Imperfect: Film yang Mengubah Narasi Kecantikan Perempuan

“Pintar saja itu tidak cukup untuk jadi manager produk kecantikan. Tapi juga harus cantik, bisa nggak otaknya pakai otak kamu, tapi cassingnya Marsha,”kata Kelvin.

Konde.co- Kalimat ini sering dilontarkan pada para perempuan. Jika tidak cantik, maka ia harus pintar.

Atau kalimat yang mengatakan bahwa perempuan harus cantik dan pintar. Atau pertukaran diantara keduanya, antara harus cantik atau harus pintar.

Ini benar-benar kalimat yang mengganggu, perempuan tak pernah keluar dari penilaian orang lain.

Film “Imperfect” menceritakan pergulatan Rara (Jessica Mila) yang dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang dianggap bertubuh sempurna.

Ibunya yang diperankan oleh Karina Suwandi dilukiskan sebagai mantan model tahun 90an, dan adiknya yang tubuhnya  langsing, putih dan cantik. Walau perempuan yang dianggap bertubuh sempurna, selalu tak pernah lepas dari celaan dari tuntutan zaman.

Sedangkan Rara dalam film ini dilukiskan mempunyai bentuk tubuh yang mirip ayahnya. Tambun, berkulit gelap dan berambut keriting.

Sejak kecil Rara selalu suka makan dan ayahnya selalu membela bila ada yang melarangnya makan banyak.

Rara tumbuh menjadi perempuan yang bisa dikatakan hidup dalam kebimbangan tentang ketubuhannya. Di satu sisi dia menikmati dirinya dan menikmati setiap makanan yang dia makan, tetapi disisi lain ada perasaan insecure dalam dirinya tentang tubuhnya karena lingkungan dia selalu mengolok tubuhnya.

Rara memilik pacar, Dika (Reza Rahadian) yang mencintai dirinya apa adanya dan tidak ingin dia berubah. Meskipun Dika seorang photographer dan banyak memotret model, tapi dia tetap mencintai Rara yang bertubuh gemuk.

Film ini memotret dengan baik gambaran masyarakat tentang perempuan yang sempurna itu harus cantik, kurus, putih dan berambut lurus. Bahkan harus berkorban untuk mencapai standar itu.

Standar kecantikan yang diukur dari komentar orang baik secara langsung ataupun melalui media sosial. Rara mengalami bodyshaming tidak hanya di tempat kerja, bodyshaming bisa saja terjadi di dalam rumah dan dilakukan oleh orang terdekat yang mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri.

Rasa insecure terhadap diri yang tidak cantik tidak saja dialami Rara tetapi juga dialami adiknya, Lulu, yang meskipun sudah kurus, putih masih saja merasa wajahnya chubby dan gemuk. Dan hal itu dikuatkan oleh pacarnya Geroge yang menjadi artis Instagram dengan follower dua juta yang selalu menuntut Lulu untuk berpenampilan cantik.

Dilema standar kecantikan tidak saja dialami perempuan muda tetapi juga perempuan yang sudah berkeluarga, seperti ibu Rara.

Ternyata sejak melahirkan Rara, ibunya tidak bisa lagi menjadi model yang menggunakan pakaian terbuka karena waktu bayi Rara berukuran besar yang mengharuskan operasi dan meninggalkan bekas di perutnya. Perasaan tidak sempurna karena ada bekas jahitan dan perut yang tidak lagi mulus membuat ibunya mendidik anak-anaknya untuk bertubuh sempurna agar bisa diterima orang lain.

Film ini juga ingin memperlihatkan bahwa tidak semua laki-laki memandang atau menilai perempuan hanya dari penampilannya atau tubuhnya saja. Seperti Dika pacar Rara yang menerima Rara apa adanya baik ketika sedang gemuk ataupun sedang berusaha menguruskan dirinya, dan mengatakan “Dia yang tulus mencintaimu akan melihatmu sempurna meskipun kamu merasa tidak sempurna.”

Film Imperfect adalah sebuah film yang mengangkat narasi kecantikan dan ketubuhan dengan apik, digarap dengan gaya khas Ernest yang menyempilkan candaan yang cerdas, keberagaman budaya dan juga keharuan yang tidak lebay tetapi perfect.

Film Imperfect adalah film yang perfect untuk mengubah persepsi dan mendidik masyarakat tentang arti sebuah kecantikan dan tubuh perempuan.

Perempuan yang sempurna tidak harus putih tetapi bisa juga berkulit gelap, tidak harus berwajah bersih tetapi bisa juga ada tompelnya, tidak harus bergigi rapi dan rata tetapi bisa juga giginya bergelombang, tidak harus kurus tetapi bisa juga gemuk, tidak harus berwajah tirus tetapi bisa juga chubby, tidak harus berambut lurus tetapi bisa juga keriting.

Karena sesungguhnya kecantikan itu bukan dari luar sana, namun yang keluar dari dalam diri kita, kebaikan, persahabatan, cinta kasih, saling menghargai dan mendukung orang lain.

Lalu, mari kita tolak standar kecantikan yang tidak disukai dan malah merepotkan perempuan.

(Foto: 21cineplex.com)

Poedjiati Tan

Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email