Untuk Ibu, yang Selalu Menyediakan Waktu


*Almira Ananta- www.Konde.co

Bagi seorang traveller seperti saya, hari libur adalah hari yang paling ditunggu. Minggu lalu, saya mengajak ibu saya jalan-jalan. Ibu kaget ketika saya datang begitu saja. Tapi tiket sudah di tangan. Mau apalagi? Ibu tak bisa menjawab tidak, karena 5 jam lagi pesawat akan berangkat.

Saya tidak mengajak ibu naik kereta, karena usia ibu yang sudah menua, sehingga harus dijaga agar tidak capek. Walau saya tahu ibu tidak akan kelelahan hanya untuk pergi ke Jogja, jalan dan menikmati kota.

Sengaja kali ini kami melakukan perjalanan setelah libur sekolah usai, agar melihat Jogja dengan tanpa kemacaten.

“Kamu ambil cuti?,” Kata ibu.

Saya mengangguk sambil memasukkan baju-baju ibu ke dalam koper. Sebenarnya, bukan kali ini saja saya mengagetkan ibu seperti sekarang. Saya pernah mengajak ibu ke Malang tiba-tiba, pergi ke Batu, Malang hingga ke Bromo. Ibu sangat senang, ia teringat bapak. Kata ibu, aku ini seperti bapak, orang yang selalu penuh kejutan.

Saya juga pernah mengajak ibu ke Medan secara tiba-tiba, lalu pergi ke Deli serdang dan menginap di Danau Toba. Pernah pula karena ada penugasan tulisan di Padang, Pontianak dan Makassar, saya ikut sertakan ibu dalam perjalanan itu.

Dan sekarang, disinilah kami, di Jogja.

Mendengarkan cerita masa lalu ibu adalah sesuatu yang sering kami, anak-anaknya dengarkan. Walau sesekali mengulang, cerita ibu selalu menjadi energi bagi kami. Bagaimana ibu mengasuh ketiga anaknya, hingga si bungsu saya ini. Lalu bagaimana dulu ibu, selalu menggendong kami dan menyerahkan bapak di terminal bis setiap sorenya.

Dulu, bapak selalu bekerja pada shift pagi dan pulang sore hari. Ibu, selalu mengambil shift kerja sore hingga malam hari. Jadi ibu selalu bertemu bapak di terminal dan menyerahkan aku dan 2 kakakku. Setelah itu ibu bekerja di kantor dan kami pulang bersama bapak.

“Di rumah, makan malam sudah tersedia, kamu dan kakak-kakakmu tinggal belajar dan tidur,” Kata Ibu.

Dari suaranya, saya tahu ia hendak mengatakan bahwa: semuanya baik-baik saja, bapak pulang dan rumah sudah rapi dan bersih. Bapak hanya tinggal menemani kami belajar dan menidurkan kami.

Ibu adalah orang yang tak pernah mengatakan keburukan atau sifat jelek bapak. Jika ibu sedang kesal dengan bapak, ibu hanya terlihat banyak diam. Setelah besar, ibu baru menceritakannya pada kami. Ibu memang tidak pernah seterbuka kami.

Padahal kami, anak-anaknya selalu terbuka, malah terlewat terbuka. Kami akan mengungkapkan sesuatu jika sedang kesal, kami akan marah dan berterus-terang jika sedang kesal. Hal-hal seperti ini kadang membuat ibu sedih, namun bapak selalu berhasil menemani kesedihan ibu.

Ibu memang tidak seterbuka bapak, sangat hati-hati dalam menjaga perasaan orang lain. Saya menjadi orang yang sangat memahami ibu waktu bapak meninggal, sekitar 7 tahun lalu. Di saat itulah saya merasakan sangat dekat dengan ibu. Saya bisa menceritakan apa saja pada ibu, dan ibu banyak memberikan komentar dengan cerita saya yang tak ada habisnya. Ibupun terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan saya ini. Jika sedang kesal dengan seseorang, saya pasti ke rumah ibu. Jika sedang kesepian, saya pasti mengajak ibu pergi. Jika sedang banyak kerjaan dan butuh bantuan, saya pasti meminta ibu datang.

Ada-ada saja bantuan ibu, dari membawa peralatan seperti tas kerja ketika saya keluar kota, membantu membawakan laptop atau sekedar membereskan rumah yang lama saya tinggal pergi.

Jika ada yang tanya, apa arti ibu buat kamu? Bagi saya, ibu adalah teman yang selalu ada saat saya sedang membutuhkan seseorang.

Seperti saat ini, baru saja saya mengambil gambar, ibu sudah langsung memindahkan tripot dan meletakkannya kembali.

“Biar kamu gak repot,” Begitu kata Ibu.

Dan kalimat yang selalu penuh energi adalah ketika ibu mengatakan: Selama ibu masih hidup, ibu akan selalu membantu sebisa ibu, Nak.

Ah, ibu.

Malu rasanya menjadi anak yang selalu saja minta tolong.

Pada ibu, yang selalu menyediakan waktu.






*Almira Ananta, Traveller dan Blogger.