Outfit Renjun di Bandara. Foto: Newsen

Outfit di Bandara Renjun NCT dihujat: Stop Mengukur Maskulinitas dari Cara Laki-laki Berpakaian

Hujatan terhadap penampilan Renjun NCT Dream menunjukkan bagaimana pakaian laki-laki masih kerap dijadikan ukuran maskulinitas

Apakah maskulinitas seseorang bisa didefinisikan hanya dari cara berpakaiannya? 

Jawabannya tentu tidak. Namun, logika sesederhana itu tampaknya belum sampai ke sebagian kolom komentar di TikTok.

Belum lama ini, Renjun, anggota grup K-Pop NCT Dream, menjadi sasaran hujatan setelah penampilannya di bandara saat akan bertolak ke Thailand beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Renjun tampak mengenakan celana pendek, kemeja lengkap dengan dasi, dan ikat pinggang yang senada. Penampilan yang bagi sebagian orang mungkin hanya soal selera berpakaian, berubah menjadi bahan penghakiman di ruang komentar.

Banyak pengguna TikTok kemudian membandingkan gaya berpakaian Renjun dengan Haechan, rekan satu grupnya, yang dinilai tampil lebih “maskulin”. Kolom komentar di video yang menampilkan keduanya pun dipenuhi cibiran dan komentar bernada diskriminatif.

“Renjun kenapa gitu sii,” tulis salah satu netizen. 

“Aku smnjak Renjun kya gini udh kurg nengok NCT Dream lagi,” tulis yang lain. 

Ada pula yang berkomentar, “Fans-nya menormalisasikan, pada denial.” 

“Jangan terlalu di cewek-cewekin lah, anehh nih fans-nya”.

Deretan komentar itu memperlihatkan bahwa bagi sebagian orang, pakaian laki-laki tidak pernah sekadar pakaian. Cara seseorang berbusana masih sering dijadikan ukuran untuk menilai seberapa “maskulin” dirinya. Ketika ada yang dianggap keluar dari standar itu, penghakiman pun datang dengan cepat, lengkap dengan ejekan dan pelabelan.

Baca Juga: ‘Kelinci Berontak’, dari Fandom NewJeans Menuju Gerakan Kolektif yang Kritis

Padahal, cara seseorang berpakaian merupakan bagian dari ekspresi gender atau gender expression. 

Ekspresi gender pada dasarnya adalah cara seseorang menunjukkan atau mengkomunikasikan identitas dirinya kepada orang lain. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari pilihan pakaian, gaya rambut, penggunaan aksesori, riasan wajah, hingga cara bergerak atau membawa diri. Dengan kata lain, ekspresi gender adalah bagaimana seseorang menampilkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Penting untuk dipahami bahwa ekspresi gender berbeda dengan identitas gender maupun orientasi seksual. Cara seseorang berpakaian atau berekspresi tidak otomatis mencerminkan siapa yang ia sukai atau bagaimana ia mengidentifikasi dirinya. Meski begitu, di masyarakat ketiga hal ini sering kali disamakan. Akibatnya, laki-laki yang tampil di luar standar maskulinitas konvensional kerap langsung diberi label atau diasumsikan memiliki orientasi seksual tertentu.

Bagi orang-orang yang penampilannya sesuai dengan norma gender yang berlaku, cara mereka berekspresi mungkin tidak pernah dipertanyakan. Namun bagi mereka yang memilih tampil berbeda, setiap pilihan pakaian, aksesori, atau gestur bisa menjadi objek penilaian dan pengawasan. Mereka tidak hanya mengekspresikan diri, tetapi juga terus-menerus berhadapan dengan ekspektasi dan penilaian orang lain terhadap bagaimana laki-laki atau perempuan “seharusnya” tampil. 

Situasi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Elizabethe Payne and Melissa J. Smith dalam “Gender Policing” menjelaskan istilah gender policing. Gender policing yaitu ketika masyarakat merasa perlu mengawasi dan mengoreksi apakah seseorang sudah tampil sesuai dengan peran gender yang dianggap “wajar”. Aturan itu memang tidak pernah ditulis di mana pun, tetapi semua orang seperti tahu. Laki-laki diharapkan tampil maskulin, sementara perempuan diharapkan feminin. Ketika ada yang dianggap keluar dari jalur, responsnya bisa berupa komentar, ejekan, atau bahkan perundungan.

Baca Juga: “Fashion Has No Gender” Laki-laki Juga Bisa Ekspresif Dan Kreatif

Gender policing sering kali bekerja lewat hal-hal yang tampak sepele. Warna baju, model rambut, penggunaan aksesori, cara berbicara, sampai cara seseorang duduk atau berjalan bisa menjadi sasaran penilaian. 

Kita mungkin akrab dengan komentar seperti, “Laki-laki kok pakai pink?”, “Jangan terlalu cewek,” atau “Cowok enggak usah dandan”. Kalimat-kalimat seperti ini terdengar biasa karena begitu sering diucapkan, padahal di baliknya ada upaya untuk menentukan siapa yang dianggap cukup maskulin dan siapa yang tidak.

Kalau melihat lagi kasus Renjun, yang ramai dibicarakan sebenarnya bukan soal apakah pakaiannya bagus atau jelek. Komentar-komentar di TikTok lebih banyak mempertanyakan kenapa ia berpakaian seperti itu dan mengapa penggemarnya masih menganggapnya biasa saja.

Dari sana terlihat bahwa yang sedang dipersoalkan bukan selera fashion, melainkan keberaniannya tampil di luar gambaran sebagian orang tentang bagaimana laki-laki seharusnya berpenampilan.

Ironisnya, penghakiman itu sering berlanjut pada asumsi-asumsi lain. Ketika seorang laki-laki tampil lebih lembut atau memakai sesuatu yang dianggap feminin, tidak sedikit yang langsung mengaitkannya dengan orientasi seksualnya. Padahal, pilihan berpakaian hanyalah salah satu bentuk ekspresi diri. Ia tidak bisa dipakai untuk menebak identitas ataupun seksualitas seseorang.

Baca Juga: Menari untuk Semua, Melampaui Label dan Batas Gender

Praktik semacam ini tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari cara masyarakat membayangkan seperti apa laki-laki “ideal” seharusnya. 

Dalam kajian gender, pola ini sering dibahas lewat konsep toxic masculinity. Sayangnya, istilah tersebut sering disalahpahami. 

Toxic masculinity tidak merujuk pada maskulinitas sebagai sesuatu yang keliru, melainkan pada standar maskulinitas yang dibentuk secara sangat sempit. Laki-laki didorong untuk selalu terlihat kuat, dominan, berani, dan menghindari segala hal yang dilekatkan dengan feminitas. Semakin jauh seseorang dari gambaran itu, semakin besar pula kemungkinan ia dipertanyakan atau dihakimi.

Kita mulai dari pertanyaan yang sebetulnya tidak rumit: apakah pilihan pakaian seorang laki-laki bisa dijadikan cerminan dari seksualitas?

Tidak. Sama sekali tidak.

Pakaian adalah kain. Ia tidak punya orientasi seksual. Sebuah kain tidak sedang “mengaku” apa pun tentang pemakainya, tidak tentang dengan siapa ia jatuh cinta, tidak tentang seberapa “laki-laki” ia di mata dunia. 

Kalau kita tetap memaksa menjadikannya ukuran, yang sebenarnya sedang kita lakukan adalah memproyeksikan ketidaknyamanan kita sendiri ke tubuh orang lain.

Baca Juga: Man Box: Laki-Laki Juga Terkena Toxic Masculinity di Dunia Kerja

Apa yang terjadi pada Renjun memperlihatkan betapa tipisnya toleransi kita terhadap laki-laki yang tampil sedikit saja berbeda dari pakem yang sudah ada. Padahal ia tidak menyakiti siapa pun. Renjun hanya memakai pakaian yang berwarna terang dibandingkan rekan-rekan se-grupnya, dan celana pendek serta kemeja yang dalam konteks penampilan artistik memang sudah sejak lama menjadi ruang eksplorasi. Tapi itu cukup untuk memancing penghakiman yang bahkan datang dari penggemarnya sendiri. 

Terdapat standar maskulinitas yang begitu sempit sampai satu pilihan baju saja sudah terasa seperti ancaman. Standar yang memaksa laki-laki untuk terus-menerus membuktikan diri, dan langsung menghukum begitu ada satu langkah yang dianggap meleset. Jadi mungkin pertanyaan yang lebih perlu dijawab bukan “kenapa dia berpakaian seperti itu?” tapi “kenapa sih kita begitu terganggu?”

Siapa yang berhak menentukan cara laki-laki menjadi laki-laki? Mungkin jawabannya tidak serumit yang kita buat selama ini: ya, tentu laki-laki itu sendiri. Dan mungkin yang perlu kita lakukan bukan menghakimi pilihan mereka, tapi mulai mempertanyakan standar yang sudah lama kita anggap wajar, padahal belum tentu pernah adil sejak awal.

Sumber: 

Anderson, S. M. (2020). Gender Matters: The Perceived Role of Gender Expression in Discrimination Against Cisgender and Transgender LGBQ Individuals. Psychology of Women Quarterly, 44, 323 – 341. https://doi.org/10.1177/0361684320929354 

Payne, E., & Smith, M. J. (2016). Gender policing. In Critical concepts in queer studies and education: An international guide for the twenty-first century (pp. 127-136). New York: Palgrave Macmillan US.

(Editor: Luviana Ariyanti)

Dulce Maria Bella Natalie

Reporter magang Konde.co dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!