Bendera Merah Putih dan Jolly Roger ‘One Piece’, Manifesto Perlawanan yang Gentarkan Penguasa

Dari Indonesia sampai Grand Line, bendera menjadi penanda eksistensi dan simbol perlawanan. Bendera merah-putih Indonesia dan jolly roger dari animasi One Piece sama-sama manifestasi perjuangan melawan penguasa yang lalim.

80 tahun yang lalu, pada tanggal 17 Agustus 1945, udara Jakarta dipenuhi rasa genting. Di halaman rumah Laksamana Maeda di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Sukarno membacakan naskah proklamasi. Beberapa jam kemudian, kain berwarna merah dan putih dijahit tergesa-gesa menjadi bendera, lalu dinaikkan perlahan. Kain bendera itu bukan sekadar simbol negara baru—ia adalah tanda bahwa sebuah bangsa telah lahir dari rahim penderitaan.

Saat itu, bendera merah-putih dikibarkan bukan dalam rangka seremonial, melainkan tantangan. Tantangan pada kekuatan asing yang belum rela melepaskan kekuasaannya. Tantangan pada risiko peluru yang bisa datang kapan saja. Dalam memoirnya, Mohammad Hatta menulis, “Sekali Merdeka, tetap Merdeka. Sekali berkibar, jangan pernah diturunkan.”

Puluhan tahun kemudian, menyeberangi batas realitas, kita masuk ke dunia One Piece, sebuah kartun Jepang karya Eiichiro Oda yang diluncurkan perdana pada tahun 1997. Di sana, di atas kapal Going Merry dan Thousand Sunny, berkibar bendera bergambar tengkorak (jolly roger) bertopi jerami milik tokoh utamanya, bajak laut Monkey D. Luffy. Sama seperti bendera merah-putih, bendera ini adalah nyawa para kru bajak laut. Dalam salah satu arc, Luffy berseru lantang: “A ship without a flag is not a ship at all! (Kapal tanpa bendera sama sekali bukan kapal!) Menghancurkan jolly roger berarti memutus harga diri dan mimpi dari seluruh kru bajak laut itu.

Baca juga: Berbagai Cara Pekerja Menolak Omnibus Law: Lakukan Upacara Bendera

Bergeser ke tahun 2025, kedua bendera tersebut ‘berjumpa’ di tengah carut-marut perasaan rakyat Indonesia terhadap situasi negara ini. Bendera jolly roger mulai berkibar di sudut-sudut kota, di jalanan, di antara semarak menyambut usia ke-80 tahun Indonesia. Barangkali berawal dari keisengan, tapi hal itu kontan bikin pemerintah uring-uringan. Mereka melihat jolly roger One Piece sebagai anomali berbahaya, ancaman subversif. Reaksi paranoid tersebut justru membuat semakin banyak orang menghadirkan jolly roger di tengah merah-putih yang kini maknanya seakan hanya hadir untuk seremoni, alih-alih mengingatkan bahwa kita pernah melawan ketidakadilan demi meraih kemerdekaan.

Meski berbeda dunia, keduanya berbicara bahasa yang sama: bendera adalah tanda eksistensi. Ia berkata, “Kami ada, kami melawan, kami takkan hilang.”

Mengapa Bendera Jadi Klimaks Perlawanan?

Dalam sejarah dan fiksi, bendera selalu hadir di momen klimaks. Misalnya di Surabaya, Jawa Timur pada 19 September 1945, pemuda Indonesia mengibarkan bendera merah-putih di Hotel Yamato. Bendera itu sebetulnya adalah bendera Belanda, yang mengibarkannya tanpa izin usai Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Para pemuda marah dan memanjat untuk merobek bagian biru bendera Belanda tersebut, dan membiarkannya berkibar sebagai merah-putih. Tindakan itu, yang hanya berlangsung hitungan menit, mampu mengguncang kota dan mengobarkan semangat perlawanan.

Di One Piece pun, pengibaran Jolly Roger setelah pertempuran—di menara Enies Lobby, di langit Dressrosa—bukan sekadar hiasan kemenangan. Itu adalah deklarasi terbuka: “Kami berhasil. Kami di sini. Kami bebas.”

Bendera menjadi klimaks karena ia adalah simbol publik dari kemenangan kolektif. Senjata bisa disembunyikan, perundingan bisa tertutup, tapi bendera hanya punya satu tempat: di ruang terbuka, di hadapan semua orang. Ia menuntut dilihat.

Penguasa Paranoia Simbol, dan Budaya Pop dalam Gerakan Sosial Modern Indonesia

Bendera adalah bahasa, dan bahasa selalu punya kekuatan. Penguasa—baik kolonial maupun pemerintah negara saat ini—mengerti hal tersebut. Mereka tahu, satu simbol bisa menyatukan massa lebih cepat daripada seribu pidato.

Itulah sebabnya pemerintah kolonial melarang pengibaran bendera merah-putih. Mereka takut melihat rakyat yang tercerai-berai tiba-tiba bersatu di bawahnya. Dan itulah alasan pemerintah Indonesia hari ini bisa merasa terganggu melihat jolly roger berkibar di jalanan hingga aksi massa.

Di atas kertas, jolly roger hanyalah bendera bajak laut fiksi dari manga Jepang. Tapi di jalanan, ia bisa menjadi tanda perlawanan yang tak resmi, tanda solidaritas yang tidak dikendalikan negara. Ketika generasi muda mulai memaknai jolly roger sebagai lambang kebebasan, anti-otoritarianisme, dan setia pada kawan sampai akhir, bendera itu berubah menjadi bahasa politik.

Pemerintah takut bukan pada kain hitam bertengkorak itu, tapi pada makna yang menempel padanya. Makna yang menyebar di media sosial, di mural kota, di kaos aksi, di avatar profil, bahkan di tato kulit. Makna yang membuat orang bertanya, “Kenapa kita harus tunduk?”

Baca juga: Bendera One Piece Jadi ‘Ancaman’? Pemerintah Paranoid, Demokrasi Makin Sempit

Jolly roger sebenarnya bukan satu-satunya simbol fiksi yang menyeberang ke medan aksi. Di beberapa demonstrasi mahasiswa, terlihat bendera bergambar simbol klan Uchiha dari animasi Naruto. Ia menjadi lambang pemberontakan terhadap tatanan sistem yang korup. Ada juga spanduk bertuliskan “Survey Corps” dari animasi Attack on Titan yang dipakai oleh kelompok yang menolak dinding-dinding pembatas kebebasan. Bahkan logo Rebel Alliance dari Star Wars pernah muncul di aksi solidaritas, menyandingkan narasi melawan kekaisaran fiksi dengan kritik terhadap kekuasaan nyata.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: gerakan sosial Indonesia hari ini sedang menciptakan kamus simbol baru. Generasi muda tidak hanya mengandalkan simbol nasional seperti bendera merah-putih, tetapi juga meramu simbol-simbol global yang resonan dengan pengalaman mereka. Budaya pop menjadi jembatan antara lokal dan global, antara sejarah dan imajinasi, antara nasionalisme dan kosmopolitanisme.

Budaya Pop, Bahasa Baru Resistensi

Pop culture atau budaya pop bukan hanya soal hiburan—ia telah menjadi bahasa politik yang efektif. Lagu-lagu grup BTS asal Korea Selatan, misalnya. Dua lagu mereka, “Not Today” dan “Spring Day”, kerap dibawa ke aksi protes di berbagai negara. “Not Today” dengan liriknya yang penuh semangat perlawanan (“All the underdogs in the world, a day may come when we lose, but it is not today”) menjadi semacam mars modern bagi mereka yang menolak tunduk. “Spring Day” juga sering dipakai sebagai nyanyian solidaritas bagi korban kekerasan negara, kehilangan, atau bencana.

Di Indonesia, fenomena ini sudah mulai tampak. Spanduk aksi yang meminjam kutipan lirik, mural yang memadukan karakter anime dengan pesan protes. Bahkan flashmob tarian K-Pop di tengah aksi solidaritas internasional. Ini adalah strategi komunikasi yang cerdas. Ia memanggil perhatian media, menarik simpati publik, dan menyatukan orang-orang yang mungkin awalnya tidak terhubung lewat isu politik tapi terhubung lewat fandom.

Dengan kata lain, budaya pop menyediakan kosakata baru bagi gerakan sosial. Kosakata yang mudah diakses, familiar, dan emosional. Simbol-simbol ini bekerja di dua level sekaligus. Pertama, di level emosional, menguatkan rasa kebersamaan dan keberanian. Kedua, di level politis, menyampaikan kritik dan tuntutan melalui medium yang sulit dilarang tanpa membuat pemerintah terlihat anti-budaya.

Jembatan Antara Bendera Merah Putih dan Jolly Roger One Piece: Kibarkan Bendera, Rebut Angin Perlawanan

Bendera merah-putih lahir dari perjuangan melawan kolonialisme. Jolly roger dalam animasi One Piece lahir dari imajinasi melawan kekuasaan absolut Pemerintah Dunia. Satunya nyata, satunya fiksi. Namun keduanya mengajarkan pelajaran yang sama: kebebasan tidak diberikan, ia direbut.

Ketika anak muda Indonesia menggabungkan keduanya di mural atau spanduk aksi, mereka sedang menciptakan bahasa politik baru. Nasionalisme yang tak tutup mata, yang bersedia belajar dari narasi global tentang perlawanan. Sebuah nasionalisme yang paham bahwa bendera tidak hanya berkibar di tiang negara, tapi juga di hati orang-orang yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Luffy pernah berkata, “I don’t want to conquer anything. I just think the guy with the most freedom in this whole ocean is the Pirate King. (Aku tak ingin menaklukkan apapun. Aku hanya berpikir bahwa orang dengan kebebasan terbesar di seantero lautan ini adalah Raja Bajak Laut.) Kemerdekaan Indonesia pernah berdiri di premis yang sama: bukan untuk menaklukkan, tapi untuk merdeka sepenuhnya.

Pada akhirnya, pengibaran bendera, entah merah-putih atau jolly roger One Piece, adalah tindakan yang melampaui estetika. Ia adalah pernyataan niat, tantangan terhadap mereka yang ingin mengatur segalanya.

Merah-putih mengingatkan kita bahwa kemerdekaan adalah hasil keberanian kolektif. Jolly roger mengingatkan bahwa kebebasan adalah perjuangan tanpa akhir. Begitu pula lagu-lagu pop seperti BTS, simbol Naruto, atau bendera Rebel Alliance; membuktikan bahwa bahasa perlawanan kini lintas-budaya, lintas-generasi, dan lintas medium. Dan keduanya, di darat atau laut, nyata atau fiksi, berbagi angin yang sama—angin perlawanan.

Maka kibarkanlah bendera. Biarkan kain itu berbicara di langit. Karena di dunia yang penuh larangan dan batas, kadang satu-satunya cara untuk hidup bebas adalah mengangkat simbolmu setinggi mungkin, dan membiarkannya dilihat semua orang—termasuk mereka yang ingin merobeknya.

Yuli Riswati

penulis yang jatuh cinta pada cara-cara tak terduga gerakan sosial mengekspresikan diri.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!