“Begitulah hidup petani di negara kita ini, kerja keras sampai bungkuk-bungkuk.”
Sepenggal kalimat itu membuka percakapan di awal film ‘Seribu Bayang Purnama‘. Saat Budi (Agustinus Gusti Nugroho ‘Nugie’) bersama anaknya yang berusia Sekolah Dasar, Putro (Marthino Lio) mulai membuka lahan tanah tandus untuk pertanian. Mereka berpapasan dengan seorang petani paruh baya yang tertatih dan terbungkuk-bungkuk menopang rumput di punggungnya.
Ucapan itu, bagiku terasa begitu nyata tentang kondisi petani kecil, yang dekat dengan kemiskinan meski sudah sangat bekerja keras. Banyak dari mereka yang bekerja hanya cukup sekadar menyambung hidup, karena mesti menanggung persoalan multi sektor mulai dari minimnya modal, langka dan mahalnya harga pupuk, hingga ketergantungan pada tengkulak.
Bagi petani yang tidak punya sawah, mereka lebih sengsara lagi. Sebab harus menanggung upah murah, tanpa jaminan keamanan dan kepastian kerja.
Baca Juga: Perempuan Petani di Lingkar Tambang Berdaya di Pasar Garasi Pemulihan
Inilah mengapa, banyak anak muda yang ogah menjadi petani. Meski dia lahir dan dibesarkan oleh orang tua petani. Tak mau meneruskan hidup serba susah.
Namun, itu tidak berlaku bagi Putro dalam film ‘Seribu Bayang Purnama’. Anak muda, yang mengambil kuliah jurusan pertanian, sempat kerja di lembaga internasional di Jakarta. Akhirnya memutuskan pulang kampung dan meneruskan pekerjaan orang tuanya (ayah) sebagai petani.
Sebagaimana upaya yang dirintis ayahnya, dia punya mimpi besar untuk membangun ekosistem pertanian dengan metode pertanian alami. Di tengah situasi petani di kampungnya, masih ketergantungan dengan pupuk dan pestisida serba kimia.
Konflik memuncak ketika kompetisi Tani Nasional digelar di desa yang ditinggali Putro. Sahabat masa kecilnya, Dodit (Aksara Dena), menjadi yang paling berambisi untuk memenangkan kompetisi itu. Seperti halnya ayahnya, Gatot (Whani Darmawan), Dodit juga pro terhadap pertanian dengan sistem serba kimiawi. Di kampung itu, mereka memang masyhur punya sawah yang luas.
Sebagai upaya mendapatkan harga distributor dalam memperoleh pupuk, Gatot juga “menumpang” pada bisnis jualan bahan dan alat pertanian putrinya, Ratih. Sebab dengan itu pulalah, Gatot maupun Dodit bisa selalu kasbon.
Oase di Tengah Krisis Petani Muda
Apresiasi untuk film ini karena memiliki misi penting yang tak banyak orang melihatnya. Yaitu, memajukan pertanian dengan mendorong regenerasi petani muda. Ini masalah yang dihadapi di negeri ini, defisit petani muda. Film ‘Seribu Bayang Purnama’ termasuk film langka yang menyorot soal itu.
Krisis petani muda ini ditunjukkan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, jumlah mereka hanya sekitar 20-an persen. Sementara mayoritas petani berusia 50-an tahun ke atas. Tren jumlah petani pun kian tahun terus menurun.
Banyak studi menyebutkan, sepi minat jadi petani ini dipengaruhi oleh berbagai hal. Utamanya soal kesejahteraan karena mahalnya pupuk dan ketidakadilan rantai distribusi akibat ulah tengkulak.
Film ini, menariknya menawarkan alternatif untuk bisa keluar dari persoalan sistemik itu. Salah satunya mengganti sistem pertanian dengan metode alami yang memanfaatkan pupuk alami berkelanjutan. Dampaknya, biaya pupuk yang mahal bisa dipangkas dan dialihkan untuk membayar upah petani dan penggarap sawah. Dengan upah yang lebih layak, petani harapannya tidak lagi bergantung dengan “utang” ke tengkulak ketika gagal panen.
Baca Juga: Perempuan Petani Tak Pernah Dianggap Pekerja, Dianggap Pembantu Suami di Sawah
Melalui Budi dan Putro, pengetahuan tentang Metode Tani Nusantara dikenalkan ke masyarakat desa. Sistem Tani Nusantara ini mengajak para petani untuk kembali pada alam demi menghentikan ketergantungannya terhadap pupuk dan pestisida kimia. Cara-cara yang digunakan dalam sistem ini dimulai dari pembuatan mikroba, jamur mikoriza, pupuk alami, dan pestisida alami, yang secara keseluruhan ramah terhadap lingkungan.
Di luar film, saat ditelusuri soal metode Tani Nusantara ini, realitanya sudah diterapkan di Indonesia. Ialah Sanchez, pemuda asal NTT yang kini menjadi pelopor sekaligus penggerak metode pertanian alami ini. Sama halnya dengan Putro, Sanchez adalah anak muda lulusan sekolah tinggi yang memilih mengembangkan pertanian di desanya.
Mereka melakukan pendekatan holistik dalam pertanian. Tidak hanya sekadar mencari solusi instan serba kimia, tetapi membangun sistem pertanian yg berkelanjutan. Dedaunan, akar, batang, di sekitar tidak dianggap sampah melainkan aset produktif untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Pemahaman mendalam pada ekosistem tanah, dengan membangun mikroorganisme di dalam tanah.
Metode seperti itu tidaklah baru di Indonesia, justru ini menerapkan kembali tradisi nenek moyang dalam pertanian. Dimana segalanya melibatkan alam dan tanda alam. Meski metode itu bertahun-tahun kemudian digantikan dengan tren kimiawi dalam pertanian. Namun, upaya memunculkan kembali tradisi bertani tradisional dengan pengembangan inovasi terkini, patut diapresiasi.
Baca Juga: Petani Digusur Aktivis Dibungkam, Merdeka Harusnya Tidak Begini
Film ‘Seribu Bayang Purnama’ ini bisa menjadi media pembelajaran tentang hal itu. Jika menjadi perhatian serius pemerintah dan pemerataan pengetahuannya dilakukan pada petani-petani di seluruh Indonesia. Bukannya mustahil, petani kita bakal lebih sejahtera.
Meskipun kritik juga untuk film ini, ada penyederhanaan kompleksitas terhadap masalah pertanian. Bahwa metode pertanian alami seolah dianggap sebagai panasea atau obat dari segala persoalan pertanian.
Padahal, setelah mendapatkan kualitas yang bagus dari hasil pertanian dengan metode alami, petani masih dihadapkan dengan rantai distribusi yang seringkali rumit. Tidak sebatas minimnya jaringan agar hasil panen sampai ke konsumen, tapi bagaimana agar hasil panen para petani terserap optimal? Ini juga bicara kebijakan dan infrastruktur yang harus difasilitasi dan dijamin oleh negara.
Persoalan pertanian di Indonesia, tak hanya pada lingkup individu petani. Namun sistemik. Bahwa penggerak individu dalam pertanian memang dibutuhkan, namun dukungan dari negara yang membentuk sistem pertanian yang bermakna dan berpihak pada petani juga mendesak dihadirkan.
Wajah Maskulin Pertanian, Perempuan Petani Minim Sorotan
Sepanjang menonton film ini, penonton disuguhkan dengan wajah-wajah petani laki-laki. Mereka yang paling banyak digambarkan sebagai petani-petani yang menggarap sawah. Baik itu luasnya hanya sebidang kecil maupun berhektar-hektar.
Bapak-bapak petani ini lah yang “memikirkan” soal mengolah sawah. Sedangkan, potret perempuan petani minim. Jika pun ada, hanya sekilas.
Para istri petani dalam film ini, juga sebatas digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang baru tampil saat penghitungan hasil panen. Ini tampak saat Putro memberikan edukasi tentang cara menanam menggunakan pupuk dan pestisida alami kepada ibu-ibu. Di sini, Ratih pun hanya mendampingi Putro padahal dia juga belajar dan menerapkan metode pertanian alami di skala rumah tangga.
Potret domestikasi perempuan dalam pertanian juga tampak pada film ini. Hanya laki-laki yang menggarap sawah berhektar-hektar, sedangkan perempuan tak diberi kesempatan itu. Lahan pertanian perempuan tidak keluar dari skala rumah tangga, seperti menanam kebutuhan pangan sehari-hari di halaman rumah.
Jika Putro dan Dodit, digambarkan bisa menanam di sawah yang luas. Tak begitu dengan Ratih, yang meski sama-sama anak muda yang suka dunia pertanian “sawah”nya adalah halaman rumah. Itupun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak skala rumah tangga. Jika pun keluar rumah, Ratih sebatas berkesempatan “menjaga” toko bahan dan alat pertanian yang melayani kebutuhan para laki-laki petani ini.
Baca Juga: Sisi Gelap Perkebunan Sawit Perusahaan: Petani Miskin Makin Sengsara
Wajah maskulin juga tampak pada pertanian yang jadi “arena tanding” para laki-laki petani dalam film ini. Hal ini tergambar saat adanya lomba pertanian yang semua pesertanya adalah petani laki-laki. Jurinya pun semua laki-laki.
Dengan begitu, film ini masih melanggengkan bias gender dalam dunia pertanian. Ada ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam penggambaran sikap dan kesempatan dalam pertanian berdasarkan jenis kelamin atau gender seseorang. Selain itu, ia juga mengarah pada stereotip yang melekat pada peran dan kemampuan yang dianggap sesuai untuk masing-masing jenis kelamin.
Stereotip gender yang masih ada dalam film ini misalnya, konstruksi pada perempuan yang digambarkan identik dengan suka pamer barang-barang mewah hingga suka bergosip digambarkan pada ibu Dodit dan Ratih. Sedangkan, pembakuan peran gender pada perempuan yang “melayani” dengan menjadi ibu rumah tangga dan berkutat dengan domestik digambarkan pada sosok ibu Putro.
Sementara itu, stereotip gender laki-laki yang maskulin selain pada Putro dan Dodit, juga tampak pada ayah mereka. Meski berbeda haluan ambisi, Gatot (pertanian kimia) dan Budi (pertanian alami), mereka tetap sama digambarkan sebagai laki-laki yang dikonstruksikan punya “ambisi” dan selalu berada di depan sebagai pengambil keputusan.
Dalam karyanya ‘The Second Sex’, Simone de Beauvoir menyebut, “Perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan.” Artinya, identitas gender perempuan bukan bawaan lahir, melainkan bagian dari konstruksi sosial yang cenderung patriarkal. Simone de Beauvoir juga mengkritik bias gender yang dibangun dan dipelihara di kalangan masyarakat. Itu membuat perempuan menjadi sosok ‘Liyan (the Other)’ dibanding laki-laki sebagai subjek pusat tatanan masyarakat.
Baca Juga: Petani di Bali Kelola Sampah Organik: Bikin Maju Pertanian Ramah Lingkungan
Judith Butler dalam ‘Gender Trouble’, juga berpandangan bahwa gender bukanlah sesuatu yang ‘diberikan’ atau ‘alamiah’. Namun, dia merupakan hasil dari performativitas sosial. Yaitu tindakan yang berulang dan dipertontonkan sesuai dengan norma-norma budaya. Butler menentang pengertian tradisional tentang gender dan menyoroti kehadiran bias gender yang sangat terstruktur dalam bahasa, perilaku, dan institusi sosial.
Sebagaimana film ‘Seribu Bayang Purnama’ kita melihat bagaimana konstruksi gender juga terjadi dalam pertanian. Bagaimana potret pertanian digambarkan masih begitu maskulin, meski realitanya ada banyak petani dan buruh tani perempuan yang jadi “tulang punggung” pangan. Di satu sisi, perempuan lah yang selama ini tercatat sebagai pemengaruh penting dalam menerapkan sistem ketahanan pangan berkelanjutan dalam rumah tangga.
Mereka pula yang sampai saat ini, masih menghadapi realita pahit karena ketidakadilan gender dengan upah yang lebih rendah. Ini sebagaimana yang dicatatkan data BPS dari tahun ke tahun. Selain itu, mereka juga masih harus menanggung beban ganda domestik sebagai perempuan petani.
Meski ada celah kritik tentang representasi bermakna petani perempuan, film ini tetap layak ditonton.
Dalam tiap scene, film yang mulai tayang di bioskop pada 3 Juli 2025 ini, menyuguhkan banyak realita dalam dunia pertanian. Bagaimana persoalan sistemik para petani yang minim kesejahteraan, berhadapan dengan kelangkaan dan mahalnya pupuk, sampai tengkulak yang mencekik.
Mengambil latar tempat di Jawa Tengah, film ini juga menarik dalam menyoroti kehidupan warga pedesaan. Satu yang paling berkesan karena pengalaman itu dekat denganku sebagai yang lahir dan besar di desa misalnya, saat ada warga yang menjual sapinya dengan berkeliling desa. Itu adalah semua aset yang dia miliki, mau dijual untuk biaya nikah putrinya.
Yahdi Jamhur sebagai Sutradara, juga sangat lihai untuk membuat visual yang sinematik menjadi kelebihan dalam film ini. Penonton seperti diajak menjelajahi alam pedesaan dari berbagai sisi. Termasuk mengambil sisi atas dan lanskap yang memanjakan mata.
(sumber foto: Instagram @film.seribubayangpurnama)






