Tuminah selalu merasa sedih ketika musim kemarau datang. Wajahnya kerap murung.
Tak hanya warga yang harus mengirit air, kambing-kambing nya juga.
Tinggal di Gunungkidul, salah satu kawasan di Yogyakarta yang kondisi tanahnya tandus dan kering ketika musim kemarau tiba, membuat Tuminah harus berhitung dengan cermat untuk menyisihkan air dan rumput segar.
Tuminah adalah perempuan janda yang hidup dengan ditemani kambing-kambingnya.
Mbok Tuminah- kami memanggilnya begitu- hidup bersama 3 ekor kambing. Nama kambingnya Belang, Hitam, dan Putih. Ia merawat 3 kambingnya seperti anaknya sendiri, diberi makan dan minum agar mereka bisa hidup sehat.
Mbok Tuminah tinggal di Dusun Wuni, Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Ia masih bekerja sebagai buruh tani walau umurnya sudah lansia. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh di ladang, dan aktif di Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dusun Wuni.
Dulu Tuminah hidup dengan kakaknya, namun setelah kakaknya meninggal, ia hidup sendiri ditemani kambing- kambingnya.

Setiap pagi, Mbok Tuminah mencari rumput untuk pakan ternak kambingnya. Setelah pulang dari mencari rumput untuk 3 ekor kambingnya, ia bekerja sebagai buruh cangkul di ladang tetangga. Upah buruh cangkul sebesar Rp. 30.000 rupiah perhari, namun ini tetap membuatnya semangat, walau dengan upah yang sangat minim untuk kebutuhan sehari-hari
Tahun ini kemarau panjang terjadi, dari Juni sampai September 2026. Langit Giricahyo belum juga mengeluarkan hujan selama 3 bulan. Dulu tiap musim kemarau ia bisa mencari rumput di kebun, ada rumput liar, daun singkong, daun nangka yang bisa ia masak dan ia sisihkan untuk kambing- kambingnya. Sekarang kebun tersebut sudah gersang, tanah retak, rumput mati belum sempat tumbuh lagi akibat musim kemarau panjang. Kekeringan ini akhirnya berakibat bagi ketiga kambingnya, mereka jadi jarang mendapatkan rumput, air pun juga terbatas.
Baca juga: Ceritaku Perempuan Petani Milenial, Tak Kapok Tanam Cabai Meski Kemarau Panjang Menghantam
Di Yogyakarta, Gunungkidul termasuk kawasan tandus, karena daerahnya didominasi oleh perbukitan dan pegunungan kapur (karst). Sebagian besar wilayah ini terdiri dari batuan gamping yang minim air, sehingga sering mengalami kekeringan saat musim kemarau. Kondisi lahan yang kering, membuat masyarakat terbiasa mengolah singkong menjadi makanan sehari-hari. Walaupun saat ini sudah ada inovasi lahan kritis dan ada bantuan air, namun jika musim kemarau tiba, tanah-tanah disini cepat kering.
Biasanya, pagi-pagi jam 5 Mbok Tuminah sudah bangun, bukan buat masak, tapi buat mengantri air. Truk tangki datang seminggu sekali. Biasanya 1 Kepala Keluarga (KK) mendapatkan 4 jerigen air. Air ini dipakai buat masak, buat minum, buat wudhu, juga buat minum kambingnya.
Kondisi kekeringan di Gunungkidul membuat masyarakat disana harus siap dengan persediaan air. Ada air bersih dari truk tangki yang datang, ada juga air hujan yang disimpan. Penyimpanan air hujan menjadi hal yang tak terelakkan di beberapa wilayah di Gunungkidul karena lahan disana yang sangat kering, sehingga air hujan sering digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Tiga kambing menjadi punya arti buat mbok Tuminah, dalam situasi kekeringan seperti ini, ia selalu murung ketika memikirkan kambingnya.

Kambing-kambing mbok Tuminah ini ia dapatkan dari arisan kambing yang ia dapat dari KWT. Ia juga pernah mendapatkan arisan kambing yang didanai dari Yakkum Emergency Unit (YEU). Lalu si Hitam sama si Putih ia beli dari hasil jual jagung hasil panen. Mbok Tuminah menjadi anggota KWT sudah masuk 8 tahun ini.
Tapi sekarang cari makan kambingnya ini susah. Ia harus berjalan kaki 2 kilometer ke bukit, mencari daun-daun kering yang masih hijau sedikit. Pulangnya ia baru bisa membawa sekarung daun kering. Punggungnya sering merasa pegal.
“Maaf ya Le, tahun ini makanmu jadi kurang,” bisiknya sambil mengusap kepala kambingnya, si Putih.
Baca juga: Menimbang Keutuhan Karst Gunungsewu, Ketika Ibu Bumi Digempur Industri Wisata
Daun-daun yang menjadi kering karena musim kemarau dan kekeringan di sana membuat kambing-kambing harus memakan daun kering seadanya.
“Paling berat pas air buat minum kambing habis duluan.”
Ia kemudian berusaha menyisihkan air dari cucian beras, yang diberikan ke kambingnya pakai ember kecil. Tetangga nya sering bilang agar ia menjual kambingnya agar tak merepotkannya.
“Bu, dijual saja kambingnya, daripada mati kelaparan.”
Saya lihat, ia cuma senyum-senyum saja, “Nek dijual terus aku dolan karo sopo (kalau kambingnya dijual, nanti aku main sama siapa).”
Suatu malam si Hitam lemas, nggak mau makan. Mbok Tuminah begadang, menyalakan lampu senter, menyuapinya dengan air gula pakai sendok.
“Kuat ya Le, nenek karo kowe wes sumpah urip, bareng-bareng.” (kuat ya kamu, aku sudah bersumpah jika kita akan hidup bersama-sama).
Musim kemarau ini jelas membuat nya kesulitan mencari pakan kambingnya. Setiap pagi jam 7 setelah mengantri air, ia sudah ke ladang mencari pakan kambingnya. Karena adanya kemarau panjang ini, ia memberi pakan kambingnya dengan daun kering, yaitu daun melinjo.
Pagi ini tiba-tiba saya melihat kambingnya Mbok Tuminah sudah bertambah menjadi 5 ekor kambing.
Besoknya ketika pertemuan KWT, tiba-tiba ada petugas penyuluh datang. Mereka lalu mengajarkan cara membuat pakan ternak fermentasi dari jerami dan dedak untuk hewan, juga mengajarkan bagaimana caranya agar tempat minum tetes untuk hewan agar airnya tidak terbuang. Mbok Tuminah mencatat semua informasi dari penyuluh itu di buku tulis, tangannya gemetar tapi matanya semangat.
Baca juga: Ifa Musdalifah: Perempuan Hadapi Risiko Serius di Tengah Suhu Panas Ekstrem

Sebulan kemudian keajaiban kecil datang. Hujan turun 20 menit, tidak begitu lebat, tapi cukup buat menampung air di ember. Saya lihat dari jauh, ia bersama 3 kambingnya basah kuyup di halaman. Mbok Tuminah tertawa, si Belang melompat-lompat.
Kemarin mbok Tuminah juga cerita bahwa ia berencana menjual kambingnya, tapi harga kambing sekarang masih murah, jadi batal tidak jadi menjual kambingnya. Sebenarnya Mbok Tum sangat membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya, walau ia tetap bersyukur, karena setiap hari ia masih dapat uang dari pekerjaannya sebagai buruh cangkul, uangnya bisa dipergunakan untuk kebutuhan sehari hari. Jadi niat untuk menjual kambing masih bisa diurungkan.
Setelah mendapat penyuluhan dari petugas itu, sekarang Mbok Tuminah sudah bisa membuat pakan ternak sendiri dari fermentasi daun kering dan dedak, dan akhirnya kebutuhan pakan untuk kambing nya terpenuhi.
Aku merasa senang bertetangga dengan mbok Tuminah, hidupnya sangat sederhana bersama kambing-kambingnya.
Terimakasih mbok Tuminah sudah mengajarkan soal kesetiaan dan cinta pada kami- untuk merawat binatang secara tulus.
Editor: Luviana Ariyanti
Tulisan ini merupakan kolaborasi YAKKUM Emergency Unit (YEU) dan Konde.co dalam program #Kedip atau Konde Literasi Digital Perempuan






