yang muncul biasanya laki-laki yang merendahkan perempuan atau menolak hak-hak mereka. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal-hal kecil yang tanpa kita sadari merupakan bentuk misogini.
Seperti salah satu video dengan tren “there’s a man” ini. Ketika ada video ibu dan anak mengonsumsi makanan cepat saji, masyarakat biasanya dengan mudah menghakimi ibu yang mengajak anaknya makan junk food. Para ibu diberi label “tidak bertanggungjawab”. Sementara apabila hal itu dilakukan oleh ayah, label yang keluar adalah “ayah yang seru”.
Misogini bekerja melalui standar ganda yang begitu sering diulang hingga terasa normal.
Lihat saja betapa perempuan di ruang publik terus dinilai dari banyak sisi sekaligus. Cara berpakaian, cara berbicara, pilihan menjadi ibu atau tidak, keputusan menikah atau tetap melajang, hingga ekspresi wajah mereka bisa menjadi bahan penilaian publik. Sementara itu, laki-laki lebih sering dinilai dari pencapaian atau pekerjaannya.
Perbedaan ini juga tampak ketika seseorang melakukan kesalahan. Seorang laki-laki kerap diberi ruang untuk berubah dan memperbaiki diri. Perempuan yang melakukan kesalahan serupa bisa terus diingatkan pada satu peristiwa itu selama bertahun-tahun. Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di dunia hiburan. Kita bisa menemukannya di kantor, kampus, sekolah, bahkan di dalam keluarga.
Anak perempuan diajarkan untuk duduk dengan rapi, berbicara pelan, dan menjaga sikap. Anak laki-laki lebih sering dimaklumi ketika berisik atau berbuat usil karena dianggap memang aktif. Perempuan yang pulang malam ditanya mengapa berada di luar rumah. Laki-laki yang pulang pada jam yang sama lebih jarang menerima pertanyaan serupa. Lama-kelamaan, perlakuan yang berbeda ini membentuk cara pandang kita terhadap perempuan. Kita belajar bahwa ada standar yang harus selalu mereka penuhi.
Psikolog sosial Peter Glick dan Susan T. Fiske menjelaskan pola ini melalui Ambivalent Sexism Theory. Menurut mereka, ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan melahirkan dua bentuk seksisme yang nampaknya berbeda namun sebenarnya sama. Mereka menulis bahwa “the coexistence of gendered power differences and mutual interdependence creates two apparently opposing but complementary sexist ideologies”.
Salah satunya adalah hostile sexism, yaitu pandangan yang melihat perempuan sebagai ancaman ketika mereka dianggap keluar dari peran gender. Bentuk lainnya adalah benevolent sexism, pandangan yang menempatkan perempuan sebagai sosok yang baik, suci, dan layak dikagumi, tetapi “deserving men’s protection and admiration, as long as they conform”. Dengan kata lain, penghargaan itu diberikan selama perempuan tetap memenuhi harapan masyarakat terhadap bagaimana perempuan seharusnya bersikap.
Di sinilah patriarki bekerja dengan cara yang sering kali tidak kita sadari. Perempuan yang memenuhi ekspektasi gender diberi penghargaan karena dianggap “baik”, “anggun”, atau “tahu kodrat”. Sebaliknya, perempuan yang keluar dari ekspektasi tersebut lebih mudah menerima hukuman sosial. Pujian dan celaan berjalan beriringan untuk memastikan perempuan tetap berada dalam batas-batas yang telah ditentukan. Inilah yang dijelaskan Glick dan Fiske melalui konsep hostile sexism dan benevolent sexism: dua bentuk seksisme yang tampak berbeda, tetapi tugasnya sama untuk menopang ketimpangan gender.
Perspektif gender mengajak kita melihat persoalan ini lebih dalam. Pertanyaannya tidak berhenti pada mengapa perempuan terus menerima penilaian yang berbeda. Yang lebih penting adalah menelusuri siapa yang menetapkan standar tersebut, mengapa perempuan harus bekerja lebih keras untuk dianggap layak, dan siapa yang memperoleh keuntungan ketika perempuan terus didorong menjadi penurut, tidak banyak bicara, serta selalu menjaga citra.
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena misogini tidak bertahan sendirian. Ia terus hidup ketika kita menganggap standar ganda sebagai sesuatu yang wajar. Ketika kita lebih cepat memberikan penghakiman ke perempuan daripada laki-laki. Ketika perempuan yang marah langsung disebut emosional, tetapi laki-laki yang melakukan hal serupa dianggap sedang menunjukkan ketegasan. Ketika korban kekerasan seksual masih ditanya soal pakaian yang dikenakannya.
Barangkali, itulah alasan mengapa tren TikTok ini begitu banyak dibagikan. Karena banyak orang terutama perempuan akhirnya bisa memberi nama pada pengalaman yang selama ini mereka rasakan. Mereka menyadari bahwa ada pola yang terus berulang. Tak banyak bahkan merasakan amarah. Tapi rupanya ada yang menyadari alasan mereka marah: “Enggak, sekarang aku marah karena aku pasti pernah berpikir seperti ini setidaknya selama aku hidup.”
Lewat tren ini, warganet akhirnya menyadari bahwa misogini terselip dalam banyak hal.
Tren ini seperti “wake up call” bagi banyak orang dan khususnya bagi perempuan juga. Kesadaran itu menjadi langkah awal untuk melihat bahwa misogini tidak hanya hadir dalam aturan tak tertulis, dalam ekspektasi yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan dalam cara kita memandang perempuan setiap hari.
Membongkar misogini berarti lebih dari sekadar mengubah cara kita berbicara tentang perempuan. Ia menuntut kita mempertanyakan aturan yang selama ini dianggap wajar, tetapi sesungguhnya dibangun di atas relasi kuasa yang timpang. Selama patriarki masih menentukan siapa yang boleh marah, siapa yang layak memimpin, siapa yang harus menjaga citra, dan siapa yang terus diawasi, standar ganda akan terus menemukan cara untuk bertahan.
Tren “There’s a Man” mungkin hanya berlangsung beberapa minggu di TikTok. Namun, percakapan yang dibukanya mengingatkan kita bahwa ketidakadilan gender tidak selalu hadir dalam bentuk yang mencolok. Sering kali, ia justru bersembunyi dalam hal-hal yang setiap hari kita anggap biasa.






