Didik Nini Thowok menari di Indonesian Dance Festival 2024 (sumber foto: Indonesian Dance Festival)

Menari untuk Semua, Melampaui Label dan Batas Gender

Dalam tarian Jawa, gerak lembut selalu diidentifikasi milik perempuan, sementara gerak tegas milik laki-laki.

Di banyak daerah di Jawa, tari tradisional seringkali masih dipandang melalui kacamata gender yang kaku. 

Gerak lembut dianggap milik perempuan, sementara gerak tegas diasosiasikan milik laki-laki. Ketika seorang laki-laki memilih menari tarian klasik Jawa yang lembut atau perempuan tampil membawakan karakter gagah, respons masyarakat tak jarang dipenuhi prasangka. 

Di tengah kekhawatiran akan memudarnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional, muncul pertanyaan penting: apakah pelestarian tari tradisional Jawa dapat berjalan optimal jika masih membatasi siapa yang pantas menari berdasarkan gender? 

Padahal inklusivitas gender menjadi salah satu jawaban untuk memastikan tari tradisional tetap hidup, relevan, dan diterima lintas generasi. Dan tari tradisional Jawa sebelumnya tidak hanya berbicara tentang estetika tubuh, tetapi juga nilai sosial yang diwariskan turun-temurun. Dalam praktiknya, banyak masyarakat masih mengaitkan jenis tari tertentu dengan identitas gender tertentu. Gerakan gemulai, ekspresi halus, dan kostum tertentu sering dilekatkan pada identitas perempuan. Sebaliknya, karakter gagah, tegas, dan dinamis diasosiasikan sebagai identitas laki-laki.

Baca Juga: Reni Yuniastuti dan Menari dalam Hening: Menyulam Kekuatan Perempuan, Disabilitas, dan Sinema

Pandangan ini secara tidak langsung membentuk stereotip dalam dunia tari. Laki-laki yang tertarik pada tari klasik Jawa terkadang dianggap kurang maskulin, sementara perempuan yang membawakan peran gagah dipandang “tidak feminin”. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang sebenarnya tertarik pada seni tari justru mengurungkan niat karena takut terhadap stigma sosial. 

Persoalan ini menunjukkan bahwa tantangan utama pelestarian tari tradisional Jawa bukan hanya terletak pada minimnya minat generasi muda, tetapi juga pada bagaimana masyarakat masih memandang seni melalui batasan gender yang sempit. Jika kondisi ini terus berlangsung, regenerasi penari tradisional berpotensi semakin terbatas karena tidak semua orang merasa memiliki ruang aman untuk berpartisipasi.

Jika menengok sejarah pertunjukan tradisional Jawa, konsep peran gender sebenarnya lebih fleksibel dibanding persepsi masyarakat modern. Dalam beberapa bentuk seni pertunjukan, laki-laki dapat membawakan karakter perempuan dan sebaliknya sebagai bagian dari ekspresi artistik.

Salah satu contoh paling dikenal adalah sosok maestro tari sekaligus koreografer yang telah lama mengeksplorasi pertunjukan lintas karakter gender melalui tari tradisional Jawa, yaitu Didik Nini Thowok. Ia kerap membawakan tokoh perempuan dengan gestur yang halus dan kuat secara artistik, tanpa kehilangan identitas dirinya sebagai laki-laki. Kehadirannya menjadi penanda bahwa seni tari tidak selalu harus tunduk pada batas-batas gender yang ada.

Baca Juga: Kenapa Takut Pada Kebaya? Laki-Laki Berhak Menolak Maskulinitas Kaku
Didik Nini Thowok, maestro tari Indonesia (sumber foto: NIFF)
Didik Nini Thowok, maestro tari Indonesia (sumber foto: NIFF)

Didik Nini Thowok bukan hanya dikenal sebagai maestro tari lintas gender, tetapi juga memiliki berbagai pencapaian di tingkat nasional maupun internasional. Dedikasinya terhadap seni pertunjukan tradisional membawanya menerima berbagai penghargaan, di antaranya Kick Andy Heroes Award kategori Seni dan Budaya (2009) atas kontribusinya dalam melestarikan budaya Indonesia, Soedarpo Award (2005) sebagai bentuk apresiasi atas kiprahnya di bidang seni dan kebudayaan, serta masuk dalam 74 Ikon Prestasi Pancasila (2019) yang ditetapkan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Kiprahnya tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga melalui pertunjukan dan workshop budaya di berbagai negara yang memperkenalkan tari tradisional Jawa ke panggung internasional. Atas kontribusinya terhadap dunia seni pertunjukan dan pelestarian budaya, Didik kerap diundang sebagai pengajar, pembicara, maupun koreografer dalam berbagai forum seni budaya.

Melalui karya-karyanya, Didik menunjukkan bahwa tari tradisional dapat menjadi ruang dialog budaya yang terbuka. Ia tidak sekadar mempertahankan bentuk tari lama, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi bisa berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Baca Juga: Melihat Isu Queer Dalam Tayangan Boys Love Di Film-Film

Selain Didik, ada pula Rianto, penari asal Banyumas yang dikenal melalui seni lengger lanang. Dalam tradisi ini, laki-laki tampil membawakan karakter perempuan dalam pertunjukan rakyat Banyumasan. Perjalanan Rianto memperlihatkan bagaimana seorang seniman harus menghadapi stigma sosial terhadap ekspresi tubuh yang dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi gender masyarakat.

Kisah Rianto menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada seni tarinya, melainkan cara masyarakat memberi label pada tubuh penari. Ketika seni dipaksa mengikuti batasan gender yang sempit, ruang kreativitas menjadi semakin terbatas.

Rianto, penari Lengger Lanang (sumber foto: Radar Banyumas)
Rianto, penari Lengger Lanang (sumber foto: Radar Banyumas)

Dalam konteks tari tradisional Jawa, inklusivitas gender berarti memberikan kesempatan yang sama bagi siapapun untuk belajar, menari, mengajar, dan berkarya tanpa dibatasi stereotip tentang “tarian laki-laki” atau “tarian perempuan”. Ketika ruang seni menjadi lebih inklusif, peluang regenerasi penari juga semakin besar.

Yang perlu dipahami, inklusivitas gender dalam seni bukan ancaman terhadap budaya tradisional. Justru sebaliknya, ia menjadi cara untuk memastikan budaya tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Baca Juga: Melihat Kiprah Para Sineas di Film: Mengangkat Isu Sosial dan Perempuan

Pelestarian tari tradisional Jawa tidak hanya tentang menjaga kostum, gerak, atau iringan musik tetap lestari. Lebih dari itu, pelestarian juga berarti menjaga agar seni tetap menjadi ruang hidup bagi siapa saja yang ingin terlibat di dalamnya.

Sebab budaya yang bertahan bukanlah budaya yang menutup diri, melainkan budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Tari tradisional Jawa memiliki potensi itu, asalkan kita mau membuka panggung yang lebih inklusif bagi semua.

Oleh karena itu, upaya membangun inklusivitas gender dalam pelestarian tari tradisional Jawa perlu dilakukan sejak sekarang melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, sanggar tari, pemerintah daerah, komunitas budaya, hingga media. 

Dengan membuka ruang yang lebih setara, seni tari tradisional tidak hanya mampu bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi juga berkembang menjadi ruang budaya yang lebih ramah bagi semua orang.

(Editor: Luviana Ariyanti)

Latifa Tri Rahmadhani

Mahasiswi prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!