Sesungguhnya Pernikahan Bukanlah Solusi


*Anggita Ayu Indari- www.Konde.co

Saya pernah mengalami hubungan yang abusif di masa-masa sekolah. Pacar saya waktu itu sangat protektif, posesif, dan pemarah. Selama hampir 2 tahun saya harus membatasi pergaulan dan stand by 24/7 untuknya. Bahkan terkadang ia senang melakukan kekerasan fisik seperti mencubit, mendorong, dan hampir saja meninju saya.

Saya tidak pernah sadar kalau apa yang ia lakukan merupakan kekerasan dalam berpacaran sampai saya terpapar bacaan seputar gender dan feminisme di masa-masa kuliah.

Tentu pada akhirnya saya selalu gerah ketika melihat kawan-kawan di kampus saya yang masih berpacaran secara jahiliah.

Seperti misalnya bertengkar karena jarang memberi kabar ataupun cemburu karena pasangannya berhubungan intens dengan lawan jenis. Bahkan biasanya mereka cenderung enggan memiliki privasi dengan alasan kesetiaan. Masing-masing dari mereka hanya sibuk mengalienasi satu sama lain atas nama cinta.

Perilaku kekanak-kanakan yang dimiliki pasangan macam itu pun biasanya dilengkapi dengan angan-angan manis macam pernikahan. Mimpi-mimpi ilusif soal hidup bersama menjadi relationship goal yang membuat mereka buta mata, hati, dan pikiran.

Kadang saya sampai heran, kalau mereka menikah jangan-jangan sekeluarga mati kelaparan. Soalnya kalau mereka bekerja, mereka akan bertemu orang baru, dan bertemu orang baru meningkatkan probabilitas berselingkuh. Oleh sebab itu, daripada salah satu berselingkuh, lebih baik tidak usah ada yang keluar rumah saja sekalian! Mengatasi masalah tanpa masalah, bukan?

Keprihatinan saya terhadap gaya pacaran yang destruktif seperti itu membuat saya dan beberapa teman di kampus memutuskan untuk mengadakan diskusi serta kampanye kecil-kecilan soal kekerasan dalam berpacaran.

Target utama dari keisengan kami ialah perempuan-perempuan di sekitar kampus. Sebab kami melihat lebih banyak perempuan yang menjadi korban atas relasi personal macam pacaran dibandingkan laki-laki.

Fakta yang mengejutkan ialah masih banyak orang yang tidak tahu soal kekerasan dalam berpacaran. Banyak dari mereka yang menganggap hal tersebut sebagai manifestasi dari rasa cinta. Sungguh miris saya dibuatnya.

Padahal menurut data dari Komnas Perempuan yang saya peroleh dari Lembar Fakta Catatan Tahunan (CATAHU) 2017, Kekerasan Dalam Pacaran atau KDP di Indonesia telah mencapai angka 2.171 kasus. Tentu angka tersebut belum termasuk kasus yang dialami teman-teman saya di kampus (yang berpikir bahwa itu cinta), dan orang lainnya yang bernasib sama seperti itu.

Hal yang membuat saya makin sedih ialah mendapati banyak orang di kampus saya yang menganggap bahwa kekerasan dalam berpacaran hanya seputar kekerasan fisik. Bagi mereka kekerasan fisik tersebut dapat dihindari apabila kedua belah pihak (lagi-lagi) saling cinta. Cara membuktikan rasa cinta itu ya dengan menikah.

Yang lebih gila lagi, ada yang bilang langung ta’aruf aja! Astaghfirullah kejut-kejut saya dengernya!

Pembaca yang budiman nan bijaksana, sesungguhnya pernikahan bukanlah solusi untuk menghindari kekerasan dalam berpacaran ataupun relasi personal lainnya. Maaf-maaf dulu aja nih, kekerasan dalam hubungan yang telah terlegitimasi macam pernikahan biasanya justru dihalalkan atas nama kepatuhan pada pasangan.

Sialnya lagi, kultur patriarkal yang ada cenderung menempatkan perempuan dalam relasi kuasa yang timpang dengan laki-laki. Jadi jangan heran kalau lebih banyak perempuan yang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga dibanding laki-laki.

Atas nama kepatuhan pada imam dan kepala keluarga, banyak perempuan yang dipaksa dan disiksa secara fisik maupun psikis. Dalam data Lembar Fakta Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2017, kasus kekerasan pada istri menepati posisi tertinggi yakni 5.784 kasus.

Kekerasan yang dilakukan pun meliputi kekerasan fisik 42% (4.281 kasus), diikuti kekerasan seksual 34% (3.495 kasus), kekerasan psikis 14% (1.451 kasus) dan kekerasan ekonomi 10% (978 kasus).

Saya rasa, apabila masing-masing pihak belum memiliki pemahaman bahwa semua manusia itu setara, salah satu dari mereka pasti akan menciptakan relasi yang bersifat dominatif-submisif ataupun superior-inferior.

Bentuk-bentuk relasi yang memberi kuasa pada salah satu pihak tertentu yang membuat mereka bisa dengan mudah memiliki kontrol ataupun kehilangan kontrol.

Ketimpangan tersebut yang pada akhirnya membuat salah satu pihak kehilangan kontrol untuk membela dirinya, dan salah satu lainnya memiliki kontrol untuk menindas dan melakukan kekerasan.

Padahal sudah seharusnya baik laki-laki atau perempuan sebagai manusia memiliki relasi setara yang dilandasi oleh konsensus baik dalam berpacaran maupun pernikahan.
Saya memang belum pernah menikah, lebih-lebih mencicip asam-garam rumah tangga. Namun, menengok fakta dan data di atas, akankah lebih bijak jika kita berhenti menganggap pernikahan sebagai solusi? Bukan begitu?


*Anggita Ayu Indari, merupakan mahasiswi semester akhir yang rajin menginisiasi forum ghibah bersama kawan-kawannya di Rumah Gender, Purwokerto. Selain itu, ia juga aktif bermain-main bersama kawan lainnnya di Sekolah & Perpustakaan Rakyat Bhinneka Ceria dan kebetulan juga sibuk mengeluh di laman pribadinya: anggitaindari.blogspot.com.