Hidup Halu yang Penuh Bahagia di Media Sosial


Melly Setyawati-www.konde.co

Buat yang lagi bersedih sebaiknya jangan sering buka-buka media sosial, bisa buat hidup semakin merana, setelah melihat tampilan-tampilan selfie suka cita temen yang lagi pamer foto keluarga utuh. Demikianlah catatan penting buat hidup saya saat ini, ini quote becanda masa serius sih. Pasang smiley melet.

Media sosial yang paling berpengaruh saat ini, adalah instagram. Kok rasanya jadi ngenes-ngenes sedap. Yang paling buat jadi spaneng, tampilan-tampilan kemewahan ala diva. Badalah, tahu-tahunya itu hasil endors dari perusahaan travel bermasalah, yang merampok tabungan orang miskin.

Ini terjadi juga padaku yang bukan artis. Dua tahun tidak terlalu banyak ikut kumpul-kumpul bersama teman, ada yang mengira saya pengangguran murni, dan hanya urus anak, emang benar sih. Makanya sering dikejar-kejar suruh nulis di konde, padahal bingung atur waktunya kapan bisa nulis lagi nih. Piss ya mbak pemred.

Bisa jadi saya kurang pamer kesibukan saya di media sosial. Seringpula dianggap tidak ada kerjaan selain memasak, soalnya saya sering banget foto-foto hasil masakan. Saya ndak tersinggung, jadi ndak usah dibahas.

Beda dengan teman lain yang aktifitasnya di ruang rapat, di bandara, bahkan melanglang buana sampai ke negeri Jaran sekalian negeri badak atau reptil, dengan wajah tersenyum. Tapi teman itu mengeluh setelah pulang sampai rumah, kok sendirian yach di rumah, rumah jadi berantakan, ada debu dimana-mana, cucian menumpuk. Yach harus bersih-bersih kemringet. Memang tidak ada foto ini di media sosial, tapi perlulah sekali-kali difoto. Biar ada temen susah.

Tren media sosial yang lagi hits banget saat ini, foto lari-larian, bukan lari dari masalah atau tanggungjawab. Kegiatan fun run memang lagi ngehits abis untuk amal. Bukannya saya sirik ndak bisa lari, tapi kayaknya kok bahagia banget bisa lari 5 km dengan menunjukkan medali. Kalau mau kritis dikit, kita ndak pernah tahu di balik foto itu, setelah lari-lari ternyata harus ada terapi kaki karena lelah, atau saat berlari nyaris pingsan karena dehidrasi bahkan nyaris jatuh tersandung polisi tidur. Itu kok ndak difoto? Sekali-kali dong difoto saat mau jatuh, dengan gerakan lambat. Pasang smiley ngekek puas.

Dan minta ampun kepada pelari yang menyalahkan pejalan kaki, sebagai sumber kemacetan. Siapa tuh? Wagabener nih.

Yang sekarang ngehits, kondangan siaran langsung anak pejabat di kota kecil. Tunggu saja, bakal ada tampilan indah di media sosial. Meskipun sudah beredar video pre-weddingnya,yang peluk-pelukan dengan ragam indahnya warna baju dan taman. Kayake perkawinan itu pintu bahagia banget.

Tapi tahu ndak, kalau ada seorang anak di kota tempat kawinan, sedang mengalami trauma berat akibat perkosaan, yang dilakukan oleh bapak dan kakaknya. Ada juga pelaku perkosaan anak yang sampai sekarang masih DPO. Lalu,seorang ibu sedang bingung tidak punya uang untuk kasih makan anaknya. Eh, tahu-tahu muncul berita seorang bapak bunuh diri tertabrak kereta karena himpitan ekonomi. Sempat bikin nyesek banget. Smiley sedih.

Di daerah lain, di negara yang sama, seorang anak meninggal karena ledakan di tempat kerjanya. Anak kecil kok sudah bisa bekerja, ya itu kondisi nyata bukan “halu”, kalo anak-anak tuh masih banyak yang dipekerjakan, pelosok-pelosok daerah anak dipekerjakan untuk bersihkan ikan. Pada tahu ndak sih kalo ada masalah beneran? Jangan-jangan habisin kuota buat main game, mirip banget ama teman hidup saya. Kok lama-lama saya sinis yah. smiley muka merah.

Remaja now, paling terpancing melihat media sosial, dan coba-coba meniru. Ada beberapa kerabat remaja meniru style artis liburan, di pantai, minum jus berdua, lihat sunset, dan memamerkan siluet kaki dua pasang.Terus maksudnya apa, mo nunjukin ke saya yang emak-emak di rumah, cukup memandang kompor dan kemringet ngejar-ngejar anak untuk makan. Kayaknya emang penting juga nih, para puber mendapatkan pengawasan penggunaan media sosial dengan bijak. Soalnya banyak aksi-aksi perkosaan, kenalannya lewat FB dan media sosial lainnya. Terus menghilang, aduh.

Saya cukup terkesima, waktu media sosial memviralkan seorang bapak terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Keplok-keplok deh, setelah viral, warungnya jadi ramai. Kasus gladiator juga begitu, langsung cepat diusut pelakunya setelah viral, padahal kasusnya sudah dari awal tahun lalu dicuekin. Ada kekuatan positif media sosial juga yach. Smiley tersenyum.

Akhirnya saya menyerah, beberapa hari lalu saya upload foto bersama teman-teman yang ikut dalam penelitian. Saya ikut-ikutan saja lah supaya dibilang "normal", walaupun saya masih di rumah, dan melamun mikir ide masak apalagi yach sambil gesek-gesek HP pakai telunjuk. Itulah hidup, jadi diri sendiri kayaknya lebih asyik, tapi tetap peka saja terhadap masalah nyata.

Walau hati merintih pengen, lihat FB teman liburan di daerah adem Jawa Timur dengan perawakan langsing, uhuuy. Sopo kuwi? Sudah cukup, panjang ntar. Smiley mupeng.

Yuks, uninstall aplikasi media sosial biar hidup tenang.


(Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/08/3-cara-mudah-menghindari-depresi-akibat-media-sosial
http://tekno.liputan6.com/read/2957904/instagram-sering-bikin-anak-muda-depresi-ketimbang-medsos-lain)