Menelusuri Jejak Gerakan Perempuan di Masa Orde Baru dan Masa Sekarang



Estu Fanani – www.konde.co

Jakarta, Konde.co -  Jika di jaman Orde Baru, perempuan melawan kediktatoran pemerintahan kala itu,  namun sekarang perlawanan harus dilakukan di sejumlah sisi, ada fundamentalisme agama yang kental termasuk talibanisasi. Hal ini termasuk pengekangan-pengekangan terhadap perempuan yang terus terjadi.

Aktivis perempuan, Damairia Pakpahan menyatakan hal tersebut dalam diskusi dan peluncuran buku “Tumbuhnya Gerakan Perempuan Indonesia Masa Orde Baru” yang ditulis oleh aktivis Kapal Perempuan , Almarhum  Yanti Muchtar di Jakarta pada Senin, 2 Mei 2016 lalu.

“Yang mencemaskan adalah menguatnya fundamentalisme sebagaimana yang sering terjadi di Jogjakarta. Kelompok ini nyata karena masuk di kehidupan di kampung-kampung. Jika dibiarkan, 10 tahun ke depan akan  jelas arahnya yaitu akan seperti Taliban,” ujar Damairia Pakpahan.

Sedangkan aktivis perempuan Lies Marcos menyatakan bahwa di jaman Orba, pemerintahan kala itu sangat mengatur seksualitas perempuan dan politik ibuisme sampai-sampai negara mengatur tubuh perempuan, misalnya perkawinan paksa. Namun gerakan perempuan terbukti bisa melawan ini, berkolaborasi dengan banyak kelompok dan gerakan lain, misalnya dengan kelompok sekuler maupun keagamaan.

Direktur Kapal Perempuan, Missiah menambahkan bahwa buku  karya Yanti Muchtar ini bisa menjadi fondasi dasar untuk melihat bagaimana perjuangan perempuan harus dekat dengan kelompok miskin dan mempertanyakan secara kritis hak-hak perempuan.

Sedangkan Lini Zurlia dari Arus Pelangi menyatakan bahwa buku Yanti Muchtar ini sangat penting bagi generasi muda sekarang.

“Saat ini yang mengganggu adalah minimnya informasi tentang perempuan saat pemerintahan Orba. Buku ini mengingatkan kita bahwa gerakan perempuan tidak hanya melawan domestifikasi perempuan. Tapi juga keterlibatan dalam.gerakan sosial lain seperti buruh misalnya,” ujar Lini Zurlia.

Aktivis Julia Suryakusuma menyatakan prihatin bahwa hingga saat ini praktek-praktek pemerintahan Orba sampai saat ini masih terus terjadi. Sedangkan Suster Agnes menyatakan bahwa untuk memperjuangkan ini kita perlu bergandengan  tangan, berjalan bersama dan mendekatkan diri pada persoalan sehari-hari yang dekat dengan  persoalan perempuan.


Konsolidasi dan Rencana Kongres Perempuan


Dengan kondisi ini, maka pernting bagi gerakan perempuan untuk terus berkonsolidasi di semua daerah. Sejumlah usulan muncul dalam forum ini, misalnya usulan untuk menyelenggarakan Kongres perempuan di Indonesia di tahun 2018 nanti. Usulan ini terjadi karena gerakan perempuan membutuhkan  konsolidasi dari tingkat daerah ke tingkat nasional.

Karena penting bagi gerakan perempuan untuk menyuarakan suaranya dimana-mana dan secara bergemuruh atau bersama-sama. Tidak hanya melakukan gerakan secara kolaboratif, namun kolaboratif dan tetap kritis untuk berjuang bagi perempuan. Apa yang dilakukan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) bisa dijadikan contoh bagaimana sebuah organisasi kemudian menyelesaikan persoalan perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan memilih untuk selalu kritis.

Buku yang dituliskan oleh Yanti Muchtar dan diterbitkan oleh Kapal Perempuan ini bisa menjadi petunjuk untuk melihat gerakan perempuan di masa lalu dan di masa sekarang.


(Pelaksanaan peluncuran buku dan diskusi “Tumbuhnya Gerakan Perempuan Indonesia Masa Orde Baru” yang diadakan Kapal Perempuan pada Senin, 2 Mei 2016/ Foto: Estu Fanani)