Women in Blue, Film yang Mengurai Persoalan Perempuan Polisi

Kematian laki-laki keturunan Afrika-Amerika, George Floyd, dalam tahanan polisi Minneapolis pada Mei lalu mengangkat kembali wacana bahwa jika jumlah aparat perempuan penegak hukum lebih banyak, ini mungkin akan mengurangi penggunaan kekerasan secara berlebihan.

“Women in Blue” film dokumenter baru karya Deidre Fishel, menunjukkan ketrampilan polisi perempuan (Polwan) di kepolisian Minneapolis dalam meredakan ketegangan. Film itu juga menggambarkan tantangan yang dialami sejumlah perempuan dalam bidang yang didominasi kaum laki-laki tersebut.

Dalam film “Women in Blue” itu, Deidre Fishel menceritakan beberapa tantangan yang dihadapi sejumlah polisi perempuan (Polwan) ketika turut melatih sesama rekan di Departemen Kepolisian Minneapolis. Dalam bidang pekerjaan yang didominasi kaum laki-laki itu, para Polwan mengajarkan agar tidak secara berlebihan menggunakan tindak kekerasan.

“Kami berinteraksi dengan orang-orang, termasuk pemerkosa dan pembunuh. Terkadang, sulit menunjukkan rasa hormat kepada mereka. Jadi, dalam pikiran, saya harus bertindak profesional. Selama kita bersikap professional, kita akan tampak menghormati,” kata Alice White, salah seorang Polwan pelatih.

Film itu memperkuat temuan National Police Foundation pada tahun 1970-an, bahwa Polwan dinilai bertindak kurang agresif dan meyakini sikap itu dibandingkan polisi laki-laki, rekan sejawat mereka.

“Saya baru menyadari bahwa saya ingin membuat film yang mengeksplorasi apa yang bisa dilakukan kaum perempuan dalam masa yang sangat sulit ini, terkait tindak kekerasan oleh polisi,” kata Deidre Fishel.

Dalam film dokumenter itu, penonton bisa melihat bagaimana Alice White berbicara ketika menyetop mobil yang melanggar lampu lalu lintas.

“Kita bisa lihat, laki-laki pengendara itu distop oleh Alice, orang yang memperlakukannya secara manusiawi, dan yang mengutamakan keselamatannya. Bukan sekadar penegak hukum,” kata Deidre Fishel.

Akan tetapi, film itu juga menunjukkan posisi sejumlah perempuan yang tetap tersisihkan. Jumlah Polwan di departemen kepolisian Minneapolis hanya 16%.

“Pimpinan tidak mengikutsertakan perempuan dalam tim eksekutifnya. Saya sangat menghormati Kepala Polisi Rondo, namun bagi saya yang paling menyakitkan dalam profesi yang didominasi oleh suara kaum pria ini adalah ketiadaan perspektif perempuan,” kata petugas polisi Catherine ‘CJ’ Johnson.

Sementara itu di Seattle, Kepala Polisi Carmen Best menyampaikan di departemen yang ia pimpin, iklan perekrutan dirancang untuk menarik lebih banyak perempuan ke dalam kepolisian.

“Kami ingin menunjukkan lebih banyak Polwan dalam berbagai jabatan. Kami ingin menunjukkan bahwa tidak selalu mengejar mobil, baku tembak, dan naik-turun sejumlah gedung. Banyak hal yang kami lakukan tidak berhubungan dengan otot, tetapi lebih berkaitan dengan otak, serta ketrampilan dan kemampuan untuk berempati dan bekerjasama dengan orang lain,” kata Carmen Best.

Mengomentari Best, Deidre Fishel mengingatkan, kepolisian bukan sekadar membutuhkan lebih banyak wanita, tetapi wanita kulit berwarna. Menurutnya, dalam bidang itulah departemen kepolisian akan bisa bertransformasi.”

Film tersebut memperlihatkan beberapa Polwan keturunan Afrika-Amerika, seperti Alice White, naik jabatan. Alice akan menjadi sersan di kantor polisi setempat.

“Penting bagi komunitas kulit hitam untuk melihat perempuan yang mirip saya dalam peran ini,” kata Alice White.

Kepala polisi Carmen Best menceritakan pengalamannya sendiri ketika naik pangkat. Ia memaparkan, beberapa orang sangat mendukung, sementara lainnya tidak. Sebagai petugas, dia selalu menghadapi itu.

“Tetapi bagi saya, ‘itu masalah mereka. Bukan masalah saya. Saya di sini untuk melakukan pekerjaan saya. Saya akan bekerja sebaik mungkin yang saya bisa. Saya benar-benar meyakini kalau kita naik jabatan, kita harus mengangkat dan mengajak serta orang lain,” papar Carmen Best. [mg/ka]

(Sumber: Voice of America/ VOA)

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email