Cangkir Kopi yang Tak Sama


Luviana – www.konde.co

Dinda (tentu bukan nama sebenarnya), suatu hari mengajak saya untuk bertemu. Ia akan mengabarkan soal calon suaminya yang baru.

“Doakan aku ya, semoga ini bukan keputusan yang buruk,” Begitu ia menulis dalam pesan pendeknya. Suaranya terlihat ceria.

Tak mudah memang bagi Dinda.

Keputusannya ini akan menjadi sebuah pertaruhan baru baginya.

Walau pertemuan tadi hanya berlangsung singkat karena ia harus memberikan undangan perkawinan pada teman-temannya yang lain, namun kami cukup berbincang panjang.

Undangan perkawinannya yang kedua. Warnanya orange. Sederhana dan manis.

Dalam perbincangan kami tadi, beberapa kali Dinda bertanya: apakah ia siap meninggalkan seluruh masa lalunya yang hitam?. Saya terenyuh melihat air matanya yang masih menetes.

Ia pernah dipukul suaminya, dibentak dan kemudian suaminya meninggalkannya. Tak mudah baginya untuk kembali menjadi Dinda yang ceria seperti saat ini. Ia mati-matian mempertahankan perkawinannya, sampai ia merasa lelah dan mengakhirinya.

Ah, Dinda..

Dulu banyak kawan kami yang mrndampinginya agar Dinda bisa healing dan memerima ini sebagai bagian dari masa lalunya.

Tapi tentu ini tak mudah baginya. Siapa yang akan dengan mudah mengakhiri relasi yang dulu awalnya baik? Begitu selalu keluh Dinda.

“Inget gak kamu, dulu hampir setiap hari kita ketemu disini, minum kopi disini? Aku setiap hari menceritakan mantanku yang buruk dan kita pulang sampai larut malam?,” ujar Dinda tiba-tiba

Tentu saja aku ingat, kataku.

Dinda selalu menghabiskan kopi 7 gelas. Ia suka kopi dingin karena menurutnya akan menyegarkan otot-otot kepalanya. Dinda juga suka kopi panas karena akan menghangatkan badannya. Kepedihannya melampaui musim hujan dan kemarau.

“Sudah 7 cangkir Din, ayo kita pulang, ada caffein yang tinggi disitu,” begitu kataku selalu.

“ Lumayanlah, aku sudah pindah ke kopi dan tak minum obat tidur lagi khan sekarang?,” ujar Dinda.

Obat tidur kala itu adalah penenang yang baik bagi Dinda. Ia meminumnya berbulan-bulan sebelum tidur hingga menuntaskannya perkawinannya di pengadilan.

“Mau monum kopi lagi, Din?,” tanyaku pura-pura mengingatkannya pada masa lalu.

Ia mengangguk.

“Yakin?,” Kataku

“Doakan ya..cangkir kopi ini tak lagi sama dengan yang dulu.”

Kupeluk Dinda.

Semoga kita tak lagi bertemu hanya menghabiskan kopi seperti dulu. Aku meyakinkannya. Tentu tidak semua sama laki-laki seperti mantannya. Kami berharap laki laki yang akan dinikahinya kini bukan laki-laki temperamental, acuh dan kepala batu seperti dulu.

Banyak perempuan seperti Dinda di dunia ini. Hidupnya penuh dengan pertaruhan, termasuk perkawinannya. Semoga ia jauh dari nasib buruk itu.

Semoga ya Din, cangkir kopi ini tak lagi sama seperti dulu.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)