Ryland Grace di ‘Project Hail Mary’ Tunjukkan Maskulinitas dalam Sci-Fi Tak Harus Takut Menjadi Lemah

Sosok Ryland Grace dalam film ‘Project Hail Mary’ menunjukkan kepada kita bahwa tokoh utama film sci-fi tak harus mengemban maskulinitas hegemonik, melainkan juga bisa rapuh dan lemah.

Sudah nonton film Project Hail Mary? Film fiksi sains (sci-fi) yang satu ini sedang ramai dibicarakan karena premisnya yang menarik. Tapi mungkin kita tidak menyangka bahwa tokoh utama dalam film yang masuk jajaran box office 2026 ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan fiksi: dekonstruksi terhadap cara kita memandang laki-laki.

Jika kita menilik kembali sosok Ryland Grace (diperankan Ryan Gosling), tokoh utama dalam Project Hail Mary, kita akan menyadarinya.

Secara garis besar, film ini mengisahkan Ryland Grace, seorang mantan ahli biologi molekuler yang banting setir menjadi guru sains sekolah menengah. Ia mendadak ditarik ke dalam misi antariksa darurat demi menyelamatkan umat manusia. Di tengah kesendiriannya di luar angkasa, ia bertemu dengan Rocky, makhluk asing dari planet lain. Bersama-sama, mereka harus bekerja sama demi menyelamatkan peradaban masing-masing dari kepunahan.

Premis yang unik ini jelas memicu rasa penasaran. Apalagi, Project Hail Mary merupakan adaptasi dari novel laris karya Andy Weir. Ia penulis di balik kesuksesan The Martian yang juga sempat meledak saat diangkat ke layar lebar. Akan tetapi, di luar alur ceritanya yang menegangkan, humor sainsnya yang segar, dan fakta bahwa Ryan Gosling berhasil memerankan karakter ini dengan apik, ada hal lain yang membuat Ryland Grace begitu istimewa. Ia hadir sebagai alternatif representasi maskulinitas baru yang menggugat narasi dominan di dunia sinema, khususnya dalam genre sci-fi.

Jika melihat lanskap sinema, mulai dari genre action, thriller, bahkan sci-fi, tokoh utama laki-laki hampir selalu punya karakteristik khas. Dikonstruksikan sebagai sosok yang tangguh, berjiwa pahlawan, dan memiliki ambisi yang menggebu-gebu. Lihat saja karakter Cooper dalam Interstellar atau Mark Watney dalam The Martian. Mereka adalah contoh karakter dengan stereotip pahlawan yang siap mengorbankan apa saja demi ambisi menyelamatkan dunia.

Namun, formula seperti itu tidak berlaku bagi Ryland Grace. Bagi Grace, misi ke luar angkasa ini sejak awal adalah misi bunuh diri, dan ia tidak malu mengakui bahwa ia takut mati. Di sisi lain, ia juga tidak didorong oleh ego kepahlawanan yang besar. Di lubuk hatinya, ia hanyalah seorang laki-laki yang mencintai pekerjaannya sebagai guru.

Bahkan, melalui kilas balik ingatannya, terungkap bahwa Grace sebenarnya menolak keras misi ini. Ia terpaksa berangkat karena diseret dan dibius atas perintah Eva Stratt, pemimpin proyek global tersebut. Sepanjang film, kita tidak sedang menyaksikan sosok laki-laki alpha tanpa celah. Melainkan seorang laki-laki yang kerap panik, mempertanyakan hidupnya, bahkan menangis saat ketakutan.
Apa yang ditunjukkan oleh Grace tidak serta-merta membuatnya menjadi laki-laki yang lemah atau cengeng. Justru, hal ini mendobrak standar maskulinitas konvensional yang selama ini dipromosikan oleh media massa. Grace menunjukkan sisi kerentanan (vulnerability) sebagai sesuatu yang manusiawi, sebuah sifat dasar yang tidak seharusnya dikategorikan berdasarkan gender tertentu.

Dalam kajian sosiologi, fenomena ini erat kaitannya dengan istilah hegemonic masculinity (maskulinitas hegemonik). Menurut sosiolog R.W. Connell, hegemonic masculinity merupakan bentuk maskulinitas yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural untuk melegitimasi dominasi laki-laki, sekaligus menempatkan bentuk maskulinitas lain di posisi inferior. Melalui kerangka ini, sosok laki-laki ideal selalu dikaitkan dengan ketangguhan fisik, kemandirian mutlak, kontrol, serta dominasi, sembari menghindari keterbukaan emosional dan rasa takut. Karakter Grace secara gamblang menolak untuk tunduk pada standarisasi yang kaku tersebut.

Selain lewat kerentanan emosionalnya, dekonstruksi maskulinitas tradisional ini juga terpancar kuat dari profesi pilihan Grace. Ingat: ia seorang guru sekolah menengah. Dalam lensa gender tradisional, profesi yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan anak-anak sering kali dilekatkan pada sifat pengasuhan (nurturing). Sifat pengasuhan ini kerap diidentikkan sebagai kualitas yang feminin. Hal ini berbanding terbalik dengan tuntutan hegemonic masculinity. Laki-laki biasanya diharapkan memilih profesi yang maskulin, kompetitif, atau berbasis otoritas tinggi.
Menariknya, insting pengasuhan sebagai seorang pendidik inilah yang justru menjadi kekuatan utama Grace saat dirinya bertemu dengan Rocky. Alih-alih menempatkan keberadaan makhluk asing tersebut sebagai ancaman dan menghadapinya dengan penuh kecurigaan atau keinginan untuk mendominasi, Grace justru menyambutnya dengan kesabaran luar biasa, empati, dan rasa ingin tahu yang tulus.

Hal itu terlihat dari bagaimana Grace rela mengutak-atik sistem di laptopnya demi mencari cara untuk berkomunikasi dengan Rocky, terlepas dari wujud Rocky yang asing dan sempat terkesan agresif. Karakteristik hegemonic masculinity biasanya malas berkompromi dan menuntut bahasa mereka yang lebih didengar. Namun Grace, lewat jiwanya sebagai guru, rela menurunkan egonya untuk mempelajari bahasa Rocky yang berbasis nada (musical chords). Tindakan ini menunjukkan kerelaan untuk memahami “yang liyan” (the other) secara setara.

Di akhir film pun, insting nurturing seorang Ryland Grace tidak serta-merta padam. Terlepas dari keputusannya membatalkan perjalanan pulang ke Bumi demi tinggal di Eridian—planet asal Rocky—ia justru memilih untuk menjadi guru bagi anak-anak spesies Rocky di sana. Hal ini turut menguatkan bahwa Grace bukanlah sosok yang digerakkan oleh ambisi kekuasaan, karena jiwanya telah mendedikasikan diri untuk mengasuh dan mendidik, meskipun harus hidup di planet lain.

Hubungan antara Grace dan Rocky jelas melampaui batas pertemanan biasa. Mereka adalah potret keintiman emosional yang murni. Menariknya, meskipun Rocky adalah alien non-human yang gendernya tidak teridentifikasi secara biologis, bahkan suaranya pun dikonstruksikan menjadi suara laki-laki lewat alat penerjemah Grace, hubungan mereka terjalin dengan penuh rasa kasih, kelembutan, dan kepedulian yang mendalam satu sama lain.

Uniknya, narasi Project Hail Mary sama sekali tidak menggerakkan motivasi sang tokoh utama melalui relasi romantis heteroseksual. Eva Stratt, tokoh pendukung utama yang menggerakkan plot, bukanlah sosok love interest, melainkan representasi relasi kuasa yang timpang. Dalam kacamata sosiologi gender, karakter perempuan dominan seperti Stratt sering kali mengambil alih peran maskulin tradisional yang dingin, penuh perhitungan, dan menghalalkan segala cara demi kesuksesan misi. Sebaliknya, Grace justru ditempatkan pada posisi yang secara tradisional dianggap feminin, yakni emosional, mengedepankan empati, dan berada dalam posisi dipaksa.

Namun, penggambaran Stratt yang semacam ini juga menyisakan ruang yang perlu diproblematisasi. Di balik keberhasilan film ini dalam mendekonstruksi maskulinitas Grace, ia justru terjebak dalam tropes sinema populer yang ambivalen dalam memandang perempuan berkuasa. Satu hal yang menjadi ironi di sini adalah fakta bahwa demi memunculkan pahlawan laki-laki yang empati dan nurturing, narasi film harus “mengorbankan” karakter perempuan satu-satunya yang memegang otoritas tertinggi menjadi sosok manipulatif dan mengadopsi sifat toxic masculinity.

Kontras relasi kuasa ini juga terlihat dari bagaimana kedua karakter tersebut memperlakukan otonomi Grace. Stratt memperlakukan Grace lewat batasan waktu yang kaku dan pemaksaan kehendak demi efisiensi misi. Berbeda dengan Rocky yang justru menolak melakukan dominasi, ia memilih untuk memberikan ruang kebebasan penuh bagi Grace dalam menentukan pilihannya sendiri.

Meskipun menyisakan catatan kritis pada karakter Stratt, film ini tetap berhasil menggeser fokus kepahlawanan konvensional yang biasanya divalidasi lewat bumbu romansa. Motivasi terbesar Grace pada akhirnya bukan lahir dari ego romantis untuk memenangkan hati perempuan, melainkan dari rasa tanggung jawab dan platonic love yang kuat terhadap Rocky. Melalui relasi mereka, kita turut menyaksikan bentuk bromance yang sehat sekaligus rentan. Di saat hegemonic masculinity mendikte laki-laki untuk mandiri secara ekstrem, hubungan Grace dan Rocky justru dengan gamblang menunjukkan interdependensi atau saling ketergantungan.

Sadar atau tidak, narasi maskulinitas konvensional yang kaku terus direproduksi oleh media populer melalui gambaran laki-laki sebagai problem solver utama yang tidak tersentuh emosinya. Pola usang inilah yang berhasil didekonstruksi oleh karakter Ryland Grace. Menjadi maskulin bukan berarti tidak boleh rapuh, melainkan tidak malu untuk mengakui kerentanan yang dialami.

Di luar sana, tidak menutup kemungkinan ada Ryland Grace yang lain. Laki-laki yang tidak memiliki ambisi muluk-muluk, namun mencintai pekerjaannya dengan tulus. Laki-laki yang menghargai setiap hubungan emosional yang ada. Laki-laki yang akrab dengan rasa sepi, namun selalu mencari cara untuk berdamai dengan kesendiriannya itu. Laki-laki yang menemukan jalan hidupnya sendiri, meskipun harus disertai dengan pengorbanan yang tak kalah besar.

Kepada kita, Ryland Grace menunjukkan bahwa maskulinitas tidak selalu lahir dari ketangguhan yang tak tergoyahkan. Ia juga dapat tumbuh dari keberanian untuk mengakui ketakutan, keraguan, dan keterbatasan diri. Seorang laki-laki tetap dapat menjadi berani, cerdas, dan dapat diandalkan tanpa harus menyembunyikan kerentanannya. Di tengah budaya yang masih kerap menuntut laki-laki untuk selalu kuat, sosok seperti Ryland Grace mengingatkan bahwa kerentanan bukanlah lawan dari keberanian, melainkan sesuatu yang berperan untuk memberi makna.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa kita membutuhkan lebih banyak Ryland Grace, bukan hanya di film-film sci-fi ataupun genre lainnya, melainkan juga kehidupan nyata tempat di mana kita berpijak.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Laila Ramadhani

Mahasiswi Sastra Inggris yang gemar menulis dan tertarik pada isu gender. Di luar itu, ia aktif sebagai beauty content creator, membaca buku, baking kue dan brownies, serta menghabiskan waktu bersama kucing peliharaannya.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!