Sabtu itu, Yani (47) sedang bersiap ke kebun kopi, saat kami bertandang ke rumahnya. Ia mengenakan celana panjang, baju lengan panjang, sepatu bot, caping, dan sebuah ransel kecil menempel di punggungnya. Ia tak sendiri, ada Amay (47), Imas (47), dan Jubaidah (45), tetangganya yang juga siap berangkat ke kebun. Hari itu mereka hendak memanen kopi.
Kebun kopi yang menempati areal Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) tersebut terletak di lereng gunung Sangar, yang merupakan bagian dari jajaran pegunungan Malabar, tepatnya di Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.
Mereka bergegas lantaran mendung sudah menggantung di langit. Beberapa bulan terakhir hujan kerap mengguyur desa yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut. Jalan pematang menuju kebun kopi tampak becek tetapi mereka melangkah dengan sigap.

Pohon-pohon kopi arabika varietas Typica yang berusia sekitar sepuluh tahun tersebut sedang berbuah. Tangan Yani cekatan memilih dan memetik ceri kopi yang berwarna merah di antara buah kopi yang sebagian masih berwarna hijau. Ia hanya memetik buah kopi matang yang berwarna merah, biasa disebut ceri kopi merah.
“Saya hanya petik merah, biar biji kopi yang dihasilkan nanti bagus kualitasnya, terus timbangannya juga lebih berat,” tutur Yani.
Ceri merah yang ada di genggaman tangannya kemudian berpindah ke wadah ember yang ditaruh di bawah pohon. Gerakan serupa dilakukan oleh Amay, Imas dan Jubaidah. Selesai memetik ceri merah di satu pohon, mereka berpindah ke pohon yang lain. Buah kopi yang masih berwarna hijau mereka biarkan di pohon dan akan dipetik setelah berwarna merah di pekan-pekan berikutnya. Ceri merah yang terkumpul di ember kemudian ditaruh di karung untuk dibawa ke rumah.

Baca juga: ‘Seribu Bayang Purnama’: Ajak Petani Muda Terapkan Metode Alami, Tapi Perempuan Petani Minim Disorot
Februari biasanya baru awal masa panen, sementara puncak masa panen akan jatuh sekitar bulan keenam atau Juni. Jadi hasil panen yang didapat bulan ini belum terlalu banyak. Biasanya di musim puncak panen, petani kopi arabika bisa mendapat sekitar 20 kg ceri kopi merah dari satu pohon.
Di antara pohon-pohon kopi tersebut tumbuh juga tanaman batang kayu seperti pohon petai, nangka, alpukat, mangga, dan tanaman endemik. Pohon naungan atau peneduh tersebut fungsinya untuk melindungi tanaman kopi dari sinar matahari langsung, menjaga suhu tetap sejuk, dan memperlambat pematangan buah guna meningkatkan kualitas biji.
Tanaman peneduh juga punya fungsi untuk konservasi tanah dan air. Akar pohon peneduh yang kuat membantu menahan erosi tanah pada lahan miring dan membantu menjaga kelembapan tanah, yang sangat penting saat musim kemarau. Pohon batang kayu yang menghasilkan buah tersebut juga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani kopi.

Yani juga menanam tanaman obat dan bumbu dapur seperti kunyit dan cabai di antara pohon-pohon kopi, tetapi jumlahnya tak banyak. Selain sebagai bumbu dapur, kunyit juga bisa menjadi obat kalau badannya terasa capai setelah berkebun. Ia biasa merebusnya dengan jahe dan serai dan meminum air hasil rebusannya.
Di salah satu petak kebun, Yani menyemai bibit kopi. Bibit-bibit tersebut berusia sekitar satu tahun dan siap untuk dipindahkan.
“Pohon kopi yang sudah tua nanti pelan-pelan disulam (digantikan dengan yang baru) lagi dengan bibit yang sudah disemai ini,” ujar Yani.

Yani dan suaminya, Alex, mulai menjadi petani kopi sejak 2006 ketika Perhutani membuka kembali lahannya bagi masyarakat sekitar untuk menanaminya. Saat itu masyarakat diharuskan menanam pohon kopi. Namun ketika itu tidak ada kesepakatan khusus atau tertulis yang mengikat kedua belah pihak.
Baca juga: Manis di Bibir, Pahit di Ladang: Tantangan Petani Kakao Perempuan di Indonesia
Yani dan Alex lalu menentukan areal yang akan mereka olah dan membabat atau membersihkan lahan tersebut. Mereka kemudian mencari bibit kopi secara mandiri dan membelinya dengan uang sendiri. Pada waktu itu Perhutani tidak menyediakan bibit kopi bagi petani, tetapi mereka menjualnya.
“Kami kan petani kecil ya, orang kecil, nggak punya banyak modal. Jadi kami menanamnya bertahap, nggak sekaligus. Kami mah setahun tanam sekian pohon, nanti tahun berikutnya kami tanam lagi,” paparnya.
Selama periode 2006 hingga 2016, Alex, Ketua Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) Amanah Sejahtera, menjelaskan tidak ada kesepakatan secara legal antara masyarakat dengan Perum Perhutani. Setelah itu pada 2016 lahir Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 83 tentang Perhutanan Sosial.
Permen tersebut diikuti dengan Peraturan Menteri LHK Nomor 39 tahun 2017 tentang izin pengelolaan perhutanan sosial. Pada 2017 Alex dan petani di desanya yang tergabung dalam Kelompok Perhutanan Sosial Amanah Sejahtera mengajukan izin kemitraan di Kementerian Kehutanan.
“Kebetulan 2017 lahir Permen LHK Nomor 39 tentang izin pengelolaan perhutanan sosial. Kami kemudian mengajukannya dan Alhamdulillah lahir SK-nya, yakni SK nomor 3922 tahun 2018 tentang IPHPS (Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial) yang meliputi 140 hektare dan terdiri dari 107 anggota penggarap,” papar Alex kepada Konde.co, Kamis (19/2/26).
IPHPS menetapkan kesepakatan-kesepakatan yang diatur oleh SK tersebut dengan perhutani. Jadi ada pembagian keuntungan untuk jasa lingkungan dengan besaran 10% untuk perhutani dan 90% untuk masyarakat pengelola. Sementara untuk agroforestry pembagiannnya 20% untuk Perum Perhutani dan 80% untuk penggarap.
Skema ini berjalan sampai 2022, dan pada 2023 muncul aturan baru yang mengatur tentang Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK). Jadi pada 2023 Alex dan KPS-nya kembali mengajukan izin KHDPK dengan skema Hutan Kemasyarakatan (HKM).
“Alhamdulillah sudah lahir SK baru. Yang dulu kita di IPHPS ada SK nomor 3922 tahun 2018, dan sekarang SK-nya sudah HKM di 8067 di Agustus 2023,” bebernya.
Alex menambahkan pemanfaatan lahan di areal KHDPK dengan skema HKM tidak lagi berhubungan dengan Perhutani, melainkan dengan Kementerian Kehutanan. Jadi tugas dan kewajiban penggarap dan anggota penggarap adalah membayar PNBP langsung ke negara.
Setelah panen pertama, Yani melahirkan anak semata wayangnya. Biaya persalinan ketika itu berasal dari panen kopi. Saat anak laki-lakinya tersebut mulai sekolah, biaya sekolah juga diambil dari panen kopi. Yani merasakan benar manfaat dari bertanam kopi.
Bertahan dan Beradaptasi Hadapi Krisis Iklim
Yani mengaku hasil panen kopinya dalam beberapa tahun terakhir cenderung fluktuatif, kadang naik kadang turun. Menurutnya cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi. Cuaca ekstrem yang
ditandai hujan dengan intensitas tinggi yang kerap terjadi beberapa waktu terakhir, memengaruhi produksi kopinya.
“Dengan jumlah pohon kopi yang sama, misalkan seribu pohon, tapi per tahun teh hasilnya kadang naik, kadang turun,” kata Yani.
Ia menuturkan hasil panen yang menurun terjadi saat hujan turun hampir sepanjang tahun dengan curah yang tinggi. Seperti yang terjadi dua tahun terakhir dengan kondisi cuaca kemarau basah yakni hujan dengan intensitas tinggi tetap terjadi meski sudah memasuki periode musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan perkembangan bunga kopi tidak berjalan dengan sempurna sehingga buah (ceri) yang dihasilkan juga berkurang.
“Bunga kopi kalau nggak keguyur hujan terus-terusan dan dapat sinar matahari yang cukup itu bakal bagus buah kopinya,” ujarnya.
Senada, Ariswandi, pendamping petani dari paguyuban tani Sunda Hejo yang juga mendampingi kelompok perhutanan sosial Amanah Sejahtera menjelaskan cuaca berpengaruh terhadap cepat dan lambatnya panen. Ini lantaran tanaman kopi punya dua fase dalam pertumbuhannya yakni masa vegetatif dan generatif.
Masa vegetatif kopi adalah fase pertumbuhan awal tanaman (daun, akar, cabang) dari kecambah hingga umur 2-3 tahun sebelum berbunga atau berbuah. Fase ini umumnya berlangsung selama pembibitan (0-12 bulan) hingga tanaman muda mulai ditanam di kebun.
Sedang masa generatif kopi dimulai saat tanaman berumur 2,5–4 tahun, ditandai dengan munculnya bunga dan buah. Fase ini meliputi pembungaan, perkembangan buah sekitar 6-9 bulan, hingga panen perdana.
Fase vegetatif, menurut Andi—sapaan Ariswandi—idealnya berlangsung pada saat musim hujan. Sementara di fase generatif, tanaman kopi membutuhkan cahaya matahari yang lebih tinggi.
“Makanya kita pastikan kalau musim panen raya kopi itu biasanya berbarengan dengan peralihan dari musim hujan ke kemarau. Karena proses pematangan kopi itu membutuhkan intensitas matahari yang tinggi,” papar Andi.
Ketika musim hujan menjadi sangat ekstrem dengan curah hujan yang tinggi, Andi menuturkan kondisi itu bisa menyebabkan ceri kopi jadi pecah karena mengandung banyak air. Namun bijinya sebenarnya tetap aman dan hal ini tidak jadi masalah karena dalam proses pengolahan nantinya kulit ceri kopi juga akan dikupas.
Biasanya, ia menambahkan persoalan muncul kalau hujan ekstrem diikuti dengan angin kencang yang membuat bunga dan buah kopi menjadi rontok. Apalagi ketika musim hujan dengan intensitas tinggi terjadi pada saat tanaman sedang ada di fase pembungaan, ini berakibat produksinya akan berkurang. Kopi tidak bisa berbuah dengan sempurna karena penyerbukannya busuk akibat kena air hujan.
Meski begitu bukan berarti pohon kopi tidak berbuah sama sekali, ini lantaran fase pembungaan kopi terdiri dari beberapa tahap. Ada fase bunga pertama, bunga kedua dan bunga ketiga.
“Bisa jadi saat fase bunga kedua musim hujannya sudah lewat sehingga masih bisa tetap panen ceri kopi. Sementara fase bunga pertama menjadi tumbal ketika hujan,” jelasnya.
Dengan kondisi cuaca yang makin sulit diprediksi, menurut Andi hal penting yang harus diperhatikan adalah perawatan dan perlakuan terhadap kopi. Meskipun cuaca ekstrem, tetapi sebenarnya tidak banyak berpengaruh pada buah karena buah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor nutrisi tanaman, bukan oleh paparan matahari ataupun hujan. Andi kembali menegaskan bahwa dampak dari cuaca adalah memperlambat dan mempercepat pembuahan dan pematangan kopi.

Karena itu Andi mengungkapkan kalau proses produksi kopi dilakukan secara alami atau organik yakni tanpa bahan kimia sintetis seperti pestisida atau pupuk buatan, bisa dipastikan kualitas buah dan bijinya akan bagus.
Ia menambahkan dampak dari cuaca ekstrem lebih terasa pada tahap pascapanen yakni saat proses pengolahan, karena pada tahap tersebut kopi mesti melewati proses penjemuran yang membutuhkan cahaya matahari.
Karena itu Andi menegaskan petani perlu menerapkan perlakuan yang mengurangi risiko kerusakan dalam proses pengolahan. Misalnya intensitas pola bolak-balik biji kopi saat penjemuran lebih sering dilakukan ketimbang saat musim panas. Mengupayakan sirkulasi udara di dalam greenhouse tetap terjaga agar tidak tumbuh jamur dan sejenisnya. Serta memperhatikan tingkat ketebalan saat proses penjemuran.
Sementara itu Mia Siscawati, dosen Kajian Gender Universitas Indonesia mengungkapkan saat ini krisis iklim sudah terjadi karena itu penting bagi para perempuan petani kopi untuk beradaptasi dan melakukan mitigasi.
Beradaptasi artinya mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan risiko. Misalnya dengan menggunakan teknologi sederhana untuk mengeringkan biji kopi. Ia menuturkan untuk penggunaan teknologi sederhana tersebut bisa merujuk pada praktik yang sudah dijalankan Kopernik, organisasi yang fokus pada pemanfaatan teknologi tepat guna sederhana bagi masyarakat di daerah terpencil.
“Di Bali itu ada LSM namanya Kopernik, organisasi itu membuat desain tempat pengeringan produk-produk pertanian. Desainnya ditaruh di website-nya dan bisa diunduh jadi bisa diterapkan oleh masyarakat,” kata Mia kepada Konde.co, Kamis (19/2/26).
Ia menambahkan kalau selama ini untuk pengeringan kopi dilakukan dengan dihamparkan di area terbuka, dengan teknologi tepat guna bisa dilakukan secara tertutup. Yakni dengan memakai semacam greenhouse kecil dengan atap dari plastik UV yang terdiri dari rak-rak jadi bisa memuat banyak.
Langkah adaptasi menurut Mia juga bisa dilakukan misalnya dengan membuat palatihan untuk menemukenali potensi masalah ketika curah hujan sangat berlebihan bahkan terjadi badai. Pelatihan ini mesti diikuti dengan pendampingan dan pembekalan yang akan membantu mereka mengatasi persoalan dalam menghadapi krisis iklim.
Selain adaptasi Mia juga melihat penting bagi perempuan petani kopi untuk melakukan mitigasi. Yakni upaya mencegah atau mengurangi kontribusi emisi karbon ke udara. Kalau petani masih menggunakan model pertanian anorganik lewat pemakaian pupuk kimia dan pestisida kimia, maka beralih ke cara-cara pertanian organik menjadi langkah penting karena bahan-bahan kimia tersebut berkontribusi terhadap emisi karbon. Namun perlu diingat bahwa kontribusi tersebut relatif kecil dibandingkan industri ekstraktif dan industri otomatif yang punya kontribusi besar.
Kalau petani sudah menerapkan model pertanian organik, seperti yang dilakukan Yani dan kawan-kawannya, maka langkah mitigasi yang bisa dilakukan adalah dengan pruning atau penjarangan. Yakni dengan menebangi batang-batang tertentu supaya nanti muncul pucuk-pucuk baru.
Hasil pruning berupa ranting-ranting pohon tersebut, Mia menambahkan bisa dicacah dan dijadikan kompos. Sebaiknya ranting tersebut tidak dibakar, karena masih ada praktik semcam itu. Upaya untuk tidak membakar ranting juga merupakan langkah mitigasi.
Selama ini Yani dan sejumlah perempuan petani kopi yang tergabung dalam kelompok perhutanan sosial Amanah Sejahtera menerapkan pertanian organik. Sejak awal ketika membuka dan membersihkan lahan, Yani mengaku ia melakukannya secara manual, membabat rumput dan gulma dengan kored. Hal ini masih dilakukan sampai sekarang. Rumput-rumput yang sudah disiangi dikumpulkan di bawah pohon kopi agar membusuk dan menjadi kompos bagi tanaman.
Yani biasa memakai kotoran ayam sebagai pupuk tanaman kopi. Sekarung tai ayam harganya sepuluh ribu rupiah. Kalau sedang ada uang, ia membeli 20 hingga 50 karung pupuk kandang untuk memupuk tanaman kopinya. Pemupukan kadang dilakukan setahun sekali.
Keengganannya memakai pupuk dan pestisida kimia didasarkan pada pertimbangan jangka panjang. Ia tak menampik penggunaan pupuk kimia bisa mempercepat pertumbuhan, tetapi usia pohonnya biasanya hanya sebentar. Selain itu paparan pupuk dan pestisida kimia secara terus-menerus juga bisa berdampak buruk untuk kesehatan.
Saat bergabung dan didampingi paguyuban tani Sunda Hejo, Yani juga belajar tentang pengolahan pertanian organik. Sunda Hejo, seperti dijelaskan Andi, selalu mengarahkan petani yang didampingi ke organik.
Andi menuturkan praktik pertanian organik sebenarnya sangat menguntungkan petani karena tidak membutuhkan banyak modal dan produk yang dihasilkan berkualitas. Petani yang menerapkan cara bertanam organik, Andi menuturkan, sebenarnya hanya bermodalkan kegiatan saja. Memang aktivitas yang harus dikerjakan di awal agak banyak karena kalau memakai pipuk organik harus ada proses persiapan yang dilakukan. Misalnya untuk pemupukan kopi tiga bulan ke depan, pupuknya harus disiapkan dari sekarang.
Meski kondisi cuaca ekstrem makin sulit diprediksi, Yani memilih untuk tetap bertahan menanam dan mengolah kopi. Dua dekade sudah ia berkecimpung sebagai petani kopi, sepanjang proses tersebut ia sudah melihat, mempraktikan dan merasakan langsung pola-pola pertanian organik yang dijalankan selama ini adalah yang paling tangguh di tengah gempuran cuaca ekstrem dan krisis iklim.






