Serial Culture Shock dan Kekacauan Seksualitas: Ketakutan Pada Keperawanan dan Keperjakaan Ditanamkan pada Tubuh

Apa jadinya kalau laki-laki harus menjaga keperjakaan seperti perempuan dituntut menjaga keperawanannya?

Serial Culture Shock yang tayang di Vision+ dan Netflix mengupas kebingungan remaja tentang tubuh, hasrat, dan aturan sosial yang masih dianggap tabu.

Riko (diperankan Ajil Ditto), seorang anak laki-laki yang tinggal di Muara Enim Palembang selalu sakit-sakitan. Orang-orang percaya bahwa anak sakit-sakitan ada hubungannya dengan nama.  Ia pun menjalani ritual ganti nama, plus dibawa ke ‘orang pintar’. Orangtuanya diberi mandat bahwa Riko harus tetap perjaka sampai umur tiga puluh. Jika gagal, nyawanya taruhannya.

Ayahnya yang lebih sering keluar masuk rumah perempuan daripada rumah sendiri tidak terlalu peduli dengan nasib Riko. Akhirnya sang ayah pergi dari rumah meninggalkan mereka. 

Ibu Riko, Desi (diperankan Dea Ananda) pun mengurus Riko sendirian. Masuk SMA, demi menempuh pendidikan yang terbaik, Riko dan ibunya hijrah ke Jakarta, meninggalkan usaha cateringnya yang sudah mapan.

Di sinilah Riko mulai dapat masalah terkait keperjakaannya. 

Berada di tengah-tengah perempuan membuatnya sering ereksi. Melihat sela payudara, bersentuhan, bahkan mendengar suara perempuan di toilet membuatnya tegang. Ia panik, tubuhnya gemetar, napasnya sesak, seolah sedang mengalami serangan jantung. Ia takut. Takut keperjakaannya melayang, takut mati di usia dua puluhan hanya karena tubuhnya bereaksi secara biologis. Karena definisi keperjakaan menurut Riko barangkali sederhana: jika spermanya keluar, tamat sudah riwayatnya, padahal tidak melakukan hubungan seksual.

Memang, definisi keperjakaan tidak pernah jelas, sama seperti keperawanan. Jika keperawanan selama ini diukur dari keberadaan selaput dara, yang secara medis pun tidak bisa menjadi patokan. Maka keperjakaan laki-laki bahkan lebih tidak jelas lagi. Apakah hilang saat melakukan penetrasi pertama kali? Apakah terhitung hilang jika hanya melakukan aktivitas seksual tanpa penetrasi? Ataukah keperjakaan hilang saat seseorang ejakulasi, seperti ketakutan Riko?

Laki-Laki juga Bingung Soal Seksualitas

Sementara itu, Riko bingung harus bertanya ke siapa tentang masalahnya. 

Ia tidak mungkin sembarang bercerita tentang ereksinya, apalagi ke ibunya. Laki-laki juga punya kekhawatiran tentang tubuhnya dan masalah seksualitas, tapi mencari jalan keluar sendiri yang sering konyol dan bisa berbahaya. 

Seperti di serial ini, Riko disuruh memakan kangkung dan juga produk MLM (multi level marketing). Ketika ia mencoba bertanya ke guru BK, malah mendapat asumsi bahwa itu penyakit kelamin. Ada harapan tak terucap bahwa laki-laki harus sudah paham sendiri tentang seksualitasnya, harus bisa menaklukkan tubuhnya tanpa perlu bimbingan. Inilah yang membuat banyak laki-laki lebih memilih diam atau mencari solusi di tempat yang salah, kayak Riko. 

Serial ini mengajak kita melihat seksualitas dari sudut yang jarang dibahas. Bahwa laki-laki pun bisa kebingungan, dicekam rasa takut, dan tidak punya tempat untuk bertanya.

Peggy Orenstein mewawancarai banyak remaja laki-laki dari berbagai ras, agama, budaya, dan tempat tinggal tentang pengalaman mereka dengan seks, pornografi, dan hubungan romantis. Bukunya Boys & Sex: Young Men on Hookups, Love, Porn, Consent, and Navigating the New Masculinity menunjukkan bagaimana remaja laki-laki sering merasa bingung karena tidak ada yang mengajarkan mereka cara memahami seksualitas secara sehat.

Baca juga: Serial ‘Pay Later’: Ketika Perempuan Jadi Objek Konsumerisme dan Seksualitas

Remaja laki-laki melaporkan lebih banyak tekanan sosial untuk selalu siap berhubungan seks dan memiliki pasangan sebanyak mungkin; merasakan stigma yang lebih kuat terhadap homoseksualitas; dan menerima lebih banyak pesan bahwa mereka harus menyesuaikan diri dengan peran gender yang kaku di rumah dan berbual tentang hookup culture (seks dianggap sebagai sesuatu yang kasual, eksploratif, dan sering kali tanpa ikatan jangka panjang) di luar rumah. 

Kebanyakan mereka belajar tentang seksualitas dari pornografi yang diakses di ponsel mereka, tanpa memedulikan kekerasan, rasisme, fetish kejam, dan eksploitasi manusia dalam pornografi. Beberapa anak laki-laki kemudian khawatir dengan kontur tubuh mereka sendiri terutama ukuran penis. 

Sampai tingkat tertentu, pornografi telah memperburuk masalah. “Semua laki-laki menonton film porno dan kemudian menjadi sangat gugup tentang ukuran penis kami” tulis seorang narasumber Peggy.

Sabrina dan Standar Ganda Seksualitas

Kalau Riko terjebak sama keperjakaannya, Sabrina (diperankan Davina Karamoy), teman sekolah yang baru Riko kenal, terjebak sama keperawanannya. 

Sabrina yang baru saja diputuskan pacarnya karena satu alasan yang terdengar nggak masuk akal tapi sering terjadi: keperawanan. Pacarnya ingin seseorang yang sudah berpengalaman. Karena bagi pacar Sabrina keperawanan sebagai sesuatu yang bernilai, sekaligus beban. Sabrina pun merasa kalah dalam kompetisi ini. Baginya, satu-satunya cara untuk menebus ketertinggalannya adalah dengan segera mengakhiri keperawanannya. Urusan siapa yang akan melakukannya, itu hanya detail kecil.

Ada satu percakapan Sabrina dengan Riko yang menarik. Saat Sabrina mengajak Riko tidur dengannya, Sabrina merasa bahwa kenapa kalau perempuan horny tidak boleh mengungkapkan, sementara laki-laki boleh?

Pertanyaan itu seperti mengagetkan aturan tentang ‘perempuan baik’ yang tertanam di kepala Riko. Ada standar ganda yang bahkan tidak pernah ia sadari sebelum ini. Bahwa perempuan harus menahan diri, menutup mulut, dan meredam keinginan seksual, kalau tidak ingin dicap murahan.

Janda, Ibu dan Hasrat yang Dianggap Tak Pantas

Desi, ibu Riko, juga memiliki hasrat seksual yang selama ini ia pendam. 

Suatu malam, saat menonton iklan yang menampilkan tubuh laki-laki yang berotot, ia merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan. Hasrat seksual yang sangat wajar sebagai manusia. Di tempat kerjanya, ia terbawa suasana dan melakukan hubungan seksual dengan atasannya. Sesuatu yang bagi banyak orang mengejutkan. Desi adalah janda yang baik-baik, usianya tidak muda lagi, dan ia hidup untuk anaknya. 

Rachel Vorona Cate dalam bukunya Too Much, How Victorian Constraints Still Bind Women Today menjelaskan bahwa perempuan, bagaimanapun, tidak seharusnya “terangsang”. 

Mengaku sedang “horny”, berarti menjadi sulit diatur secara seksual, dengan nafsu yang begitu berlebihan sehingga menghasilkan kejahatan perselingkuhan serta penyimpangan dan, yang terutama, mempermalukan laki-laki secara seksual. Perempuan yang menua harus memerangi keerotisannya, meninggalkan hari-hari seksualitasnya, dan berpenampilan yang lebih sopan. 

Kesimpulannya, perempuan paruh baya sering dianggap udah “selesai” dengan tubuh dan gairahnya. Mereka diasumsikan tidak lagi tertarik pada seksualitas dan cuma diharapkan jadi ibu yang mengabdi buat anak-anaknya.

Di Indonesia perempuan yang sudah memasuki usia paruh baya juga seperti diharapkan untuk lebih banyak di rumah dan fokus beribadah. 

Adegan jujur Desi mengeksplorasi seksualitasnya mungkin akan dianggap tidak nyaman bagi sebagian penonton yang mengekang seksualitas perempuan paruh baya. Desi menunjukkan bahwa tubuhnya masih hidup, dan dia punya hak buat mengekspresikan hasratnya. Ia menunjukkan agensi untuk membuat keputusan tentang tubuh dan seksualitasnya, meskipun dibatasi oleh norma sosial.

Serial ini dikategorikan untuk penonton berusia 16 tahun ke atas karena mengangkat tema seksualitas, gender, dan konflik psikologis yang kompleks. Dengan total delapan episode, serial ini masih berjalan (on-going), menawarkan eksplorasi mendalam tentang bagaimana individu menghadapi norma sosial yang membentuk pemahaman mereka tentang seks dan identitas diri. Disutradarai oleh Jay Sukmo, serial ini cocok ditonton remaja yang memang banyak menghadapi masalah yang relevan seperti Riko dan Sabrina. 

Baca juga: ‘Dear David’ Buktikan Jika Remaja Perempuan Bisa Mendobrak Tabu Seksualitas

Lucunya, dalam serial ini Riko justru menjalani peran yang selama ini diberikan kepada perempuan. Ia dicekam ketakutan atas keperjakaannya, seperti perempuan yang dituntut menjaga keperawanan. Ia menghindari godaan, menekan keinginan biologisnya, dan dalam kasusnya, ancaman kematian. Sementara laki-laki lain sekitarnya tumbuh dengan kebebasan seksual, Riko justru mengalami stigma yang biasanya hanya diterapkan pada perempuan. Sebuah absurditas yang memperlihatkan bagaimana standar ganda bekerja: bagaimana rasanya jika laki-laki harus menjalani aturan yang mereka sendiri ciptakan untuk perempuan?

Cerita Riko, Sabrina, dan Desi ini menunjukkan betapa norma sosial sering mengekang tubuh dan seksualitas kita. Laki-laki diharapkan untuk selalu kuat dan nggak boleh ngomongin masalah seksual. Perempuan yang muda diharapkan untuk tetap murni, tapi juga nggak boleh ketinggalan dalam “kompetisi” pengalaman seksual. Perempuan paruh baya dianggap udah nggak punya gairah lagi. mencerminkan bagaimana masyarakat sering kali membebani individu dengan norma-norma yang tidak rasional. Dalam cerita ini, baik Riko, Sabrina, maupun Desi terperangkap dalam sistem ini, meskipun mereka mencoba untuk melawannya dengan cara mereka sendiri.

Baca juga: Podcast Deddy Corbuzier Dikecam: Ini Menunjukkan Sulitnya Dialog Keberagaman Gender dan Seksualitas

Seksualitas bukan sekadar lapar yang bisa hilang dengan makan. Hasratnya tak selalu bisa dipenuhi begitu saja, karena harus melewati batas norma, budaya, aturan sosial, hingga kondisi mental. Ada yang terjebak dalam larangan, ada yang takut penilaian orang, ada pula yang belum berdamai dengan dirinya sendiri.

Pendidikan seksualitas yang komprehensif seharusnya bisa menjawab kebingungan seperti yang dialami Riko. Menurut UNESCO (International Technical Guidance on Sexuality Education, 2018), pendidikan seksualitas nggak cuma harus tentang soal biologi, tapi juga soal psikologi, sosial, gender, dan budaya. Pendidikan seksualitas tidak boleh hanya membahas anatomi atau pencegahan penyakit, tetapi juga kesejahteraan emosional, persetujuan dalam hubungan, dan penghormatan terhadap keberagaman gender dan orientasi seksual. Membantu anak muda memahami tubuhnya, hubungan yang sehat, serta hak dan tanggung jawab seksual. Pada akhirnya, pendidikan seksualitas yang terbuka bisa menjadi jawaban agar kita bisa lebih memahami tubuh dan keinginan kita tanpa rasa takut atau malu.

Foto: Netflix.com

(Editor: Luviana Ariyanti)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!