Anakku, Ungkapkan Pendapatmu, Tulislah Apa yang Kau Rasakan

Luviana- www.Konde.co

Anak perempuan saya, Savana Candid Nusantara pada suatu hari menyodorkan beberapa gambar dan tulisan-tulisan yang ia tulis sendiri. Kemudian ia juga menyodorkan sejumlah gambar komik anak-anak perempuan yang ingin belanja ke pasar tradisional dan menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka di dapur.

Ternyata, ia pengin gambar-gambar itu, dan cerita-cerita itu dibuat dalam sebuah buku.

Sebenarnya permintaan itu sudah datang setahun lalu ketika usianya masih 7 tahun. Dia selalu menagihnya, dan saya selalu menjawab mengiyakan. Padahal saya tidak bisa membayangkan, penerbit mana yang mau menerbitkan buku dan gambar-gambar kecilnya ini?

Akhirnya dengan bantuan teman, saya kemudian memasukkannya ke penerbitan buku self publishing. Ini penerbitan mandiri yang kemudian bisa kita publikasikan bersama-sama. Buku ini berisi tentang bagaimana mengajak anak-anak untuk berbelanja di pasar tradisional dan memasak sendiri di rumah karena murah dan sehat.

Saat buku tersebut jadi dan sudah ada di tangannya sebulan yang lalu, dengan sampul kuning yang dibuat cerita dan diilustrasikan sendiri oleh Candid, ia sangat senang tiada tara. Ia melihat kembali bukunya, membacanya kembali, lalu ia bagikan buku-buku ini ke teman-temannya. Ajaib, matanya berbinar ketika ia membagikannya ke teman-temannya.

Ternyata, saya juga mendapat cerita seperti ini dari pengalaman beberapa orangtua yang anak-anaknya mulai menulis puisi, membuat buku, menjadi wartawan cilik ketika mereka masuk di bangku Sekolah Dasar. Anak-anak ini bertanggungjawab atas majalah dinding di sekolah.

Ada lagi cerita lain dari teman-teman yang memang bergiat di literasi media, yang kemudian mengajarkan anak-anak untuk menulis.

Lalu ada buku-buku “Kecil-Kecil Punya Karya” yang selalu kami lihat di rak-rak toko buku. Anak-anak ini sudah menulis sejak mereka kelas 3 SD. Menulis sebuah cerita.

Ada banyak anak-anak lain yang kemudian menggambar, mengungkapkan pendapat mereka dengan riuh rendah di ruang tengah rumah-rumah tangga di sekitar kita.

Dan inilah yang kemudian disebut banyak orang sebagai: literasi anak-anak.

Seorang kritikus media, Kat Lazo menulis bahwa literasi anak-anak adalah sebuah kegiatan tentang bagaimana mengajak anak-anak mengungkapkan perasaannya, ide-idenya, pendapat mereka dan kemudian menuangkan dalam sebuah tulisan, gambar, pendapat.

Tak hanya itu, literasi anak-anak kemudian mengajarkan anak-anak untuk membatasi pada media yang belum tepat untuk anak seusia mereka. Kita tahu, ada film yang justru mengajak anak-anak untuk berkelahi, ada sinetron di TV yang tidak boleh tayang di jam anak-anak, namun pemainnya anak-anak dan tayang pada jam-jam anak-anak.

Kat Lazo, misalnya menuliskan langkah-langkah melakukan literasi bagi anak-anak, seperti: membuat aturan tidak ada TV setelah jam 6 sore. Tidak ada TV pada hari kerja. Mereka hanya bisa menonton film yang telah disetujui bersama. Video game untuk hanya satu jam sehari.

Dengan mengajarkan soal aturan dan kesepakatan-kesepakatan seperti ini, maka dengan sendirinya kita mengajari anak-anak untuk memahami media sekaligus menguasai media.

Dari hal-hal seperti ini, orangtua kemudian dengan sendirinya mengajarkan anak untuk bertanggungjawab, mengajari mereka melihat persoalan dan memperdebatkannya. Dan tentu, kemudian menuangkan ide-ide mereka ke dalam tulisan atau pendapat mereka.

Dalam konsep feminisme misalnya, literasi kemudian mengajarkan bagaimana konstruksi lingkungan yang membentuk kebiasaan manusia. Dengan banyak berdiskusi dan mengungkapkan pendapat dan menulis, maka kita akan mengajarkan anak-anak banyak hal.

Ini dikarenakan banyak pesan-pesan yang terdapat di media seperti TV dan video game misalnya yang bisa sangat membingungkan. Dan jika dibiarkan saja, media bisa menjadi suara yang paling dominan dalam kehidupan anak-anak.

Kat Lazo menuliskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengajak anak berliterasi media, misalnya: ajak anak-anak melihat media, mendengarkan lagu, melihat TV lalu ajukan pertanyaan-pertanyaan:


1. Mengapa

Kita bisa memulainya dengan bertanya: Mengapa?. Hal ini bisa merangsang anak untuk berpikir. Misalnya: mengapa ia lari begitu saja? Apa maksud judul lagu itu? mengapa lagu ini lebih tepat untuk orangtua?


2. Alternatif

Lalu ajukan bacaan, lagu-lagu yang lain yang bisa merangsangnya untuk berpikir. Misalnya: ajukan pertanyaan dari buku bacaan yang lain itu. Apakah benar anak laki-laki selalu identik dengan baju biru dan anak perempuan dengan baju pink? Benarkah selalu begitu?.

Atau pertanyaan lain, benarkah laki-laki selalu menyelamatkan perempuan? Apakah perempuan tidak bisa menyelematkan diri mereka sendiri? Tuliskan pendapatmu.

Atau pertanyaan lain: apakah dibenarkan jika orang yang berbeda suku marah-marah dengan suku yang lain padahal mereka tidak  bersalah?


3. Integrasi

Dan tentu kita harus ingat jika semua pendidikan literasi pasti harus diintegrasikan dengan kehidupan kita sehari-hari. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini harus kita ajukan untuk merangsang anak berpikir, berpendapat dan menuliskannya.

Kat Lazo menuliskan, orangtua, anda adalah orang yang paling tepat untuk membimbing mereka, membawakan pesan-pesan baru kepada mereka dan menemani mereka mengungkapkan perasaan mereka.

Jika bukan sekarang, kapan lagi?



(Referensi: http://everydayfeminism.com/2013/07/teach-media-literacy-to-kids/)



(Foto: Buku “Warna-Warni Dapurku” karya: Savana Candid Nusantara, Penerbit: Arkea.id, 2016)

Tim Konde.co

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email