Flamingo era

Medsos Salahkan Ibu Bahkan Usai Meninggal, Gagal Paham Rumitnya Filisida dan Bunuh Diri

Kasus filisida dan bunuh diri terjadi pada EN dan dua anaknya di Kabupaten Bandung. Tapi, di tengah duka, media sosial justru berdebat menyalahkan ibu sebagai pelaku tanpa sadar kompleksitas isunya.

Artikel ini memuat pembahasan tentang bunuh diri dan kronologi peristiwa yang berpotensi memicu trauma atau ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca. Redaksi menyarankan kewaspadaan sebelum melanjutkan membaca. Informasi yang disajikan tidak bermaksud menginspirasi atau mempromosikan tindakan serupa.

Patriarki membuat perempuan kerap dihakimi seumur hidup oleh masyarakat. Tapi apakah semua itu usai setelah perempuan meninggal? Sayangnya tidak. Ketika seseorang adalah perempuan, terutama ibu, komentar mendera bertubi-tubi bahkan setelah ia tak bernyawa. Seperti yang terjadi pada EN (34), seorang perempuan warga Kabupaten Bandung yang ditemukan meninggal dunia bersama dengan anak-anaknya yang berusia masing-masing 9 dan 11 tahun pada 5 September 2025.

Berdasarkan pemeriksaan awal, EN diduga meninggal karena bunuh diri. Kepolisian juga menyimpulkan bahwa kematian ibu dan dua anaknya itu bukan dilakukan oleh orang luar. Dugaan polisi, EN menganiaya anak-anaknya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Hal ini diperkuat dengan temuan surat wasiat yang ditulis oleh EN. Ia menceritakan masalah keluarga yang dihadapinya, terutama kesulitan ekonomi, serta memohon maaf kepada seluruh keluarganya. Permintaan maaf khususnya ia tujukan kepada anak-anaknya karena harus mengalami nasib itu. Dalam suratnya, EN sebagai ibu rela “masuk neraka” ketimbang harus membiarkan kedua anaknya mengalami kesulitan di dunia.

Kasus EN menggegerkan media sosial, apa lagi karena hal itu terungkap di tengah carut-marut negara akibat pejabat yang foya-foya. Seperti banyak hal lainnya, kisahnya kemudian menjadi perdebatan di media sosial. Banyak yang berempati, mengutuk pemerintah sebagai biang keladi kesulitan yang menjerat rakyat kecil, tapi tak sedikit pula yang sinis dan menghujat.

Baca Juga: Hari Pencegahan Bunuh Diri; Jika Muncul Pikiran Itu, Ingat Kamu Tidak Sendiri

Berbagai komentar menyesalkan keputusan EN, sang ibu, yang membawa serta anak-anaknya untuk meregang nyawa. “Kenapa bawa anak juga? Kan, bisa titip ke saudara atau panti asuhan.” Banyak pula warganet yang mempertanyakan: mengapa EN tidak mencari bantuan kepada keluarga besar atau tetangga terlebih dahulu? “Masa’ enggak ada saudara yang bisa bantu?”

Di sisi lain, dari banyaknya komentar yang menyalahkan EN, muncul pula suara-suara yang membela perempuan itu. 

“Sudah meninggal masih harus disalahkan. Perempuan selalu dipaksa berpikir rasional walaupun sedang menderita,” tulis sebuah akun.

Penghakiman Terhadap Ibu Bertubi-tubi, Tak Ada yang Berusaha Mengerti

Pola komentar publik yang menyalahkan EN sebagai ibu memperlihatkan suatu hal. Perempuan, utamanya yang miskin dan sudah berada di ambang keputusasaan, tetap dituntut untuk rasional, bijak, dan menemukan solusi untuk anaknya. Seolah-olah, bahkan dalam kondisi depresi, isolasi sosial, dan himpitan ekonomi, ia harus tetap menjadi ibu ideal yang kuat.

Padahal, feminisme menekankan bahwa penderitaan perempuan tidak bisa dipisahkan dari struktur sosial-ekonomi yang menindas. EN bukan hanya seorang ibu yang gagal berpikir rasional. Ia juga subjek yang ditinggalkan sendirian menghadapi beban kolektif.

Pandangan ini sejalan dengan kritik Susan J. Douglas dan Meredith W. Michaels dalam The Mommy Myth tentang cara masyarakat membebankan fantasi ‘ibu sempurna’ kepada perempuan. Ekspektasinya, seorang ibu harus selalu mengutamakan anak di atas segalanya. Serta mampu mengatasi segala masalah dengan bijak, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Mitos ini sama sekali tidak memperhitungkan situasi dan beban ekonomi, sosial, serta emosional yang seringkali harus ditanggung ibu sendirian tanpa dukungan sistem dan negara.

Douglas dan Michaels menjelaskan bahwa intensive mothering adalah konsep pengasuhan yang menuntut ibu untuk sepenuhnya mendedikasikan hidup, waktu, energi, dan sumber daya untuk anak-anak. INi telah menjadi standar yang tidak realistis tapi dipaksakan kepada perempuan. Ketika ibu gagal memenuhi standar yang mustahil ini, ia dihukum paling keras oleh masyarakat, media, bahkan oleh dirinya sendiri. 

Baca Juga: Film ‘Parasite’ sampai ‘Anna’: Di Korea, Stres Akademik Sebabkan Bunuh Diri

Sistem patriarki menggunakan mitos ibu sempurna sebagai alat kontrol. Dengan menempatkan ibu sebagai pusat moral keluarga, masyarakat bisa melepaskan tanggung jawab negara atas kesejahteraan anak dan ibu. Menyalahkan ibu atas segala kegagalan keluarga kemiskinan, anak nakal, dan gizi buruk. Sementara ayah dan sistem luput dari sorotan. Ini menekan perempuan agar tetap di ranah domestik, karena tugas utama ibu adalah mengasuh.

Kasus EN juga membuka diskusi yang lebih luas tentang fenomena bunuh diri. Émile Durkheim, sosiolog Prancis, dalam karyanya Suicide: A Study in Sociology membagi bunuh diri ke dalam empat kategori. Pertama, bunuh diri egoistik yang terjadi karena kurangnya integrasi sosial. Kedua, bunuh diri altruistik akibat keterlibatan kelompok sosial terlalu tinggi. 

Ketiga, bunuh diri anomik yang disebabkan kurangnya regulasi sosial. Keempat, bunuh diri fatalistik karena regulasi sosial yang terlalu ketat. Durkheim menekankan bahwa bunuh diri bukanlah tindakan individual semata, melainkan fenomena sosial yang dapat diprediksi berdasarkan tingkat integrasi dan regulasi dalam masyarakat. Namun, teori klasik Durkheim ini belum memahami pengalaman perempuan.

Psikolog Silvia Sara Canetto dalam penelitiannya menjelaskan motivasi bunuh diri perempuan sering kali berkaitan dengan peran gender sebagai pengasuh dan tanggung jawab terhadap keluarga. Ini menciptakan tekanan psikologis yang spesifik dan tidak dapat dipahami melalui kategori Durkheim yang netral gender.

Bunuh diri perempuan sering kali diabaikan, dipinggirkan, atau direduksi menjadi tindakan emosional, kelemahan, atau kegagalan perempuan. Bila Durkheim beranggapan ikatan sosial seperti keluarga dan komunitas sekitar bisa melindungi seseorang dari bunuh diri. Namun, Carnetto menunjukkan bahwa bagi perempuan, ikatan itu bisa berarti beban tambahan, kontrol, subordinasi, dan isolasi.

Dukungan yang Rapuh di Tengah Kemiskinan

Kisah EN juga memperlihatkan bahwa ia tidak sepenuhnya diam atau menutup diri. Dari informasi suratnya, ia masih berusaha bercerita kepada orang di sekitarnya. EN merasa malu yang mendalam karena merasa telah merepotkan keluarga dengan kesulitan ekonomi. Ketika publik bertanya, “Kenapa anak-anak tidak dititipkan ke saudara atau tetangga?”, mereka mengasumsikan bahwa jaringan sosial keluarga, kerabat, komunitas selalu mampu menjadi jaring pengaman.

Dalam All Our Kin: Strategies for Survival in a Black Community, Carol B. Stack menunjukkan bahwa jaringan kekerabatan di komunitas miskin memang berfungsi sebagai penopang hidup sehari-hari. Orang saling berbagi uang, makanan, bahkan tempat tinggal, sehingga tidak ada keluarga yang benar-benar dibiarkan sendirian. Namun, dukungan itu bersifat rapuh karena semua orang berada dalam kondisi kekurangan yang sama.

Bantuan dari satu keluarga sering berarti beban berpindah ke keluarga lain. Stack menulis bahwa solidaritas semacam ini adalah strategi bertahan, tetapi ia tidak mampu mengangkat orang keluar dari kemiskinan. Justru, ikatan timbal balik kadang memperkuat siklus ketidakberdayaan, sebab orang yang memberi bantuan hari ini akan menuntut balasan esok hari, meskipun keduanya sama-sama kekurangan. Komunitas miskin memiliki keterbatasan struktural. Dukungan informal hanya bisa menahan kejatuhan sementara, bukan mengubah keadaan. 

Baca Juga: Kesepian Di Tengah Pandemi, Komunitas Disabilitas dan LGBT Rentan Bunuh Diri

Inilah yang tidak dipahami oleh komentar-komentar di media sosial. Mereka membayangkan keluarga atau tetangga sebagai entitas yang stabil, mapan, dan punya cadangan sumber daya. Kita sebenarnya sedang menuntut EN untuk berbagi beban dengan orang-orang yang bebannya sama beratnya.

Kasus EN dan anak-anaknya juga termasuk ke dalam kategori filisida, istilah yang digunakan untuk menyebut pembunuhan anak oleh orang tua, dalam hal ini ibu, sering kali disertai bunuh diri setelahnya (filicide-suicide). Philip Resnick membagi katogori filisida, salah satunya altruistic filicide, yaitu pembunuhan terhadap anak untuk mencegah penderitaan mereka. Dalam studi The Offense Characteristics of Maternal Filicides in eSwatini: Adding to Resnick’s Classification Model, filisida adalah tindakan yang faktornya sangat kompleks.

Misalnya ditemukan bahwa sebagian besar ibu pelaku filisida adalah muda, sering berada dalam status tanpa pasangan atau hubungan yang berubah-ubah, dan menghadapi tantangan materi seperti pengangguran dan kemiskinan. Motivasi utama antara lain adalah kurangnya sumber daya keuangan untuk mendukung anak-anak, tekanan dari hubungan dengan pasangan (seperti putus hubungan atau konflik), serta norma budaya yang sangat membebani perempuan dalam tanggung jawab pengasuhan. Penelitian dari eSwatini menunjukkan temuan bahwa penggunaan racun oleh ibu kandung terjadi dalam semua upaya filisida-bunuh diri.

Fenomena filisida seperti yang terjadi pada kasus EN menunjukkan betapa kompleksnya faktor-faktor yang mendorong seorang ibu melakukan tindakan ekstrem tersebut. Namun, dalam era media sosial dan jurnalisme digital saat ini, cara masyarakat dan media memberitakan kasus-kasus tragis seperti ini memiliki dampak yang tidak kalah penting untuk diperhatikan.

Baca Juga: Kasus Bunuh Diri Di Jepang Meningkat Dan Didominasi Perempuan

Pemberitaan kasus bunuh diri dan filisida memerlukan kehati-hatian khusus karena dapat memicu efek peniruan (copycat effect) di kalangan individu yang sedang mengalami kondisi mental serupa. Diskusi publik di media sosial yang cenderung menyalahkan dan mengkritik keputusan EN tanpa memahami kompleksitas masalah kesehatan mental yang melatarbelakanginya juga dapat memperparah stigma terhadap bunuh diri dan filisida.

Dalam memberitakan kasus bunuh diri, media dan masyarakat memiliki tanggung jawab besar untuk tidak memperparah dampaknya. Sebagaimana dirinci oleh Into the Light Indonesia  dalam Pedoman Pemberitaan Terkait Tindak dan Upaya Bunuh Diri, pemberitaan yang tidak tepat seperti menyebutkan metode secara rinci, menampilkan foto dan memberikan narasi yang simplisitis dapat menimbulkan efek penularan bagi individu lain yang sedang berada dalam kondisi rentan. Pedoman tersebut menekankan pentingnya pemberitaan yang bertanggung jawab, yaitu dengan menghindari sensasionalisme, tidak menempatkan bunuh diri sebagai solusi, dan fokus pada narasi pencegahan serta pemulihan kesehatan mental. Narasi media memiliki kekuatan tidak hanya untuk membingkai pemahaman publik tetapi juga untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Alih-alih terus menyalahkan EN atau mencari kambing hitam, sudah saatnya kita melakukan refleksi tentang struktur sosial yang memungkinkan tragedi seperti ini terjadi. Kita perlu mempertanyakan mengapa sistem kesehatan mental masih sangat terbatas aksesnya, atau mengapa dukungan sosial untuk ibu atau keluarga miskin masih minim. 

Berikut informasi layanan dukungan yang dapat dihubungi bila kamu atau orang dekat menunjukkan tanda-tanda krisis:

1. BISA Suicide Prevention Helpline, layanan dukungan kesehatan mental dan psikososial yang inklusif, tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Inggris sepanjang hari (24 jam)

2. Layanan SEJIWA (Pemerintah Indonesia) hubungi 119 (nomor layanan darurat nasional yang juga menangani permintaan ambulans).

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!