Hari Valentine dari perspektif feminisme

Valentine Banyak Dilarang, Maknai ‘Hari Kasih Sayang’ Secara Feminis

Perayaan hari Valentine kerap dilarang, terutama di sejumlah daerah di Indonesia. Padahal, ia tidak melulu soal asmara dan ‘pergaulan bebas’. Begini cara memaknai ‘hari kasih sayang’ bagi feminis, termasuk memandangnya dari perspektif kritis soal relasi gender tradisional dan kondisi perempuan di masa sulit.

Larangan dari pemerintah untuk merayakan hari valentine atau hari kasih sayang, hampir datang setiap tahun. 

Yang kami catat misalnya, di Depok, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok, Jawa Barat di tahun 2023 pernah mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang larangan merayakan Hari Kasih Sayang ini di sekolah. 

“Menjaga mereka (remaja–red) agar terhindar dari kegiatan yang bertentangan dengan norma agama, sosial dan budaya Indonesia berkenaan dengan Hari Valentine.” 

Ini seperti tertulis dalam laman resmi Dinas Pendidikan Depok, penerbitan surat edaran ini dikatakan menjadi bagian dari upaya membangun karakter peserta didik yang berakhlak mulia. 

Pemerintah Kabupaten Pasuruan juga pernah melarangnya di tahun 2017. Dalam laman website pasuruankab.go.id tertulis, yang paling penting adalah orang tua diharapkan senantiasa mengawasi putra-putrinya agar melarang apapun kegiatan yang kaitannya dengan Valentine, karena nanti disalahartikan dengan pergaulan bebas. 

Di tahun 2019, Pemkot Bandung juga mengeluarkan Surat Edaran (SE) melarang pelajar untuk merayakan Valentine Day. 

Baca Juga: Melarang Valentine, Depok Disebut Kota Intoleran dan Moral Panic

Lalu Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Aceh Besar pada Februari 2024 pun melarang keras masyarakat Aceh Besar untuk merayakan Valentine Day atau lazim disebut sebagai hari kasih sayang. Dalam seruan bersama Forkopimda Aceh Besar itu secara tegas menyatakan budaya tersebut sangat bertentangan dengan syariat Islam dan haram hukumnya untuk dirayakan. Dalam laman acehbesarkab.go.id 7 Februari 2024 tertulis bahwa budaya perayaan hari Valentine ini sangat bertentangan dengan syariat Islam dan Undang Undang Nomor 44 Tahun 1999 Tentang penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, dan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11 Tahun 2022 Tentang Pelaksanaan Syariat Islam di Bidang Aqidah, ibadah dan syariat Islam. 

Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Bogor di tahun 2019. Pelarangan dari Pemerintah Kota Banda Aceh di tahun 2016, juga di Kabupaten Gresik di tahun 2017, juga sejumlah daerah lainnya. 

Valentine seperti momok yang menakut-nakuti para remaja dan orang muda demi tak melakukan pergaulan bebas. Padahal, jika hanya mengungkapkan kasih sayang, apakah ini identik dengan pergaulan bebas?

Nah, pertama-tama, kita perlu mengenali asal-usul Valentine berdasarkan sejumlah versi sejarah. Kenapa perayaannya justru dilarang di beberapa daerah dengan maknanya sebagai hari kasih sayang? Lalu, bagaimana konsep Valentine dipahami dari perspektif feminisme; mungkinkah ini menjadi momen perempuan menyayangi diri sendiri dan sesama di tengah kondisi yang sulit?

Makna Valentine di beberapa tempat termasuk Indonesia menyempit jadi ‘pergaulan bebas’. Maka pelarangannya, terutama di Indonesia, kerap muncul dengan dalih kepercayaan dan budaya. Padahal ia bisa diperingati sebagai hari untuk merayakan kasih sayang secara luas. Tidak hanya secara asmara, tetapi juga untuk konteks sosial.

Konde.co menghubungi Isthiqonita, manajer kampanye dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK). Ia menyatakan, Valentine sejatinya hanya sebuah momentum untuk merayakan kasih sayang. Kasih sayang ini maknanya juga luas, tidak sebatas hubungan asmara. Ada kasih sayang pada ibu, saudara, teman, kakak, dan sebagainya. Namun yang terjadi selama ini, pelarangan selalu dilakukan atas nama agama dan atas nama pergaulan bebas. Padahal agama mestinya mempromosikan kasih sayang.

“Jadi Valentine hanya salah satu momentum untuk mempromosikan kasih sayang. Jangan dihubung-hubungkan dengan agama,” kata Isthiqonita ketika dihubungi Konde.co, Rabu (12/2/2025).

Isthiqonita menyatakan, justru yang tidak boleh dilakukan adalah melakukan kekerasan atas nama agama. Sebab selama ini kita sudah banyak menyaksikan kekerasan karena adanya perbedaan. Jadi Valentine sejatinya adalah momentum untuk mengungkapkan kasih sayang.

“Kita mengalami banyak kekerasan karena berbeda-beda. Jadi seharusnya ini momentum mengungkapkan kasih sayang satu sama lain. Dengan adanya Valentine bisa jadi momen untuk lebih banyak menyayangi manusia. Mengungkapkan kasih sayang adalah hal positif. Dan yang ditolak harusnya upaya-upaya yang melakukan kekerasan, persekusi, dan lain-lain.”

Hari Valentine secara umum dikenal sebagai ‘hari kasih sayang’. Namun, terlepas dari kontroversi perayaannya, bagaimana feminisme memandang selebrasi Valentine? Bisa jadi, konsep ‘hari kasih sayang’ dekat dengan solidaritas sesama perempuan. Atau justru jauh dari perempuan yang selama ini tertindas oleh patriarki dan kapitalisme.

Feminisme yang inklusif mendorong perayaan Valentine sebagai hari untuk merayakan semua bentuk cinta. Jadi, ‘hari kasih sayang’ bukan hanya untuk relasi cinta romantis heteronormatif. Ini termasuk menyayangi diri sendiri (self-love), persahabatan, keluarga, dan hubungan non-heteronormatif.

Selain itu, feminisme juga melihat Hari Valentine sebagai hal lain. Seperti kesempatan bagi perempuan untuk mengekspresikan cinta dan kasih sayang dengan cara yang mereka pilih. Tanpa tekanan dari norma sosial yang membatasi peran mereka.

Di sisi lain, perayaan ini belakangan identik dengan keharusan untuk menunjukkan cinta lewat kencan dan memberi hadiah. Ini membuat perayaannya lekat dengan kapitalisme. Sejumlah feminis pun melihat Valentine sebagai produk kapitalisme yang menekankan konsumsi berlebihan. Seperti bunga, cokelat, dan hadiah mahal. Mereka berpendapat, ini memperkuat standar hubungan yang berbasis materi dan bisa menekan individu, terutama perempuan, untuk memenuhi ekspektasi romantis tertentu.

Baca Juga: 5 Fakta Depok Kota Intoleran: Pelarangan Valentine Sampai Rancang Kota Religius

Beberapa dari mereka juga mengkritik Hari Valentine yang sering kali menempatkan perempuan sebagai objek penerima cinta dalam hubungan heteronormatif. Tradisi yang mengharuskan laki-laki memberi hadiah bisa memperkuat ketimpangan pada norma gender tradisional.

Meski tidak secara langsung mengarah pada tradisi Valentine, kritik terkait relasi romantis tradisional dilontarkan Emma Goldman, seorang anarkis feminis. Ia mengkritik relasi pernikahan dan norma-norma cinta romantis dalam esainya Marriage and Love (1910). Menurutnya, cinta sejati tidak bisa dipaksa oleh aturan sosial atau komersialisasi. Hal ini relevan dengan kritik feminis terhadap Valentine sebagai hari yang dimanfaatkan oleh kapitalisme.

Tokoh feminis bell hooks juga mengkritik kuasa dan dominasi dalam relasi di tengah masyarakat patriarkal. Dalam bukunya All About Love: New Visions (2000), ia menekankan bahwa cinta sejati harus berlandaskan saling menghormati dan kesetaraan. Jadi, bukan konsumsi atau kepemilikan seperti praktik peran gender tradisional yang selama ini diamini dalam konsep Valentine.

Tidak hanya itu, feminisme masa kini juga melihat konsep hari tersebut sebagai ‘dua sisi koin’ di tengah kesulitan yang dialami perempuan. Termasuk di Indonesia. Tentu ia bisa dipahami sebagai hari untuk menebarkan cinta kasih kepada sesama, sekaligus memperkuat solidaritas rakyat. Namun bagi sebagian lainnya, barangkali perempuan tak punya waktu dan kesempatan untuk merayakan Valentine dengan cara yang diketahui selama ini.

Baca Juga: Valentine, Tak Sekadar Urusan Asmara, Ada Perjuangan Melawan Pemaksaan

Hal itu sebagaimana yang dikatakan Mutiara Ika dari Perempuan Mahardhika. Menurutnya, Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’ justru terasa jauh saat hidup dalam masyarakat yang patriarkis.

“Pada kenyataannya, perempuan terhimpit dengan banyak hal,” ungkap Ika kepada Konde.co, Kamis (13/2/2025). “Satu, terhimpit dari kebijakan negara, menekan pekerjaan kecil. Juga terhimpit dari norma.”

Ika juga menyebut beban domestik serta kekerasan di tempat kerja atau di rumah sebagai ‘ironi’ dari perayaan hari Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’.

“Jadi hari kasih sayang itu terasa jauh dalam masyarakat yang masih patriarkis. Dan juga di tengah kemiskinan yang merajalela.”

Di satu sisi, Ika setuju bahwa hari Valentine bisa dimaknai sebagai hari kasih sayang bagi perjuangan gerakan perempuan. Dengan terjadinya penindasan terhadap perempuan dan rakyat secara umum, dukungan satu sama lain menjadi penting.

Baca Juga: Valentine Tak Melulu Urusan Asmara, Bisa Dilakukan Dengan Berbagai Cara

“Iya, kita bisa men-twist gitu ya, positif, untuk saling mendukung,” kata Ika. “Dan menurut aku juga itu yang dibutuhkan sekarang. Karena, di masa yang sulit ini, yang bisa kita lihat, ya, sesama kita sendiri. Sesama orang-orang kita, orang-orang kecil ini, rakyat kecil ini.”

Namun, Ika juga ragu Valentine semata-mata dilihat sebagai momen untuk memperkuat sesama. Ia kembali menekankan, perayaannya yang lazim diketahui selama ini terasa ‘berjarak’ dari masyarakat sekarang. Sebab, rakyat sedang ‘digempur’ habis-habisan oleh penguasa yang sewenang-wenang.

“Karena hari kasih sayang sendiri tuh, dia terasa sangat… Apa, ya? Nggak ada waktu kayaknya bagi rakyat untuk memikirkan ‘hari kasih sayang’, gitu,” tukasnya. “Dengan banyak hal, dengan gempuran banyak hal ini yang semakin memisahkan rakyat. Terasa eksklusif, nggak dekat ya, sama kita.”

3 Versi Sejarah Valentine

Dilansir dari history.com, perayaan hari Valentine dipercaya bermula pada abad ke-3. Tepatnya pada tahun 270-an Masehi. Memang ada 3 versi cerita tentang hari ini:

1. Laki-laki Harus ke Medan Perang, Tak Boleh Menikah

Semua bermuara ke masa kekuasaan laki-laki. Pada saat itu, Kaisar Claudius II yang memerintah Romawi tidak mengizinkan laki-laki muda untuk menikah.

Ia menggariskan bahwa tempat laki-laki adalah di medan perang, ketimbang membina rumah tangga dan menghidupi keluarganya. Perkawinan dinilai dapat mengganggu fokus para lelaki dalam militer. Selain itu, agama Kristen pada saat zaman Romawi Kuno dianggap sebagai agama yang sesat.

Versi pertama sejarah lahirnya hari Valentine diwarnai dengan penghormatan untuk Santo Valentine. Santo Valentine pemimpin agama Katolik saat itu tidak percaya pada ideologi Claudius II. Lantas diam-diam, Valentine mengatur pernikahan dengan melawan perintah sang Kaisar.

Ketika akhirnya pernikahan rahasia ini diketahui, Valentine dijebloskan ke penjara dan dijatuhi hukuman mati. Santo Valentine dianggap seorang martir karena telah membantu menikahkan pasangan Kristen. Ia juga ingin membangun peradaban berdasarkan cinta-kasih dalam keluarga.

2. Santo Valentine Jatuh Cinta pada Anak Sipir Penjara

Versi kedua bercerita, Santo Valentine jatuh cinta kepada putri sipir penjara ketika dia dipenjara. Santo Valentine memberikan surat untuk mengungkapkan perasaannya pada tanggal 14 Februari sebelum dieksekusi. Di surat itu ia menuliskan, “Dari Valentine-mu.”

3. Perayaan Mengenang Santo Valentine

Versi lainnya menyebut bahwa hari tersebut lahir karena festival di Roma yang bernama Festival Lupercalla. Pada festival tersebut, laki-laki akan mendapatkan seorang perempuan berdasarkan undian. Setelahnya, mereka akan berkencan selama setahun untuk saling mengasihi bahkan ada yang sampai menikah. Gereja mengubah ini menjadi sebuah perayaan Kristen sekaligus untuk mengenang Santo Valentine.

Valentine, Momen Menyayangi Diri Sendiri dan Bersolidaritas

Merayakan Hari Valentine seharusnya boleh saja dalam pengertiannya sebagai hari kasih sayang. Di sisi lain, ini juga bisa jadi momentum kita untuk keluar dari stereotipe hubungan dan peran gender tradisional, serta menyebarkan kasih sayang lebih luas lagi di tengah masa-masa sulit.

Kamu bisa merayakan Valentine dengan teman, saudara, atau orang-orang dekatmu. Cobalah untuk melihatnya seperti pernyataan dan harapan Sian Ferguson dalam everydayfeminism.com berikut ini.

1. Merenungkan Relasi dengan Pasanganmu

Hari Valentine bisa dimanfaatkan dengan melakukan refleksi tentang relasi kamu. Apakah ada penindasan di dalam relasimu dengan pasanganmu? Apakah ada pemaksaan-pemaksaan atau pengekangan yang membuat kamu merasa tidak nyaman? valentine bisa jadi momen untuk perenungan untuk itu semua.

2. Saatnya Kamu Mencintai dan Merawat Dirimu

Ini hal yang sering kita lupakan, yaitu mengurus diri sendiri. Padahal memperhatikan diri sendiri adalah sesuatu yang penting untuk membuatmu merasa dicintai dan merasa lebih berarti. Maka gunakan momen valentine untuk kebahagiaanmu sendiri, bahwa kamu berhak mendapatkan perawatan yang layak.

Kamu bisa menghadiahi diri sendiri dengan membeli sesuatu yang kamu sukai dan sangat kamu inginkan. Kamu juga bisa mengambil waktu untuk melakukan hal-hal kecil yang membuat kamu merasa baik, seperti mencoba beberapa makanan lezat, membaca, atau praktek membuat kerajinan sendiri. Atau kamu bisa mengambil waktu untuk merencanakan dan berkomitmen untuk secara rutin merawat diri sendiri di masa yang akan datang.

3. Rayakan dengan Hadiah Buatan Sendiri

Jika kamu ingin memberikan hadiah untuk orang yang kamu sayangi pada hari valentine, kamu bisa membuat hadiah sendiri. Hadiah handmade seperti kartu, rajutan, barang-barang rumah tangga bisa kamu berikan sebagai hadiah yang manis. Dan, dijamin mereka akan senang menerimanya apalagi jika mereka tahu kamu telah meluangkan waktumu untuk hadiah itu.

4. Ungkapkan Kasih Sayang Pada Sesama

Komunitasmu adalah orang-orang yang selama ini berada di sekelilingmu. Mereka adalah orang-orang yang selalu mendukungmu. Kamu bisa melakukan ini bersama-sama komunitasmu, misalnya menyediakan buku-buku untuk anak-anak secara gratis di hari Valentine ini, mengunjungi panti jompo bersama-sama, atau sekadar membersihkan sampah secara bersama-sama. Keterlibatan komunitas selalu harus datang dari tempat cinta yang berpusat pada kebutuhan bersama.

5. Rayakan Valentine dengan Semua Cinta

Hari valentine bisa menjadi waktu yang tepat untuk merayakan persahabatan, hubungan keluarga dekat, dan hubungan yang penuh kasih. Kirimi saudaramu email atau ucapan untuk mengingatkan mereka betapa kamu sangat menghargai mereka. Pergi keluar untuk makan malam dengan teman-teman terbaikmu, kunjungi kakek-nenekmu untuk minum teh adalah hal yang bisa kamu lakukan. Jika kamu memiliki anak-anak, mungkin kamu bisa membawa mereka ke pantai, taman, atau menonton film. Bisa juga kamu memberikan hadiah kecil untuk rekan kerjamu atau tetanggamu.

6. Luangkan Waktu Spesial untuk Teman atau Saudara yang Tinggal di Tempat Jauh

Apakah ada seseorang yang kamu jadikan teman dekat atau tempat untuk curhat, tapi kamu tidak pernah sempat untuk meminta mereka datang atau bertemu? Mungkin ada temanmu yang belum banyak kamu temui selama ini. Mengapa tidak menggunakan hari Valentine untuk menemui mereka?

Yang terpenting, kita bisa memperluas makna Valentine. Ia bukan hanya soal cinta kasih secara romansa, tapi juga solidaritas dan persahabatan. Cara lain untuk memaknai hari kasih sayang ini adalah dengan bergabung dengan kegiatan sosial yang mendukung perempuan, misalnya. Seperti berbagi kepada korban kekerasan berbasis gender atau komunitas perempuan marginal.

Jadi, hari Valentine tidak berhenti pada makna asmara dan ‘pergaulan bebas’, kok! Gunakan juga hari ini sebagai momen menyayangi diri sendiri serta untuk advokasi. Kampanyekan isu-isu kesetaraan gender, hak perempuan, dan perlindungan dari kekerasan dalam hubungan. Merayakannya bisa dengan cara yang lebih kritis, sadar, dan bebas dari ekspektasi gender tradisional.

Salsabila Putri Pertiwi dan Luviana

Redaktur dan Pemimpin Redaksi Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!