Buruh Kontrak, Ibu Hamil



*Adon Marully - www.konde.co

Ini adalah celoteh seorang perempuan, buruh kontrak di sebuah pabrik di Jakarta, yang sedang hamil. Di suatu hari, saat makan siang. Getir ceritanya, tapi hidup sudah dipilih, demi untuk si jabang bayi yang ada dalam perutnya:

Tak kunjung usai perjuangan seorang perempuan yang bekerja dipabrik dengan keadaan yang semakin sulit mendapatkan ‘hak’ sebagai perempuan yang sedang mengandung.

Apa salah hayat dikandung badan, semua harus dilakukan demi si jabang bayi?. Bangun pagi dan melakukan aktifitas dirumah sebelum berangkat kerja ke pabrik.

Sepertinya mengeluh tiada guna, sebab pemerintah sudah tak mau peduli kepada rakyat apalagi rakyat bernama perempuan. Situasi ini yang selalu membuat buruh perempuan yang sedang hamil terus berjuang untuk memberikan yang terbaik kepada pengusaha, dengan hasil produksi yang tinggi dan memuaskan.

Dengan tidak memikirkan bagaimana keselamatan janin dan dirinya sendiri, memang miris dan sangat memilukan berada di posisi kita sebagai buruh Kontrak yang sedang hamil.

Mungkin saja situasi ini tidak lazim didengar oleh sebagian perusahaan yang bonafit yang tidak menghawatirkan dan mencemaskan si janin ini tumbuh dengan gizi dan vitamin yang tercukupi bahkan saat kelahiran tiba pun perusahaan sudah siap untuk menanggung biaya persalinan si bayi dan ibunya.

Tetapi jika kita berbalik lagi pada kenyataan Buruh Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta Utara bahwa situasi penindasan yang nyata terus bergulir seperti saluran air yang terus mengelilingi buruh kontrak. Bagaimana tidak, hamil saja dilarang dan dianggap merepotkan pengusaha dan sangat menggangu peningkatan produksi?.


Itulah isi kepala si pengusaha yang tiap detik terus memikirkan bagaimana menghasilkan keuntungan besar dari hasil memeras bahkan merampok tenaga buruhnya tanpa memikirkan bagaimana jaminan kesehatan buruh yang sedang hamil.

Bukan cuma itu saja, kami juga punya data di dalam pabrik, dimana tidak sedikit buruh pabrik ada yang sampai melahirkan di dalam toilet pabrik saat waktu kerja. Adanya situasi ini mengakibatkan buruh perempuan sangat dirugikan, bagaimana tidak saat mengambil cuti melahirkan saja masih dipersulit dengan melanggar prosedur yang sudah diatur di Undang – Undang Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003, pada kenyataannya tetap saja itu hanya diatas kertas saja. Entah apa isi kepala pengusaha yang tidak punya nurani kepada Buruhnya.

Ada lagi data yang didapat oleh kru Marsinah FM, radio komunitas buruh di Cakung, Jakarta Utara. Saat menjadi reporter di lapangan, kru Marsinah FM mendapatkan data bahwa buruh kontrak yang sedang hamil tidak sungkan akan dikeluarkan dari perusahaan jika kedapatan hamil.

Kenapa Pengusaha seperti itu ?

Ada yang salahkah jika Buruh perempuannya hamil?

Ditambah lagi sulitnya mendapatkan izin ketika ingin memeriksakan kandungannya karena tidak ada klinik di dalam perusahaan tempat buruh bekerja.

Bisa kita rasakan bagaimana menderitanya ketika si calon ibu ini sedang lemas dan mual – mual saat usia kandungan 1 – 2 bulan. Tidak cuma itu saja, jam kerja yang tidak disesuaikan dengan keadaan si calon ibu yang sedang hamil dan butuh banyak istrahat menambah beban berat semua itu.

Keadaan ini yang membuat buruh perempuan semakin terhimpit dan terjepit, Kalau tidak bekerja nanti mau makan apa?

Hidup di Jakarta makin sulit, yaah apa boleh buat!

Tidak apa. Walau upah saat ini tidak akan pernah mencukupi untuk kebutuhan si bayi ini. Siapa tau ada rezeki si jabang bayi, katanya sambil tertawa kecil si buruh perempuan yang sedang hamil ini.

Celoteh menghibur hati seorang buruh perempuan yang sedang hamil ini saat ditemui di jam istrahat makan siang.  


(Foto: solidaritas.net)





*Adon Maruli, adalah aktivis buruh di Jakarta. Aktif di Marsinah FM dan Pelangi Mahardhika.